KAU YANG DIPERUNTUKKAN BERSAMAKU

KAU YANG DIPERUNTUKKAN BERSAMAKU
emosi


__ADS_3

"Tahan dia" Teriak Megumi pada Hasan dan Takashi. Kei saat ini berusaha masuk rumah sakit dengan mendorong tubuhnya untuk menerobos tubuh mereka yang menghalangi, lihat tangannya yang sudah memegang granat. "Kau gila hah? " Saat ini mereka berada di area gang sempit dekat area rumah sakit.


"Tenangkan dirimu Kei, kemarikan granat itu" Takashi berusaha menenangkan Kei. Hasan sendiri sangat ketakutan melihat orang yang memegang granat ditangannya.


"Tenangkan dirimu, mereka yang disana tidaklah bersalah tidak seharusnya kau melampiaskan pada mereka. Pikirkan perasaan mereka yang akan kau rugikan" Kei melirik pada Hasan, melihat pria itu Ia jadi teringat Hani, bagaimana kondisinya saat ini? Mengapa ada orang yang mau menculiknya? Dia pun memberikan granat itu perlahan pada Takashi.


"Aku memanggilmu bukan untuk menghancurkan rumah sakit yang akan segera kau tempati" Cibir Megumi berbanding terbalik dengan Hasan. "Dasar gila" Kei mengabaikan ucapan adiknya itu.


"Sebaiknya kita pergi dari sini, aku muak melihat rumah sakit itu" Kei pergi di ikuti dengan yang lain.


Masuk kedalam mobil Dartz Kombat T98 SUV,  mobil yang dirancang anti peluru oleh Rusia.



Mobil ini sering ada di bengkel Shino tapi yang sering membenarkan mobil ini Chio. Seorang gadis yang menyukai berbagai mesin mobil.


Hasan melihat banyak senjata di kursi belakang bahkan ia sedang duduk disamping SABR, senapan sniper modern yang dirancang dengan akurasi yang tinggi untuk menembak dari jarak jauh dan juga senapan taktis yang bisa digunakan dalam pertempuran jarak dekat. Apakah ini tidak terlalu berbahaya? 


"Kali ini kau akan menyerang siapa? " Tanya Megumi yang di abaikan oleh kakaknya. Dia Mendecih tidak suka karena diabaikan.


"Mengapa bisa? " Kei menatap spion mobilnya melihat Takashi yang hendak berbicara yang mengerti maksud Kei.


"Kau bisa tanyakan pada dia" Tunjuk Takashi pada Hasan. Meneguk ludahnya dengan kasar, ia tidak tahu harus berbicara dari mana.


"Tidak usah kau jelaskan aku sudah tahu" Kei membaca pesan di ponselnya, terdapat foto Hani yang sedang tak sadarkan diri dengan seorang perempuan yang selama ini ia kira perempuan baik-baik. "Kau harus melihat ini" Ponsel itu pun di ambil oleh Takashi. Mereka terkejut siapa perempuan yang berada disamping Hani.


"Sungguh sempit dunia ini" Komentar Kei. Sedangkan Takashi dan Hasan mencoba mempercayai jika itu kebohongan.


"Itu tidak mungkin, Agnes tidak mungkin berkerja sama dengan para penjahat itu" Hasan menggeleng dengan mantap menolak kebenaran itu.


"Kau itu naif sekali yah, tak heran kalian bersaudara. Kalian mudah sekali percaya dengan jalang itu"


"Jaga ucapanmu! " Takashi tidak Terima jika Agnes dihina seperti itu. Pasti Agnes memiliki alasan sehingga berbuat seperti itu. Megumi yang tidak mengerti apa-apa hanya menonton drama mereka.


"Yang seharusnya dicurigai itu kau! Bukannya kau yang seharusnya di penjara?" Kei hanya tersenyum miring mendengar hal itu sedangkan Megumi tertawa terbahak-bahak. Kei masuk penjara? Paling lama 1 minggu itupun dia masuk penjara saat ketahuan melakukan pelecehan. Kakaknya saat itu sangat bodoh karena mabuk, dirinya tidak sadar jika barnya telah dikepung polisi.


"Kau melaporkan dia kepolisi?" Takashi mencoba memastikan bahwa Hasan tidak melakukannya. Di jawab anggukan ragu-ragu oleh Hasan. "Aku setuju karena kau berusaha untuk menangkap penjahat" Takashi melirik Kei. "Tapi kau salah jika melaporkan seorang Yakuza pada polisi biasa"


Kei tersenyum senang mendengar hal itu. "Tapi sekarang ada anggota kepolisian baru yang dimana mereka boleh langsung mengeksekusi Yakuza jika bertemu. Nanti ku beri tahu lebih lanjut" Sekarang Takashi yang tersenyum mengejek untuk Kei.


"Tamatlah riwayatmu nii-san, aku yang akan menjadi pewaris satu-satunya keluarga ini" Megumi memukul pundak Kei yang sedang mengemudi. Sedikit oleng tapi segera distabilkan kembali.


....



Mereka telah sampai dihalaman luas mansion Kei. Halaman ini terlihat sepi tidak ada mobil lain selain milik Kei. Terakhir Megumi tinggal mansion ini mobil lain masih berjejer rapi.


Beberapa mobil pun datang disusul dengan yang lain. Keadaan mobil itu tidak semulus seperti saat keberangkatan nya. Mereka yang berada didalam mobil segera turun dan membungukukan badan pada atasan mereka. "Dimana perempuan itu? "


Tubuh Ayako diseret paksa oleh Yamato kehadapan Kei. Hasan menatap miris pada perempuan itu, dia sedang hamil bagaiamana bisa mereka berbuat hal keji pada dia?


Plakk


Hasan merasakan nyeri saat melihat wanita itu jatuh dengan melindungi perutnya dari hantaman tanah. Pipinya sudah merah lebam bibirnya pun sedikit mengeluarkan darah.


"Kau jaminan untuk kebebasan seseorang" Hasan kurang mengerti dengan pembahasan mereka. Menatap Takashi yang sepertinya mengerti, tatapan Takashi terlihat tidak merasa iba pada wanita itu. Ayolah Takashi masih kesal dengan perempuan licik itu. Megumi?  Bagaimana dengan dia bukankah dia juga perempuan seharusnya dia merasakan rasa simpatinya bukan? Perempuan itu pun hanya berlalu pergi karena memang dia tidak suka melihat kekerasan didepan nya. Saat Takashi dipotong jarinya ia hanya memejamkam matanya tidak berani melihat.


"Jaminan? Dia tidak akan peduli padaku" Ayako meludah pada sepatu Kei. Terkejut melihat hal itu Yamato yang dibelakangnya pun menarik rambut Ayako untuk berdiri.


"Sayang sekali kau tidak ada guna nya" Kei memasang raut pura-pura kecewanya. "Bunuh dia" Yamato mengangguk patuh.


"K-kau membunuh ku jangan harap perempuan bernama Hani itu kembali dengan utuh" Ayako tahu perihal perempuan itu, fotonya yang sedang bersama dengan Kei ada banyak di meja ruang kerja kakaknya. Kasihan sekali perempuan itu karena mengenal Kei dia kena imbasnya.


"Tutup mulut mu" Kali ini bukan tamparan tapi pukulan di pipinya. Meringis kesakitan saat wajahnya sudah mencium rumput.


"Takashi dia? " Hasan menggoyangkan bahu Takashi meminta tolong untuk membantu perempuan itu.


"Kei dia sedang hamil" Tegur Takashi pada Kei yang dengan santainya memotret perempuan itu, ia akan mengirim pada Rusel ketua Machi-yokko.


"Lihat posisimu kau sedang ada dimana! Panggil aku dengan benar"

__ADS_1


"Aku bukan anak buahmu" Takashi menatap menusuk pada mata Kei.


"Terserah" Jawab acuh Kei dia pun memasukan kembali ponselnya pada saku celananya "Keluarkan bayi itu dengan paksa, aku tidak peduli apakah ia akan mati atau tidak"


Perempuan itu menggelengkan kepalanya dengan kuat, memeluk perutnya dengan erat. Air mata telah membanjiri mukanya. Hasan yang tidak tahan melihat itu segera mengeluarkan suara.


"Lepaskan dia" Kei menoleh pada Hasan ditatap nya dengan tajam. Meneguk ludahnya, berusaha menghilangkan rasa gugupnya ia pun berkata. "To-tolong kasihani dia dan anaknya, bagaimana jika orang yang menculik nee-chan ku tahu bahwa dia telah dibunuh dan nee-chan a-akan~" Hasan tidak berani melanjutkan ucapannya ia takut itu akan menjadi doa.


Kei menatap rumput hijau terawat nya. Membayangkan jika Hani akan diperlakukan lebih parah entah apa yang akan dirinya lakukan nanti. Apa dia bisa menerimanya?


"Panggilkan dokter, berikan ia kamar dan layani dia" Anak buahnya tidak percaya akan keputusan bosnya itu. Siapa pria itu? dengan mudahnya melunakkan hati baja Kei dan terlebih lagi siapa perempuan bernama Hani itu? apa hubungan mereka? "Bawa mobil yang rusak ke tempat biasa" Hasan tahu maksud tempat biasa itu dimana. Dia mengajak Takashi untuk ikut. Sementara ada tempat yang lebih nyaman daripada disini yaitu bengkel temannya, Shino.


"Ayo kita ikut mereka"


"Kalian tetap disini" Kei mengeraskan suaranya karena jarak antara mereka sedikit jauh. Kei yang berada di depan pintu menunjuk anak buahnya untuk menarik paksa mereka masuk.


"Kita turuti saja dia untuk sementara waktu" Hasan membiarkan mereka menarik dirinya bersama Takashi masuk ke mansion megah itu.



Melihat berbagai furniture yang berwarna emas dan putih. Banyak barang mahal yang hanya dijadikan hiasan di lemari kaca. Gelas kristal hanya menjadi pajangan tidak pernah dipakai. Betapa borosnya sang pemilik rumah jika tidak ingin digunakan kenapa beli?


"Apakah kau tidak terkejut? " Bisik Takashi.


"Sekaya apa dia?"


"Kau jangan pernah memikirkan hartanya jika tidak ingin pusing. Kau mengetahui satu fakta tentang darimana asal hartanya maka kau akan menemukan fakta lainnya." Takashi membuka pintu kamar yang ia tempati. " in syaa Allah kau akan aman bersama ku" Melangkah masuk melihat seisi kamar. Kamar ini terbilang luas hanya untuk satu ranjang dan lemari.



"Kau bagaimana bisa kenal dengan mereka? " Pertanyaan ini yang dari tadi ia ingin tanyakan. Takashi ragu untuk memberi tahunya, ia takut jika kenyataan bahwa ia dulu angggota Yakuza akan membuat Hasan takut padanya. Jika di pikirkan kembali, Hani bisa berurusan dengan Yakuza karena dia sendiri. Tapi ia sangat bersyukur karena dipertemukan oleh keluarga Hani. Apapun rencana Allah itulah yang terbaik.


"A-aku dulu salah satu dari mereka"


"Aku mengerti, jangan kau lanjutkan" Ia tahu pasti berat rasanya menceritakan masa lalu yang begitu kelam. Berjalan mengelilingi kamar, matanya terfokus pada sarung bantal dilantai. Hasan tersenyum melihat hal itu.


"Apakah kau akan menjauhi ku? " Tersenyum menanggapi hal itu, mana mungkin Hasan ingin menjauhi Takashi yang ingin memperbaiki hidupnya. Dirinya juga belum bisa dikatakan baik, maka ia ingin menjadi sahabat Takashi bersama-sama mencari jalan yang benar. Dan in syaa Allah ia akan mengajarkan ilmu yang dia sudah ketahui. Dan akan mencari ilmu yang tidak ia ketahui bersama-sama.


Berkawan dengan orang shalih membawa dampak yang baik, karena kawan itu akan mempengaruhi kawannya. Jika kawan itu shalih akan membawa kepada kebaikan, sebaliknya jika kawan itu buruk akan membawa kepada keburukan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hal ini di dalam hadits shahih sebagaimana riwayat berikut ini:


"aku akan tidur disamping mu" Merebahkan tubuhnya diranjang, hari sudah mulai pagi kejadian tadi menguras banyak waktu.


"Aku tidak akan tidur, aku takut nanti kita akam kesiangan" Takashi ingin berjaga malam ini, sekarang pukul 2 ia takut nanti mereka bangun kesiangan.


"Aku terbiasa tidur hanya 3 jam, tidurlah pasti kau lelah" Menepuk sisi ranjangnya. "Jika kau masih khawatir, aku akan memasang alarm yang sangat kuat. Kita akan bangun jam 5 nanti" Di Tokyo waktu subuh adalah jam 5.20


....


"Saya harus apa? " Mencengkram jari-jemari nya. Tidak berani menatap lawan bicaranya. Jika bukan karena kakaknya yang saat ini ditawan ia tidak ingin membantu kelompok ini menculik Hani.


"Ku dengar perempuan itu memiliki hati yang besar pasti ini akan mudah untuk meluruskan rencana B ku" Pria itu tersenyum bangga karena ia yakin rencananya akan berhasil, perempuan ini teman dari sang korban akan menjadi rencana B nya. "Untuk saat ini kau rawat saja dia" Rusel pun pergi di ikuti anak buahnya meninggalkan Agnes bersama Hani yang sedang dalam tidurnya.


"Hikss.. Maaf" Ia genggam tangan Hani dengan kuat. Ia tidak mau melakukan ini, kakaknya kenapa begitu bodoh dengan meminjam uang pada kelompok


Ia harus merawatnya bukan? Agnes dengan sigap mengambil kain seprai di lemari. Ia gunting menjadi 2 bagian membuat pola baju, tapi ia memerlukan jarum. Berniat membuat pakaian untuk Hani. Ia tahu pakaian yang Hani inginkan itu seperti apa. Jika dia meminta pakaian pada orang lain maka pakaian minim yang akan Hani gunakan. Lagi pula dirinya yang dipertanggungjawabkan untuk merawat Hani bukan?


Dia yakin pasti disini ada jarum, ini kamar Ayako. Bukankah orang kaya yang selalu dikekang akan sering menyulam untuk menghabiskan waktunya?  Itu yang sering ia lihat di acara TV berteman kerajaan.


"Eh ternyata ada" Membuka laci pada meja rias, ia menemukan jarum yang ditusukan pada gumpalan benang wol. Kain yang telah ia potong menjadi 2 itu bisa untuk 1 gamis itu hanya asumsi Agnes. Merasa kurang ia pun mengambil seprai lainnya. Ia belum membuat hijab yang biasanya dipakai Hani. Seprai Hilang tidak akan membuatnya terpenggal bukan? Melihat hasilnya ia sedikit kecewa, sudah 3 jam ia membuat dan baru satu yang bisa ia buat terlebih lagi gamis itu tidak bisa dibilang pakaian.


Apa aku meminta mereka untuk membelikannya saja? 


Menggigit bibir bawahnya, ia merasa sedih karena hasilnya mengecewakan. Ia membuat ini tidak tidur, hanya mengandalkan keahliannya yang dulu pernah berkerja di Konvensi baju saat ia baru lulus. Tapi itu tidak bertahan lama.


Melihat Hani yang sedang berusaha membuka matanya, berkedip berkali-kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.


Agnes dengan ragu menghampirinya, apakah Hani akan marah?


"Agnes? " Suara paraunya yang baru saja bagun begitu serak. Mencoba duduk tapi rasa nyeri dipunggung yang ia dapat. "Aakkh"


"Jangan bergerak, jahitan mu belum kering. Tunggu lah sebentar" Hani mengangguk paham. Dia melihat sekeliling dan matanya terfokus pada lantai yang terdapat potongan kain berantakan.

__ADS_1


"Kita dimana? "


Menceritakan dari awal bagaimana Hani bisa ada disini, ia siap jika harus mendapat tamparan. Tapi bukan tamparan yang ia dapat malah senyuman yang ia dapat. Agnes tau itu senyum ke getiran, Hani menahan tangisannya. "Bi-bisa kau bantu aku? "


"Tentu saja" Jawab Agnes mantap.


"Bantu aku ke kamar mandi, aku ingin mengambil wudhu" Agnes melihat jam yang terpasang apik di dinding. "Kau ingin sholat dalam keadaan seperti ini? " Anggukan dari Hani sebagai jawabannya. "Tidak terlalu sakit, lagi pula bukan kaki ku yang sakit. Aku masih bisa sholat tanpa harus diranjang"


Karena Shalat diwajibkan kepada semua Muslim yang baligh dan berakal. Merekalah mukallaf , orang yang terkena beban syariat. Yang dibolehkan untuk meninggalkan shalat adalah orang yang bukan mukallaf, yaitu anak yang belum baligh dan orang yang tidak berakal.


Di lingkarkan tangan Hani pada pundaknya. Berjalan dengan perlahan agar ia tidak tergelincir.  "Kau duduklah disini" Mendudukan Hani pada toilet duduk yang sudah Agnes tutup. Perlakuan Agnes begitu lembut terhadapnya. "Kau diam saja! biar aku yang akan membawakan air itu kepada mu" Rasanya ingin menangis mendapat perhatian begitu besar dari temannya itu. Mengambil selang toilet dipencet nya selang itu, Hani menadangkan kedua tangannya.


"Ini punya siapa? " Hani mengambil pakaian di karpet merah.


"Maafkan aku, aku ingin membuat pakaian yang sering kau pakai, tapi ini terlalu besar dan berantakan"


Pecah sudah tangisan Hani, mengapa dia begitu baik dan sangat menghormati nya. Apa yang pernah dirinya lakukan sehingga Agnes begitu baik.


"Maaf,  maafkan aku. Jika kau tidak suka nanti akan ku usahakan untuk membuat nya kembali. "


"Tidak! A-aku suka" Mengusap matanya yang basah. "Akan ku pakai" Hani memakai pakaian itu berserta jilbabnya untuk sholat. Sangat pas besarnya, ia suka. Seandainya jika bukan Agnes yang saat ini dihadapannya mungkinkah orang itu akan memperlakukan dirinya seperti dia?


....


Pagi pun menjelang, Hasan dan Takashi yang memang dari tadi sudah bangun segera keluar untuk bersiap-siap menjemput Hani. "Menurut mu apa tidak apa jika kita tidak melaporkan nee-chan yang diculik itu pada polisi? " Takashi menepuk jidatnya, apakah Hasan belum mengerti juga tentang apa yang ini bicarakan tadi malam. "Baiklah aku mengerti" Melihat respon Takashi ia menjadi paham.


"Ini urusan sesama Yakuza" Takashi menatap Kei yang sedang menerangkan rencananya untuk membawa Hani pulang.


"Lalu apa hubungannya nee-chan dengan Yakuza? Mengapa ia bisa diculik. Dan terlebih lagi kenapa pria itu seperti yang merasa paling kehilangan? Padahal aku adiknya" Takashi menatap Hasan yang begitu polos, apa dia tidak mengerti jika sekarang Kei itu sedang mengalami mabuk cinta. Menggelengkan kepalanya dengan kuat, tidak itu tidak mungkin.  Dia pun menatap kembali Kei yang membanting vas bunga pada anak buahnya. Hanya karena anak buahnya itu bertanya 'bagaimana jika perempuan itu telah di paksa untuk menjadi kelompok mereka? Apa kita tetap membawanya atau membunuhnya?'


Takashi juga tidak suka mendengar penuturan itu, tapi hingga melakukan hal itu? Tidak! Tidak akan pernah walau ia menyukai Hani. Sepertinya ia akan saingan dengan Kei, tapi ia yakin siapa pun kelak yang menjadi pendamping Hani pasti itulah yang terbaik. 


Terkadang kita merencanakan sesuatu, menurut prasangka dan perkiraan kita, apa yang kita rencanakan adalah yang terbaik bagi diri kita. Kita pun berusaha untuk meraihnya. Namun ternyata kita gagal setelah berusaha, tidak sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Atau terkadang ada musibah yang menimpa kita, yang membuyarkan semua yang kita cita-citakan.


Namun ingatlah, kaum muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala


Jika seorang hamba telah berusaha dan telah berdoa, maka hasil akhir yang Allah tetapkan adalah yang terbaik bagi hamba tersebut. Kenapa? Karena yang terbaik adalah pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala . Allah Ta’ala berfirman,


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216)


Kemudian Allah tutup ayat ini dengan kalimat,


“Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)


Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,



Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisa: 19)


Demikianlah karunia Allah, terkadang didapatkan dengan penuh kesedihan yang harus dihadapi dengan kesabaran. Takdir dan ketetapan Allah adalah yang terbaik. Allah adalah Maha Bijaksana dalam takdir-Nya, Maha Mengetahui apa yang akan terjadi. Hendaknya kita berbaik sangka terhadap Allah, bukan malah meratapi apa yang kita hadapi. Ingatlah setelah kesulitan itu ada kemudahan.


Sumber: Ceramah pendek Ust. Firanda Andirja, M.A. dengan perubaha seperlunya oleh tim KhotbahJumat.com


Hasan menatap ngeri pada Kei, sepertinya mereka harus menjaga lidahnya itu. Sedangkan Takashi kembali berpikir apakah Kei serius jatuh cinta pada Hani?  Jika iya, sungguh mengerikan.


"Mungkin Hani sudah menjadi porosnya" Jawab Takashi kurang yakin. Hasan semakin bingung dengan jawaban itu.


TBC


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Chapter selanjutnya tunggu saja yaa...


__ADS_2