KAU YANG DIPERUNTUKKAN BERSAMAKU

KAU YANG DIPERUNTUKKAN BERSAMAKU
Datang


__ADS_3

Pagi yang cerah, cahaya masuk melalui jendela kamar yang dibuka oleh Hani mengusik tidur Agnes. Semalam Agnes menginap disini di toko roti Hani memakai kamar Hani untuk beristirahat bersama sang pemilik.


Hani yang memang sudah terbangun sebelum fajar hadir sudah membuat roti baru untuk dijual. Dirinya tidak ingin merepotkan Agnes, Hani tau Agnes pasti letih setelah membantu dirinya membereskan kekacauan semalam.


Tapi tanpa ia sengaja dirinya malah membangunkan Agnes yang sedang asik dengan mimpinya.


"Ohayou Hani" (selamat pagi) sapa Agnes pada Hani yang sedang melipat selimut.


Hani membalasnya dengan senyuman.


"Hmmm sungguh wangi di bawah, apa kau sudah membuat rotinya?" tanya Agnes sambil mengendus-endus aroma dari bawah.


"Iya sudah ku buat tapi tidak banyak, kemarin kita belum berbelanja untuk bahannya lagi." jelas Hani yang mendapat anggukan paham dari Agnes.


"Sebaiknya kau mandi, aku akan menunggumu dibawah" Hani melangkahkan kaki jenjangnya meninggalkan kamar tersebut.


Menunggu Agnes yang sedang membenahi diri. Banyak pelanggan yang datang pagi ini. Dirinya sungguh membutuhkan bantuan, tidak mungkin ia berteriak pada Agnes agar cepat.


Sudah setengah jam tapi Agnes belum juga turun. Hani kewalahan saat pelanggan berterusan datang.


"Biar ku bantu" seorang pria dengan jas hitamnya datang menghampiri Hani berdiri tepat disampingnya.


Hani yang terkejut memundurkan beberapa langkah. Pria itu, pria yang semalam melukai Takashi. Hani tidak mengenal pria itu tapi yang paling Hani tidak tahu adalah buat apa pria itu kemari? Apakah dia akan membuat kekacauan lagi?


Hani yang panik segera menjauhi pria itu dia mengambil jarak sangat jauh. Dia memilih untuk didepan kasir saja dan membiarkan pria itu disana.


Matanya menatap ke trotoar jalan, depan tokonya penuh dengan mobil dan tidak mungkin itu milik para pelanggannya. Karena pelanggannya saat ini sudah mulai berkurang dan Hani tidak melihat diantara mereka yang membawa mobil. Semua pelanggannya rata-rata anak sekolahan dan para lansia.


"Arigato" ujar Hani pada seorang siswi yang telah menyerahkan selembar uang padanya.


Menghitung jumlah uang yang saat ini ada mesin kasirnya itu. Dirinya harus mengumpulkan uang untuk biaya pengobatan Takashi. Terlalu sibuknya menghitung, Hani tidak menyadari jika pria itu telah datang menghampirinya.


Praank


Hani terkejut melihat pria itu terjatuh pingsan dan yang membuat dirinya lebih terkejut lagi adalah siapa yang telah membuat pria itu pingsan.


"Agnes" Hani melihat Agnes yang sedang memegang penggorengan dengan gemetar.


"Kau tidak apa Hani? Apakah dia melukai mu?" Agnes panik saat melihat pria itu ada disini apalagi saat melihat pria itu yang secara diam-diam jalan mendekati Hani. Pikiran Agnes sudah bermacam-macam. Apakah Hani akan diculik? Atau akan ditembak mati?


"Aku tidak apa" Agnes mendesah lega mendengar hal itu.


Tap


Tap


Seluruh manusia yang tadi berada didalam mobil itu seketika keluar dan masuk kedalam toko roti.


Menodongkan pistol pada Agnes dan Hani. Dua diantara mereka menghampiri pria yang telah pingsan itu siapa lagi jika bukan Kei sang ketua Yakuza.


"Kiyoshi-sama." mereka hendak mengangkat Kei.


Plak


Kei menepis tangan anak buahnya itu, dirinya tidak pingsan hanya sedikit pusing saja dan membiarkan dirinya berbaring sebentar dilantai yang dingin itu.


Hanya sebuah penggorengan tidak akan membuat dirinya pingsan. Bahkan sudah banyak peluru pistol yang menembus tubuhnya itu tidak membuat dirinya pingsan.


"Kalian, simpan kembali semua senjata kalian." perintah Kei dan dituruti oleh semua anak buahnya. Mereka memasukan kembali senjata itu kedalam saku jas mereka.


"K-kau seharusnya pingsan!" Agnes berkata dengan terbata-bata dirinya hendak memukul kepala pirang Kei tapi dengan segera Kei tepis penggorengan itu.


Praank


Penggorengan itu jatuh menabrak lantai, Kei menggenggam tangan Agnes dengan kuat. Sesekali dia plintir tangan itu hingga merah.

__ADS_1


"Hiks.. Sakit" ringis Agnes saat merasa tangannya ingin copot. "Le-lepaskan." Agnes berusaha melepaskan genggaman tersebut tapi tidak berhasil. Kei malah semakin kuat memelintir tangan putih itu. "Awww"


"Lepaskan dia" Hani menatap miris tangan Agnes yang sudah membiru.


Kei dengan segera melepaskan tangannya pada Agnes. Dia mendorong Agnes ke Hani.


"Entah mengapa saat kau yang meminta aku selalu menuruti mu" Kei dengan perlahan maju mendekati Hani. Tangannya menjulur ke kerudung Hani, Kei hanya penasaran mengapa perempuan itu selalu memakai penutup kepala begitu besar. Bukan kah jika seorang koki itu cukup menguncir rambutnya agar rambutnya tidak mengenai makanan?


Hani yang ketakutan hanya memundurkan tubuhnya hingga menabrak etalase roti. Agnes yang melihat Hani ketakutan dan sudah terpojokan segera menepis tangan Kei agar tidak menyentuh Hani. Tidak peduli jika tangannya disakiti lagi. Agnes sangat mengerti jika Hani seorang yang selalu menjaga dirinya dari sentuhan pria. Entah itu perintah dari tuhannya atau memang Hani punya trauma. Yang jelas Agnes tidak suka saat melihat Hani ketakutan seperti itu.


Kei terkejut dengan respon mereka berdua terhadap dirinya yang berusaha menyentuh Hani. Apakah segitu bencinya Hani pada kaum pria sehingga disentuh sedikit saja tidak mau?


"KAU!" geram Kei dengan menarik rambut panjang Agnes. Agnes yang rambutnya ditarik dengan kuat ia pun berteriak kesakitan.


Sedangkan Hani yang melihat itu segera menarik tangan Agnes agar menjauh. Tapi nyatanya itu malah membuat Agnes tambah kesakitan Karena dirinya menjadi tarik menarik dengan Kei.


Kei memperhatikan Hani, dia belum pernah melihat seseorang yang begitu menjaga dirinya dari kaum pria. Kei sangat penasaran dengan Hani, alasan apa sampai ia tidak mau tersentuh oleh pria? Apakah karena pacarnya yang pencemburuan?


"Lepaskan dia tuan." pinta Hani yang dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Kei pun tersenyum evil mendengar itu .


"Jaminannya apa? Kau tau gadis ini sungguh cantik dan cocok jika ku lelang di club malam." Agnes dan Hani terbelak terkejut mendengar hal itu. Pria itu sungguh kejam siapa sebenarnya dia?


"A-ano" Hani bingung ingin menjawab apa.


"Ku hitung sampai tiga."


Hani masih mencoba berpikir, matanya menatap roti yang sudah hampir habis karena sudah ada yang terjual.


"Satu.... dua" ide pun seketika muncul, ia dengan tegas mengatakan dengan yakin apa yang sudah ia pilih untuk menyelamatkan Agnes.


"Roti!" ujar Hani, semua yang di sana menatap Hani dengan tatapan bingung kenapa roti?


Agnes yang merasa cengkraman pada tangannya mengurang ia ambil kesempatan itu untuk menjauh dari Kei dan berlari ke Hani.


"Iya" jawab Hani dengan mantap.


Seketika Kei dan bawahannya tertawa terbahak-bahak. Ternyata pendengaran mereka tidak salah.


"Kau kira aku anak kecil berusia 5 tahun? aku tidak mau!"


"Tapi hanya itu yang bisa ku berikan, uang ku hanya cukup untuk biaya rumah sakit Takashi"


"Takashi? Mengapa kau yang membayarnya?" tanya Kei dengan memicingkan kedua matanya. Mengapa dia sangat peduli dengan Takashi?


"...." Hani diam tidak ingin menjawabnya bagaimanapun ini urusan pribadinya.


"Kau menyukai nya?" entah mengapa saat Kei memikirkan hal itu hatinya terasa sesak. Ada apa dengan dirinya? belum ada 24 jam ia bertemu dengan gadis itu tapi ia sudah mulai cemburu jika gadis itu peduli dengan orang lain terlebih lagi pria. Apa mungkin Takashi kekasihnya ?


"Maksudmu?" tanya Hani yang tidak paham ia terlalu polos untuk situasi seperti ini.


Braaak


"Jawab saja!" Kei memukul meja dengan keras kemarahan sudah meluap.


Hani bingung dengan pria dihadapannya ini? Mengapa moodnya cepat sekali berubah? Menyukainya? Tentu saja Hani menyukai Takashi tidak mungkin ia membencinya.


Hani pun dengan terpatah-patah menganggukan kepalanya. Agnes yang melihat respon Hani tercenggang. 'sejak kapan Hani menyukai Takashi?'


"Kalian semua bawa Takashi jemput dia sekarang juga!" Titah Kei dan para anak buahnya pada berhamburan keluar hanya menyisahkan 3 anak buah untuk menemani Kei.


"Kau ingin apakan Takashi?" tanya Hani dengan penekanan.


"Menyelesaikan tugas yang belum kelar" jawab Kei acuh, ia pun berjalan melihat-lihat roti yang ingin ia ambil. "Yaitu menghancurkan nya dan untuk ku buang dari muka bumi ini" Kei meremas roti yang ia pilih dengan kuat, roti isi sosis itu sudah tidak bebentuk roti. Bahkan Kei menginjak roti itu.


"Kau!" sabar? Tentu saja Hani sabar tapi bukan berarti dia berdiam diri setelah mendengar bahwa pria itu dengan seenaknya ingin membunuh Takashi dan melihat bahwa pria itu dengan gamblang membuang-buang makanan. Dia pun mengambil penggorengan yang ada dilantai tidak jauh darinya. Penggorengan itu yang tadi dipakai Agnes dan sekarang akan Hani pakai.

__ADS_1


plakk


"Hei apa yang kau lakukan?!" teriak Kei marah karena punggungnya dipukul, sakit? Tentu saja! bahkan pukulan ini lebih keras.


"Memukulmu" Hani terus memumukul Kei. Para anak buahnya bersiap membantu Kei tapi Kei mengisyaratkan tangan pada anak buahnya untuk tidak campur. Seolah dia menikmati setiap pukulan Hani.


"Kenapa kau menyia-nyiakan makanan itu? jika ingin berucap pakai saja lidah mu jangan pakai roti ku! Ku beri tahu ya, itu Mubazir."


Selama ini Kei selalu menghambur-hamburkan uangnya Kei tidak masalah dengan uang yang telah ia hamburkan. Tapi gadis ini? Hanya karena roti sudah berani memukulnya. Tentu saja Kei tau pasti Hani marah bukan karena roti saja tapi juga karena Takashi yang akan ia lenyapkan.


Buugh


Buugh


Hani terus memukul Kei.


"Hei sakit!" Kei tidak berontak saat dipukul Hani layaknya saat Agnes memukulnya yang dengan segera Kei balas. Tapi untuk gadis di hadapannya ini Kei tidak berdaya jika harus melukai gadis tersebut.


"Lebih sakitan mana dengan teman-teman ku yang kau sakiti!" Hani menghentikan acara memukulnya itu. Dia meremat penggorengan itu dengan kuat menahan emosinya sehingga telapak tangannya mengalirkan darah karena terkena bagian pinggir penggorengan tersebut.


"Kau berdarah" ujar Kei dia pun mengambil sapu tangannya yang ada disakunya ingin membersihkan darah tersebut.


"Jangan sentuh aku!" Hani menjatuhkan penggorengan itu dan berjalan mundur menghindar Kei. Lihat! Bahkan saat terluka parah gadis itu tetap tidak mau disentuh.


"Baiklah baiklah, tapi ku mohon bersihkan luka mu itu" Kei tidak tahan melihat luka itu terus mengeluarkan darah walau tidak seberapa. Bahkan Hani tidak meringis kesakitan, karena ini hanya luka gores biasa.


Anak buahnya menatap tidak percaya pada bosnya. Ketua Yakuza memohon pada seorang gadis? Dan nada Bosnya itu mereka tidak pernah mendengar Kei berbicara selembut itu.


"Kau!" tunjuk Kei pada Agnes yang sedang memijit tangannya yang masih sakit karena pria dihadapannya itu. "Ambil ini dan tolong obati dia" Kei memberikan sapu tangan itu dan berlalu pergi meninggalkan tempat. Sebelum ia pergi Kei mengatakan sesuatu yang membuat Hani merasa tenang.


"Aku tidak akan melukai Takashi jika itu membuat mu sedih."  Kei berujar itu sangat pelan dan hanya Hani yang mendengar karena Kei mengucapkan itu saat berjalan melalui Hani.


Dan Hani tentu saja merasa senang karena Takashi akan baik-baik saja walau dirinya tidak mengerti maksud kalimat akhir Kei.


"Arigatou" ujar Hani pada Kei yang berada di pintu. Kei yang mendengarnya merasakan degup jantungnya begitu cepat.


Dan Kei hanya tersenyum tipis melihat Hani tersenyum manis. Kedua pipi Kei sudah berubah warna tomat wajahnya pun terasa panas.


'Tidak mungkin aku menyukainya! Jika benar sejak kapan?'


Kei terus memikirkan hal itu sepanjang jalan.


Anak buahnya yang sudah berada didepan mobil bosnya berdiri kaku melihat bosnya senyum-senyum sendiri. Bahkan mulut mereka menganga Melihat bosnya sangat manis, mereka ingin mengabadikan senyum itu.


itu merupakan hal yang sangat langka, Kei yang melihat anak buahnya tak kunjung membuka pintu mobilnya mengeluarkan pistol disaku jasnya.


Doorr


Kei menembakan peluru itu keatas, anak buahnya terkejut dan langsung membuka mobil untuk bosnya. Pemikiran mereka yang bilang bahwa bosnya itu manis hilang semua


'Ternyata dia masih bos yang sama'


.


.


.


.


.


.


“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan”. (QS.Al-Israa’ : 26-27).

__ADS_1


__ADS_2