
Kei melihat sekeliling sambil mengusap lengannya untuk menghangatkan diri. Hutan ini mirip seperti Aokigahara hutan yang selalu menjadi tempat bunuh diri di Jepang. Mengingat namanya saja sudah membuat Kei merinding.
Tunggu! Bukankah di situasi seperti ini seharusnya perempuan yang lebih takut? Di lihatnya Hani yang sedang tertawa bersama Hasan. Jadi yang di sini yang merasa takut hanya dirinya? Menengok kesebelah, terlihat anak buahnya sedang menggigit jari. Memandang remeh pada anak buahnya itu, dia pun berusaha berjalan cepat agar sejajar dengan Hani.
"Hasan kau terlihat heroik tadi." Hani menyikut perut Hasan.
"Aaakkh nee-chan kau memukul luka ku."
"Benarkah?" Hani memicingkan matanya tidak percaya. "Berani berbohong sekarang?"
"Hehe tidak." Hasan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.
"Rasakan ini." Hani mencubit keras pipi Hasan hingga memerah.
"Nee-chan sakiiit."
Di elusnya pipi Hasan oleh Hani dengan lembut. Tanpa mereka sadari perilaku kedua bersaudara ini di perhatikan oleh sang ketua Yakuza.
Kei mengusap pipinya yang sedikit lebam. Ia ingin jika yang mengusapnya itu perempuan di sampingnya.
"Huhhh." Hanya menghela napas kecewa saat itu hanyalah angan kosongnya. "Eeh?" Merasa pipinya ada yang menyentuhnya ia memejamkan matanya sebentar untuk merasakan sentuhan itu. Berusaha mendalami hingga hatinya tersentuh. Tunggu!
'kasar?' batin Kei.
"Kiyoshi-sama pipimu apakah terasa sakit?"
"Menjauhlah!" Tepis Kei pada tangan anak buahnya.
Kei melangkah lebih dulu memimpin mereka. Selama berjalan di hutan ia hentakan kakinya dengan kasar pada tanah yang tak bersalah itu.
"Nee-chan sebentar lagi masuk waktu shalat."
"Ah iya, kita harus cari tempat."
"Jika kita berhenti maka Rusel akan cepat menyusul kita." Ujar Tanjirou dengan melihat sekeliling.
"Kalau begitu kalian duluan saja nanti kita menyusul." Hani menatap Tanjirou dan Kei bergantian.
"Tidak apa jika kita tinggal? Tapi cepatlah menyusul jika ada malabantuan kita tidak tahu apakah masih sempat menyelamatkan kalian. Tolong jangan jadi beban."
"...." Hani diam tidak menjawab, ditatapnya rumput liar di kakinya.
Tanjirou Menatap wajah Hani yang sedang menahan sedih. Dirinya tidak boleh goyah. Ia punya keluarga di sana dia masih memiliki kewajiban pada keluarganya.
"Kita pergi." Ujar Tanjirou
Kei menatap Hani dengan sendu, dirinya tidak ada niatan untuk pergi meninggalkan gadis ini. Dirinya datang itu membawa Hani pulang bukan? Lalu untuk apa dia kesini jika berakhir Hani di tinggal.
"Apakah hati kalian memang sebusuk itu. Aku hanya meminta waktu 10 menit untuk sholat. Bukan untuk buang air besar ataupun terluka. Aku tau kalian tidak memiliki kepercayaan akan tuhan tapi kami percaya jadi tolong pengertiannya jangan berprilaku brengsek seperti itu. Setidaknya tunggu kami di sana."
Hani mengucapkan itu tanpa melihat Kei didepannya. Hani salah! Tentu Hani salah! Kei menatap Hani dengan terluka. Kei tidak akan pernah meninggalkan Hani bahkan niat pun tidak ada. Bagaimana mungkin dia menggunakan kalimat kalian yang termasuk dirinya dengan mengatai dirinya tidak bisa menghormati keyakinan Hani dan juga brengsek. Baiklah jika itu dari mulut orang lain ia akui dirinya memang seperti itu tapi perempuan itu?
Kei Kecewa terhadap Hani, ia kira Hani tidak punya pemikiran hal jelek pada dirinya walaupun ia seorang Yakuza, hanya Hani yang selalu memperlakukan dirinya dengan jujur dan sopan. Apakah itu kepalsuan? Ternyata Hani sama saja seperti mereka yang menilai dirinya karena pekerjaan yang ia miliki.
"Nee-chan." Tegur Hasan pada Hani yang telah mengucapkan kalimat yang menyakiti perasaan pria di depannya.
"Ayo Kiyoshi-sama."
"Jika kau mau pergi, pergi saja. Aku bukan bawahanmu yang bisa kau perintahkan. Dan kau lupa siapa yang telah menyelamatkan mu." Kei berujar dingin pada Tanjirou.
__ADS_1
"Akan ku cari tempat yang aman untuk kalian Sholat." Kei berjalan tanpa menoleh sedikitpun pada Hani. Hani yang berada di belakang Kei menyadari jika kemeja yang di gunakan Kei sangat lah tipis.
"Pakailah." Hani memberikan kembali jas Kei.
Kei hanya melirik jasnya tidak ada niatan untuk mengambilnya. Tapi saat melihat Hani perasaan kesal dalam diri Kei membuncah. Di tariknya dengan kasar Jas itu.
Hani membelak matanya terkejut saat Kei berprilaku seperti itu. Di tatapnya punggung lebar Kei yang terus berjalan cepat seolah menghindari darinya.
"Nee-chan kau tidak apa?"
Hasan menunggu jawaban dari Hani namun, Hani tidak sedikit pun membuka mulutnya. Hasan menarik tangan kakaknya berjalan berdampingan bersamaan.
Menemukan suatu tempat yang cocok di balik gua yang tertutup tumbuhan menjalar. Suara gemuruh air laut cukup terdengar nyaring dari sini. Kei berkeringat dingin dengan wajah pucat ia berusaha menetralisirkan degup jantungnya. Jangan panik tetap santai anggaplah itu suara mesin mobilnya.
"Aku akan berjaga-jaga Di luar." Sejujurnya ini hanya alasan Kei untuk pergi agak jauh dari laut. Setidaknya sampai suara air laut tidak terdengar. Dan dia mau memastikan bahwa Rusel tidak mengikutinya sejauh ini.
"Hati-hati." Teriak Hani dalam gua itu saat Kei sudah berjalan jauh dari pandangan matanya.
"Kau teriak?" Tanya Hasan pada Hani. "Suara nee-chan terlalu kecil untuk bisa didengar oleh pria itu. Dan lagi kenapa baru sekarang bilang hati-hati nya saat dia sudah menjauh."
"Ittaai." Keluh Hasan saat pinggangnya di siku oleh Hani.
"Terserah aku. Lebih baik kita ambil wudhu. Sepertinya di bagian dalam ada sumber mata air."
Di lihatnya sekeliling matanya tertuju pada pria yang sedang duduk di atas batu berlumut.
"Kau siapa namanya?"
"Saya?"
Hani mengangguk.
"Aku duluan nee-chan."
"Iyah Hasan. Maaf untuk perkataanku tadi Tanjirou aku tau padahal kita semua sedang panik seharusnya aku bisa mengerti kondisi mu saat itu."
"Tidak! Aku yang bersalah. Aku salah, seharusnya aku tidak boleh egois seperti itu. Sekarang kiyoshi-sama pun marah padaku. Aku minta maaf." Tanjirou berojigi 90° kepada Hani.
"Kau tidak harus seperti itu. Aku yang salah."
"Tidak aku yang salah."
Hasan yang melihat itu menarik tangan Hani untuk mundur.
"Nee-chan saja yang duluan."
"Eeh?" Hani menatap Tanjirou yang masih dengan posisi yang sama dan juga Hasan.
"Cepatlah." Hasan menekan suaranya.
Hani mengangguk dan berjalan menjauh dari mereka.
"Dia sudah tidak ada, tegakan badan mu." Hasan menatap Tanjirou dengan tatapan yang jarang dia lakukan pada setiap orang. "Aku mendengar percakapan kalian. Kau takut jika Hani tidak memaafkan mu maka setelah perjalanan ini selesai kau di suruh melakukan sappuku bukan? Kau tidak meminta maaf dengan tulus, kau hanya takut pada bos mu."
Hasan mengangkat dagunya dan menatap jijik pada Tanjirou.
"Rasanya aku ingin memukulmu. Dan Kenapa kau ikut kami? Kau takut jika berjalan sendiri maka Kiyoshi akan membunuhmu? Pffft banci! Kau mau berlindung di balik punggung Hani."
__ADS_1
"Tutup mulutmu! Mana mungkin aku berlindung di balik perempuan kampungan dan munafik seperti dia! Kau tau perempuan murahan seperti dia itu hanya sebuah objek bagi Kyoshi untuk ia mainkan. Dengan sikapnya yang sok ramah tentu saja akan menarik perhatian pria. Padahal mah aslinya munaf_"
"Lanjutkan perkataan mu." Hasan menarik rambut Tanjirou kebelakang. Matanya menyala seperti ingin membunuh pria itu. "Cepat lanjutkan." Tantang Hasan.
"Hasan ada apa ini?"
Kemunculan Hani mengehentikan niat Hasan yang ingin membuat Tanjirou merasakan apa yang namanya cacat.
"Aku ambil wudhu." Hasan pergi tanpa menjawab pertanyaan Hani barusan.
Hani hanya melihat Kepergian Hasan. Aah Hani hampir lupa memberikan apa yang ada di tangannya pada Tanjirou.
"Minumlah ini." Hani membawakan sebuah air mineral dalam kemasan botol plastik.
"Dari mana?"
"Aku menemukannya saat aku mengambil wudhu, sepertinya ini punya seseorang yang pernah tersesat. Maaf aku sisakan sedikit untuk mu, karena yang lain juga perlu minum. Aku sudah mencicipinya masih segar jadi aman."
Tanjirou menerima itu dengan ragu, bukan karena ia tidak percaya pada air itu hanya saja tidak enak menerimanya apalagi dari orang yang baru saja ia hina.
"Nee-chan ayo." Hasan yang selesai dengan wudhu nya mengajak Hani untuk shalat bersama.
Melihat kakak beradik itu sholat membuat hati Tanjirou tersentuh. Walaupun keadaan tidak mendukung tapi semua itu bukan masalah bagi dua bersaudara itu. Seolah mengatakan keadaan seperti apapun itu yang namanya sembahyang tidak ada yang namanya keadaan tidak mendukung.
Srrrrkkk
"Hosssh hoossh."
"Kiyoshi-sama anda kenapa? Darah?" Melihat kaki yang terbalut sepatu itu mengeluarkan cairan merah membuat Tanjirou khawatir.
"Seharusnya aku tidak kesini. Mereka pasti dapat menemukan kita. Sial darah ini! Pasti membuat jejak untuk mereka."
"Apa maksudnya?"
"Rusel, dia menemukan ku."
"Lalu bagaimana? Dan luka mu? Dan mereka?"
"Kita pergi secepatnya, luka ini biar aku urus. Dan mereka."
Menatap dua bersaudara itu berharap cepat selesai sholat nya. Kei berjongkok dan merobek sedikit kemejanya.
Srrrrkkk
"Aku butuh waktu untuk meredakan luka ku."
"Kiyoshi-sama?"
"Kau boleh pergi duluan, aku tidak akan menghukum mu."
"Ta-tapi?"
"Kita akan pergi bersama, minumlah ini." Hani yang sudah selesai dengan Sholat nya memberikan air pada Kei. "Pasti sangat haus. Biar aku yang melanjutkannya."
Hani mengelap luka Kei dengan perlahan, berusaha agar Kei tidak menjerit.
"Aku sangat bersyukur masih bisa hidup saat ini. Dan hanya perlu beberapa menit untuk diri ini untuk sholat. Aku sangat membutuhkan sholat ini bukan tuhan kami yang membutuhkan nya. Karena aku butuh Rabb ku Untuk keselamatan dan ketenangan diri ini aku perlu Sholat dan itu hanya sebentar."
Hasan mengucapkan itu untuk memberi tahu bahwa sholat nya itu bukan beban.
__ADS_1