
Ya Allah aku teh bingung kudu kumaha? Selama ini aku bikin cerita dengan ganre aman karena takut ada anak kecil yang baca. Tapi jujur cerita ini bagi kalian apakah ini membangkitkan napsu kalian? Kalau aku pribadi yang menulis ini tidak! Karena cerita ini tidak ada niat membangkitkan napsu tapi oke aku gaskeun.
Napas tak beraturan Hani menjadi kebahagiaan bagi keparat itu. Hani terus memberontak saat mereka terus saja melakukan hal tidak senonoh pada tubuhnya. Memasukkan dan mengeluarkan kembali botol kaca itu pada vaginanya berulang kali.
Para anak buah Rusel meludahinya yang membuat Hani semakin jijik pada tubuhnya sendiri. Ya Hani sudah kotor saat ini dan dia sungguh menangisi nasibnya yang seperti ini.
Rusel melepas ikat pinggangnya dan mengayunkan ikat pinggang itu pada tubuh Hani.
Crash
Nyeri yang di rasakan tubuh Hani karena goresan di punggungnya bertambah lagi saat cambukan dihadiahkan Rusel padanya.
Dirinya yang sedang terkelungkup menangis dengan keras walau dia yakin air mata dan jeritannya tidak mempengaruhi timbulnya rasa belas kasih pada Rusel.
Di tarik dirinya bagai binatang. Rusel menyeret dirinya dengan cara menjambak.
Hani di paksa berdiri namun, untuk berdiri pun dirinya tidak kuat. Saat ia tidak mau berdiri Rusel mencambuk dirinya lagi.
Hani hanya bisa pasrah dan menatap Rusel dengan matanya yang buram karena air mata. Rasa pusing yang ia alami saat ini membuat dirinya harus tertidur. Apakah setelah ini surga yang ia lihat saat ia tertidur? Hani tersenyum akan hal itu. Hingga suara tembakan membabi buta ia dengar Hani tidak peduli. Bunuh saja dirinya jika saat ini mereka sudah bersiap membunuh dirinya dengan pistol tersebut.
"Hani." Teriak seseorang yang Hani sangat hapal pemilik suara itu.
Hani tertawa kecil dengan mata terpejam saat membayangkan suara Kei yang ia dengar terakhir kalinya. Kenapa bukan suara Hasan? jika Hasan maka dia akan menuntunnya mengucapkan kalimat syahadat.
Mengingat hal itu Hani menggerakkan lidah dan bibirnya untuk mengucapkan syahadat. Mungkin ini saatnya dia pergi untuk selamanya dan berakhir dengan surga yang dia rindukan.
__ADS_1
"Sialan!" Kei terus menerus memukul Rusel dengan membabi buta.
Dua anak buah Rusel sudah tumbang itu kerabat peluru yang dimilik Kei dan Tanjirou tidak banyak.
Rusel yang belum siap dengan keberadaan Kei kalah telak. Sedangkan anak buah Rusel yang lain berantem dengan Tanjirou dan Hasan.
"Kenapa kau lakukan ini?" Tanya Kei pada Rusel yang hanya tertawa di bawah Kei.
Kei menatap Hani yang telah tertidur. Kei bernapas lega saat melihat pergerakan napas Hani masih ada walau kecil.
Tapi penampilan Hani, membuat Kei lagi lagi menangis merasa terpukuli karena ini semua karena dirinya. Melihat Rusel dipukul lagi terus menerus hingga wajahnya sudah tak bisa dikenali.
"Bukankah adikmu sudah ku kembalikan? Kenapa kau masih ingin permusuhan Rusel?" Kei menarik kerah baju Rusel dengan napas terengah-engah yang sedang menahan emosi untuk segera menghabisi Rusel.
"Karena ini dunia kita Kei." Ujar Rusel dengan batuk darahnya mengenai wajah Kei. "Ingat Kei hal seperti ini bukan sekali kau lewati!" Rusel berusaha menggapai batu yang dekat dari jangkauannya saat melihat Kei sudah tidak memukulnya lagi.
Mata Kei terpejam memendam perih tangisnya, memandang Hani yang berada di belakangnya dengan kondisi yang memperhatinkan. Selama dia menjadi Yakuza baru kali ini ia menyesali profesinya itu.
"Apa yang kau inginkan sekarang? Setelah ini mari kita lupak~"
Bugghh
Batu sebesar genggaman tangan Rusel menghantam kepala Kei. Padahal Kei berusaha bernegosiasi secara demokratis namun, yang Kei dapatkan sebuah perbuatan anarkis dari Rusel sang bibit dajjal.
Kini bergantian tubuh Rusel yang berada di atas Kei. Secara membabi buta Rusel memukul tubuh Kei hingga wajahnya sudah tidak beraturan. Dicekiknya leher Kei namun, Rusel sadar itu memerlukan banyak waktu. Di ambil batu yang tadi ia lemparkan ke kepala Kei. Bersiap memukul kepala Kei dengan mengangkat batu itu tinggi-tinggi. Rusel memperhatikan wajah Kei untuk terakhir kalinya lalu tersenyum licik dengan meludahi wajah Kei.
__ADS_1
Bugh
Sebuah batu yang lebih besar menghantam kepala Rusel. Hasan dengan napas terengah-engah sehabis melumpuhkan musuhnya kini berada di belakang Rusel.
"Apakah dia mati?" Tanya Hasan dengan mencolek pipi Rusel berulang kali. Melihat aliran darah yang yang keluar dari kepala Rusel membuat Hasan meneguk ludah dengan kasar. "Apakah setelah ini aku akan dipenjarakan?"
"Hani." Ujar Kei dengan napas terputus-putusnya sambil menunjuk keberadaan Hani.
"Nee-chan." Saking ambisiusnya Hasan menghajar orang-orang yang menyakiti kakaknya dia sampai tidak memperhatikan kakaknya.
Dor
Dor
Kei yang yang berusaha bangkit berdiri terkejut mendengar tembakan itu. Sama dengan Hasan yang saat ini sedang melepas bajunya untuk menutupi tubuh Hani harus segera menoleh siapa pemilik tembakan itu.
"Brengsek kau Tanjirou." Ujar Kei sambil terkekeh melihat Tanjirou menembak anak buah Rusel yang sedang sekarat.
"Maaf Kiyoshi-sama saya menyimpan peluru cadangan untuk kondisi darurat." UjarnYa sambil membantu Kei untuk berdiri.
Kei hanya memberi lirikan sinis pada Tanjirou. Keadaan darurat? Musuh sudah sekarat baru dipakai? Anak buahnya itu bodoh atau memang memiliki niat ingin melihat dirinya harus tersiksa dulu?
"Jangan." Kei menepis tangan Tanjirou yang mengarahkan tembakannya pada Rusel.
Tanjirou hanya bisa mengikuti perintah Bosnya itu. Lihat, bahkan sebenarnya Tanjirou bisa menghabisi Rusel.
__ADS_1
TBC...