
Saat ini Hani dan Agnes sedang berjalan mengelilingi rumah ini. Tamannya begitu indah dan terawat, bahkan kolam ikan begitu terlihat cantik dengan ikan koi nya.
"Kenapa kau begitu bahagia?" Tanya Hani yang sadari tadi hanya menatap Agnes yang begitu antusias melihat pemandangan di dalam rumah ini.

"Halaman di belakang sangat indah, sayang aku tidak memegang ponsel. Jadi aku akan menatapnya sepuas mungkin." Hani hanya tersenyum memaklumi sifat Agnes.
"Tapi apa kau tau arah jalan ke kamar?"
"Tenang saja aku sudah meninggalkan jejak dengan daun."
Hani menganga tidak percaya, dengan daun? Apakah perempuan di hadapannya ini tidak tahu apa fungsi angin?
"Jadi kau tenang saja." Lanjut Agnes dengan kepercayaan diri tingkat langit.
"Akan ku usahakan untuk tenang."
Hani melihat batu taman tidak jauh darinya ingin sekali dia membenturkan kepalanya dan pingsan untuk sesaat. Setidaknya saat dia sudah sadar dia akan terbangun di tempatnya. Tidak di sini, dia tidak mau harus ada di taman ini.
"Dia bisa beli rumah sebagus ini hebat ya, kau tahu Hani ibu ku selalu bilang untuk menikahi pria kaya yang bodoh. Dan kau tahu pria itu tidaklah bodoh."
Agnes mendudukkan dirinya di pinggir kolam. Memainkan kakinya di atas air di ikuti Hani.
"Kenapa ibumu bilang seperti itu?"
"Entahlah, mungkin karena pendidikan ku dan latar belakang keluarga ku makanya aku harus memperbaiki keturunan ku agar tidak hidup susah." Agnes mendongakkan kepalanya melihat matahari yang hampir tenggelam.
"Tapi kenapa harus pria bodoh? Kau pantas di cintai dan itu tidak harus pria bodoh."
"Han aku hanyalah~"
"Berhenti menjelekkan dirimu sendiri." Hani geram dengan cara pemikiran gadis ini. "Walaupun dia tidak kaya dia tulus mencintaimu walupun dia tidak pintar setidaknya dia bisa membuatmu bahagia."
"Tapi aku akan bahagia jika aku menikahi pria kaya, aku tidak akan dipaksa lagi mencari uang. Aku akan bisa beristirahat tanpa memikirkan masalah ekonomi."
Seseorang yang selalu dituntut untuk selalu mencari uang kebanyakan dari mereka malah akan terus mengeluh dan putus asa. Berbeda dengan
seseorang yang memang suka belajar dia tidak akan puas dengan ilmu yang dia miliki. Maupun seseorang yang memang memiliki hoby berbisnis maka mencari uang adalah hoby nya.
Semenjak Hani mengenal Agnes, dia adalah gadis yang sangat berbeda dengan yang sekarang. Dirinya menemukan Agnes saat dia sedang melewati sebuah klub malam dengan membawa belanjanya sang pengantar belanjaannya saat itu tidak bisa mengantar karena ada sesuatu hal penting yang harus dilakukan. Dan pada saat itu dia melihat Agnes dengan pakaian kekurangan bahan dikejar oleh seorang pria bahkan pria itu berani menjambak rambut Agnes dengan kasar. Agnes mengumpat dan meludahi pria itu, tapi pria itu malah menamparnya dan melemparkan uang pada Agnes.
"Hosh hosh maaf nee-chan aku terlambat menjemput mu. Seharusnya aku tidak membiarkan nee-chan berjalan sendiri di malam hari apalagi ini daerah yang rawan."
Hani tidak menggubris ocehan Hasan yang mengkhawatirkan dirinya. Dia masih menatap Agnes yang saat ini diseret masuk.
"Hasan kau bantu perempuan itu?"
"Tapi...."
"Hasan aku yakin dengan kemampuan bela dirimu pasti kau bisa."
"Baiklah bismillah."
Dan mulai saat itulah mereka sangat dekat, dan Agnes memulai ceritanya tentang dia bisa di sana. Tekanan hidup yang dia alami di usia masih muda ini. Dan dia yang menjadi tulang punggung keluarga saat ayahnya meninggal dan kakak-kakaknya sudah menikah.
Ibunya yang selalu mengoceh untuk berkerja dan cari uang yang lebih untuk membayar hutang ayahnya. Dia sebenarnya lelah, tapi mau bagaimana lagi kehidupan keluarganya siapa yang akan menanggungnya? Tapi saat Agnes mengutarakan cita-citanya untuk menjadi designer kakak dan ibunya malah mengoceh bahwa untuk menjadi designer itu prosesnya lama dan perlu modal besar. Untuk saat ini carilah uang uang dan uang. Padahal dirinya hanya bilang cita-citanya dan dia sadar diri bahwa itu sangat sulit untuk di peroleh. Tapi apa salahnya seseorang mempunyai mimpi?
"Jadi kau ingin tetap ingin menikah dengan pria kaya?"
Agnes menengok pada Hani, sejak kapan suara Hani menjadi suara pria? Sedangkan yang dilihatnya malah melihat belakang Agnes.
"Kau?"
"Apa kau tidak mau menjawab pertanyaan ku?" Tanya Rusel yang menatap Agnes yang masih duduk dengan kepala yang mendongak kepadanya.
"Tentu saja, tapi sepertinya mencari orang kaya bodoh itu hal yang mustahil haha." Sejujurnya Agnes malu saat ini karena pembicaraan dirinya dengan Hani terdengar.
"Jika tidak bodoh apakah kau mau?"
Apa ini? Apa pria ini sedang memberi kode padanya. Ayolah dia tidak mau sama pria yang jauh lebih tua darinya.
"Haha berhentilah bercanda, kau tidak mungkin ma-"
"Bukan aku, tapi Naoki anak buah ku."
"Hah?" Wajah Agnes memerah malu, saat di memalingkan wajahnya pada kolam tetap saja wajahnya terpapar di air itu. Bahkan pria itu terlihat sedang menahan tawanya.
"Kau mengira aku ya? Naoki juga kaya gaji sebagai anak buah mafia itu besar. Apakah kau tidak mau?"
"Kau gila! Dia mafia!"
"Kau kira aku apa?" Tanyanya jengkel apa dia kira dirinya hanya sebagai tokoh figuran?
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
Saat ini Kei sedang berjalan terburu-buru ke tempat garasinya diikuti pamannya. Kei melemparkan jasnya ke sembarang tempat, mengambil rompi anti pelurunya yang telah tersusun rapi di lemari garasi. Mengambil beberapa senjata yang sudah di isi peluru.

"Kita ke Roma." Ujar Kei pada pamannya sambil berjalan ke mobilnya.
"Bagaimana dengan perempuan itu?" Pamannya mengikuti Kei yang masuk ke dalam mobil.
"Ada adiknya biarkan dia yang mengurusnya." Ujar Kei dingin dengan mata yang hanya fokus pada jalanan.
"Di Roma kau akan bertemu anggota mafia lain. Apa yang akan kau lakukan di sana?"
"Bekerja, beberapa hari ini aku mentelantarkan pekerjaan ku."
Pamannya hanya menatap Kei yang sedang menyetir dengan senyum kemenangannya. Anak ini ternyata masih polos seperti biasanya. Tapi cara Kei menyetir membuat dia harus memikirkan kembali bahwa Kei sudah bukan anak-anak.

"Ada yang menelepon." Ujar pamannya yang melihat Kei hanya mengabaikan teleponnya terus berdering.
"Biarkan saja aku tidak peduli."
Sejujurnya pamannya itu sedikit curiga dengan Kei. Secepat inikah Kei mempercayainya? Kei tidaklah bodoh seperti yang dia kira. Pasti ada rencana tersembunyi dia yakin itu, tapi apa?
"Ji-san tolong telepon Megumi."
Pamannya dengan cepat mengambil teleponnya tanpa menatap Kei yang sedang tersenyum licik.
"Ini."
"Kenapa tidak diangkat?" Tanya Kei yang mulai khawatir, sial baginya dan rencananya.
Benar dugaan Kei bahwa sebenarnya Megumi tidak menyukai pamannya itu. Sama halnya dengan dia yang sangat tidak menyukai pamannya.
Sambil menunggu telepon itu di angkat Kei memelankan lajunya. Dan sedikit berbincang pada pamannya.
"Usaha Kaa-san yang ji-san kelola ku harap itu tidak ada campur tangan dengan para mafia."
"Ya itu tentu saja, kaa-san mu tidak menyukai uang kotor."
"Ya ku harap apa yang dikatakan ji-san benar. Karena usaha itu akan ku berikan pada Megumi."
"Tenang saja aku tidak melakukannya."
Ya itu benar bahkan sebenarnya dia tidak mengelola usaha sok suci itu. Bahkan di dalam kantornya di ruangannya sendiri dilarang memakai obat. Lebih baik dia minggat dari sana, dan melakukan perjudian dengan mafia lain. Hasilnya pun lebih banyak dalam satu permainan.
"Megumi."
"Kau? Ada apa? lain kali gunakan handphone mu."
Ada nada kesal yang diucapkan Megumi.
"Nanti jemput aku di jembatan takaichi yang lagi dalam proses pembangunan. Kau tahu?" Ujar Kei yang langsung tancap gas.
"Aku tahu, tapi kapan?"
"Saat aku mematikan panggilan ini."
Tuut
Tuut
"Apa maksudmu?" Pamannya mulai panik saat melihat Kei dengan santai mengambil helm di jok belakang. Sejak kapan itu ada?
Pamannya terlihat bingung saat melihat Kei tidak fokus pada jalanan. Dia lebih fokus pada layar monitor di mobil.
Klik
Terdengar suara pintu yang di kunci secara otomatis, dan seat belt nya sulit untuk dilepas saat dia berusaha melepaskannya.
"Kaparat, kau berusaha membunuh kita?"
__ADS_1
"Bukan kita tapi kau. Sayonara ji-san."
Kei membuka pintunya yang tidak dia kunci, dia tahu ini berbahaya jika melompat tapi dia sudah mempersiapkan hal ini pasti tidak apa.
"Aaaarrkkh sialan."
Bertepatan dengan teriakan itu, mobil yang seharga lebih dari harga diri seseorang jatuh dan hancur bersama pamannya. Sudah lama dia ingin melakukan hal ini terutama saat dia tahu bahwa pamannya tidak mengelola usaha ibunya (kaa-san) tapi dia selalu memakai hasil pendapatan itu untuk berjudi.
"Aaaakkhh sial sakit sekali." Ujar Kei dengan melapas helmnya membiarkan dia bernapas sepuasnya. Badannya dia yakin penuh lecet semua.
Megumi cepatlah datang, bagaikan mantra kalimat itu di terus ia ulang. Tapi adiknya itu tidak kunjung datang.
"MEGUMI." Teriak Kei yang tak tertahankan karena menunggu Megumi begitu lama. Melihat arlojinya, sudah setengah jam dia menunggu.
"MEGUMI." Teriak Kei lagi.
"Kau teriak lagi ku tabrak." Megumi menyembulkan kepalanya pada pintu. "Cepatlah masuk."
"Kau tidak ingin membantu ku? Adik macam apa kau?"
"Adik yang peduli padamu. Aku rela membatalkan pesta minum teh ku hanya untukmu. Jadi cepatlah masuk jangan mengeluh terus."
Malas berdebat dengan adiknya, Kei berusaha berjalan ke mobil.
Tiinnn
"Sabar!" Ujar Kei kesal.
Saat Kei sudah masuk, Megumi langsung menarik napasnya dalam-dalam. Dia tidak terlalu suka melihat darah, dia cukup memalingkan wajah dan jangan melihat darah itu maka semua akan baik-baik saja.
Kei mengerti adiknya itu sebenarnya bukan tidak ingin membopongnya hanya saja dia takut terkena darah. Seandainya insiden itu tidak terjadi padanya pasti Megumi telah menjadi dokter hebat di usianya yang masih terbilang sangat muda.
"Jadi dia sudah mati?" Tanya Megumi memecahkan keheningan.
"Ya sudah jelas."
"Perempuan itu di Hokkaido. Kita ke sana kapan?" Tanya Megumi yang meremas setirnya kuat-kuat. Dia berusaha menahan dirinya agar kuat saat sesekali dia tidak sengaja melihat darah begitu banyak di sekujur tubuh kakaknya.
"Malam ini."
"Aku ikut."
"Tidak!"
Tidak, Kei tidak ingin adiknya ikut dia tidak mau Megumi melihat banyak darah bertumpahan.
"Ini hanya pertukaran aku yakin tidak akan ada perang." Megumi mencoba meyakinkan kakaknya itu, dia tahu kakaknya itu selalu melindungi dirinya dengan caranya sendiri.
"Ku bilang tidak ya tidak!" Bentak Kei yang membuat mata Megumi berkaca-kaca.
"Kalau begitu turun sampai kau mengajakku ikut." Titah Megumi.
Megumi kira Kei akan menuruti dirinya untuk ikut. Tapi Kei lebih memilih mati di jalanan daripada dirinya ikut. Sifat kakaknya itu membuat dirinya geram tapi dia sayang dengan kakaknya.
"Masuklah kembali." Minta Megumi dengan menghampiri kakaknya.
"Apa yang kau lakukan? Masuk ke mobil, aku akan masuk sendiri."
Kei terkejut saat melihat Megumi berusaha mendekati dirinya. Dia tahu kelemahan Megumi mana tega dia melihat Megumi harus menahan ketakutannya itu. Walaupun Megumi terlihat tidak apa, tapi dirinya yakin Megumi ingin sekali menjerit.
"Lain kali jangan bertindak bodoh." Ujar Megumi pada kakaknya yang sudah masuk dan Kei hanya bisa mendengarnya.
Megumi terus saja mengoceh tentang dirinya yang bodoh, egois, pokoknya semua hal yang jelek hanya untuknya. Dan Kei hanya menganggapnya dongeng pengantar tidur. Tapi walau bagaimanapun dirinya sulit tidur karena ocehan Megumi membuat telinganya gatal. Dan saat dia melihat rumahnya terlihat di saat itulah dia merasa hari kemerdekaan negara ini hadir.
Rumahku penyelamatku.

TBC
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bacalah selagi gratis bisa jadi kedepannya bayar :v