
Ruangan yang remang akan cahaya, hanya diisi dengan cahaya bulan. Terlihat seseorang yang sedang bersujud di lantai yang dingin hanya dilapisi oleh sarung bantal.
Ia menahan sakit pada bagian perutnya. Tapi ia tahu sakit ini tidak seberapa dengan apa yang akan dia alami di akhirat nanti jika tidak sholat.
"Takashi sedang apa?" tanya Yamato tangan kanan Kei pada penjaga yang sedang berdiri didepan pintu kamar Takashi.
"Saya tidak tahu tuan, tapi dari siang semenjak ia dibawa kesini ia selalu meminta kita untuk membawa air." Yamato yang mendengar itu segera masuk dengan mendobrak pintu itu dengan kasar. Ia menghampiri Takashi yang sedang menengok kanan lalu kiri sambil mengucapkan sesuatu yang tidak Yamato mengerti. Takashi baru saja menyelesaikan sholatnya.
"Takashi" entah mengapa Yamato jadi canggung untuk menghampiri Takashi. Dia kira Takashi mencoba untuk bunuh diri dengan cara menggelamkan dirinya pada air yang ia kumpulkan.
Jika Takashi ingin bunuh diri ia tidak harus meminta air pada pengawal di depan sana. Cukup ia ke kamar mandi dan menenggelamkan diri disana. Dan Takashi tidak ingin bunuh karena semenjak ia masuk islam banyak pelajaran yang dia ketahui.
Termasuk bunuh diri karena itu bukanlah suatu jalan pintas untuk menyelesaikan masalah dan bunuh diri adalah salah satu dosa besar.
Allah Ta’ala berfirman:
ﻭَﻻَ ﺗَﻘْﺘُﻠُﻮﺍْ ﺃَﻧﻔُﺴَﻜُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﺑِﻜُﻢْ ﺭَﺣِﻴﻤًﺎ * ﻭَﻣَﻦ ﻳَﻔْﻌَﻞْ ﺫَﻟِﻚَ ﻋُﺪْﻭَﺍﻧًﺎ ﻭَﻇُﻠْﻤًﺎ ﻓَﺴَﻮْﻑَ ﻧُﺼْﻠِﻴﻪِ ﻧَﺎﺭًﺍ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻳَﺴِﻴﺮًﺍ
“ Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An Nisa: 29-30).
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ﻣﻦ ﻗﺘﻞ ﻧﻔﺴﻪ ﺑﺸﻲﺀ ﻋﺬﺏ ﺑﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ
“ Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu, ia akan di adzab dengan itu di hari kiamat” (HR. Bukhari no. 6105, Muslim no. 110).
Maka bunuh diri itu adalah dosa besar yang paling buruk. Lantas untuk apa Takashi melakukan hal itu?
"Oh hai Yamato-san" sapa Takashi
"Ah aku ingin pergi" Yamato kikuk sendiri padahal jika yang dihadapannya itu Takashi yang dulu maka ia akan menghajarnya hingga lumpuh permanen tapi ini seperti ada sesuatu yang berbeda.
"silahkan, tapi bolehkah aku minta tolong untuk menyalakan lampu itu?" Yamato pun tanpa ia sadari menurutinya.
Tunggu! Mengapa aku mamatuhi perintahnya?
"Kau~"
"Arigatou sudah menolong ku" potong Takashi karena ia tau kelanjutan kalimat itu pasti ungkapan kemarahannya.
"Ya"
"Duduklah" Takashi menepuk sisi kasurnya untuk Yamato duduki.
"Sikap mu yang baik membuat ku geli"
"Kau tadi bilang ingin pergi bukan? Maka hati-hati"
"Tidak jadi" dengkus Yamato.
Keadaan pun mulai hening, Yamato masih berdiri ditempat yang sama.
"Takashi apa kau sudah membaik?" Yamato menghilangkan keheningan ini. Tapi bukan ini yang ingin Yamato katakan. Kenapa ia begitu takut untuk membentak dan memarahi Takashi.
"Alhamdulillah sudah membaik" jawab Takashi dengan senyumannya.
"Heh?" Yamato tidak mengerti apa yang diucapkan Takashi.
"Aku sudah membaik" Takashi mengerti jika Yamato tidak mengerti tapi ia yakin pasti rasa ingin tahu Yamato akan semakin besar sama dengan dirinya dulu.
"...."
"Apa ada lagi Yamato?" tanya Takashi mengintrupsi keheningan mereka.
"Ada yang ingin ku tanyakan tentang mengapa kau keluar".
"tentang itu? Sepertinya akan lama"
Yamato melihat arloji mahalnya, seharusnya ia pergi ke club malam bersama Kei untuk melakukan bisnis tapi sepertinya ia lebih memilih disini bersama Takashi.
"a-aku tidak ingin membicarakan nya" mata Takashi sudah berkaca-kaca siap menumpahkan air matanya. "Menceritakan hal itu seperti sedang membuka aib ku sendiri."
"Takashi kau kenapa?" Yamato panik melihat Takashi menangis ia pun duduk di samping Takashi.
"Maaf sepertinya aku tidak akan menceritakan hal ini aku terlalu malu untuk membuka aib ku...."
"Apa maksud mu aib?" Yamato tidak mengerti apa yang diucapkan Takashi.
"Yamato bukankah kau sudah tau? Saat itu kau di sana dan setelah itu kau pergi meninggalkanku. Kau mengira aku sudah mati karena dihajar habis-habisan bukan?" Takashi mengusap kedua matanya menghilangkan jejak air mata di sana.
Yamato sedikit mengerti jadi Takashi hanya sakit hati karena merasa dibuang begitu saja. Bukankah itu hal yang biasa? Bahkan Takashi pernah melakukan hal itu. Mengapa pria didepannya ini sangat terbawa perasaan.
Pada malam itu kami hanya sedikit bermain dengan perempuan yang kita temui dipinggir jalan. Pakaiannya sudah kumal dan kami bertaruh siapa yang bisa bertahan dengan gadis itu sampai pagi di bar ini maka salah satu mobil koleksi mereka akan diberikan kepada yang menang. Takashi, Kaneki, dan Yamato ikut pertaruhan itu dan yang menang adalah Takashi. Mereka kalah karena gadis itu terlihat cuek dan membosankan dan mereka tidak tahan dengan gadis seperti itu.
Dan ada kesalahpahaman, ternyata perempuan itu sedang hamil dia berusaha kabur dari rumah untuk menemui ayah dari anaknya ini. Dan kakak sang gadis yang merupakan ketua dari kelompok machi-yokko mengira jika dirinya lah yang menghamili sang adik. Pertengkaran pun terjadi dan perempuan itu hanya diam seolah membenarkan tuduhan itu. Perempuan itu ingin dirinya lah yang dilenyapkan agar kekasih yang telah menghamilinya selamat. Sungguh licik sekali.
"Lalu mengapa kau bisa selamat?"
"aku dipertemukan dengan seseorang yang menolong dan yang mengubah hidupku menjadi lebih baik dalam agama ini, dalam nikmat islam dan iman. Hani bersama ayahnya mereka menolong ku dan merawat ku dengan ikhlas dan ayah Hani mengajarkan aku tentang islam dalam waktu 3 minggu. Sebelum ajal menjemput, ayah Hani berpesan padaku untuk mencari seorang guru yang bisa mengajarkan ku lebih dalam lagi tentang islam. Dan allhamdulilah Allah mempermudahkan ku untuk bertemu dengan orang-orang sholeh. Dan aku belajar dari mereka disebuah majelis walau hanya beberapa orang saja disana" Jelas Takashi tapi perkataannya itu membuat Yamato bingung.
Takashi belajar di masjid Tokyo, Tokyo Camii. Hani pintar dalam memilih lokasi untuk usahanya yaitu dekat dengan masjid. Hanya saja jarak toko dan jalan raya tidaklah dekat dan pembeli disini rata-rata hanyalah orang yang tinggal di daerah ini.
Agama? Bukankah itu hanya mitos? Agama itu hanya untuk menakut-nakuti orang yang berbuat salah dan mengancamnya dengan neraka. Keh lucu sekali padahal itu mitos waktu dirinya masih kecil.
"Ooh jadi begitu." Yamato mengangguk paham seolah dirinya mengerti. Dirinya akan segera searching di internet tentang islam. Dan semoga saja yang ditemukan nya itu semua hal yang berisi positif.
"Yamato kau disini? Nii-san (kakak) mencari mu." seorang gadis dengan pakaian kekurangan bahan masuk begitu saja kedalam kamar seorang pria. Rok pendek seatas lutut yang sangat span membentuk pantat sintalnya, dan tanktop yang dilapisi jas merah tidak menutup seluruh tubuhnya memperlihatkan belahan dadanya.
"Kiyoshi-sama mencari ku?" Kiyoshi adalah nama marga Kei dan anak buah Kei memanggil Kei dengan nama marga nya.
"Hmm" perempuan itu menganggukan kepalanya. "Takashi kau kembali?" perempuan itu berjalan mendekati Takashi sang mantan kekasih.
Takashi yang sadari tadi mengalihkan pandangannya terkejut saat tahu perempuan itu sudah duduk disampingnya.
"Astagfirullah" Takashi mengelus-elus dadanya. Jika ia dirinya yang dulu pasti gadis ini sudah ia terima di ranjangnya.
"Megumi-sama bisakah kau keluar?" usir halus Takashi.
__ADS_1
"Aku kan hanya ingin menyapa mantan ku" Megumi ingin mencium pipi Takashi dan Takashi yang dalam keadaan sakit itu seketika berdiri untuk menghindari ciuman Megumi.
Menghiraukan rasa sakitnya bahkan Takashi merasakan perutnya seperti diremas.
"Yamato kumohon ajak Megumi-sama keluar" pinta Takashi pada Yamato sedikit meringis kesakitan.
"Apa-apaan kau Takashi?! Apa aku segitu menjijikkan? Kau masih marah karena aku memutuskanmu?"
"Yamato bawa dia keluar." bentak Takashi membuat wanita yang mendengar itu berkaca-kaca.
"Megumi-sama sebaiknya kau keluar dan katakan pada nii-san mu bahwa aku tidak bisa ikut" ujar Yamato pada Megumi.
"Takashi kau tidak perlu membentak! Kau pikir kau ini siapa hah?! Kau itu hanya seseorang yang beruntung saja! Masih untung nii-san menangkap mu hidup-hidup Akan ku adukan hal ini pada nii-san!" Megumi meludah ke lantai dan menghentakan kakinya dengan kesal lalu pergi dari sana.
"Kau tidak ingin mengejar?" tanya Yamato pada Takashi yang sudah kembali berbaring di ranjangnya.
"Itai... (Aduuh) sepertinya aku ingin tidur saja" ringis Takashi.
"Apa kau yakin bisa tidur disaat nyawamu sedang terancam?"
"Sepertinya tidak, kau tau Yamato? sepertinya luka ini tambah parah dan aku mungkin tidak bisa tidur" tunjuk Takashi pada luka diperutnya.
"Maksud ku bukan itu" geram Yamato, maksudnya itu apa Takashi tidak takut jika sewaktu-waktu Takashi dibunuh oleh Kei karena telah menyakiti adiknya yaitu Megumi.
"Jika kau masih disini kau akan membuat ku tambah tidak bisa tidur" Sungguh Takashi mengerti maksud Yamato hanya saja ia berusaha bersikap santai lagi pula dengan keadaan dan tempat seperti ini mana bisa dia kabur dari Kei.
"Kau mengusir ku?"
"Aku hanya memberi tahu apa yang akan aku alami jika kau disini" Takashi menarik selimut bersiap untuk tidur mengabaikan sepasang mata yang terus menatapnya tidak percaya.
"Aku tidak akan menolong mu jika terjadi sesuatu" Yamato pun pergi meninggalkan keheningan disana.
Takashi membuka matanya yang sempat tertutup beberapa menit lalu. Jantung Takashi berdegup begitu kencang, ia sangat mengenal Kei. Kei tidak akan main-main jika itu bersangkutan dengan adiknya. Sampai sekarang dirinya bingung mengapa ia masih hidup padahal Kei sangat tidak suka jika ada yang berkhianat padanya.
Ini sudah keputusan Takashi untuk tidak kembali pada masa jahiliyahnya. Apa pun yang terjadi dirinya harus percaya bahwa Allah bersama dengannya. Dan semoga saja ini cobaan dari Allah.
Dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
ﺃﺷﺪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﻼﺀ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ , ﺛﻢ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻮﻥ , ﺛﻢ ﺍﻷﻣﺜﻞ ﻓﺎﻷﻣﺜﻞ
“ Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya” (HR. Ahmad, 3/78, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 995).
Mereka adalah orang-orang yang dicintai oleh Allah. Ujian yang menimpa orang-orang yang Allah cintai, itu dalam rangka mensucikannya, dan mengangkat derajatnya, sehingga mereka menjadi teladan bagi yang lainnya dan bisa bersabar.
(Sumber : muslim.or.id)
Dirinya harus sabar, tapi bukan berarti ia harus berdiam diri ditempat sebelum mencoba suatu hal yang bisa membantunya.
Dan Kabur? Apakah dirinya bisa? Belum dicoba mana ia tau jawabannya.
Saat Takashi berdiri dari tidurnya ia pun berjalan teratih atih untuk ke jendela. Matanya menatap begitu tinggi kamar yang sekarang ia tempati.
"Apakah aku harus loncat dari lantai tiga? hahhh itu sama saja bunuh diri apalagi di sana ada pengawalnya tapi aku pernah loncat dari kamar ini dan tidak terjadi apa-apa" baru saja ia ingin loncat dan perutnya sudah terasa perih dan suara seseorang menghentikan niatannya itu.
"Kenapa tidak jadi?" tanya seseorang dari ambang pintu, datang dengan perlahan mendekati jendela tempat dimana sang tawanan berdiri.
Rambutnya menari dengan halus mengikuti arah angin. ia melihat kebawah dan lalu memandang pria di sampingnya itu.
Takashi meringis karena lukanya bergesekan dengan tembok.
Mendengar rintihan itu Kei tertawa Nista dan menarik tubuh Takashi kembali ke dalam.
"Ayolah masa begitu saja sakit? Bahkan kau pernah mendapat luka tusuk lebih dari satu" Kei menepuk pundak Takashi dan berjalan menduduki ranjang disana.
"Sepertinya kau tau alasan aku kesini" Kei tersenyum evil.
"Iya, dan kau sekarang ingin apa?" jawab Takashi dengan beraninya dengan menatap Kei dengan tatapan menantang.
"Waaah lihat dirimu pantas adikku datang menangis pada ku! Ini dia Takashi yang ku kenal, katakan apakah kau tidak ingin kembali pada ku? Aku masih membutuhkan mu, keberanian mu perlu ku acungkan jempol"
Dirinya sangat ingin jika orang seperti Takashi kembali lagi. keanggotaan Yakuza telah menurun, tetapi bukan berarti tidak berbahaya. Tulang punggung bisnis ilegal mereka adalah pachinko , perdagangan ampethamine (termasuk ice dan ekstasi ),prostitusi , pornografi, pemerasan, hingga penyelundupan senjata.
Dan dirinya telah menanam saham di negri Sam sebesar 80 Milar dolar Amerika. Tidak hanya itu banyak para lembaga yang menyewa jasanya agar
Tanggungan mereka tidak disita oleh pihak bank.
Perusahaan ini diperkirakan memperoleh kredit antara 300-500 miliar dolar, Menghadapi hal seperti ini, bank Jepang jelas tidak bisa berkutik.
Dirinya juga senang jika berurusan politik karena banyak yang di sana malah tunduk pada dirinya.
Dirinya menyuap mereka dan ada yang telah di sekolah kan ayahnya sekitar 100-200 orang di tokyo ini hingga lulus sarjana hukum. Ayahnya ingin menanam bibit di sana sebagai jaringan. Ayahnya tidaklah bodoh untuk tidak mempersiapkan apapun jika sesuatu terjadi padanya. Sungguh pikiran sang ayah yang kolot dan ia menyukainya.
"Tidak akan!" tentu saja Takashi tidak mau. Seberapa besar bayaran yang akan dia terima dirinya tetap tidak mau.
"Kau tau bukan jika aku tidak suka ada yang menolak ku!" Kei kembali berdiri, mengeluarkan ponsel dari saku jas nya. "Ini ponsel mu dan kenapa kau menghapus semua kontak orang-orang di sini? Bahkan nomorku tidak ada" Kei memeriksa ponsel itu dan tersenyum aneh pada layar ponsel tersebut. "Kau tau bukan, hukuman bagi seseorang yang gagal dalam melaksanakan tugas. Walau kau tidak gagal tapi kau dianggap sebagai penghianat"
Tentu saja Takashi tahu apa yang akan ia dapatkan, yubitsume itu sebutan bagi anggota Yakuza yang tidak menjalankan kerja yang seharusnya mereka akan dipaksa untuk melakukan pemotong jarinya. Pemotongan bagian tubuh yang umumnya adalah jari kelingking bagian kiri untuk kesalahan pertama.
"Aku tidak merasa melakukan kesalahan dan menurut ku itu hal yang benar karena aku keluar dari sini"
"Wahh sugoi (hebat) Takashi kau membuat ku terpesona, apakah gadis itu juga akan terpesona melihat mu yang sok keren ini?" Takashi memperlihatkan nomor ponsel yang ada di layar ponsel itu pada Takashi.
"Kembalikan" Takashi berusaha merebut ponselnya dan dorongan keras yang ia dapatkan hingga harus menabrak lemari.
"Hani-chan? Pffft bahkan kau menambahkan sufiks chan? Hahaha lucu sekali bahkan semenjak kau pacaran dengan adikku kau tidak pernah memanggilnya begitu" Kei mematikan ponsel tersebut dan mulai menatap serius pada Takashi.
"Katakan kau punya hubungan apa dengan dia?"
"itu bukan urusanmu!"
"Aku tidak akan menyakiti mu tenang saja walau kau sering membangkang ku. Kau tau mencintai seseorang itu adalah sebuah kelemahan"
"Astagfirullah, jangan pernah kau ganggu dia! Sadarlah Kei kau selalu menyakiti seseorang yang tidak bersalah. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan ini"
"Biasanya kau akan mengumpat dan menghajar seseorang yang tidak kau suka tapi kali ini aku mendapat kalimat asing dan sebuah ceramah. Apa ini semua karena gadis itu kau berubah?" Kei menahan amarahnya karena merasa Takashi begitu menyukai Hani dan berusaha melindunginya. Bahkan ia lupa jika tujuannya kesini demi adiknya yang sudah merasa terhina karena telah diusir oleh Takashi.
"Tentu saja tidak" ada perasaan lega mendengarkan hal itu.
__ADS_1
"Aku berubah dan memilih untuk masuk islam karena islam adalah agama yang begitu indah. alhamdulillah aku diberikan hidayah oleh Allah lewat perantara Hani dan ayahnya yang saat itu menolongku tanpa pamrih. Sedangkan kalian begitu saja meninggalkan ku setelah perkelahian itu dan menganggap ku sudah mati."
"Pffft agama?"
"Kenapa kau tertawa? bukalah matamu Kei dan lihatlah bahwa tuhan dan akhirat ada"
"Tuhan? Katakan dimana dia disaat aku yang berkuasa pada negri ini dengan semua kejahatan yang kulakukan. Akhirat? Takashi waktu aku kecil aku sering ditakut-takuti oleh nenek buyut ku bahwa jika aku berbohong aku bisa masuk neraka dan lidahku ditarik. Pffft itu hanya mitos anak-anak"
"...." Takashi hanya diam mendengarnya, jika ia berbicara maka akan ada perbebatan. Dirinya tidaklah bisa memaksa Kei untuk percaya karena dalam dakwah tidak ada yang namanya pemaksaan.
Allah Ta’ala berfirman,
ﻟَﺎ ﺇﻛْﺮَﺍﻩ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳﻦ ﻗَﺪْ ﺗَﺒَﻴَّﻦَ ﺍﻟﺮُّﺷْﺪ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻐَﻲّ
“ Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan ” (QS. Al Baqarah: 256)
Dan seharusnya jika Kei ingin lebih tahu lebih banyak lagi, tanyalah pada yang sudah ahlinya karena dirinya juga masih belajar.
Islam mengajarkan kepada ummatnya agar mengembalikan setiap permasalahan kepada ahlinya.
Allah Ta’ala berfirman,
ﻓَﺎﺳْﺄَﻟُﻮﺍ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻻ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ
“ Bertanyalah kepada ahli ilmu jika engkau tidak tahu” (QS. An Nahl: 43)
"Jadi kau hanya sedang balas budi pada Hani?" Kei mengubah topik dan menanyakan apa yang tadi dibahas. Ia berharap Takashi menjawab iya maka pada saat ini juga ia akan mengembalikan Takashi pada toko roti Hani.
"Aku tidak tau harus membalas budi seperti apa, tapi jika kau tidak suka saat aku berusaha melindungi nya maka tetap akan aku lakukan walau kau suka maupun tidak" Takashi seolah tahu apa yang dipikirkan Kei.
Buuugh
Kei meninju rahang Takashi dengan kuat meninggalkan bekas memar di sana.
"Aku tidak akan meninggalkan nya disaat situasi seperti ini, apalagi jika ada kau disekelilingnya aku tidak akan meninggal-"
Buuuugh
Sebelum menyelesaikan kalimatnya, Takashi terus menerus mendapat bogem mentah dari Kei. Dengan nafas terengah-engah Kei menarik kerah baju Takashi.
"Maka aku yang akan memaksa mu untuk meninggalkannya" Kei mengeluarkan pistol dari saku jasnya siap membolongi kepala Takashi dengan peluru panasnya.
"Jika kau ingin membunuh ku maka sebelum itu tolong katakan apa kesalahan ku?" Takashi melirik pistol yang sudah menempel pada keningnya.
Kei terpaku diam mendengar hal itu, untuk alasan apa? Selama ini dia juga selalu membunuh orang dengan gamblang. Bahkan para pelacur juga dia bunuh setalah dia memakainya.
Entah mengapa ia merasa membunuh termasuk hobinya. Mungkin? Entahlah ia bingung.
"Kau cemburu? kau menyukainya kan? Maka akan ku katakan, bahwa kau tidak akan pernah diterima oleh Hani jika kau masih seperti ini bahkan jika kau harus menangis darah"
"benarkah?" Kei memasukan kembali pistol tersebut. Ia menjadi cemas sendiri jika yang dikatakan Takashi itu memang benar.
Takashi sangat yakin jika Kei sudah menyukai Hani. Setelah sekian lama bersama dengan Kei dirinya menjadi tau bagaimana sifat Kei.
Kei seseorang yang sangat sulit untuk jatuh hati pada seorang gadis. Biasanya dia hanya terobsesi pada perempuan. Tidak bisa dikatakan cinta saat Kei memiliki kekasih hanya untuk memuaskan nafsu bejatnya saja secara gratis dan jika sudah bosan maka dia akan membunuhnya agar wanita itu tidak dipakai orang lain. Cukup dirinya saja yang memakainya, kecemburuan Kei memang sudah melewati batas normal. Dan mereka semua yang ada di sekelilingnya Kei tau bahwa itu bukan cinta walau Kei memperlakukan kekasih nya seperti ratu.
Jika Takashi kumpulkan air mata para mantan Kei mungkin ia bisa membuat sungai.
Rasanya aneh melihat Kei tidak berdaya seperti ini, padahal Takashi hanya bicara hal itu tapi wajah Kei sudah lesu begitu. Bagaimana jika itu sungguhan? Menangis darah? Mungkin saja Kei lakukan.
Tapi disisi lain Takashi takut jika Kei hanya terobsesi pada Hani maka itu sangat gawat pada hidupnya. Kei bukanlah orang yang bermain-main dengan ucapannya jika ia ingin seseorang mati maka akan ia lakukan dan jika ia menginginkan Hani pasti akan ia lakukan.
"Takashi mungkinkah aku menyukai dia?" Kei menatap lantai dengan nanar. "Jujur aku tidak menyukai Hani" Kei mengalihkan pandangannya untuk melihat Takashi yang terkejut mendengar hal itu. "Kau sepertinya terkejut sekali mendengar hal itu, apa kau takut jika aku memperlakukan Hani seperti mantan-mantan ku dulu?"
Kebungkaman Takashi menjawabnya.
"Aku tidak akan pernah melakukan hal itu, untuk menyentuhnya saja aku enggan. Setelah dia menolak ku yang ingin menyentuhnya walau itu hanya kain yang dia pakai aku jadi tau bahwa dia sangat menjaga kehormatan nya. Aku menyukai dia yang seperti itu, melihat dia begitu baik padamu jujur aku tidak suka. Tapi jika memang pada dasarnya dia selalu berperilaku baik pada sesama itu membuat dalam diriku ingin tersenyum. Kau bisa di sini dalam keadaan hidup itu karena aku tidak ingin melihat Hani menitikan air mata."
"Kei kau?" sungguh ini kalimat yang begitu indah bagi Takashi dari seorang ketua Yakuza. Kei yang dia anggap kejam selama ini ternyata memiliki sisi yang sangat lembut.
Siapa yang tidak mengenal Kelompok Yamaguchi-gumi? Dirinya bahkan telah masuk dalam daftar hitam sebagai buronan dunia.
Tapi jika membicarakan dia yang baik tentu saja ia pernah melakukannya. Saat terjadi gempa menerjang Kobe, kota terbesar kelima di Jepang, Yakuza dengan kekuasaannya mengirimkan bantuan. Dan sebagian masyarakat ada yang memuji sikap tanggap Yakuza dalam situasi sulit ini. Benarkah Kei melakukan itu semua dengan niat yang tulus?
Tentu saja tidak, dirinya hanya ingin melakukan publik relations.
"Maksud ku tidak ingin melihat dia menitikan air mata karena aku tidak ingin dia menangisi pria lain"
Takashi menganga mendengarnya, ternyata sifat Kei yang egois akan selalu menempel pada hatinya. Egois sekali dia, memangnya tidak boleh jika Hani menangis untuknya?
"Dan aku tidak suka jika kau yang berusaha melindungi nya terutama dari ku. Apa aku begitu kejam sehingga harus kau lindungi?"
Tentu saja Iya tidak mungkin jawabannya tidak.
.
.
.
.
.
.
Machi-yukko adalah yang melindungi kota dari para kabuki-mono, banyak kota-kota kecil di Jepang membentuk machi-yokko (satuan tugas (satgas) desa ). Satgas ini terdiri dari para pedagang, pegawai, dan orang biasa yang mau menyumbangkan tenaganya untuk menghadapi kaum kabuki-mono . Walaupun mereka kurang terlatih dan jumlahnya sedikit, tetapi ternyata para anggota machi-yokko ini sanggup menjaga daerah mereka dari serangan para kabuki-mono . Di kalangan rakyat Jepang abad ke-17, kaum
machi-yokko ini dianggap seperti pahlawan.
Kabuki-mono adalah samurai nyentrik urakan yang ke mana-mana membawa pedang. Mereka berbicara satu sama lain dalam bahasa slang dan kode rahasia. Terdapat kesetiaan tinggi di antara sesama ronin sehingga kelompok ini sulit dibasmi.
orang samurai yang sebelumnya disebut
hatomo-yakko (pelayan shogun) lalu menjadi kehilangan tuan, atau disebut sebagai kaum
ronin .
__ADS_1
Masalah jadi rumit, karena setelah berhasil menggulingkan para ronin, para anggota machi-yokko ini malah meninggalkan profesi awal mereka dan memilih jadi preman .
(Sumber : Wikipedia)