KAU YANG DIPERUNTUKKAN BERSAMAKU

KAU YANG DIPERUNTUKKAN BERSAMAKU
adik


__ADS_3

Sudah satu pekan berlalu dan belum ada kabar tentang Takashi yang tiba-tiba saja menghilang dari rumah sakit. Dirinya tau jika Takashi dibawa Kei hanya saja ia tidak tau kemana dibawanya?


Apakah dirinya harus memanggil sang adik yang sedang ada di kyoto untuk datang ke tokyo menemui dirinya. Adiknya baru saja lulus 3 hari yang lalu dan sekarang ia belum datang menjenguk kakaknya yang ada disini. Acara wisuda kemarin Hani memang tidak datang karena sang adik melarangnya untuk datang karena ia takut jika kakaknya kenapa-kenapa dijalan.


'Sepertinya aku harus meminta bantuan Hasan untuk mencari Takashi' batin Hani setelah ia berpikir ulang kembali, lagi pula sudah cukup adiknya itu bermain di rumah temannya hingga lupa untuk menjenguk kakaknya yang berada disini.


Di ambilnya ponsel di atas meja kasir. Mencari nama kontak sang adik disana. Di awali dengan huruf H dan keluarlah namanya.


Menelpon sang adik dan betapa terkejutnya ia saat yang mengangkat telepon tersebut adalah suara perempuan.


'Moshi-moshi'


"...." Hani bingung ingin menanyakan apa, tidak mungkin adiknya bersama perempuan saat ini. Adiknya tidak seperti itu dan lagi terdengar alunan musik DJ yang sangat kuat di sebrang sana dan beberapa suara orang yang sedang berteriak kegirangan


'Apa kau Hani-san?'


"Dari mana kau tau?" Semoga saja yang dipikirkan Hani adalah kesalahan, tidak mungkin perempuan ini kekasihnya. Adiknya sangat paham agama jika Hani tau adiknya akan seperti ini seharusnya ia tidak mendukung sang adik untuk melanjutkan studynya di sini. Cukup sekali Hasan pernah ikut pergaulan bebas saat jenjang Sma. Seharusnya Hani membantu belajarnya lebih giat lagi agar Hasan berhasil ke Kairo. Tapi apalah daya otak Hasan yang masih kalah saing dengan yang lain.


'aku teman satu kampusnya, watashi wa chio desu. Kemarin Hasan-san main ketempat nii-san di bengkel nya. Sepertinya ia sangat memerlukan uang untuk ongkos ke Tokyo dan membayar uang apatonya. Jadi handphone nya ia jual kepada ku karena kebetulan aku di sana. Tapi dia lupa untuk mencabut sim card nya."


"Huhhh baiklah, berarti adik ku sedang dalam perjalanan?" Hani bernapas lega mendengar hal itu walau sedikit sedih karena tau bahwa hidup sangat adik begitu susah disana.


'hai'


"Arigatou chio-san"


'Chin-chan, panggil aku seperti itu saja teman-teman ku memanggil ku seperti itu'


"Chin-chan Arigatou"


Panggilan pun tertutup, sesekali Hani mengetukan kepalanya pada meja.


Dia merasa menjadi kakak yang tidak becus. Adiknya selama ini kesulitan dan dirinya tidak tahu. Seharusnya adiknya cerita pada dirinya jika ada masalah.


Atau mungkin dirinya yang salah karena tidak pernah peduli pada adiknya sehingga tidak tau bagaimana keadaan sang adik.


"Sumimasen" ujar seseorang yang masuk dalam tokonya disambut hangat oleh Agnes.


"Hasan-san kau datang?" Agnes menggeser salah satu kursi yang khusus untuk para lansia. Di toko roti ini tidak dibuat seperti kafe pada umumnya. Karena Hani tidak ingin tempat ini menjadi tempat sepasang kekasih yang menghabiskan waktu untuk berdua saja. Maka dari itu Hani hanya menyiapkan kursi untuk lansia dan wanita hamil karena ia tidak mau membiarkan mereka letih mengantri.


"Tempat ini tidak ada berubahnya" ujar Hasan yang sudah mendudukan dirinya.


"Padahal tempat ini begitu luas sangat sayang jika tidak dijadikan kafe tapi walau bagaimana pun Toko ini milik nee-chan mu jadi terserah dia"


Toko ini sebenarnya rumah dua tingkat dan ini tempat tinggal mereka. Tapi karena sang ayah yang sudah pensiun dari perkerjaannya yaitu sebagai Manager perusahaan di Jepang maka Hani mengusulkan untuk memakai ruangan bawah untuk diubah menjadi toko roti dan sang ayah pun setuju.


"Tempat ini kelak juga akan menjadi milik ku"


"Jika begitu maka ku sarankan agar kau membuat kafe disini" ujar Agnes antusias dengan memeluk nampan di dadanya.


"Tentu saja" Hasan tersenyum membuat Agnes juga tersenyum karena idenya dipakai. "Tidak"


"Apa maksud mu tidak?" senyum Agnes pun luntur.


"Aku lebih setuju dengan segala ide Nee-chan"


"Dasar adik sok romantis"


"Seru yaa ngobrol dengan Agnes hingga lupa dengan kakak mu yang dari tadi memperhatikan mu?" Hani datang menghampiri mereka berdua dan duduk di samping sang adik.


"Nee-chan, Assalamualaikum" Hasan mencium tangan sang kakak yang wangi selai strowberry.


"Waalaikumsalam" Hani mengusap kepala sang adik dengan tangan kirinya dengan lembut hingga saat sampai dekat telinganya, Hani langsung menarik telinga sang adik.


"Ssshh itai nee-chan" ringis sang adik karena telinganya ditarik ke atas.


"Kau tau bagaimana perasaan nee-chan saat tau kau kesulitan hidup disana?"


"Nee-chan kalau i-ingin mendengar curhatan ku lepaskan dulu tangan nee-chan"


Hani pun melepaskan jewerannya dan mengganti dengan usapan halus. "Maafkan Nee-chan" ujar Hani tulus dengan sedikit menitikan air mata membuat sang adik tersenyum haru "untuk segalanya" lanjut Hani. Sedangkan Agnes yang melihat adegan itu menangis haru.


"Loh kenapa kau yang menangis?" tanya Hani terkejut melihat temannya menangis.


"Kalian so sweet sekali hiks... Aku jadi rindu adik ku"


"Adik?" beo mereka, Hani dan Hasan saling bertatapan. "Kau punya adik?" tanya mereka serempak.


"kalian kompak sekali hiks... aku tidak memiliki adik" jawab Agnes dengan sesenggukan.


"Lalu kau merindukan siapa?" tanya Hani dengan geram. Temannya ini mengapa begitu menyebalkan.


"Adik ku lah, nanti pulang aku akan meminta kaa-san membuatkan adik untuk ku"


"Hah?!" Hani menganga bersama Hasan.


Sungguh temannya ini memang kelewat bodoh atau apa? bukankah ibunya sudah rentan usia bahkan suaminya sudah meninggal ingin berbuat adik dengan siapa?


Dan ibu Agnes sudah memiliki cucu lalu bukankah Agnes adalah anak terakhir dari 3 bersaudara. Kalian bisa perkirakan kira-kira berapa umur ibunya jika saat ini sekarang Agnes berusia 22 tahun sedangkan kakaknya yang pertama sudah 36 tahun.


"Nee-chan sebaiknya kau cari pengganti untuk pegawai mu" usul Hasan.


"Akan ku pikirkan" ujar Hani pada Hasan dengan menganggukan kepala.


"Aku khawatir Nee-chan akan tertular penyakit berbahaya itu"


"Apa yang kau maksud dengan 'itu' ?" tanya Agnes bercacak pinggang.


"Aku takut jika nee-chan yang sudah tua ini tidak akan ada yang mau untuk menikahinya jika ia bodoh" Jelas Hasan yang mendapat tatapan tajam dari 2 perempuan disana.


"Siapa yang kau maksud tua?!" Hani sudah bersiap memberikan bogem mentah pada adiknya itu.


"Siapa yang kau maksud bodoh HASAN?!" Agnes yang sudah mengeluarkan teriakan yang mengalahkan suara toa.


"Nee-chan sepertinya aku ingin istirahat terlebih dahulu" Hasan berdiri dari tempatnya dan berjalan terbirit-birit menaiki tangga. "Kamar ku masih bersihkan?" Tanya Hasan yang sudah berada di beberapa anak tangga.


Hani hanya merespon dengan delikan tajam nya dan Agnes segera melempar botol plastik yang ada di meja ke arah Hasan.


"Ah sepertinya sudah bersih" Hasan melanjutkan langkahnya dengan keringat yang sudah bercucuran.


Waktu pun bergilir sekarang matahari sudah digantikan tugasnya oleh sang bulan. Memberikan cahaya yang begitu indah hingga siapa saja yang melihatnya tidak perlu takut untuk melihat cahayanya. Cahaya menyejukan mata sehingga siapa saja akan betah mena


Hani melihat sang adik yang baru saja pulang dari sholat isya nya, yang sekarang sudah menunjukan pukul delapan.


"kemarilah" Hani menepuk kursi kosong disampingnya.


Mereka membicarakan keadaan sang ibu mereka khawatir dengan ibunya yang berada di Indonesia. Ibunya sudah tua dan sendirian di di sana, apakah ibunya sedang baik-baik saja di sana? Sudah belasan tahun ia dan adiknya tidak bertemu ibunya. Bukan karena mereka yang tidak ingin menemuinya tapi ibunya yang selalu kabur saat mereka ingin menjenguknya.


Ibunya masih marah karena tidak terima anak-anaknya mualaf bersama sang suami. Mereka dulu bukan beragama islam, sang ayah yang mendapatkan hidayah untuk memeluk islam mengajak keluarganya untuk memeluk agama tersebut tapi sang ibu malah menentangnya dan lebih memilih tetap pada agamanya. Sedangkan dirinya bersama sang adik memilih untuk masuk islam karena saat ia masih kecil mereka berteman baik dengan kaum muslimin. Adab mereka bermain dan berpakaian sangat baik dipandang. Terutama saat hari raya, Hani selalu merasa iri dengan hari raya mereka. Mendengar suara takbir yang begitu keras membuat hatinya terketuk untuk lebih mengenal islam.


Melihat anak perempuan memakai penutup kepala dan pakaian yang begitu sempurna hingga menutupi seluruh tubuhnya membuat ia tersenyum. Melihat mereka saling menghampiri rumah temannya untuk mengaji membuat ia juga ingin ikut.


Mendengar lantunan ayat suci Alquran dari sebuah masjid yang dibacakan oleh teman ayahnya membuat ia ingin menangis. Dirinya tidak mengerti artinya tapi lantunan itu membuat dirinya menangis. Untuk itulah ia masuk islam dan mengajak sang adik yang ternyata juga ingin masuk islam.


Dengan memeluknya agama islam membuat sang ibu memutuskan bercerai, yang tentu saja di selesaikan dengan kepala dingin. Mereka pun tinggal terpisah Hani dan Hasan ikut ayahnya ke Tokyo yang ternyata pada saat itu ayahnya dipindahkan berkerja di tokyo karena sang ayah merupakan manager suatu perusahaan Jepang.


"Ha-i Nee-chan" angguk patuh Hasan.


Hani mencubit kedua pipi sang adik dengan gemas. " kau masih seperti dulu, terutama pipi ini" Hani semakin kuat menarik kedua pipi Hasan.


Drrrt

__ADS_1


Drrrt


"Itai Nee-chan! Ada telepon tuh" tunjuk Hasan pada ponsel sang kaka.


Hani melepaskan cubitan itu, ia menghampiri ponselnya dan menerima panggilan tersebut.


Ekspresi Hani berubah seketika saat mendengar suara jeritan yang ia kenal. "Takashi?" Hani membekap mulutnya sendiri tidak percaya.


"Konbanwa Hani-chan, ppffft" ujar seseorang disebrang sana sambil menahan tawanya. Menggunakan sufix chan membuat ia geli.


"Dare?"


"Kiyoshi Kei"


"Kei?" Hani tidak mengenal nama tersebut. Tapi ia mengenal suara bariton itu.


"Hn" gumam orang disebrang sana.


"Kau yang selalu mengganggu kami bukan?"


Kami? Hasan yang mendengar bahwa kakaknya diganggu segera menarik ponsel sang kakak.


"Aku tidak menggangu kali~"


"KAU! Lenyaplah !"


Kei terkejut mendengar suara pria di sebrang sana. Apalagi nadanya yang begitu marah. Siapa dia? Beraninya dia berteriak pada dirinya dan memotong ucapannya.


"Hasan bersabar lah" ujar Hani halus menenangkan sang adik.


"Huuuffft jangan ganggu~"


"Kau dimana? apakah kau bersama Hani di tokonya?"


Potong Kei sebelum ucapan Hasan selesai. Bahkan Kei tidak menanyakan siapa lawan bicara nya dia langsung menanyakan keberadaannya.


'Sumimasen saya ingin membeli roti ini'


Kei yang mendengar ada yang membeli ia langsung tahu dimana keberadaan pria itu.


Dada Kei terasa panas saat tahu Hani bersama pria lain. "Lagak nya sok suci ternyata, khe semua perempuan sama saja" desis Kei yang masih terdengar oleh Hasan


"Apa kau bila~"


Tuuut


Tuuut


Belum juga ia menyelesaikan ucapan nya dan lagi-lagi harus terpotong.


"Dimatikan" Hasan memberikan ponsel tersebut pada Hani.


"Mengapa bisa? Padahal Nee-chan ingin tahu keadaan Takashi"


"Besok aku akan mencarinya, percaya pada ku , dan aku akan melindungi nee-chan" sang adik mencengkram pundak kakaknya.


"Aku percaya padamu" Hani tersenyum pada sang adik.


Tunggu! Bagaimana sang adik tahu tentang Takashi dia kan belum bercerita.


"Aku ingin makan" Hasan pergi ke dapur tempat makan mereka saat istirahat.


"Agnes kita tutup sekarang saja"


"Eh kenapa ni?"


"Entahlah aku juga bingung, intinya kita tutup saja hari ini. Pendapatan hari ini sudah cukup bukan?"


Mereka pun menutup tokonya padahal hari belum terlalu malam, masih pukul 8.


"Hani aku pamit pulang" Agnes berojigi pada Hani.


"Hati-hati"


Setelah kepergian Agnes, Hani menghampiri sang adik yang sedang mencuci piring bekas makannya.


....


"Takashi apa Hani selama ini punya kekasih?" tanya Kei sambil membereskan jas nya yang sedikit berantakan.


"Tidak" jawab Takashi jujur sambil membalut jarinya yang telah terpotong.


"Kau jangan bohong!" Kei mencekik Takashi.


"Nii-san lepaskan dia, dia bisa mati" Megumi sang adik menghampiri Kei berusaha menenangkannya walau ia benci pada Takashi tapi ia lebih benci jika ada seseorang mati dihadapannya.


"aku mendengar suara pria disana" tanpa mendengarkan permintaan sang adik ia tetap mencekik Takashi.


"Hakh?" Suara Takashi tersedak karena cekikikan Kei.


"Sepertinya kau sendiri tak tahu seperti apa perempuan yang selama ini kau suka" Takashi tersenyum remeh mendorong tubuh Takashi dengan kasar kelantai. "sudahlah" Kei mengambil kunci mobilnya di atas nakas.


"Kau hosh! Jangan tersulut emosi! Hani tidak lah seperti itu, pasti ini salah paham" ujar Takashi membela Hani sambil menyesuaikan nafasnya.


Lagi-lagi Takashi membela Hani, seolah membuat dirinya buruk menilai Hani walaupun itu kenyataannya. Mengapa harus Takashi pria yang selama ini ia percaya bersekutu dengan Hani.


"Diam kau!"


Kei dengan kekuasaan nya menyuruh anak buahnya untuk menyeret Takashi ke kamarnya. Beberapa kali kaki Kei terbentur anak tangga.


Megumi yang memang sadari di sana sedikit terkejut melihat emosi sang kakak yang begitu meluap hanya karena seorang 1 wanita.


Ini bukan kali pertamanya dia melihat hal ini, namun sudah lama sekali ia tidak melihat sang kaka marah karena wanita.


"Nii-san ingin kemana?" Megumi berlari kecil mengikuti langkah sang kakak.


Di taman yang luas ini ia hanya ada mereka berdua. "Nii-san" panggil Megumi yang dhiraukan Kei.


Megumi yang kesal karena diacuhkan menarik tangan kakanya. Dengan sekali sentakan kakaknya berbalik.


Nyuut


Nyali Megumi menghilang begitu saja, saat melihat mata sang kakak yang sudah berubah sedikit merah. Dan wajahnya yang terlihat merah padam hingga kedua telinganya ikut memerah. Rahangnya sudah terkatup begitu keras.


Melihat tatapan itu Megumi melepaskan tangannya yang ada dipergelangan sang kakak.


"Siapa wanita itu sehingga membuat Nii-san begitu marah bahkan sampai tidak mendengarkan ku" Pertanyaan yang ada didalam benaknya harus ia kubur dalam-dalam.


Melihat sang kakak yang mengendarai mobil begitu kencang hingga menabrak pagar rumah. Tidak menghentikan ia untuk tetap lanjut berkendara.


"Hari ini akan ada yang mati dengan mengenaskan" ujar Megumi dengan menatap prihatin pagar rumah nya.


"Kau!" tunjukan Megumi pada pria botak dengan jas hitamnya yang sedang berlari kearah gerbang yang sudah terbelah.


Orang itu datang dengan menunduk 90 derajat pada Megumi.


"Berikan kunci mobil mu"


....


"Sudah selesai?" tanya Hani pada sang adik yang baru saja selesai dengan mengelap piring basahnya.

__ADS_1


"Ha'i"


"Hmm Hasan Nee-chan ingin memberi tahu mu tentang Takashi"


"Aku sudah tahu, besok aku akan mencarinya"


"iya nee-chan juga tahu kalau kau sebenarnya sudah tahu. karena kau disini punya mata-mata"


Hani berjalan dengan kesal keluar dari dapur di ikuti Hasan. Seharusnya dirinya yang memberi tahu hal ini bukan Agnes sang Agen kepercayaan Hasan.


"Tapi aku belum tahu siapa yang membawa Takashi" Hasan mendudukan dirinya pada kursi kosong disamping sang kakak.


Hani saja baru tahu nama sang pelaku, tapi ia baru dengar nama marga itu. Apa ia minta bantuan polisi karena dirinya sudah tahu sedikit informasi tentang pria itu.


"Kiyoshi Kei"


Degg


Hasan tahu pria itu, ia pernah dengar dari Shino teman yang rumahnya selalu ia singgahi. Terkadang ia berkerja sambilan di bengkelnya. Dan pelanggan tetapnya yang dia ingat ialah Kiyoshi. Hasan memang tidak terlalu mempedulikannya karena ia tidak tahu dan tidak ingin mengusik urusan pribadi orang.


Tapi beberapa pegawai sering membicarakan harga mobil yang mereka perbaiki. Bahkan mereka mengatakan 'tidak heran ia sering bergonta-ganti mobil dan sering merusak nya. Pasti menjadi ketua Yakuza membutuhkan mobil yang cepat untuk meloloskan diri. Ku dengar Shino-sama sering diajak untuk berkerja sebagai kelompok Yakuza tapi ia menolaknya. Dan bengkel ini semua peralatannya yang bahkan belum ada di bengkel mana pun di biayai Kiyoshi-sama aku mendapat info jika nama depannya Kei."


Sejak tahu bahwa ia ternyata secara tak langsung berkeja pada anggota Yakuza. Ia memutuskan berhenti tapi tidak dengan pertemanan nya. Ia tahu Shino sebenarnya tidak begitu suka berkerja dengan Kiyoshi tapi mengingat ayahnya yang begitu memaksa anaknya Shino harus menerimanya. Hasan hanya bisa berdoa agar Shino segera di berikan hidayah oleh Allah.


Allah Ta’ala berfirman,


“ Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya . ” (QS. Al Maidah: 2).


Ayat ini menunjukkan bahwa terlarang saling tolong menolong dalam maksiat atau dosa.


Dalam hadits juga disebutkan,


“ Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatan jelek tersebut dan juga dosa dari orang yang mengamalkannya setelah itu tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun juga .” (HR. Muslim no. 1017).


"Dia ketua Yakuza" Jawab Hasan lirih. Dia tidak menyangka sang kakak berurusan dengan anggota Yakuza. Dan Takashi apa hubungannya dengan Kiyoshi Kei?


"Yaku~"


Praank


Kaca yang baru saja diperbaiki dihancurkan lagi dan pelakunya pria yang sama.


Apakah dia tidak tahu cara mengetuk? Apakah ia tidak tahu membenarkan kaca itu harus mengeluarkan tabungannya? Mengingat ia Yakuza pasti uang yang Hani keluarkan di anggap recehan.


Hani yang melihat Kei menodongkan pistolnya pada sang adik segera menariknya untuk berlindung di belakangnya.


"Kau diam saja"


Hani tahu Hasan ingin protes makanya ia menyuruh sang adik diam.


"Ja-jangan sakiti dia" Hani sedikit berteriak walau suaranya terdengar gugup.


Melihat Hani berusaha melindungi pria itu melebihi saat ia khawatir saat Takashi terluka membuat dadanya memanas.


Lihat bahkan kali ini Hani yang memegang pria itu. Melihat wanita bermuka dua ini membuat ia muak.


Sejujurnya Kei bisa saja mencari informasi tentang Hani tapi karena ia percaya jika Hani adalah perempuan baik-baik tidak ada alasan lagi untuk dia mencari informasi tentangnya. Ia sudah percaya pada Hani, tapi ini apa?


Door


Gelap, hanya ada sedikit cahaya dari dapur dan lampu jalan. Lampu yang berada tepat di atasnya mengenai dirinya.


Tangan Kei yang saat ini memegang pistol gemetar saat tahu Hani terluka terkena serpihan kaca lampu.


Luka Hani tidak begitu parah karena kepalanya tertutup jilbab yang ia pakai.


Pistol itu jatuh dari tangannya saat melihat darah mengalir dari pipi Hani.


Ia merogoh sakunya untuk mengambil sapu tangan, ia ingin memeberikan sapu tangannya tapi melihat pemandangan didepan ia lagi-lagi harus menelan pil kecewa.


"Hasan daijobu ka?"


Hani memeriksa kepala Hasan dengan protektifnya. Dalam keadaan remang cahaya sulit untuk menemukan dimana serpihan kaca lampu itu dikepala sang adik.


"Apa kau segitu khawatirnya? bagaimana dengan ku? Aku juga sakit, disini" tunjuk Kei pada dadanya sendiri.


Hani hanya meliriknya sekilas tidak mempedulikan ucapan Kei. Dirinya masih fokus mencari serpihan itu.


"Daijobu"


Hani tersenyum mendengar hal itu, ia pun memeluk Hasan begitu kuat menumpahkan air mata disana.


Hani tidak tahu bahwa pria lain yang ada disana sudah terbakar api cemburu. Tangannya dengan segera mengambil kembali pistol yang ada dilantai.


Hani melepaskan pelukan itu, dan beralih menatap Kei yang sudah siap menembakan peluru ke arahnya. Tidak! Itu bukan ke arahnya tapi pada...


"Jaangaan" Teriak Hani


Door


Kali ini peluru pistol itu telah bersarang pada tubuh seseorang. Seharusnya Kei tidak perlu ragu-ragu untuk menembak biasanya menembak adalah hal yang sangat ia sukai.


"Uugh" Hani memejamkan matanya menahan sakit. Hasan membelak terkejut, lagi-lagi sang kakak yang menjadi temengnya.


Tembakan Kei tidaklah melesat ia sudah yakin bahwa yang ia tembak adalah pria yang bersama Hani. Tapi mengapa bisa Hani? Kenapa Hani begitu melindungi pria itu? Jika memang karena Hani mencintai pria itu maka itu pantas ia terima.


"Tidak! Tidak!" Hasan berusaha membuat sang kaka tetap tersadar. Ia menepuk pipi sang kakak berkali-kali. "Kumohon bertahanlah, buka mata mu"


Melihat darah terus mengalir dari punggung sang kakak, bahkan jilbab putih yang ia pakai sudah berwarna merah. Menekan luka itu agar darah tidak terus keluar


"Ku mohon Nee-chan " darah sudah memenuhi telapak tangannya mengalir begitu deras bahkan sudah membasahi lantai. "Tidak, berhentilah hiks.."


"Nee-chan?" beo Kei. " di-dia saudari mu?" tanya Kei dengan gugup. Dijawab anggukan lemas dari Hasan.


"Kenapa tidak bil~"


"kau bisa membawanya ke mobil" ucapan Kei terpotong oleh seseorang yang hadir diantara mereka.


Seorang wanita yang tak di undang hadir diantara mereka. Berdiri tepat di samping Kei. Hasan menatapnya dengan tanda tanya begitu pun Kei.


"Jadi wanita ini nii-san?" tanya perempuan itu remeh pada Sang kakak.


"Megumi? Sejak kapan?"


"Kau cepatlah!" sekarang gantian sang adik yang mengabaikan sang kakak.


Megumi mengikuti Hasan dari belakang yang sedang mengendong Hani.


"Kurasa perempuan itu akan membenci mu"


Megumi tersenyum remeh pada sang kakak. Kakaknya bisa-bisanya begitu besar menyukai seseorang. Tunggu! Sepertinya ini hanyalah sebuah obsesi mengingat kakaknya gelap mata hingga membunuh seseorang sama seperti para mantannya yang ia bunuh dengan tangannya sendiri.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Info : di jepang, mereka sangat menghargai seorang muslim namun tak jarang kita menemukan seseorang yang masih belum mengenal muslim. Tapi mereka memperlakukan seorang muslim begitu sopan. Jepang adalah negara yang memiliki tingkat kesopanan yang paling bagus. Negara Jepang memiliki masyarakat dengan kesadaran yang cukup tinggi mengenai kesopanan, kebersihan lingkungan dan juga keramah tamahan dengan sesama. Kita sering lihat di acara televisi maupun cerita dari seseorang bahwa orang jepang selalu membungkuk. Itu merupakan kebiasaan adab mereka untuk menghormati orang lain.


__ADS_2