

Sampai pada perkarangan rumah Rusel, mereka di sambut ramah oleh anak buahnya Rusel. Tentu keramahan ini perlu di khawatirkan. Naluri sebagai seorang Yakuza membuat Kei harus terus memegang pistolnya.
Hanya karena ada Ayako para anak buah Rusel bersikap ramah padanya. Kei harus bertahan hingga anak buahnya yang lain yang sedang menyusulnya datang. Kei kalah jumlah dengan mereka yang sedang berojigi pada Ayako.
Buat jaminan, tangan Ayako dia borgol dengan tangannya agar sewaktu-waktu tidak akan ada yang berani menyakiti dirinya.
Mendengkus kesal saat dia masih harus menunggu Rusel datang padahal rumahnya tidak begitu luas dibandingkan mansion Kei.
"Sepertinya Nii-san sedang menjemput perempuan itu." Ujar Ayako sambil memijat kakinya dengan tangan kirinya.
Kei melirik kaki Ayako yang membengkak dia pun mengalihkan pandangannya pada salah satu anak buah Rusel yang menatap Ayako dengan khawatir.
"Itu ayahnya bukan." Bisik Kei.
Ayako melotot tidak percaya bahwa Kei mengetahui siapa ayah dari anaknya ini. Kakanya sendiri pun tidak tahu. Apakah Kei akan mengancam dirinya dengan menggunakan pria yang dia cintai itu.
"Apa rencana mu?" Desis Ayako.
"Cukup membawa Hani pulang."
"Hanya itu?" Tanya Ayako tidak percaya, ayolah Kei saat ini sudah berada di dalam kandang singa. Apakah dia tidak ada rencananya lain? Seperti melumpuhkan lawan yang bisa dia hadapi atau menghancurkan tempat ini. Sebelum keadaan terbalik menjadi Rusel yang menyerang Kei.
"Tergantung, Jika Rusel membahayakan Hani maka seluruh antek-antek Rusel akan ku habisi. Termasuk kau! Ah sepertinya melihat Rusel menderita merupakan hukuman yang pantas sampai dia mengharapkan kematiannya sendiri."
"Apakah tidak akan ada belas kasihan padaku? Aku pernah menjadi teman mu." Ayako berujar sedih, dia dulu pernah hampir saja jatuh cinta pada Kei. Tapi saat seseorang hadir yang menjadi pengawal pribadinya membuat dia berlainan hati.
"Aku bahkan hampir lupa namamu. Jika ingin ku ingatkan kembali bahwa kita hanya menjadi teman seranjang dalam satu malam."
Lucu rasanya saat Kei mengingat hal itu, bercinta dengan adik musuhmu sendiri?
"Ya kau benar jika kita dulu tidak satu kursus bahasa Jerman maka kita tidak akan pernah saling mengenal."
"Tidak sulit bagiku untuk mengetahui kau." Ujar Kei dengan angkuhnya.
.
.
.
.
.
.
Hani yang saat ini berada di belakang Agnes dan Rusel hanya berjalan dengan mengambil jarak 1 meter dari mereka. Hani merasa asing dengan Rusel dan juga Agnes.
Ingin menasehati Agnes agar tidak terlalu dekat dengan Rusel tapi malah Hani yang ketakutan karena tanggapan Agnes yang malah memarahi dirinya. Apakah Hani salah menasehati Agnes? Dirinya hanya tidak ingin Agnes salah pergaulan apalagi dengan Mafia ini.
Hani melihat Rusel memberikan sesuatu pada Agnes. Hani sangat tahu benda apa itu, senjata itu tidak asing lagi saat dengan cepat Agnes sembunyikan di balik jaket kulitnya. Pistol itu hampir mirip dengan salah satu mafia Jepang atau Yakuza yang dia kenal.
Saat mereka menghentikan langkahnya Hani pun juga ikut menghentikan langkahnya. Melihat apa yang membuat mereka berhenti dan matanya terfokus pada pria yang berdiri dengan raut wajah kelelahan.
"Hasan." Lirih Hani yang langsung berlari menghampiri Hasan.
Greepp
Tangannya di cekal hingga Hani harus mundur kembali kebelakang. Hani menatap Agnes dengan kecewa.
"Lama tidak bertemu Kei." Sapa Rusel sambil berjalan dengan melambaikan tangannya pada Kei.
Kei yang melihat Rusel langsung naik pitam padahal dia harus menjaga emosinya. Berdiri mendadaknya Kei membuat Ayako tertarik dengan kasar.
__ADS_1
"Kau kasar sekali Kiyoshi-sama." Rusel pun langsung menarik Hani dengan kasar dari tangan Agnes.
Kei yang melihat itu malah berjalan cepat ke Rusel mengakibatkan borgol yang terpasang pada tangan Ayako menyeret tubuh ibu muda itu.
"Kau berbuat kasar pada adikku maka ku buat dia tersiksa." Rusel menyelengkat kaki Hani hingga dia jatuh dengan kasar ke lantai marmer. Di tariknya jilbab itu hingga mendongak menatap mata Rusel yang sangat marah pada Kei.
Kei tambah di buat geram, tangannya dengan siap menyiapkan bogem mentah pada Rusel.
Buggh
Rusel menatap tidak percaya pada orang yang tidak pernah di sangkanya untuk memukul Kei sang ketua Yakuza. Ingin sekali dia bertukar posisi pada orang yang disebut sebagai adik Hani itu.
"Hasan kau!" Mata Kei menuntut penjelasan.
Apakah Hasan tidak tahu saat ini dia mempermalukan dirinya di depan Rusel.
"Dasar Yakuza bodoh! Kau ingin apa hah? Kau salah bergerak saja akan membuat perempuan itu terluka. Dan kakakku pun akan dalam bahaya!" Hasan hanyalah manusia yang tidak luput dari dosa, kata umpatan pun terkadang dia utarakan saat memang dia sedang marah.
Padahal seharusnya orang beriman selalu menjaga lisannya dan diperintahkan berkata yang baik. Namun, Hasan hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari dosa.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)
Kakaknya selalu bilang padanya untuk menjaga lisannya karena setiap kata yang kita ucapkan bisa saja menyakiti perasaan orang lain. Dan terkadang kakaknya menyuruh dia cepat-cepat beristighfar saat sudah tidak bisa membendung emosinya.
Mengerti maksud Hasan, Kei pun memaafkan Hasan yang baru saja menonjok pipi kirinya. Sedangkan anak buahnya yang lain mulai menatap Hasan tidak suka.
"Lepaskan Hani, maka dia akan ku lepaskan." Ujar Kei pada Rusel dengan menunjukkan borgol yang ada ditangannya.
"Ini." Dengan kasar Rusel mendorong Hani, sedikit melirik Agnes untuk bersiaga dengan rencananya.
Agnes ragu apakah dia harus menggunakan pistolnya?
"Lepaskan Ayako."
"Tidak, tidak sekarang dan di tempat ini." Kei berjalan mundur untuk ke pintu keluar.
"Kau melanggar janjimu."
"Tidak, aku akan tetap melepaskan Ayako." Kei mengeluarkan pistolnya dan menempelkan bibir pisau itu pada dahi Ayako. "Kalian jangan ada yang mendekat. Dan kalian." Tunjuk Kei pada Hasan dan anak buahnya. " Pergi keluar sekarang dan siapkan mobil."
"Tahan mereka." Perintah Rusel pada anak buahnya yang lebih banyak daripada anak buah Kei.
"Aku sudah memperingatkan mu Rusel!" Kei menekankan pistolnya lebih kuat pada dahi Ayako. "Kau kira aku bodoh? Ini kandang mu tentu saja aku yang lebih lemah saat ini. Aku butuh jaminan untuk keselamatan ku."
Rusel melirik Agnes yang sedang mengusap keringat di dahinya. Sepertinya Agnes saat ini sedang tegang.
"Hei Kau kekasih Kei." Panggil Rusel pada Hani tapi tidak di sahuti oleh Hani karena Hani merasa bukanlah dia kekasih Kei. Hasan yang saat ini sedang memapah kakaknya untuk keluar tidak peduli dengan keadaan di belakangnya.
Kei tersenyum malu-malu saat Rusel memanggil Hani bahwa dia kekasihnya. Tapi Kei merasa aneh kenapa tidak ada respon sama sekali dari Hani. Menengok kebelakang dan melihat Hani yang hampir sampai ke pintu keluar.
"Hani dia memanggil mu." Panggil Kei lembut mencoba sabar pada Hani, Hani pun menengok pada Kei.
Menunjuk pada dirinya sendiri seolah bertanya. Aku?
"Iya." Sayang.
"Ada apa?" Tanya Hani pada Rusel.
"Kau melupakan temanmu."
Sedangkan Agnes hanya menatap Hani dengan pupil bergetar. Matanya pun siap untuk menumpahkan air mata yang selama ini ia bendung.
Hani menatap Hasan dan Hasan pun hanya bisa menggeleng lemah. Seolah dia tidak bisa berbuat apa-apa, bisa membawa Hani keluar dari sini saja Hasan sudah bersyukur.
__ADS_1
"Bukan aku yang melupakannya tapi dia yang melupakanku. Terserah dia ingin ikut bersama ku atau tidak." Hani sedikit curiga dengan Agnes pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan.
"Pilihlah." Ada makna tersembunyi dari kalimat Rusel.
Agnes harus memilih, membunuh Hani agar dia selamat atau tidak membunuhnya dan dirinya belum tau apakah ia akan di ampuni nyawanya oleh Rusel.
Kei melihat kejanggalan pada Agnes. Terutama Rusel, apakah dia segitu baiknya hingga ingin melepaskan Agnes tanpa ada maunya? Kaki gemetaran Kei lihat saat Agnes ingin berjalan menghampiri Hani.
"Apakah kau lupa bahwa Agnes sekarang anak buahmu? Aku tidak mengizinkan orang-orang mu mendekati Hani sekalipun itu orang tuanya." Ujar Kei yang mengubah mimik wajah Rusel menjadi kesal.
"Sekarang." Bisik Rusel penuh penekanan. "Incar Jantung Kei."
Tubuh Agnes menegang, bukan bukan ini rencananya. Jika dia membunuh Kei maka itu sama saja dia bunuh diri.
"Atau ku tembak kepala ibumu." Ancam Rusel pada Agnes yang masih diam tak berkutik.
Agnes hanya menggelengkan kepalanya air mata pun jatuh dari sudut matanya. Hingga-
Doorrr
Agnes menutup matanya kuat-kuat tidak ingin melihat korbannya yang tubuhnya telah bolong terkena pelurunya.
"Kau perempuan bodoh." Ejek Rusel entah itu pujian karena telah membunuh ketua Yakuza itu atau emang karena sindiran karena sebentar lagi hidupnya akan dikejar oleh berbagai macam senjata dan ancaman.
"Rusel aku tidak menyangka kau punya ide sedangkal itu." Sindiran Kei membuat Agnes membuka matanya takut-takut. Melihat tubuh Kei yang masih utuh tanpa noda merah sekalipun dia kebingungan mencari siapa korbannya.
Yang dapat dia lihat hanya Hani yang sedang memandang dirinya kecewa untuk kesekian kalinya.
TBC
.
.
.
.
.
.
.
.
78 komentar untuk lanjut.....
Silahkan di ulang-ulang komentarnya soalnya aku yakin tidak akan ada orang yang komentar hingga segitu....
Sebagai gantinya silahkan satu orang atau beberapa orang untuk perwakilan.... Hmmmzzz agar ada yang bisa ngerasain rasanya ngetik panjang...
Kalian ingin komentar
N di kementar pertama
E di komentar kedua
X di komentar ketiga
T di komentar selanjutnya....
Terserah bahkan titik pun gpp....
Hanya 78 itu dikit....
__ADS_1