KAU YANG DIPERUNTUKKAN BERSAMAKU

KAU YANG DIPERUNTUKKAN BERSAMAKU
akhir 2


__ADS_3

"Aku sangat bersyukur masih bisa hidup saat ini. Dan hanya perlu beberapa menit untuk diri ini untuk sholat. Aku sangat membutuhkan sholat ini bukan tuhan kami yang membutuhkan nya. Karena aku butuh Rabb ku Untuk keselamatan dan ketenangan diri ini aku perlu Sholat dan itu hanya sebentar."


Hasan mengucapkan itu untuk memberi tahu bahwa sholat nya itu bukan beban.


Hasan melirik Tanjirou yang berniat ingin meninggalkan dirinya dan Hani. Dan tersenyum pada pada Kei yang sengaja ingin memperlambat situasi. Walau Hasan tau bahwa sebenarnya Kei dalam kepanikan.


"Sudah selesai." Hani menutup luka Kei dengan kain. "Apa kau bisa jalan? Sepertinya akan sakit jika dipaksakan."


"Tidak apa ini luka biasa. Ssstt" ringis Kei saat mencoba berdiri.


"Apa mereka masih jauh?" Tanya Hani dengan memegang sebuah pisau lipat yang ia ambil dari celana Kei.


"Tidak bisa di bilang terlalu jauh tapi mungkin beberapa menit lagi dia akan menemukan kita. Dan Hani tolong berikan pisau itu." Kei menjulurkan tangannya pada Hani tapi Hani malah menyembunyikannya di belakang badannya.


"Tanjirou-san tolong bawa Kei ke dalam gua sana. Banyak tumbuhan merambat di sana sepertinya itu bisa untuk persembunyian sementara."


"Baiklah." Tanjirou membantu Kei untuk berdiri tapi di tepisnya tangan Tanjirou.


"Kau ingin apa?" Kei bertanya pada Hani.


"Baju yang dibuat Agnes terlalu panjang nanti aku harus berterimakasih padanya." Ujar Hani.


Srrrrkkk


Dirobeknya gamis itu dibagian bawah.


"Nee-chan?"


"Brengsek kau ingin apa?!" Kei kesal karena Hani ingin berbuat sendiri tanpa melibatkan dirinya.


Crassshh


"Nee-chan kau gila!"


Hasan melihat kakaknya melukai kakinya sendiri tentu saja panik apalagi darah itu keluar sangat banyak.


"Gendong aku keluar dan pakai kain ini untuk membersihkan darah kei di sepanjang jalan ke gua. Gunakan air bagian ku. Aku akan membuat jejak baru untuk melabui mereka."


"Tidak nee-chan bagaimana cara kau kembali? Kau bisa saja ketemu mereka saat ingin kembali ke gua ini dan dan bisa saja kau kehabisan darah selama kau jalan. A-aku saja yang melakukan itu." Hasan menahan tangisnya


"Aku tidak bisa kehilangan mu Hasan." Hani mengusap rambut adiknya dengan lembut.


"Apalagi aku! Tidak! Ku mohon jangan lakukan hiks.... Aku masih perlu di manja nee-chan."


"Hanya sebentar tolong Percayalah padaku. Aku kakakmu bukan? Aku akan baik-baik saja. Dan sepertinya darahku sudah terbuang percuma di sini. Kumohon bawalah aku keluar dari gua ini secepatnya."


"Nee-chan." Mengusap air matanya dan melihat darah Hani yang mulai menodai lantai gua. "Baiklah." Membopong Hani seperti karung beras Hasan berlari secepat mungkin.


Dor


"Abaikan." Bisik Hani sambil menatap Kei yang memegang pistol kerah langit gua.


"Aku tidak mengizinkan mu pergi Hani!" Teriak Kei dengan suara seraknya. "Hasan berhenti! Jika kau tidak berhenti sekarang Aku akan membunuhmu jika kau kembali." Di lihatnya Hasan yang terus melanjutkan larinya. Kei harus berbuat apa untuk membuat Hasan berhenti?


Memohonkah?


"Ku mohon kembali. Arrrkhhh sial kaki ini." Kei memukul kakinya tanpa mempedulikan rasa sakit yang ia alami karena ulahnya. Hasan tetap tidak berhenti, saat  Kei ingin mencoba berdiri, lagi-lagi luka ini menghalangi.


"Jangan tinggalkan aku lagi." Kei berjongkok dan menaruh kepalanya pada lututnya. Ia frustasi merasa dirinya tidak berguna Badannya pun bergetar bersama isakannya. Tanjirou yang melihat itu mundur tidak berani mendekatinya lebih tepatnya dia tidak mengenal siapa yang ada di depannya itu.


"Aku akan kembali doakan saja aku." Teriak Hani dari pintu gua.


Berdoa? Kepada siapa dia harus berdoa? Dirinya hanya percaya dengan yang namanya kebetulan. Apakah Hani sengaja mengejeknya karena dirinya tidak punya Tuhan? Tidak mungkin Hani seperti itu.


"Bawa aku ketempat yang Hani suruh tadi." Tanjirou segera merangkul Kei dan membawanya pergi.


Setidaknya Kei tidak mensia-siakan apa yang telah di lakukan Hani. Darah setiap langkah Hani, Kei berjanji akan membalasnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


Di sisi lain tepatnya di Tokyo, Megumi sedang menatap layar monitor yang menampilkan titik keberadaan kakaknya dan Yamato.


"Aneh sekali." Megumi merasa heran dengan keberadaan kakaknya yang berbeda dengan keberadaan Yamato.


Rencana apa yang dibuat kakaknya? Apa mereka sengaja berpencar? Tapi kenapa Kei bisa berada di dalam hutan? Tunggu!


Di zoom lebih besar lagi karena titik keberadaan kakaknya itu bergerak cepat mutar-mutar tidak jelas. Untuk alat lacak yang dibuat Megumi termasuk hal yang hebat karena di tempat Kei berada saat ini tidak terjangkau signal, tapi dengan alat Megumi masih terlacak walau tidak begitu jelas. Apalagi tempat kakaknya masih dekat dengan kediaman Rusel.


"Kuso!"


Umpat Megumi yang mulai merasa cemas.


Di teleponnya Yamato anak buah kepercayaan Kei, tidak perlu menunggu lama untuk mendapat sahutan dari sana.


"Beri teleponnya ke kakak ku!" Tanpa basa basi Megumi ingin segera mendengar keberadaan kakaknya.


"Kiyoshi-sama tidak berada di sini"


"Sudah aku duga kenapa keberadaan kakakku masih di bawah rumah Rusel tapi kalian tidak. Cepat kembali ke Hokaido, sepertinya kakak ku perlu bantuan."


"Kami dari tadi sedang berusaha mencari keberadaan Kiyoshi-sama."


"Dasar lelet! Kau cepat kembali dan aku akan menuntun kalian untuk membawa kakakku dengan aman. Aku dapat denah rumah Rusel."


Megumi mematikan panggilannya, dia mengetuk-ngetuk meja sedang berpikir. Keberadaan kakaknya tidak begitu jelas tapi dia yakin kakaknya berada tepat di bawah halaman rumah Rusel. Tapi untuk sampai ke sana bagaimana caranya. Untuk denah yang dia dapat tidak ada arah untuk menuju ruang bawa tanah.  Berusaha berpikir lagi, mengambil kertas dan menyusun kalimat.


Kei - Hani - Rusel - Rumah - signal - hutan -


Tunggu!


Megumi melihat hutan itu berada di daerah mana, bingo! Dekat laut rumah Rusel di atas pegunungan membelakangi laut dan Kei takut laut.


Plak


Megumi menampar kedua pipinya saat menemukan idenya.


Masih melanjutkan pemikirannya untuk mencari jalan keluar. Tidak mungkin Kei berlari ke laut di hutan? Pasti Kei sedang di kejar oleh Rusel di hutan dan tidak mungkin hanya bermain lari-larian pasti dia bersembunyi.


Kei - Hani - Rusel - Rumah - signal - hutan - phobia laut - dalam zona Rusel - bawah tanah - Gua?


.


.


.


.


"Kita bisa bersembunyi di sini Kiyoshi-sama." Ujar Tanjirou pada bos yakuzanya.


Kei menatap kosong pada dinding gua, tanpa dia sadari air mata turun membasahi pipi dan berakhir di dagunya.


"Apa yang harus kita lakukan saat ini?" Tanya Kei


"Kita hanya bisa bersembunyi."


"Lalu jika mereka menemukan kita?" Tanya Kei lagi.


"Kiyoshi-sama ini tidak seperti diri anda." Ujar Tanjirou dengan mengelus punggung gemetar Kei, berusaha menenangkannya. "Kau tidak biasanya ketakutan seperti ini."


"Jika mereka kesini berarti Hani sudah tertangkap." Kei membekap mulutnya sendiri berusaha tidak mengeluarkan isakannya. "Dia tidak ada hubungannya dengan kehidupan Yakuza seperti kita kenapa bisa dia masuk dalam masalah kita?"


"Kiyoshi-sama seharusnya kita membiarkan saja dia menjadi sandra jika memang dia bukan siapa-siapa anda namun, anda menyelematkan nya. Dan itu karena kau mencintainya. Bahkan kau menangis dan bisa menjadi seprustasi ini karena dia."


"Aku? Mencintainya? Hahaha ya benar saja. Aku hanya ingin tahu perempuan yang dekat dengan Takashi. Cukup itu lalu dia di tangkap oleh Rusel tentu saja aku merasa kasihan dengannya." Kei tertawa namun air matanya keluar. Tentu saja Tanjirou tau itu kebohongan apalagi tangannya yang terus menepuk tembok seiring tawanya.


"Baguslah jika kau hanya kasihan." Kei menghentikan tawanya dan menengok kebelakang siapa pemilik suara itu.


"Hasan-san." Ujar Tanjirou


"Hani bagaimana dia? Kenapa kau tinggalkan dia brengsek!" Kei naik pitam di tariknya baju Hasan. Kakinya sudah bisa untuk berdiri tapi tidak memudahkan untuk dirinya berlari.


"Jangan sebut nama Hani oleh mulut kotor mu itu." Ujar Hasan dengan menatap jijik pada Kei.


"Apa-apaan mata mu itu!" Kei mendorong Hasan hingga menabrak dinding.

__ADS_1


"Syukurlah jika kau tidak mencintainya jika bisa jangan pernah! Dan jangan dekat-dekat dengan dia. Cinta mu membawa Hani ke dalam masalah! Kau pembawa sial dengan profesi mu itu!" Hasan membentaknya.


Kei tertawa lebih keras lagi kali ini dia benar-benar tertawa sambil memegang perutnya.


"Bukankah kau bilang bahwa Tuhan mu yang maha mendengar dan maha melihat.  lebih mengetahui apa yang terjadi kepada kita. Dan kau percaya bahwa Allah subhanahu wa ta'ala Tuhan mu itu pasti menolong kita. Percaya pada ketetapan Allah subhanahu wa ta'ala akan berbuah manis dan untuk masalah ini. Dan kau bahkan berpikir bahwa semua masalah ini ada hikmahnya. Nyatanya kau sendiri yang menentang kalimat itu dengan menyakini bahwa ini semua akan berakhir kesialan."


(Boleh di baca ulang di bab jawaban percakapan Hasan dengan Kei jika kalian lupa. )


Melihat Hasan yang hanya berdiam diri dengan menatap kakinya. Kei merasa bersalah apakah tadi dia berbicara kelewatan. Tidak! Kei hanya ingin memastikan apakah ucapan Hasan itu hanya guyonan atau untuj memotivasi dirinya?


"Aku hanyalah manusia biasa, tidak sempurna yang terkadang aku juga perlu melampiaskan emosi ku." Hasan jatuh terduduk. "Aku melihat mereka saat ingin kembali." Mata Hasan memerah menahan tangisnya. "Aku ingin segera berlari ke nee-chan namun, aku tahu aku malah akan ketahuan dan membuat nee-chan dalam masalah." Hasan mengusap wajahnya dengan kasar.


Flashback


"Nee-chan kau mencintainya?" Tanya Hasan yang sedang membopong Hani yang sedang membuat jejak dengan darahnya.


"Apakah terlihat jelas?"


Hasan membelak matanya terkejut saat mendengar pengakuan hal itu.


"Ku kira aku salah, ternyata benar." Ungkap Hasan yang ternyata tadi hanya tebakan.


"Maaf mengecewakan."


"Nee-chan kau tau aku tidak akan setuju kau dengannya."


"Aku tahu. Namun, aku mencintai dia karena dia yang mencintai ku karena Allah."


"Jika seandainya kau salah."


"Maka aku akan memperbanyak istighfar karena cintaku yang berasal dari bisikan setan."


"Kau akan melupakannya?"


"Secepatnya."


"Kau sangat pintar menyembunyikan perasaan ya? Berbeda dengan Kei yang secara terang-terangan memperlihatkan ketertarikan dirinya pada nee-chan."


"Kau tuntun dia ya, dia sedang tersesat selama ini orang hanya menuruti perintahnya walau salah. Tidak ada yang menunjukkan hal yang benar. Semua memandang dia takut, namun kau harus bisa membuatnya takut akan dosa."


"Nee-chan kau pasti akan kembalikan?" Tanya Hasan.


"Kita pasti akan bertemu lagi." Hasan tersenyum mendengar hal itu tanpa dia ketahui bahwa kalimat itu memiliki arti yang sangat luas.


"Hasan di sini sudah cukup jauh kau kembali lah." Ujar Hani dengan muka pucat nya. "Aku harus segera menghentikan pendarahan ini." Hani merobek lagi gamisnya dan menutup luka itu.


Sraakk


"Perlukah tangan kau lukai juga?"


" Pohon ini juga harus memiliki jejak ku. Kau cepatlah pergi."


"Kembalilah." Ujar Hasan dengan berlari meninggalkan Hani.


Dorr


Hasan menghentikan larinya dan bersembunyi di semak-semak. Melihat Rusel yang berteriak memanggil Kei dan berjalan mengikuti jejak yang di buat Hani membuat Hasan membekap mulutnya sendiri takut bahwa napasnya pun akan ketahuan.


"Kei kau tidak akan bisa lari dari ku!" Rusel tertawa bersama anak buahnya.


Saat di lihat mereka sudah jauh Hasan segera melanjutkan larinya dengan perasaan cemas tentang Hani.


Saat dia memikirkan Hani, pria itu yang menjadi alasan kakaknya rela keluar mengatakan bahwa dia hanya kasihan. "Nee-chan aku membenci dia."


End flashback


Kei memegang jantungnya yang berdegup kencang. Hani bagaimana dengan nya? Hatinya sungguh tidak tenang hinga satu kalimat ia lafadz kan tanpa sengaja. "Ya  Allah."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC

__ADS_1


Jujur kalian punya teman yang non-muslim dan sering gk dengar dia bilang ya Allah?


Pernah tanya alasannya?


__ADS_2