KAU YANG DIPERUNTUKKAN BERSAMAKU

KAU YANG DIPERUNTUKKAN BERSAMAKU
kecemasaan


__ADS_3

Kei terus menerus berjalan mondar mandir di Koridor,  Megumi yang melihat kecemasan kakaknya merasa jengah. Membuang nafas dengan kasar, ia pun menarik tangan kakaknya untuk duduk disampingnya.


"Bisakah kau diam? " Membalas dengan anggukan singkat. "Bisakah kaki mu itu jangan terus menerus kau ketuk pada lantai? " Tanyanya lagi.


"Tidak! " Kei berdiri kembali dan melakukan hal yang sama seperti tadi. Megumi hanya membuang nafas lelah.


Sudah 1 jam dan kini kakaknya masih melakukan hal yang sama. Ayolah kemana sifat kakanya itu? Yakuza yang selalu tenang tidak pernah cemas walau sudah sering masuk pengadilan.


"Nii-san sebaiknya kau pulang jika kau tidak ingin berurusan dengan polisi"


"Lalu kau? Maukah kau disini menjaganya? "


"Tidak. Aku juga akan pulang" Jawab Megumi acuh sambil mengetik pada layar ponselnya, entah dengan siapa ia chatan. Jawaban nya itu membuat percikan kemarahan lawan bicara nya.


Prank


Megumi hanya bisa mengusap dadanya sabar, sudah kesekian kalinya ponsel miliknya hancur oleh kakaknya sendiri.


Menatap ponselnya itu dengan kesal, saat di iklan ponsel itu mengatakan bahwa ponsel itu tahan banting.  Tapi ini apa?


"Tidak apalah aku dari keluarga Yakuza setidaknya aku kaya" Gumam Megumi karena ia akan segera mengganti ponsel barunya.


"Ya dan kau tahu siapa ketua Yakuza itu!  Dan kau tahu apa yang sering nii-san lakukan pada orang yang tidak mematuhi ku! " Kei menginjak ponsel itu hingga bertambah hancur lagi, tidak peduli jika serpihan kaca itu mengganggu pejalan di Koridor ini.


"Kau ingin membunuh ku hanya karena aku ingin pulang? " Menompang dagunya pada tangannya.  "Hanya karena perempuan itu kau ingin membunuh ku. Satu-satunya keluarga yang kau miliki! " Megumi tersenyum licik.


"Kau lupa jika kau sama sekali tidak pernah menguntungkan keluarga?  Apakah kau pernah bermain pistol?  Apakah kau pernah melakukan bisnis yang sering keluarga kita lakukan? Ingatlah kau sudah tidak ada lagi pelindung! Kaa-chan dan tou-san sudah tidak ada.  Jadi aku ingin melakukan apapun terhadap mu itu tidak masalah bukan?" Kei memicingkan matanya tidak suka pada Megumi.


Megumi menatap dalam kakaknya, kakaknya tidak pernah berkata menyakitkan untuknya. Dirinya hanya sering di acuhkan, walau begitu ia yakin kakaknya secara diam-diam selalu melindungi nya. Banyak anggota gengster yang berusaha mendekati bahkan berniat menculiknya dan ke-esokan harinya mereka pada masuk televisi dan koran.


Tidak ada yang bisa melakukan hal kejam itu selain kakaknya. Dan sekarang apakah dihadapan nya itu kakaknya? Terluka pada setiap kata yang di ucapkan Kei.


Kei sendiri merasa kalimat nya sangat lah fatal. Tapi ego untuk meminta maaf selalu ada. Dirinya hanya sedang kalut akan emosi yang telah ia perbuat. Ia hanya cemas pada korban yang telah tidak sengaja tertembak. Bahkan sebelum nya Kei tidak pernah cemas pada korban yang sengaja ia tembak apa ini karena seseorang


"Kau bilang tidak menguntungkan? Apakah aku tidak berguna hah? Apa kau lupa tubuhmu itu sering mengeluarkan darah saat bertarung, kau sering hampir mati karena ditusuk terus menerus. Siapa pendonor mu?  Aku! Dan ingat aku yang membantu untuk mengurangi harta yang kau miliki sungguh melelahkan menghabiskan uang kotor mu itu! "


Megumi berdiri dari duduknya, berjalan melewati kakaknya. Menabrak sedikit bahu kakaknya matanya tertuju pada 2 sosok didepan nya yang sedang berjalan menghampiri mereka.


"Kau urus anak buah mu itu" Ujar Megumi sambil berjalan,  ia pun memberikan senyum pada polisi yang ia lewati.


Adik wanita itu sungguh menarik, dari ekspresi wajahnya Megumi sudah tahu bahwa dia mengetahui siapa kakaknya itu. Lantas untuk apa membawa polisi? Dan yang lebih parah lago polisi itu anak buahnya Kei sendiri. Dunia itu sempit yah.


Kei hanya mendengus kesal saat mereka datang menghampiri nya. Hasan beberapa kali menunjuk dirinya sebagai tersangka. Kei hanya memutar matanya bosan saat Hasan berulang kali mengucapkan kalimat yang sama tentang kejadian tersebut.


Polisi itu memandang Kei yang seperti nya tidak ada niatan untuk membantah. Polisi menunjukan borgol pada Kei, tapi tidak memasangkannya. Seolah itu isyarat untuk izin agar dirinya diborgol.


Kei begitu saja mengulurkan tangannya. Melangkahkan kakinya saat dituntun untuk pergi ke kantor polisi. "Jagalah dia" Pinta Kei sebelum pergi.


....


Polisi itu tidak membawanya ke kantor polisi melainkan di kediaman sang Yakuza itu. Berbicara membahas penembakan itu.


"Para anak buah mu sudah menghilangkan jejak, dan aku telah merentas CCTV didaerah tersebut. Kau diamlah di kediaman mu jangan keluar setidaknya hingga 1 bulan. Agar mereka tidak mencurigai mu."


"Kau memerintahkan ku? " Kei mendelik pada polisi itu.


Polisi itu meneguk ludahnya dengan kasar."Bukan begitu, hanya saja bos sering masuk ke kantor polisi beberapa kali dalam satu tahun ini. Aku khawatir mereka akan mulai mencurigai mu"


"Baiklah, tapi kau akan membuat skandal apa?


" Mungkin bunuh diri"


Dorr


Polisi itu menutup matanya dengan kuat. Merasa tidak ada rasa sakit di badanya ia pun menengok panah-panah pada kaca depan mobilnya.


Sejujurnya Kei ingin menembak tepat di kepalanya. Tapi bayangan Hani terus menghantui nya.


"Dia perempuan yang kuat dan waras jangan berani-beraninya kau membuat tuduhan seperti itu! "

__ADS_1


"Lalu aku harus apa? Adiknya sudah tahu dan mungkin ia akan menuntut kembali. Apakah kau ingin adiknya yang kita jadikan sebagai pelaku?"


Buuggh


Hidung mancung nya mengeluarkan darah, ketampanan yang ia selalu banggakan kini terdapat luka. Pipinya membiru dan membengkak. Kei sang pelaku turun dari mobil. Mengucapkan kalimat yang membuat polisi itu tertohok.


"Sampah yang sudah didaur ulang oleh ayahku, seharusnya tahu apa yang harus kau lakukan. Turuti apa kata majikan mu ini. Urusi masalah itu tanpa melibatkan adik dan kakak itu. Sekali sampah tetap saja sampah walau kau sudah di ubah menjadi hiasan mahal. Karena pada dasarnya hiasan itu dari barang rongsokan. Sadari posisimu itu, sampah"


Mungkin jika bukan karena ayahnya Kei dirinya tidak bisa untuk menjadi polisi. Bukan hanya dirinya saja, banyak yang lain yang sudah dibesarkan ayahnya Kei dari kesengsaraan hidup. Tapi itu semua tidaklah gratis, mereka cukup melindungi keluarga Yakuza tersebut.


Dirinya ingin berhenti dari dunia gelap ini dan menjalankan cita-cita nya. Tapi itu semua tidak mungkin, sekali ia keluar maka roh dalam tubuhnya juga akan dipaksa keluar.


....


Hasan tahu jika pria yang sudah ia laporkan adalah ketua Yakuza tapi apakah ia harus berdiam diri saat kejahatan menghampiri nya? Polisi, hanya itu yang ia bisa lakukan selebihnya ia hanya bisa berdoa.


Menunggu dirumah sakit ini sendirian membuat ia tidak nyaman. Tidak ada orang yang bisa ia ajak bicara. Terakhir dirinya disini yaitu saat ayahnya masuk rumah sakit. Hani selalu disampingnya untuk menguatkan dirinya, bahwa ia tidak sendiri. Apakah ia akan kehilangan untuk kedua kalinya?


Dirinya tidak harus takut jika berurusan dengan Yakuza apalagi jika itu menyangkut kakaknya.


Hasan sentiasa menunggu, hingga kehadiran seseorang membuat ia merasa paling lemah disini ia rengkuh tubuh tegap pria itu. Menumpahkan air mata pada kaos pria tersebut. Walau ada perempuan disini ia tidak malu untuk menangis, ia membutuhkan seseorang. Ia lemah untuk saat ini.


....


Menatap perapian, ruangan yang diterangi oleh cahaya bulan dan api yang ada di hadapannya itu menyembunyikan air mata pria yang terkenal akan kekejamannya.


Menarik surai pirangnya berharap bisa mengurangi rasa sakit didadanya.


Hingga ketukan pintu membuat ia segera menghapus jejak air matanya.


Kei pun menepuk tangannya, pintu pun otomatis terbuka.


"Bos, Rusel datang beserta anak buahnya di bar mu"


Kei terheran ketua dari machi-yokko ikut andil dalam penyerangan di barnya? Ada rencana apa dia?


"Bukankah dia punya adik perempuan? Kalau tidak salah Ayako. Ku dengar dia sedang hamil, dimana dia? "


Kei hanya mengeluarkan seringai nya. Adik dan kakak sama-sama licik. Kei sudah tahu bahwa perempuan itu bukan hamil oleh Takashi. Tapi oleh anak buah kakaknya sendiri. Sungguh cinta yang merumitkan. Padahal dirinya sendiri juga dalam masalah yang sama.


"Biarkan bar itu hancur. Dan suruh mereka yang ada disana kalau bisa meledakkan bar ku. Kita culik adiknya"


Kei pun berjalan dengan angkuhnya. Menyiapkan senjata didalam saku jasnya. Dia baru saja menghiraukan salah satu polisi yang menyuruh nya untuk tidak keluar sementara waktu.


Bermain pistol sedikit membuat dirinya menjadi lebih tenang.


"Suruh pelayanan disini untuk menyiapkan pesta, dan kunci Megumi di kamarnya" Perintah Kei.


"Soal Megumi, bukankah bos yang menyuruh ia pergi dengan Takashi ke rumah sakit? "


Kei menggeram kesal, bisa-bisanya adiknya menggunakan namanya untuk membawa Takashi pergi. 


"Ada apa bos? " Tanya Yamato.


"Tidak" Biarlah Takashi disana untuk melindungi Hani.


Beberapa lusin mobil pun melaju dengan cepat membelah kota di tengah malam.


Kei menyetir dengan tangan kanannya sedangkan ditangan kirinya memegang pistol dengan gemetar. Pistol ini yang baru saja melukai Hani. "Cih gadis bodoh, kenapa dia tidak mengatakan kalau pria itu adiknya" Dia Mengumpat bersama dengan tangisan nya itu.


Memberhentikan mobilnya didekat kawasan hutan. Mobil yang mengikutinya juga ikut berhenti. Yamato menghampiri Kei.


"Ku percayakan mereka pada mu, bawa jalang itu hidup-hidup" Yamato mengangguk patuh.


Kei pun hanya menatap mobil anak buahnya yang sudah pergi. Keluar dari mobil ia pun membuang seluruh senjatanya.


"Kenapa?  Kenapa hanya karena dia ambisi ku untuk membunuh tidak ada? " Kei memukul pohon pinus berulang kali hingga tangannya mengeluarkan darah. "Hiks.. Maafkan aku" Dia ingin sekali mengucapkan kalimat itu, kalimat yang bahkan tidak pernah ia ucapkan selain pada orang tuanya yang telah wafat.


....

__ADS_1


"Takashi, nee-chan hiks dia akan selamat bukan? "


Takashi hanya diam tidak menjawab, mengapa karena dirinya perempuan sebaik Hani harus mengenal pria sekejam itu. Takashi menatap Megumi yang terus memperhatikan pintu ruang operasi tersebut.


Seharusnya operasi itu tidak harus memerlukan waktu yang sangat lama. Megumi dan Takashi menatap heran ruang operasi itu. Takashi sering terkena tembakan dan ia tahu berapa lama waktu operasi itu.


Megumi menatap Takashi, memberikan isyarat untuk mengecek ruangan itu.


Takashi mengangguk paham.


Kriiieet


Mengapa begitu mudah di bukannya?  Membuka lebih lebar lagi.


Brakkk


Membanting pintu itu dengan kasar.


Hasan dan Megumi segera berdiri dari duduknya. Mengikuti Takashi untuk masuk kedalam.


Para dokter dan suster pada tertidur di lantai.


"Mereka kena bius" Ujar Megumi.


"Nee-chan" Suara Hasan begitu parau. Dia hanya meninggalkan koridor ini 10 menit dan sudah terjadi hal seperti ini.


"Aku akan menghubungi nii-san" Megumi mengeluarkan ponsel barunya.


Megumi, Hasan, Takashi persiapkan diri kalian dari amukan Kei. Mungkin rumah sakit ini akan segera di beli oleh kakaknya. Dengan kegilaan amukan Kei semua harus bersiap mengelus dada.


TBC


.


.


.


.


.


.


.


Untuk info tentang umur mereka...


Hani : 25 thn


Kei:  28 thn


Agnes: 22 thn


Hasan:  22 thn


Megumi: 21 thn


Takashi: 29 thn


Yamato:  35 thn


Ayako: 24 thn


Rusel :  28 thn


Shino: 22 thn


Chio/ chin-chan : 20 thn

__ADS_1


Semua itu tokohnya walau ada beberapa yang jarang muncul. Menemukan typo,,, maaf


__ADS_2