
Tak luput dari itu, kini senyum Tuan Darrel bertambah merekah ketika melihat tanda tangan Akifah yang tertata dan tertulis rapi diatas kertas itu. Lalu, senyuman itu buyar ketika Sang Putri menanyakan sesuatu.
"Daddy maaf, tadi Daddy berkata bahwa kita akan membahas banyak hal penting. Apa ada lagi hal penting selain ini Dad?" Tanya Akifah bingung, ketika matanya memang melihat cukup banyak berkas yang ada diatas meja ini.
Tuan Darrel merubah posisi duduknya dengan serius, seraya berdehem untuk melancarkan saluran tenggorokannya ketika berbicara nanti. Kini, kedua pasang empat mata itu saling menatap satu sama lain.
"Sayang? Apa kau tau, bahwa Alfatha akan dikirimkan ke luar negeri oleh Kakek" Ucap Tuan Darrel, yang membuat Akifah melototkan matanya.
"Apa Dad? Kenapa Fatha akan dibawa pergi?" Tanya Akifah dengan suara yang shock terkejut, mendengar perkataan Daddy nya.
"Bukannya Kakek sudah setuju bahwa Aku akan merawat Fatha seperti anakku sendiri, hal ini juga bukan hal baru karena Aku sudah merawatnya selama empat tahun. Jika memang begitu keputusannya, Aku akan mengikuti kemana Putra ku dibawa oleh Kakek" Tantang lagi Akifah kepada Sang Daddy nya, yang hanya diam seribu bahasa ketika melihat Sang Putri begitu sangat mencintai dan menyanyangi Alfatha yang bukan siapa-siapa mereka.
"Tenanglah sayang, Daddy baru akan memulai pembicaraannya" Ucap Tuan Darrel untuk menenangkan Sang Putri.
__ADS_1
"Maaf Daddy, Aku tidak bermaksud seperti ini" Balas Akifah kepada Tuan Darrel.
"Aku yang mendengarnya sendiri, barusan Daddy berkata bahwa Fatha akan dibawa keluar negeri. Kenapa Dad? Kurasa Fatha tidak pernah berbuat salah kepada Kakek, bahkan tidak pernah bertemu sama sekali. Tapi kenapa Kakek mau mengirimnya keluar negeri?" Lanjut Akifah.
"Jika keputusan itu sudah bulat oleh Kakek dan tidak bisa lagi diganggu gugat oleh siapa pun, maka dari itu Aku siap pisah dan keluar dari keluarga Kasela dan pergi bersama Putra ku tanpa membawa sepersen pun barang-barang serta uang dan fasilitas yang disediakan oleh keluarga Kasela selama ini" Ucap Akifah dengan nada yang sudah naik satu oktaf, dan berdiri dari duduknya dengan nafas yang sudah tidak lagi teratur karena amarah nya.
"Tunggu Akifah, tidak baik jika seperti ini. Tenangkanlah dulu pikiranmu, duduklah minum air dulu untuk meredam amarah mu" Balas Tuan Darrel dan ikut berdiri menarik tangan Akifah, ketika Akifah tadi tiba-tiba berdiri.
"Kakek berkata, Dia tidak akan mengirimkan Alfatha keluar negeri, jika Kau menerima perjodohan dari nya dengan keluarga Ricardo" Ucap lagi Tuan Darrel, yang lagi-lagi membuat Akifah terkejut dengan perkataan Sang Daddy.
"Daddy? Apa Daddy sadar saat ini Dad? Apa Daddy sadar saat Kakek berkata seperti itu?" Tanya Akifah untuk menenangkan pikirannya kembali.
Akifah berfikir, baru beberapa menit yang lalu mereka meributkan Alfatha yang akan dikirimkan ke luar negeri, lalu Ia marah, dan disaat Ia sudah tenang, kini Daddy nya membahas tentang perjodohan. Apa semua ini benar?
__ADS_1
"Daddy sadar, emangnya ada apa? Jika Daddy tidak sadar, tidak mungkin Daddy bisa menyampaikannya pada mu saat ini" Jelas Tuan Darrel masih dengan nada yang sama.
"Daddy, Aku tidak terima jika main dijodoh-jodohkan seperti ini" Balas Akifah yang sudah mulai faham akan pembicaraan tersebut.
"Daddy hanya menyampaikan pesan Kakek saja Akifah" Ucap Tuan Darrel, dengan menyebut nama Akifah diakhir kalimatnya.
"Baiklah, Aku menerimanya. Asalkan Alfatha tidak dipisahkan dariku" Balas lagi Akifah kepada Sang Daddy, dengan arah matanya yang tidak menatap Tuan Darrel.
"Baiklah, pernikahanmu dilaksanakan dua minggu lagi. Semua berkas yang ada di depan Kamu sekarang ialah persiapan H-1 untuk acara besok. Semua sudah diatur oleh keluarga Ricardo, terkecuali gaun pengantin. Satu lagi, untuk Alfatha Daddy tidak tau menau tentang itu, semua dikendalikan oleh Kakek mu. Tapi jika diluar itu, Daddy akan menyelesaikannya" Jawab Sang Daddy dengan memperjelas perkataan sebelumnya.
"Aku pamit Dad" Ucap Akifah tiba-tiba, ketika Sang Daddy selesai dengan perkataannya.
Sebelum keluar dari ruangan itu, Akifah lebih dulu menyalimi punggung tangan kanan Tuan Darrel, setelah itu ia keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1