KEDUANYA MAFIA

KEDUANYA MAFIA
Rindu yang tak usai


__ADS_3

"Apa Zia mengantarkanmu sarapan?" Tanya langsung Akifah ketika melihat Putranya datang membawa sebuah nampan yang berisikan banyaknya makanan dan minuman.


"Iya Bunda, kak Zia terlalu rajin untuk naik keatas sehingga harus seperti ini" Jawab Alfatha sembari menaruh nampan tersebut disamping monitornya, lalu memakannya.


"Tidak ada yang terlalu rajin, itu memang tugasnya memperhatikan jam makan kalian dengan baik dan teratur" Balas Akifah dengan senyuman manisnya sembari melihat sang Putra kesayangannya sarapan pagi.


"Baiklah Bunda" Balas Alfatha dengan menghelakan nafasnya pelan karena tidak bisa melawan wanita yang ada disebrang panggilan vidionya ini.


"Oh ya, apa yang ingin Bunda katakan tadi?" Tanya Alfatha untuk kedua kalinya kepada Sang Bunda ketika ia mengingat sesuatu yang melintas difikirannya.


"Tidak, tidak ada. Bunda hanya akan memberitahumu bahwa Bunda akan pulang  lusa, dan..." Akifah menjawab pertanyaan Putranya sembari menjeda kalimatnya.


"Dan?"


"Dan apa Bunda?" Tanya Alfatha ingin tahu sembari meminum airnya karena ruang tenggorokkan yang sempit disebabkan oleh makanan yang ia makan.


"Dan Putra Bunda ini harus memperlihatkan kemajuan latihannya setelah Bunda pulang nanti. Bunda ingin tahu, apa kak Zia memperlatihkanmu dengan sungguh-sungguh atau membiarkanmu untuk tidak mengikuti latihan" Lanjut Akifah sembari mempertimbangkan apa yang ada pada fikirannya kepada Sang Putra.


"Baik, siap Bunda"


"Bunda bisa melihatnya setelah lusa nanti Bunda pulang" Balas Alfatha sembari tersenyum lebar kepada Sang Bunda.


"Baiklah, jaga dirimu. Kita akan bertemu lusa, dan ingat makanlah dengan teratur sayang. Jika Fatha sakit siapa yang akan menemani nanti?" Tanya Akifah kepada sang Putra yang akan sudah selesai makan.


Baru saja Alfatha akan menjawab pertanyaan Sang Bundanya, tapi terpotong karena Akifah langsung lanjut berbicara kembali kepadanya.

__ADS_1


"Bunda juga nanti akan susah untuk menemuimu sayang, karena saat ini banyak sekali yang harus Bunda urus. Jadi, Bunda mohon Fatha mengerti akan keadaan dan situasi saat ini oke?" Ucap Akifah sembari memberikan arahan kepada sang Putra.


"Oke, baiklah Bunda" Jawab Alfatha kepada Sang Bunda sembari memajukan bibirnya kedepan.


"Oke good" Balas Akifah seraya memberikan dua jempolnya.


"Kalau begitu, selesai..."


"Bunda akan istirahat karena anak Bunda yang satu ini sangat-sangat penurut jadi, Bundanya akan tenang disini tanpa sibuk memikirkan ketampanannya ini" Akifah membalas Jawaban Putranya dengan sesekali tersenyum manis dan tanpa sengaja ia melihat jam yang tergantung didinding depan matanya.


Lalu ia melanjutkan perkataannya kembali.


"Bunda akan mematikan vidio panggilannya, karena sebentar lagi waktu akan menunjukkan pukul delapan dan si tampan Bunda ini harus segera latihan"


"Yang lain sedang menunggu sitampan setelah itu barulah mereka mulai untuk latihan bersama. Jadi, sambungan telfon akan diputuskan bye sayang jaga dirimu Bunda sangat merindukanmu" Lanjut Akifah dan ingin mematikan panggilan vidio tersebut, tapi tidak jadi karena Sang Putra mengucapkan sesuatu.


"Fatha juga rindu Bunda..."


"Bunda berjanjilah pada Fatha untuk pulang lebih awal" Balas Alfatha kepada Sang Bunda sembari meminta untuk berjanji padanya.


Namun, apa yang dikatan Akifah? Ia tidak berjanji melainkan hanya meyakini Sang Putra dan sedikit memanjakannya sembari tersenyum manis. Akifah pun tidak bisa berjanji karena Ia takut akan mengingkarinya.


"Bunda tidak janji sayang, percayalah Bunda akan pulang" Balas Akifah kepada Alfatha lalu tersenyum manis.


Satu menit panggilan itu hening, tidak ada yang berbicara dan hanya ada mata saling tatap menatap seakan-akan rindu tak usai-usai.

__ADS_1


"Anak baik dan penurut ini biasanya tidak seperti ini, apa ada sesuatu yang mengganggu Anak Bunda?" Tanya Akifah secara tiba-tiba dengan sedikit tergelonjak, sambil meletakkan sebelah tangannya di dagu dan berpura-pura untuk sulit berfikir.


"Kalau begitu Bunda akan menghubungi Kak Zia untuk naik keatas dan akan menyuruhnya menjaga Anak Bunda lebih teliti lagi dan tidak boleh meninggalkannya sedetik pun lalu akan mengikuti Anak Bunda kemana pun walau itu juga termasuk kekamar mandi dan pergi tidur" Ucap Akifah kepada Sang Putra sembari meraih handphone yang berada tak jauh dari duduknya dan akan menekan nama yang bertuliskan


-Zia K.AA-.


Tapi, perkataannya tadi langsung disambung cepat oleh Putranya yang langsung membuat Ia menghentikan ketukan jarinya pada handphone.


"Bunda Fatha tidak mau. Fatha baik-baik saja, kalau begitu Fatha saja yang akan mengakhiri panggilannya. Jaga diri Bunda... Fatha sayang Bunda" Ucap Alfatha dengan terburu-buru sembari memberikan senyuman yang agak grogi sambil melambaikan tangannya kepada Sang Bunda lalu mematikan sambungan telfonnya.


Lalu panggilan vidio itu pun terputus, dan memperlihatkan seorang wanita


cantik yang sedang tersenyum sambil berjalan kearah tempat tidurnya karena sudah berhasil memberikan arahan kepada Sang Putra.


"Percayalah, dengan kita melakukan panggilan seperti ini tidak ada kepuasan dalam diri Bunda sayang. Jika Bunda tidak menghampirimu dan memberikan pelukan hangat sembari memelukmu erat didekapan Bunda dan memberikan sebuah ciuman. Bunda tidak akan tenang, kau tahu?"  Ucap Akifah seorang diri sambil menatap langit-langit kamar dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Lalu Akifah memejamkan matanya, dan mungkin karena lelah bercampur aduk, tidak membutuhkan waktu yang lama Akifah tertidur dengan nafas yang lembut dan teratur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


......................


......................


Jangan lupa di like and vote ya sahabat Aletta ßýæfïřà 😉

__ADS_1


__ADS_2