Kekasih Rahasia Sang Selebgram

Kekasih Rahasia Sang Selebgram
Bab 36


__ADS_3

🍁 Happy Reading 🍁


Bali


Pukul 17.00


Abbey duduk di kursi sebelah ranjang Alma sambil terus menatap putri semata wayangnya yang sedang tidur.


Sreeet...


Tirai bangsal Alma terbuka.


Sontak Abbey menoleh ke arah tirai.


"Bey..." Chika yang baru pulang bekerja langsung pergi kerumah sakit setelah mendapat kabar dari Annet tentang penyakit Alma.


"Chik..."


Chika langsung memeluk sahabatnya itu.


"Aku udah denger dari Annet tentang Alma, yang sabar yah Bey, kamu harus kuat demi Alma." ucap Chika menegarkan hati Abbey.


Abbey kembali menangis dalam pelukan Chika. Karena tak ingin membuat Alma dan pasien yang lainnya terganggu dengan suara tangis Abbey, Chika pun menggiring Abbey keluar dari kamar rawat Alma.


Begitu berada di luar kamar, Abbey masih menangis. Chika pun membiarkan Abbey untuk meluapkan tangisnya sampai berhenti sendiri.


"Aku harus gimana sekarang Chik? Alma harus di bawa ke Jakarta dan di rawat disana." ucap Abbey.


"Apa gak ada opsi lain?" tanya Chika.


"Ada, tapi opsi kedua Alma di bawa ke Singapura. Tapi aku rasa kalau ke Singapura, aku gak sanggup Chik. Biaya rumah sakit disana mahal, belum lagi biaya hidup dan tempat tinggal. Kalau di Jakarta kita masih bisa pakai asuransi kesehatan dari pemerintah dan tempat tinggal pun katanya kita bisa tinggal di rumah singgah khusus anak-anak penderita kanker." jawab Abbey.


"Memangnya kalau di rawat di rumah sakit di sini gak bisa? Kan banyak juga rumah sakit besar di sini." tanya Chika.


"Dokter bilang lebih baik ke rumah sakit khusus kanker, karena disana ada dokter khusus yang menangani anak-anak yang menderita leukimia." jawab Abbey.


Chika menghela nafasnya kasar.


"Kalau begitu ya sudah kita bawa saja Alma ke Jakarta kalau memang itu yang terbaik." ucap Chika.


"Tapi aku takut Chik." jawab Abbey.

__ADS_1


"Takut apa?"


"Aku takut bertemu A' Ico. Aku gak mau ketemu dia lagi Chik." jawab Abbey.


"Bey, Jakarta tuh luas, peluang untuk ketemu Rico tuh kecil. Lagian kalaupun memang kalian sampai bertemu lagi, itu artinya sudah saatnya Rico tau tentang Alma." balas Chika.


Abbey menggeleng-gelengkan kepalanya seolah ia tidak rela kalau Rico tau tentang Alma.


"Bey, sekeras apapun usaha kamu menyembunyikan Alma, tapi kamu tetap gak bisa melawan takdir." ucap Chika.


"Tapi Chik-"


"Udah... udah, sekarang kamu gak usah mikir terlalu jauh. Kita fokus untuk kesembuhannya Alma aja, sekarang kesembuhan Alma lebih penting dari ego mu." potong Chika.


"Hemh, kamu bener Chik." balas Abbey.


Abbey dan Chika pun masuk kembali ke kamar rawat.


Begitu masuk ke bangsal Alma, ternyata Alma sudah bangun.


"Eh... anak Bunda udah bangun." kata Abbey.


"Gak dari mana-mana, Bunda cuma duduk-duduk di depan sama Tante Chika." jawab Abbey.


"Alma mau minum?" tanya Chika dan di jawab dengan anggukkan kepala oleh Alma.


Chika pun mengambilkan minum untuk Alma dan membantu Alma minum.


"Bunda habis nangis yah?" tanya Alma setelah selesai minum.


"Gak kok." jawab Abbey berbohong.


"Tapi kok muka Bunda kayak orang habis nangis?" tanya Alma menolak percaya.


"Masa sih? Tapi Bunda gak habis nangis kok." jawab Abbey.


"Mungkin Bunda mu kecapean, Sayang makanya mukanya kayak habis nangis." sahut Chika.


"Oh... Maafin Alma yah Bun karena udah buat Bunda capek." ucap Alma.


"Kok kamu ngomong gitu Sayang? Bunda gak pernah capek kok kalau untuk kamu." ucap Abbey sambil menggenggam tangan Alma.

__ADS_1


"Maksud Tante, Bunda capek karena kerjaannya Sayang, bukan karena kamu." cepat-cepat Chika meralat kata-kata'nya.


"Tapi kan Bunda kerja karena buat Alma juga. Yah berarti Bunda capek gara-gara Alma." balas Alma.


Abbey tersenyum tipis.


"Kalau kerja itu harus Sayang, walaupun Bunda gak punya Alma tapi Bunda tetap harus kerja, kalau gak kerja gimana mau makan. Jadi Bunda capek kerja bukan karena Alma tapi memang sudah kewajiban Bunda." ucap Abbey.


"Oh gitu." balas Alma.


"Bunda dari pagi belum mandi kan? Pulang dulu sana, mandi. Muka Bunda udah kucel banget." ucap Alma.


Abbey dan Chika terkekeh kecil.


"Iya Bey, kamu pulang dulu sana mandi dan istirahat di rumah, biar malam ini Alma aku yang jaga." timpal Chika.


"Gak usah Chik, kamu aja yang pulang, biar aku yang jaga Alma, aku juga bisa mandi di sini kok." tolak Abbey.


"Bey, kalau kamu disini kamu gak akan bisa istirahat dengan baik. Kalau kamu sampe sakit, terus yang rawat Alma siapa? Udah sana jangan ngeyel, istirahat di rumah, isi batre tubuh mu sampai full, percayakan Alma di tangan ku. Alma juga kan anak ku, jadi kamu gak usah khawatir lagi." ucap Chika.


Abbey menghela nafasnya kasar. Benar yang di katakan Chika, perjalanan menyembuhkan Alma masih panjang, kalau dirinya sampai sakit, siapa yang akan merawat Alma dan mencari biaya pengobatan untuk Alma. Dia tidak punya suami yang bisa diandalkan setidaknya dia harus memanfaatkan bahu sahabatnya untuk menjadi tempatnya bersandar.


"Ya udah, aku pulang dulu kalau begitu. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Oke." ucap Abbey.


"Um..." jawab Chika sambil menganggukkan kepalanya.


"Alma Sayang, Bunda pulang dulu yah, besok pagi Bunda dateng lagi." pamit Abbey pada Alma.


"Iya Bun." jawab Alma.


"Aku pulang yah Chik, titip Alma." kini Abbey berpamitan pada Chika dan dibalas dengan anggukkan kepala oleh Chika.


Abbey pun keluar dari kamar rawat Alma.


Niat awal ingin segera pulang ke rumah, tapi tiba-tiba saja ia teringat akan Rico. Abbey pun memutuskan untuk singgah di cabang Co.Bey Resto yang ada di Bali.


Bukan kali ini saja Abbey datang ke restoran milik Rico itu melainkan sudah sering, apalagi saat Abbey merindukan sosok Rico. Meski sering datang ke restoran itu, tapi tidak pernah sekalipun Abbey mengajak Alma makan di restoran itu.


🍁 🍁 🍁


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2