
🍁 Happy Reading 🍁
Kini Abbey dan Alma sudah berada didalam kamar mereka. Abbey langsung memasukkan pakaiannya dan Alma kedalam lemari. Sedangkan Alma duduk di ranjang sambil memperhatikan Abbey.
Merasa sedang di perhatikan anaknya, Abbey pun menoleh ke arah Alma.
"Kenapa ngeliatin Bunda kayak gitu?" tanya Abbey.
Alma menggelengkan kepalanya.
"Alma gak suka yah sama kamarnya?" tanya Abbey.
"Suka kok." jawab Alma.
"Terus kenapa mukanya kayak gak suka gitu?" tanya Abbey.
"Alma kasihan sama Bunda." jawab Alma.
Abbey tersenyum tipis lalu berhenti memasukkan pakaian ke dalam lemari kemudian duduk di sebelah Alma.
"Kasihan kenapa Sayang? Bunda kan gak kenapa-kenapa." tanya Abbey.
"Kasihan Bunda harus ngurus Alma sendirian." jawab Alma.
"Kamu lihat gak temen-temen kamu yang di luar tadi, Mama mereka juga ngurus mereka sendirian, jadi bukan Bunda aja yang ngurus Abbey sendirian." balas Abbey.
"Tapi kan mereka punya Ayah. Ayah mereka kerja makanya mereka cuma sama Mama mereka disini. Tapi Bunda, cari uang sendiri, jaga Alma juga sendiri." jawab Alma.
"Maafin Alma yah Bunda udah bikin Bunda capek." kata Alma lagi.
"Bunda gak pernah ngerasa capek kok Sayang, apalagi ngurus Alma karena bagi Bunda, Alma itu segalanya buat Bunda. Jangankan tenaga, nyawa pun Bunda berikan untuk Alma." jawab Abbey sambil mengelus kepala Alma.
"Udah yah, jangan bilang kasihan sama Bunda lagi, Bunda gak kenapa-kenapa, Bunda kuat." kata Abbey lagi dan di balas dengan anggukkan kepala oleh Alma.
Abbey pun melanjutkan memasukkan pakaian ke dalam lemari, sedangkan Alma dia memilih untuk mewarnai.
__ADS_1
🍁 🍁 🍁
Keesokan harinya.
Pukul 08.00
Anak-anak penghuni rumah singgah sudah selesai sarapan, setelah sarapan ada yang bersiap untuk berangkat ke rumah sakit untuk kemoterapi dan ada juga yang langsung pergi ke taman untuk bermain.
Sedangkan orangtua yang anaknya tidak ada jadwal kemoterapi, ada yang berencana untuk pergi kepasar.
"Mama Syifa, ini daftar belanjaan saya dan ini uangnya." ucap Mama Gian. Hari ini Mama Gian tidak bisa pergi kepasar karena hari ini jadwal Gian kemoterapi.
Abbey yang tak sengaja mendengar itu langsung menghampiri Mama Gian dan Mama Syifa.
"Mau kepasar yah Mam?" tanya Abbey.
"Iya. Kenapa, mau nitip juga? Tulis aja belanjaannya sama kasih uang belanjanya nanti biar saya yang belanja." jawab Mama Syifa.
"Kalau saya ikut aja boleh gak?" tanya Abbey.
"Oh. Kalau gitu sebentar saya tanya anak saya dulu." balas Abbey.
Abbey pun bergegas menghampiri Alma yang sedang main bersama anak-anak yang lainnya.
Dan untungnya Alma mengizinkan Abbey untuk pergi sebentar.
Abbey dan Mama Syifa pun pergi ke pasar.
Sesampainya di pasar, Abbey dan Mama Syifa langsung mencari bahan-bahan untuk mereka memasak.
Abbey membeli ayam, tahu, tempe, dan sayur untuk di pakai lalapan. Tak lupa Abbey membeli bahan dapur untuk membuat sambel andalannya.
Rencananya hari ini ia ingin membuat pecel ayam untuk di makan bersama dengan para orangtua di rumah singgah, yah sebagai tanda perkenalan lah.
Setelah semua bahan sudah di beli, Abbey dan Mama Syifa pun pulang ke rumah singgah.
__ADS_1
Sesampainya di rumah singgah, Abbey membersihkan semua bahan-bahan yang tadi dia beli dan baru akan memasaknya nanti sore, mengingat tidak semua orangtua ada di rumah singgah siang itu.
Pukul 19.00
Saat waktunya makan malam, mereka semua pun berkumpul di halaman belakang dan makan bersama. Anak-anak memakan makanan yang sudah dibuatkan pihak rumah singgah sedangkan para orangtua makan dengan makanan yang dimasak Abbey.
"Sambelnya enak banget Bunda Alma." puji Mama Bisma.
"Iya Bunda Alma, enak." timpal Mama Rora.
Sambel buatan Abbey adalah sambel yang biasa Abbey buatkan untuk Rico. Sambel yang rasanya tidak pernah sama jika dimasak orang lain sekalipun itu koki.
"Syukurlah kalau cocok di lidah Mama-Mama semuanya." balas Abbey.
"Kenapa gak di jual aja Bunda Alma?" Saran Mama Rora.
"Iya Bunda Alma, pasti lalu banget deh." timpal Mama Gian.
"Saya gak percaya diri kalau mau di jual, takut gak laku." jawab Abbey.
"Kalau gak dicoba mana kita tau Bun." balas Bunda Ega.
"Iya Bun, coba aja dulu bikin sedikit-sedikit, dua puluh botol gitu, terus jual online. Kan banyak tuh sekarang pengusaha sambel yang sambelnya laku keras di jual online." timpal Mama Syifa.
"Tapi aku rasa sih ini sambel bakalan laku keras, karena rasanya tuh beda dari sambel-sambel yang lain. Aku udah pernah rasain sambel-sambel yang di jual online tapi yang ini rasanya khas." timpal Rora.
"Mama Rora bisa aja." balas Abbey.
"Serius Bunda Alma. Coba aja deh." Balas Mama Rora.
"Tapi saya orangnya gak pede-an kalau harus jualan online. Saya agak phobia dengan kemera, langsung keringat dingin." balas Abbey.
Yang sebenarnya, ia tidak mau jualan online karena tidak mau sampe Rico mendeteksi keberadaannya.
🍁 🍁 🍁
__ADS_1
Bersambung...