
🍁 Happy Reading 🍁
Apartemen.
Rico sudah bersiap di depan ponsel untuk melihat live jualan CaBey Bunda Alma.
Live pun dimulai, walau Rico sudah tau kalau yang live bukan Abbey, paling tidak Rico akan mencari tau dari komen yang menonton live itu dan berharap salah satu komen ada komen dari Abbey.
Tapi dari awal sampai detik-detik live berakhir, sama sekali tidak ada komen dari Abbey.
Rico pun memberanikan diri untuk mengetik komen dan pastinya dengan fake akun. Riri, itulah nama fake akun Rico.
[Riri] : Mau tanya, ini sambel namanya Bunda Alma, Bunda Alma-nya yang mana yah?
Itulah isi komen Rico.
"Ada yang nanya siapa Bunda Almanya, kayaknya udah pernah yah di jawab, tapi sepertinya yang komen ini baru pertama kali mengikuti live kami. Jadi Bunda Alma itu temen kita, dia yang buat sambel ini, nama aslinya Lena Hapsari. Bunda Alma ini orangnya agak pemalu yah, makanya kita bagi-bagi tugas, Bunda Alma bagian produksi dan kami berdua bagian penjualan." jawab Mama Rora.
Rico menghela nafasnya. Jawaban Mama Rora tidak sesuai harapan Rico, padahal Rico berharap nama Abbey keluar dari mulut Mama Rora.
"Aku yakin banget itu sambel buatan kamu Bey gak mungkin Lena Hapsari." gumam Rico.
"Atau jangan-jangan Lena Hapsari nyuri resep kamu? Kamu ajarin dia buat sambel terus dia coba-coba bikin sendiri dan hasilnya jadi sama dengan sambel hasil buatan tangan kamu?" gumam Rico lagi.
"Gak, gak, rasanya gak mungkin. Sekalipun tangan orang lain yang buat tetap aja aku bisa bedain mana buatan kamu dan buatan orang lain." gumam Rico lagi.
__ADS_1
Lama Rico terdiam memikirkan cara untuk menemukan Abbey dari petunjuk sambel.
Rico pun menemukan ide untuk langsung mendatangi tempat produksi sambel.
Rico menghubungi Yunus.
"Halo A'." jawab Yunus.
"Nus, kamu tau gak alamat rumah produksi CaBey Bunda Alma?" tanya Rico.
"Bentar yah A', aku liat dulu. Mudah-mudahan aja masih aku simpan." jawab Yunus.
"Secepatnya yah Nus." balas Rico.
Lima menit kemudian.
"Rumah Singgah Harapan Ceria?" Ini kan..." Rico menggantung kata-katanya lalu beranjak dari duduknya kemudian menyambar hoodie dan kunci motornya lalu keluar dari apartemennya. Rico tak mau menunggu lama, ia mau langsung mendatangi rumah singgah.
🍁 🍁 🍁
Rumah singgah Harapan Ceria.
Abbey yang sedang mengerjakan deadline komiknya kaget kala mendengar suara Alma yang mengigau.
Abbey beranjak dari duduknya lalu menghampiri Alma lalu memegang kepala Alma.
__ADS_1
"Astaga, panasnya." pekik Abbey.
Cepat-cepat Abbey memakai cardigannya lalu keluar dari kamar untuk meminta pertolongan pada ibu-ibu yang lainnya memanggil tukang ojek pengkolan.
Mendengar Alma panas, para mama-mama pun bergegas membantu Abbey. Ada yang memanggil ojek ada juga yang membantu menggendong Alma. Sayangnya tidak ada ojek di pangkalan, mau tidak mau Abbey membawa Alma ke rumah sakit dengan berjalan kaki dengan di temani Bunda Balqis. Untungnya jarak rumah singgah dari rumah sakit tidak terlalu jauh.
Sementara tak jauh dari rumah singgah, Rico melihat ada dua orang wanita dimana salah satu wanita sedang menggendong seorang anak keluar dari rumah singgah dengan tergesa-gesa.
Pencahayaan gelap, jadi Rico tidak melihat jelas siapa dua wanita itu. Rico terus melajukan motornya hingga berpapasan dengan dua wanita itu. Seperti slow motion, Rico melewati dua wanita itu.
Baru beberapa meter melewati Abbey, tiba-tiba saja Rico menyadari sesuatu. Ia menghentikan motornya lalu menoleh ke belakang.
"Abbey..." lirih Rico.
Meski hanya melihat punggung Abbey, tapi Rico yakin kalau itu adalah Abbey.
Rico pun memutar balik motornya dan menghampiri dua wanita itu lalu memberhentikan motornya tepat di hadapan Abbey dan Bunda Balqis. Abbey dan Bunda Balqis sontak berhenti berjalan.
Sekarang Rico bisa melihat jelas wajah Abbey. Tubuh Rico bergetar hebat saat melihat wanita yang sangat ia cintai setelah tujuh tahun tidak bertemu.
Rico turun dari atas motor lalu berjalan mendekati Abbey lalu melepas helmnya begitu berada di hadapan Abbey.
Mata Abbey membulat lebar.
🍁 🍁 🍁
__ADS_1
Bersambung...