
"Kenapa dia bisa datang kesini?" tanya Abbey. Nada bicaranya juga sudah lembut.
"Kemaren aku cerita sama Laura kalau Alma menginap di rumah sakit ini, tapi aku tidak menyangka kalau dia bakal datang." jawab Rico.
"Jadi kamu masih berhubungan dengan dia?" tanya Abbey.
Rico menganggukkan kepalanya.
Sontak Abbey mendorong tubuh Rico agar bisa terlepas dari pelukan Rico tapi dengan cepat Rico menahan pinggang Abbey lagi.
"Jangan marah dulu. Aku dan dia masih berhubungan hanya sekedar partner bisnis. Bukan hanya aku dan dia tapi aku dan suaminya juga." ucap Rico.
"Suaminya?"
"Emmm... Laura sudah menikah dengan pengusaha yang dulu statusnya masih suami orang itu dan mereka sudah punya anak. Jadi tidak ada yang perlu kamu khawatirkan." jawab Rico.
Mendengar itu hati Abbey kembali lega.
"Tetap saja aku tidak mengizinkan mu mendonorkan sumsum tulang belakang mu untuk Alma." ucap Abbey sambil melepaskan tubuhnya dari pelukan Rico.
"Kenapa?"
"Kamu gak denger yang tadi dokter bilang? Sekalipun kamu mendonorkan sumsum tulang belakang mu, Alma belum tentu sembuh seratus persen karena tingkat kecocokan yang kecil. Jadi daripada semuanya sia-sia, jadi lebih baik tidak usah. Kita teruskan tahap kemoterapi saja sampai selesai." jawab Abbey.
"Bey, dokter bilang mungkin bukan pasti! Kalau masih mungkin itu artinya masih ada harapan Alma bisa sembuh dengan donor dari aku. Gak ada yang sia-sia Bey kalau berusaha untuk anak." ucap Rico.
"Tapi Co, aku takut itu malah berdampak untuk kesehatan mu." ucap Abbey.
__ADS_1
"Aku gak peduli Bey, sekalipun aku harus sakit-sakitan atau apapun itu asal Alma sembuh, aku gak masalah. Jangankan sumsum tulang belakang, nyawa pun akan aku berikan untuk Alma." jawab Rico.
Rico menarik kedua tangan Abbey.
"Aku mohon, izinkan aku menjadi pendonor untuk anak aku. Aku ingin melihat dia ceria seperti anak seumurannya. Aku ingin mewujudkan semua impiannya." mohon Rico.
Melihat wajah Rico, Abbey pun tak sampai hati melarang Rico.
"Lakukan lah apa yang kamu mau!" ucap Abbey sambil melepaskan tangannya dari genggaman Rico lalu masuk ke dalam kamar Alma.
Rico menghela nafasnya lega mendengar Abbey mengizinkannya menjadi pendonor untuk Alma, yah walaupun Abbey menjawab dengan nada ketus.
Saat Rico hendak masuk ke kamar Alma, tiba-tiba seorang perawat memanggil Rico. Sepertinya dokter yang menangani Alma sudah selesai visit. Perawat itu pun meminta Rico untuk menemui dokter yang menangani Alma di ruangannya.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan pada Alma, dokter pun menentukan tanggal dan jam operasi transplantasi sumsum tulang belakang.
Transplantasi akan di lakukan dua hari di jam lima sore. Biasanya membutuhkan waktu satu sampai lima jam untuk transplantasi.
Selama dua hari itu, bukan hanya kesehatan Alma yang di pantau, melainkan kesehatan Rico juga di pantau dokter, bahkan makan makanan Rico juga ikut di pantai dokter.
🍁🍁🍁
Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba.
Alma dan Rico sudah berganti pakaian operasi dan siap di masukkan ke ruang operasi.
"Bunda..." lirih Alma saat brankar-nya sampai di depan pintu ruang operasi.
__ADS_1
"Ya sayang." jawab Abbey.
"Alma takut." ucap Alma dengan suara bergetar menahan tangis. Wajar saja kalau Alma takut, umurnya masih lima tahun dan ini pertama kalinya Alma masuk ke ruang operasi ditambah Abbey tidak diizinkan masuk ke dalam ruang operasi.
"Jangan takut, kan ada Ayah yang temenin Alma. Bunda tunggu Alma dan Ayah di sini." ucap Abbey mencoba menguatkan Alma.
"Iya Sayang, kan Ayah juga ikut ke dalam sama Alma, nih lihat pakaian Ayah sudah sama dengan Alma." sahut Rico yang duduk di kursi roda.
"Keluar dari ruangan itu nanti Alma udah sehat lagi kan Bun?" tanya Alma.
"Iya Sayang, pasti." jawab Abbey.
"Alma bisa sekolah lagi?" tanya Alma.
"Iya, Alma bisa sekolah lagi nanti. Bisa main lagi sama temen-temen Alma, bisa lari-larian lagi, main prosotan lagi." jawab Abbey.
"Terus Alma gak minum obat lagi?" tanya Alma.
"Um... yah masih minum sih tapi gak sebanyak obat-obatan yang kemaren itu. Dan itu pun gak lama kok, kalau dokter bilang Alma udah sehat seratus persen, Alma gak akan minum obat lagi." jawab Abbey.
"Sudah yuk masuk, dokter sudah menunggu." ucap perawat.
Alma terisak, ia tidak bisa lagi membendung rasa takutnya. Melihat anak semata wayangnya menangis, jelas saja hati Abbey hancur. Tapi Abbey harus tegar dan tega. Ia hanya memeluk sebentar putrinya dan memberikan afirmasi untuk putrinya.
Setelah itu perawat pun lanjut mendorong brankar Alma masuk ke ruang operasi.
Setelah brankar Alma masuk, perawat yang lain pun lanjut mendorong kursi roda Rico. Sebelum masuk ke ruang operasi, Rico menggenggam tangan Abbey terlebih dulu. Jika tadi Abbey memberi afirmasi pada Alma, gantian kini Rico yang memberi afirmasi pada Abbey.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Bersambung...