
🍁 Happy Reading 🍁
"Kalau emang gak pede, nanti kita bantu deh jualannya. Bunda Alma bagian produksi aja." balas Mama Rora.
"Iya Bunda Alma, ayo Bunda Alma." desak para ibu-ibu yang lainnya
"Tapi kalau nanti laku keras, jangan lupa kita-kita yah." Seloroh Mama Rora.
Abbey terkekeh kecil.
"Sekalian lah kita juga punya kegiatan yang positif. Soalnya kita juga bosen gak ngapa-ngapain disini. Hari-hari tuh terasa lama banget. Kalau ada kegiatan kan gak bakalan terasa." ucap Mama Rora lagi.
Abbey menghela nafasnya.
Abbey mengerti apa yang mereka rasakan. Syukur-syukur Abbey punya kegiatan membuat komik, sedangkan ibu-ibu yang lainnya hanya khusus menemani anak mereka, kalau anak mereka tidak ada jadwal kemoterapi, yah mereka hanya menghabiskan waktu di rumah singgah dan tidak berbuat apa-apa. Mau pergi jalan-jalan juga tidak mungkin, karena anak mereka tidak diizinkan untuk pergi ke tempat ramai dan tidak boleh lelah.
"Ya udah kalau begitu, besok yah kita mulai bikin. Tapi Mama-Mama semuanya yah yang live jualan online." jawab Abbey.
"Iya tenang aja, pokoknya Bunda Alma urusan produksi aja." jawab Mama Rora.
Setelah makan malam, mereka pun memikirkan nama untuk sambel produksi mereka dan membuat akun khusus untuk jualan.
🍁 🍁 🍁
Satu bulan kemudian.
__ADS_1
Produksi CaBey Bunda Alma semakin laris di pasaran. Yang awalnya hanya memproduksi dua puluh botol, setelah satu bulan kini produksi sambel rumahan itu sudah mencapai seratus botol perharinya.
Karena banyaknya pemesanan, para ibu-ibu di rumah singgah pun berbagi tugas.
Abbey, Mama Syifa dan Bunda Ega, bagian produksi, Mama Rora dan Mama Bisma secara bergantian live jualan, sedangkan Mama Gian dan dua orangtua yang anak mereka baru masuk, Bunda Balqis dan Mama Dio membantu di bagian packaging. Sedangkan untuk pengiriman mereka bekerja sama dengan tukang ojek yang biasa mangkal di dekat rumah singgah.
Jadi bukan hanya para ibu-ibu rumah singgah yang mendapat rejeki, para tukang ojek pun juga mendapat rejeki. Untuk sementara pengiriman hanya menerima sekitaran Bekasi, Jakarta dan Tangerang dan sedang dalam tahap uji coba pengiriman ke luar kota. Takutnya sambel produksi mereka basi kalau lebih dari seminggu.
Co.Bey Agensi.
Meninggalkan Abbey dan para ibu-ibu penghuni rumah singgah yang sibuk dengan produksi sambel mereka, di kantor agensi milik Rico, saat ini ada Rico yang baru saja kembali dari Singapura.
Sesampainya di Jakarta, Rico langsung pergi ke kantor agensinya dan membuat konten untuk endors.
Walau Rico sudah punya usaha beberapa usaha dan punya kantor agensi sendiri, tapi Rico tetap menerima endorsan.
"Mau makan dimana Co?" tanya Runi.
"Pesen aja lah Mbak. Males keluar." jawab Rico.
"Terus kamu mau makan apa?" tanya Runi lagi.
"Apa aja lah, yang penting makan nasi." jawab Rico.
"Oke." jawab Runi.
__ADS_1
Runi pun menghubungi OB dan meminta OB membelikan nasi bungkus dengan lauk ikan goreng serta sayur di warung makan yang ada didekat kantor. Sesimpel itu makanan Rico.
Bukan hanya untuk Rico, Runi juga memesan untuk dirinya dan tim vlog Rico.
Tak sampai setengah jam makanan yang Runi pesan pun datang.
Rico, Runi dan tim vlog pun menyantap makan siang mereka di ruang meeting terbuka.
"Nus, sambel andalan mu masih ada gak?" tanya Iyan pada Yunus.
"Ada, ada. Bentar aku ambil dulu." jawab Yunus.
Yunus pun berlari kecil menuju mejanya dan mengambil sambel yang dia beli online. CaBey Bunda Alma. Kemudian kembali ke ruang meeting terbuka.
"Ini." Yunus meletakan botol sambel itu di tengah-tengah meja.
Rico hanya melirik sambel itu. Dia sama sekali tidak tertarik memakan sambel yang di beli online, baginya sambel yang paling enak dan pas di lidahnya hanya sambel buatan Abbey.
"Coba A' sambelnya, enak banget loh, suwer." tawar Iyan.
Karena sudah di tawarin, rasanya tidak enak kalau Rico tidak mencoba sambel yang ada di meja.
Rico pun mengambil satu setengah sendok saja lalu mencocolnya dengan ikan goreng.
Mata Rico langsung membulat begitu sambel itu sampai di lidahnya.
__ADS_1
🍁 🍁 🍁
Bersambung...