
Aku
dan Candra Kurniawan adalah pasangan suami istri. Saat aku berusia 19 tahun
sebelum lulus dari universitas, aku sudah menjadi istrinya. Sudah empat tahun
kami bersama. Selama bertahun-tahun, dia sangat mencintaiku. Aku pikir siapa
pun akan selingkuh, terkecuali Candra. Semua orang akan bercerai, Candra dan
aku tidak akan pernah bercerai. Sampai hari itu, seseorang mengirimku MMS aneh
yang membuat hidupku seakan terjatuh ke neraka.
Hari
itu, Candra menemani klien dan belum kembali meski sudah larut. Aku sedang
menonton drama
percintaan
di ruang tamu sendirian. Ponsel di sofa tiba-tiba bergetar, lalu aku melihat
sebuah foto muncul di layar ponsel.
Dalam
foto itu, terlihat sepasang lelaki dan wanita yang mengelilingi seorang gadis
kecil berusia dua atau tiga tahun. Gadis kecil itu mengenakan mahkota ulang
tahun di kepalanya dan tersenyum manis. Lelaki di sebelahnya hendak membantunya
meniup lilin di kue ulang tahun. Mataku tertuju pada lelaki itu, bukankah itu
Candra? Aku cepat-cepat melirik wanita di foto itu lagi, kali ini aku sedikit
sulit bernapas, bukankah wanita itu ...
Aku
teringat kejadian bertahun-tahun lalu. Saat itu, Candra dan aku baru saja
menikah. Saat aku pergi ke apartemennya untuk mengemasi barang-barang, aku
melihat sebuah dompet di atas meja ranjangnya. Dompet itu penuh dengan debu,
terlihat jelas dompet itu sudah lama tidak disentuh. Aku merasa penasaran lalu
membuka dompet tersebut, mataku langsung tertuju pada foto yang tersimpan di
tengah dompet tersebut.
Wanita
di foto itu berambut keriting, berpakaian gaya asing, modis dan cantik. Siapa
wanita itu?
Tepat
ketika Candra datang, aku melemparkan dompet itu kepadanya dengan curiga.
Candra
adalah seorang mahasiswa cerdas lulusan dari Universitas A yang merupakan
universitas terkemuka di negeri ini. Candra adalah orang yang terkenal selama
masa kuliahnya, dia mulai berbisnis di tahun kedua. Saat lulus dari perguruan
tinggi, siswa lain putus asa mencari pekerjaan, tapi dia sudah memiliki banyak uang,
bagaimana mungkin lelaki seperti itu tidak memiliki pasangan sebelumnya? Aku
tidak percaya sedikit pun dengan hal itu.
Aku
diam-diam memperhatikan ekspresi Candra dengan perasaan cemburu, foto yang
dimasukkan ke dompet, wanita itu pasti merupakan wanita yang sangat berharga
untuk Candra. Apakah dia cinta pertamanya?
Namun
aku hanya melihat Candra mengernyit lalu membuat foto dan dompet itu ke tempat
sampah, "Barang yang sudah bertahun-tahun lalu, seharusnya sudah dibuang
__ADS_1
sejak lama."
Dia
berkata dengan acuh tak acuh, lalu berbalik untuk mengemasi barang-barang
lainnya.
Melihat
reaksinya yang acuh tak acuh itu, aku merasa lega. Mungkin wanita itu hanyalah
wanita yang tidak penting baginya, keduanya mungkin sudah lama tidak
berhubungan. Sekarang aku adalah wanita yang dicintai Candra. Setelah menikah,
dia juga sangat setia pada pernikahan kami. Untuk apa aku memikirkan masa
lalunya?
Meskipun
aku tidak ingin memikirkannya, aku tetapi merasa penasaran. Saat Candra tidak
berada di tempat, aku bertanya pada salah satu teman Candra, Gabriel Halim yang
berusia satu tahun lebih muda dariku. Dia adalah salah satu teman Candra yang
cocok denganku.
Gabriel
mengatakan ketika Candra kuliah, dia memiliki seorang pacar, mereka pacaran
sampai lulus kuliah. Akan tetapi, wanita itu sangat egois, dia bukan hanya
tidak memikirkan perasaan Candra, bahkan dia sering berpura-pura sakit untuk
menguji Candra. meskipun Candra memohon, dia tetap menggugurkan janin berusia
lima bulan.
Janin
yang berusia lima bulan sudah bisa bergerak. Saat Gabriel bercerita, terlihat
kilatan penyesalan yang mendalam di matanya, bahkan orang lain saja merasa
sedih, apalagi Candra yang merupakan ayah dari anak itu, Candra patah hati dan
Aku
menghela napas dalam diam, aku merasa kasihan pada Candra. Untungnya, wanita
itu hanya masa lalu Candra dan aku yang bersama Candra di masa depan.
Memikirkan hal ini, hatiku menjadi ceria.
Namun
apa yang aku pikir terlalu sederhana, bagaimana mungkin Candra bisa dengan
murah melupakan wanita yang fotonya diletakkan di dalam dompet?
Saat
aku memikirkan hal itu, nomor yang sama kembali mengirimkanku pesan, 'Yuwita
Kusuma, ini adalah anakku dan Candra. Di reuni kelas tahun itu, Candra
memelukku dan berkata jika dia tidak pernah melupakanku. Menikahimu hanya
karena kebutuhan fisik, dia berharap bahwa aku bisa kembali padanya. Hari itu,
kami berhubungan hingga langit menjadi gelap, anak ini tercipta di hari itu.
Orang tua dan teman masa kecilnya mengetahui masalah kami. Setiap bulan Candra
akan datang ke sini untuk mengunjungi kami. Omong-omong, dia juga akan datang
besok. Kami akan membahas tentang pernikahan. Bagaimanapun juga, Julia sudah
beranjak besar, sudah waktunya untuk memberikan sebuah keluarga padanya.
Yuwita, apakah kamu menunggu Candra yang mengusirmu?'
Seketika
aku sulit bernapas, di benakku terlintas senyum bangga Stella Sanjaya. Gambar
Candra, Stella dan anak itu yang sangat dekat, ada sesuatu yang melonjak di
__ADS_1
hatiku, Stella, putri mereka, reuni teman sekelas .... Pandanganku menjadi dan
aku hampir tidak bisa bernapas.
Aku
dan Candra termasuk pernikahan yang sangat cepat, kami memiliki hubungan secara
tidak sengaja. Dia bertekad untuk bertanggung jawab, jadi setelah tiga bulan
kemudian mendapat ijazah perguruan tinggi, aku langsung menikah dengannya.
Setelah
kami menikah, dia sangat memanjakanku dan aku juga sangat mencintainya. Hari
itu, kami berhubungan di pagi hari, lalu dia pergi ke reuni teman kelas pada
siang hari. Saat kembali, waktu sudah tengah malam, tubuhnya berbau alkohol dan
begitu memasuki pintu, dia langsung menciumku dan berbisik, "Yuwita, aku
mencintaimu."
Aku
menolehkan kepala sambil tertawa dan berkata, "Candra, apa kamu sudah
gila? Aku tahu kamu mencintaiku. Cepat mandi dan tidur."
Namun,
dia masih tetap memelukku, lalu membenamkan kepalanya di leherku. Jika dipikir
sekarang, kelakuannya itu pasti karena rasa bersalah pada istrinya ini.
Saat
reuni teman kelas, dia berhubungan dengan mantan pacarnya, kenapa dia masih
tidak tahu malu berkata mencintai istrinya?
Aku
memegang ponsel dan menatap gadis di foto dengan mata yang sama dengan Candra.
Bagus sekali Candra.
Setiap
bulan pergi ke Kota Canis dengan alasan perjalanan bisnis, setidaknya pergi
dari tiga hingga lima hari. Aku tidak pernah ragu dengan alasan perjalanan
bisnisnya. Ternyata dia pergi ke Kota Canis untuk mengunjungi cinta pertama dan
putrinya. Dia sudah memiliki rumah di sana. Selama empat tahun aku hidup dalam
kebohongan. Hal yang lebih menjengkelkan adalah orang tua dan teman masa kecil
Candra mengetahuinya. Hanya aku satu-satunya orang bodoh yang tidak tahu
apa-apa.
Aku
menggertakkan gigi, hatiku seakan meneteskan darah. Saat itu, aku ingin
mengambil pisau dan membunuh Candra.
Saat
tengah malam, Candra baru kembali. Aku tidak bertanya apa pun, aku hanya terus
memelototinya.
Candra
menyunggingkan senyum dari sudut bibirnya, wajahnya terlihat semakin menawan.
"Ada apa, tidak senang?"
Aku
hanya tersenyum dingin sambil menatap wajahnya yang tampan dan anggun itu.
Mataku mengarah pada jakunnya. Pada saat ini, aku benar-benar ingin mencekik
lehernya.
Mungkin
__ADS_1
karena dia telah minum, Candra tidak sadar dengan rasa dingin dan kebencian di
mataku. Bibir tipis dan panas itu langsung menciumku.