
Tepat ketika pikiranku kacau, pintu kembali terbuka dan dua bawahan Joan
masuk. Salah satu dari mereka meraihku dengan satu tangan dan menarikku
langsung dari tanah, lalu menyeretku dan berjalan keluar.
"Kamu mau membawaku kemana?" Sekujur tubuhku terasa sakit
seakan tulangku telah patah. Aku diseret oleh mereka seperti ini, hingga lukaku
sepertinya semakin parah.
"Kamu akan tahu sebentar lagi."
Kedua pria yang sangat kejam itu memasukkanku ke dalam mobil van. Mereka
menutup mulutku, mengikat tanganku dengan tali dan mendudukkanku di dalam
mobil. Kemudian, mobil itu melaju pergi.
Pada saat itu juga aku menyadari tempat kami berada ternyata di
pegunungan. Mobil van melaju di sekitar jalan pegunungan selama satu jam dan
tiba di tempat yang terbuka. Aku melihat ada sangkar kayu setinggi tubuh
manusia di tempat terbuka. Kandang kayu itu memiliki tutup dan dikelilingi oleh
pagar berongga. Aku bisa melihat dengan jelas tiga ular piton besar itu berada
di dalamnya.
Aku didorong keluar dari mobil oleh mereka, "Jalan!"
Salah satu bawahan Joan menendang punggung bawahku, seketika aku
langsung melompat keluar.
Laki-laki itu menjambak rambutku lagi, menarikku dan menyeretku ke
sangkar kayu. Kakiku tiba-tiba seperti tersangkut sesuatu. Sebelum aku sempat
melihat ke bawah, seluruh tubuhku sudah digantung terbalik dengan seutas tali.
Aku digantung di tiang kayu.
Dengan kepala di bawah dan kaki di atas, rokku terjatuh ke bawah,
memperlihatkan pinggangku yang ramping.
Rokku tertiup angin di pegunungan dan menampar wajahku.
Sementara wajahku menghadap penutup besi di atas sangkar kayu yang
berada sekitar dua meter jauhnya.
Tubuhku digantung di atas sangkar kayu dalam posisi terbalik. Dengan
cepat, darah naik ke kepalaku dan setiap pembuluh darah di kepalaku seakan
pecah. Aku terengah-engah, kepalaku terasa pusing. Aku bergumam, "Candra,
selamatkan aku."
Pada saat ini, aku mendengar suara mobil, suara rem yang keras dan suara
ban yang bergesekan dengan jalan kerikil. Setelah itu, pintu terbuka dan Candra
keluar.
Aku digantung terbalik. Apa yang aku lihat Candra adalah yang terbalik.
Dia sendirian, mengenakan pakaian olahraga, sepatu kets, dia terlihat letih
setelah perjalanan panjang dan auranya sangat dingin.
"Lepaskan Yuwita, aku akan menyerahkan diriku padamu. Aku akan
membiarkan kalian membunuhku."
Candra berjalan langsung ke sisi Joan.
Joan mencibir, "Tapi, bagaimana mungkin salah satu dari kalian
cukup? Kalian berdua harus mati. Hanya saja, kalau kamu benar-benar
mencintainya, kamu bisa memanjat untuk menyelamatkannya. Kalau kamu bisa
menurunkannya, aku akan membiarkannya pergi."
Candra berbalik dan menatapku, matanya yang gelap menyembunyikan
ketenangan. Dia melihat ke sisi ini, kemudian matanya mendarat ke wajahku. Aku
melihat perasaan tenang dan yakin di dalam matanya.
Dia berjalan ke arah ini.
"Candra, hati-hati!"Namun, mulutku ditutup lakban dan
teriakanku berubah menjadi suara rengekan.
Dahiku berdarah dan seluruh wajahku sudah membengkak. Meskipun aku
sangat ingin Candra menyelamatkanku dan melarikan diri, aku khawatir Joan
menyembunyikan jebakan di sini, menunggu Candra untuk masuk ke dalam
perangkapnya.
Candra berdiri di depan sangkar kayu, dia mengepalkan kedua tangannya.
Tiba-tiba, dia menginjak kawat berduri yang menutupi sangkar kayu, lalu
melompat ke atas. Saat berikutnya, dia telah mendarat di penutup besi di atas
sangkar kayu. Namun, sebelum dia bisa berdiri tegak, penutup besi tiba-tiba
jatuh dan tubuh Candra langsung terjatuh ke dalam sangkar.
Aku berteriak, "Candra!"
Ternyata penutup besi itu adalah jebakan yang disiapkan Joan. Ketika
seseorang menginjaknya, dia akan terjatuh ke dalam kandang bersama dengan
penutupnya.
Candra jatuh ke dalam sangkar dan tidak diragukan lagi ketiga ular sanca
besar itu bergegas ke arahnya. Saat itu tengah hari, matahari sangat terik dan
ketiga ular itu sudah sangat lapar. Ketika mereka melihat manusia hidup, mereka
secara alami tidak akan melepaskannya.
Aku menangis dan berteriak, "Candra...."
Tawa Joan bergema di lembah, "Candra, hari ini adalah hari
kematianmu dan wanita ini."
Setelah dia mengatakan itu, dia mengedipkan mata pada bawahannya dan
tali yang ditarik bawahannya tiba-tiba mengendur. Tubuhku yang tergantung di
tiang, langsung terjatuh ke dalam sangkar kayu.
Candra dikelilingi oleh tiga ular sanca besar. Dia dengan cepat
mengeluarkan pistol dan menembak salah satu ular sanca. Tubuh ular sanca itu
langsung meledak seperti kapas dan darahnya memuncrat keluar. Pada saat ini,
tubuhku jatuh ke dalam kandang itu, Candra terkejut dan memeluk pinggangku
sehingga aku tidak terjatuh ke tanah.
__ADS_1
Namun, karena pelukan ini. Dua ular piton lainnya sudah bergegas kemari.
Bahu Candra digigit, hingga pistolnya terlepas dari tangannya. Satu kaki Candra
juga terkoyak karena digigit oleh ular, tapi dia masih melindungiku dan merobek
selotip dari mulutku.
"Candra, tinggalkan aku sendiri, kamu bisa kabur!" teriakku
sambil mendorongnya. Aku tidak ingin melihat kami berdua terkubur dalam perut
ular.
Candra menolak. Dahi dan telapak tangannya berkeringat, bahunya juga
berlumuran darah. "Tidak. Kalau mati, kita akan mati bersama."
Candra melindungiku dengan tubuhnya. Dia bertarung dengan dua ular sanca
dengan tangan kosong. Kedua ular sanca menyerang Candra dengan gila. Kemampuan
taekwondo Candra lumayan hebat, tapi lawannya adalah dua ular sanca dan tubuh
mereka sangat fleksibel. Candra masih harus melindungiku, ini membuatnya
kewalahan. Dengan cepat, lengan Candra tergigit. Aku tahu jika ini terus
berlanjut, kita berdua akan mati. Saat dia bertarung dengan dua ular piton, Aku
menjulur keluar dari perlindungannya dan berlari ke arah pistol yang tidak
jauh. Karena gerakanku ini, salah satu ular sanca bergegas ke arahku.
Saat tanganku hendak menyentuh pistol, ular piton itu menggigit
lenganku. Aku menjerit kesakitan dan terjatuh ke tanah.
Namun, aku tidak kehilangan akal karena rasa sakit. Aku mengambil pistol
dan menarik pelatuk ke kepala ular itu. Terdengar suara keras, peluru menembus
kepala ular itu.
Cairan yang amis memercik ke seluruh wajahku dan pandanganku langsung
menjadi kabur.
Kami membunuh dua ular sanca, hingga Joan merasa sangat tertekan. Jadi,
Dia menggertakkan giginya sambil berjalan ke arah kami dengan pistol di
tangannya.
"Aku yang akan mengantar kalian pergi!"
"Yuwita, hati-hati!"
Ketika Joan menarik pelatuk dan berjalan ke arah kami, Candra bergegas
ke arahku dan melindungi tubuhku. Peluru Joan mengarah kemari, Candra memelukku
dan menghindar, peluru itu pun terbang keluar dari sangkar kayu.
Ketika Joan menarik pelatuknya lagi, aku mendengar deru mobil polisi.
Joan langsung panik, "Cepat, pergi!"
Dia mengabaikan ular piton yang tersisa dan buru-buru melompat ke dalam
mobil van bersama kedua anak buahnya. Mobil van melaju dengan kecepatan tinggi,
salah satu dari dua mobil polisi melaju ke arah kami dan yang lainnya mengejar
Joan.
Polisi membunuh ular piton yang tersisa, lalu menyelamatkan Candra dan
aku. Aku baik-baik saja, hanya lenganku yang digigit ular piton, tapi sekujur
tubuh Candra berlumuran darah. Aku tidak tahu di mana dia digigit. Melihat pria
"Jangan takut, luka ini tidak akan membunuhmu."
Candra memelukku, tangannya menyentuh lubang darah di lenganku. Pada
saat itu, wajahnya penuh permusuhan. "Joan, aku akan membunuhmu!"
Polisi merawat luka Candra dan aku sebentar, kemudian secepat mungkin
mengantar kami ke rumah sakit terdekat.
Tidak ada cedera fatal, tapi ada beberapa bagian tubuh Candra yang
kehilangan daging. Sementara aku, selain gigitan di lenganku, tubuhku memar di
mana-mana dan separuh pipiku masih bengkak.
Ketika kami semua selesai merawat luka dan berganti pakaian bersih,
Candra memelukku, "Yuwita, aku membuatmu menderita."
Aku menangis di pelukannya, "Candra, aku pikir aku tidak akan
pernah melihatmu dan Denis lagi."
Air mata Candra juga membasahi wajahku, "Polisi mengetahui Joan ada
di sini setengah bulan yang lalu, tapi aku tidak tahu kamu datang ke sini.
Kalau aku tahu, aku pasti tidak akan membiarkanmu datang. Untungnya, kita semua
baik-baik saja."
Karena cedera Candra, kami tidak bisa pulang untuk saat ini. Kami berdua
tinggal di bangsal yang sama. Jasmine menelepon dan bertanya tentang cederaku.
Aku mengatakan kepadanya aku dan Candra baik-baik saja. Meskipun dari awal
hingga akhir dia tidak menyebut nama Candra, aku tahu dia pasti menunggu untuk
mendengar kondisi putranya.
Namun, ponselku direnggut. Candra bahkan menarik jarum infus, dia tidak
memedulikan cederanya dan bangun dari ranjang. Saat ini, dia berdiri di
sampingku, lalu berkata dengan marah kepada Jasmine , "Kenapa kamu
membiarkan dia datang ke sini? Dia hampir mati, apa kamu tahu?"
Aku terkejut dengan tindakan tiba-tiba Candra, "Candra, apa yang
kamu lakukan?"
Dia bahkan marah kepada Jasmine karena aku ditangkap oleh Joan. Aku
benar-benar tidak pernah menyangka. Aku mengambil ponsel dengan tergesa-gesa
dan berkata kepada Jasmine, "Bibi Jasmine, jangan marah. Candra berbicara
omong kosong."
Aku tidak tahu bagaimana menghibur seorang ibu yang dimarahi oleh
putranya sendiri tanpa alasan. Aku khawatir dan cemas. Jasmine hanya terdiam
untuk waktu lama, lalu berkata dengan nada getir, "Clara, ini salahku, aku
tidak tahu di mana Joan muncul. Kalau aku tahu, aku tidak akan membiarkan
mereka mengirimmu ke sana. Sudah sepantasnya Candra menyalahkanku."
Tenggorokanku tersumbat oleh sesuatu sejenak, "Bibi...."
Namun, Jasmine malah berkata, "Kamu dan Candra baik-baik saja, aku
__ADS_1
sudah bisa tenang. Denis dan aku akan menunggu kalian kembali."
Telepon ditutup, sementara hatiku merasa sedikit sedih.
Aku tidak bisa menahan diri untuk marah pada Candra, "Kenapa kamu
berbicara dengan ibumu seperti ini? Dia bukan orang yang mengirimku dalam
perjalanan bisnis dan dia tidak tahu Joan ada di sini, kamu seharusnya tidak
marah padanya."
Aku sangat paham. Candra benci pada Jasmine, jadi dia menyalahkan
sesuatu yang tidak seharusnya ditanggung oleh Jasmine. Dia mengambil kesempatan
ini untuk melampiaskan rasa tidak puas dan kebenciannya pada ibu kandungnya.
Candra mengabaikan kata-kataku. Dia tertatih-tatih ke jendela dan
menatap ke luar jendela.
Penampilannya yang seperti ini membuatku merasa kasihan. Aku menghela
napas, lalu turun dari ranjang dan datang ke belakangnya. Aku memeluknya dari
belakang, "Candra, jangan salahkan dia, ya? Kamu tahu, ini tidak ada
hubungannya dengannya."
Candra berbalik dan menarikku ke dalam pelukannya, "Bolehkah kita
mendaftar pernikahan kita?"
"Ya."
Tanpa sadar aku mengangguk. Setelah Candra hampir kehilangan nyawanya
karenaku, apa lagi yang bisa aku curigai?
Mata jernih Candra berbinar. Dia menundukkan kepalanya dan menciumku
dengan ganas. Aku juga melingkarkan tanganku di lehernya dan kami saling
berciuman di bangsal sederhana kota kecil ini.
Begitu memutuskan untuk mendaftarkan pernikahan, Candra tidak bisa
tinggal lebih lama lagi. Dia mengabaikan nasihat dokter dan bersikeras untuk
keluar dari rumah sakit. Hari itu, kami naik mobil ke pusat kota. Di hari yang
sama, kami terbang kembali ke kota tempat kami tinggal.
Namun, ketika aku sampai di rumah, waktu sudah jam lima sore. Sudah
terlambat untuk pergi ke Pengadilan Agama. Candra sangat kecewa. Aku tersenyum
dan menepuk wajahnya, "Dasar bodoh, besok kita daftar pernikahan. Aku
tidak akan kabur."
Candra langsung mengangkat kepalanya, matanya menggebu-gebu dan dia
menciumku lagi dengan ganas.
Namun, saat aku tenggelam dalam ciumannya yang dalam dan penuh gairah,
tubuhnya jatuh dengan lemas.
Aku panik dan berteriak, "Candra!"
Begitu Candra kembali, dia dirawat di rumah sakit lagi. Setelah
perjalanan sepanjang hari, lukanya meradang dan dia mengalami demam tinggi.
Saat dia demam tinggi, dia masih memegang tanganku dan berkata,
"Bagaimana ini? Yuwita, mungkin besok kita tidak bisa mendaftarkan
pernikahan."
Aku merasa lucu dan kasihan, "Dasar bodoh. Aku milikmu, selamanya
tidak akan bisa melarikan diri. Apa yang kamu takutkan? Setelah kamu keluar
dari rumah sakit, kita akan pergi mendaftarkan pernikahan."
Kemudian, Candra tersenyum lega, "Baguslah kamu tahu, selamanya kamu
akan selalu menjadi milikku."
Candra demam sepanjang malam, sementara aku menjaganya di samping
ranjang sepanjang malam. Ketika fajar, aku tertidur di sampingnya.
"Clara?" Aku mendengar suara Cindy, dia mendorong bahuku.
Aku mengangkat mataku dengan linglung. Aku melihat Cindy dan Hendra
berdiri di bangsal. Mereka berdua tampak khawatir.
Suara Candra terdengar, "Bawa dia kembali. Dia terluka, dia tidak
boleh terlalu lelah, antar dia kembali untuk beristirahat."
"Candra, aku ingin tinggal bersamamu."
Rasa kantukku hilang dalam sekejap.
Ekspresi Candra terlihat lembut dan dia mengusap kepalaku sambil
tersenyum, "Patuhlah, kembali dan istirahat selama beberapa hari. Setelah
pulih dari cedera, baru datang dan temui aku."
"Ayo pergi. Clara, kamu sendiri juga terluka, bagaimana bisa kamu
merawatnya? Ayo, kembali bersamaku," ucap Cindy sambil menarikku.
Aku mau tidak mau pergi.
Cindy mengantarku kembali ke apartemen Jasmine. Dia berulang kali
memesankanku untuk beristirahat dengan baik, lalu pergi bersama Hendra.
Ketika aku berbaring di ranjang, Denis berbaring di sisi ranjangku
dengan gelisah, "Bu, apakah luka Ibu masih sakit? Bagaimana kabar
Ayah?"
Aku berkata dengan lembut, "Ibu tidak sakit lagi, demam Ayah sudah
mereda. Tapi akan memakan waktu beberapa hari untuk keluar dari rumah sakit.
Ketika Ibu sudah lebih baik, Ibu akan membawamu menemui Ayah."
Denis mengangguk.
Jasmine meminta Bibi Lani untuk membuatkanku makanan penambah stamina,
kemudian datang dan mengelus kepalaku, seperti seorang ibu yang penuh kasih,
"Nak, aku telah membuatmu menderita."
Jasmine tampak lebih kurus dari sebelumnya, wajahnya juga terlihat kuyu
dan lelah. Beberapa hari ini, Candra dan aku mengalami kecelakaan, mungkin dia
sudah sangat khawatir. Dia masih ditegur oleh putranya. Sepertinya dia pasti
merasa sedih.
"Bibi Jasmine, kita semua mengalami luka ringan dan kita akan sehat
dalam beberapa hari ini. Bibi jangan terlalu khawatir."
__ADS_1
Aku selalu merasa wanita di hadapanku terlalu menyedihkan.