
Air mata mengalir di wajahku, mengapa setelah bertahun-tahun, setelah
hatiku terluka parah oleh pria ini, aku masih menerimanya? Aku sangat sedih.
Candra memelukku dengan sangat lembut dan emosional. Mendengar tangisan
diamku, dia mengangkat kepalanya dan melihat air mata di wajahku. Dia
mengangkat tangannya untuk menghapus air mataku, "Aku tahu kamu bersalah,
aku tidak akan mengkhianatimu."
Dia menatapku dalam-dalam sampai ponselnya berdering di ruangan yang
sunyi. Dia pergi untuk menjawabnya.
Dia mengangkat telepon sambil mengenakan pakaian.
Di depan mataku, dia berkata, "Aku tahu, aku akan pergi ke
sana." Setelah mengenakan celananya dan menutup telepon, dia berjalan
kembali ke ranjang lagi, lalu membungkuk dan mencium sudut mulutku , "Kamu
istirahatlah dengan baik."
Dia pergi begitu saja.
Aku berguling dan menangis sedih.
Tiga tahun kemudian, aku masih kehilangan diriku sendiri.
Telepon berdering hingga membuatku sadar dari lamunanku. Aku bangun
untuk mencari ponsel dan melihat tulisan "perawat kecil" berkedip di
layar ponsel.
Aku menjawab, "Kak Clara, kenapa tadi malam kamu tidak datang? Tuan
muda kehilangan kesabarannya lagi, tolong cepat datang, aku benar-benar tidak
tahan lagi...."
Jantungku berdetak kencang. Tiba-tiba aku teringat telah berjanji pada perawat
itu untuk pergi ke rumah sakit tadi malam. Namun setelah bertemu dengan
Gabriel, aku hanya memikirkan balas dendam dan melupakannya.
"Aku akan ke sana malam ini."
Setelah menutup telepon, aku membangkitkan semangatku, lalu berganti
pakaian bersih. Aku membeli sekotak pil kontrasepsi darurat di gerbang kompleks
perumahan dan bergegas ke perusahaan.
Sangat jelas, aku terlambat lebih dari satu jam.
Omong-omong, aku benar-benar tidak tahu malu. Sejak aku bekerja di
Kewell, aku terus-menerus meminta cuti. Hari ini, aku kembali terlambat.
Saat memasuki kantor, hatiku sangat gelisah, karena aku takut dengan
tatapan aneh rekan-rekanku. Untungnya, tidak ada yang memperhatikanku, hanya
atasanku yang mengangkat pergelangan tangannya untuk melihat arlojinya dan berkata
dengan serius, "Clara, kamu hampir dua jam terlambat, meskipun seseorang
telah meminta cuti untukmu, aku berharap hal seperti ini tidak akan terjadi
lagi."
Seseorang meminta cuti untukku?
Candra? Keraguan muncul di benakku.
"Maaf karena aku telah menyebabkan masalah untuk semua orang."
Aku membungkuk kepada semua orang.
Monica menatapku dan menatap atasan, lalu dia tersenyum dan berkata,
"Wajah Kak Clara tidak baik, dia pasti sakit, tolong maafkan dia."
Atasan memberikan tatapan dingin dan tajam, lalu berjalan pergi.
Aku sedang duduk di kursi kantor dan aku benar-benar tidak punya energi.
Candra sangat ganas. Seperti yang dia katakan, dia telah menahan dirinya
selama tiga tahun. Mungkin itu benar.
Aku duduk di kursi kantor dengan sekujur tubuhku yang pegal, kelopak
mataku juga berat dan ingin tidur.
Monica datang, dia mendekatkan hidungnya dan mengendus kerahku, lalu dia
berkata dengan suara rendah, "Kak Clara, tadi malam kamu terlalu banyak
berolahraga?"
Monica hampir membuatku muntah, tapi karena perutku kosong, jadi aku
tidak memuntahkan apa pun.
Aku berkata, "Monica, apa yang kamu bicarakan?"
Monica mengedipkan mata padaku dengan wajahnya ingin bergosip,
"Berarti kamu bermain semalaman? Suara pria yang baru saja menelepon
sangat merdu."
Wajahku menjadi sangat masam. Aku menjadi semakin yakin Candra-lah yang
meminta cuti untukku. Namun, aku memang melakukan hal semacam itu dan orang itu
adalah mantan suamiku yang paling aku benci.
Aku menggerakkan sudut mulutku. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata
apa.
Bos memberikan kontrak padaku dan berkata, "Ini barang yang Pak
__ADS_1
Gabriel inginkan, kamu antarkan padanya. Selain itu, firma hukum telah
memutuskan untuk mengutusmu sebagai pengacara khusus Perusahaan Halim, yang
mengkhususkan untuk mengurus masalah dalam perusahaan Halim."
"Oh."
Aku sedikit terkejut. Meskipun tiga tahun lalu, aku adalah seorang
pengacara terkenal di industri ini, sekarang aku sama sekali tidak berharga.
Seharusnya Jasmine berniat untuk memberiku kesempatan.
Aku mengambil dokumen itu dan segera berangkat ke Perusahaan Halim.
Perusahaan itu juga berada di jalan yang dipenuhi gedung perkantoran
ini. Gedung Perusahan Halim dapat dilihat dua mil jauhnya dari PT. Sinar Muda .
Aku turun dari mobil perusahaan, lalu memasuki Gedung Perusahaan Halim
dan memberi tahu resepsionis aku adalah pihak Kewell yang datang untuk
menyerahkan kontrak kepada Pak Gabriel. Resepsionis menyuruhku untuk langsung
pergi ke kantor Gabriel.
Sepertinya Gabriel sudah memesan padanya.
Aku langsung berjalan ke depan pintu kantor Gabriel dan hendak mengetuk
pintu, tapi pintu kantor telah dibuka dari dalam. Gabriel yang mengenakan
setelan hendak berjalan keluar. Saat dia melihatku, wajahnya ketakutan dan dia
melangkah mundur. "Kenapa kamu datang ke sini?"
Ketika Gabriel melihatku, dia seakan melihat seekor binatang buas. Aku
melihat mata Gabriel yang membiru. Aku berpikir anak ini mungkin telah dihajar
oleh Candra.
Aku mengeluarkan ponselnya dari tasku dan melemparkannya padanya,
"Aku kembalikan padamu."
Gabriel tidak berani mengambil ponsel yang aku lempar ke dalam
pelukannya, seolah-olah dia telah menyentuh kentang panas. Dia membiarkan
ponsel itu jatuh ke lantai. Setelah beberapa saat, dia baru membungkuk untuk
mengambilnya.
"Kenapa kamu di sini? Apakah kamu ingin Kak Candra memukuliku
sampai mati?" gerutu Gabriel dengan marah.
Aku mengeluarkan setumpuk kontrak dan melemparkannya kepadanya,
"Kamu terlalu banyak berpikir, aku ke sini untuk ini."
Gabriel merasa lega dan mengangkat tangannya untuk menyeka keringatnya.
menyerahkannya kepadaku, "Kamu bisa membawanya untuk dicap."
Aku mengambil kontrak itu dan tersenyum padanya, "Gabriel."
"Apa yang mau kamu lakukan lagi?"
Anak ini ketakutan karena tindakanku. Saat aku memanggilnya, seluruh
tubuhnya tersentak dan matanya penuh kewaspadaan.
Aku melengkungkan sudut bibirku, "Perusahaan telah memutuskan aku
akan bertanggung jawab atas urusan hukum di kantormu, jadi senang bekerja sama
denganmu."
Aku mengulurkan tangan ke Gabriel, Gabriel melihat tangan putih polosku
dan menatap mataku, seolah-olah sedang memastikanapakah ada jebakan. Akhirnya,
dia mengulurkan tangan dengan ragu-ragu dan menjabat tanganku sejenak.
Baru menyentuh tanganku, dia sudah langsung melepaskannya, seakan ada
seekor ular di tanganku.
Setelah pergi dari Perusahaan Halim, aku duduk di mobil perusahaan. Aku
sangat mengantuk sehingga aku selalu ingin tidur. Tidak ada cara lain. Jika aku
tidak harus pergi bekerja, aku takut paling tidak aku harus terbaring di rumah
selama tiga hari tiga malam.
Ketika aku memikirkan Candra, seakan ada api membara di hatiku. Saat ini
situasiku bisa dilukiskan dengan pepatah senjata makan tuan, aku telah
mencelakai diriku sendiri.
Aku tidak berhasil mencelakai Candra tidak, tapi malah dimanfaatkan
olehnya.
Saat melewati PT. Sinar Muda, aku melihat Candra turun dari mobil.
Tubuhnya yang tinggi dan lurus berjalan ke gedung perusahaan dengan langkah
mantap. Dia sama sekali tidak terlihat lelah. Pria ini memiliki energi yang
sangat kuat.
Pada saat yang sama, hal ini juga membuatku membencinya hingga gigiku
terasa gatal.
Setelah aku pulang kerja, aku bergegas ke rumah sakit lagi. Di sana
masih ada seorang pria hidup yang sedang menungguku.
Sebelum aku memasuki pintu, aku mendengar suara kesal Tuan Muda Kelima,
"Hari ini aku tidak mau diobati lagi!"
__ADS_1
Alisku berkedut dan aku segera melangkah ke pintu bangsal. Aku melihat
dokter dan perawat berdiri berjajar di bangsal. Perawat kecil itu menyusut di
belakang sekelompok dokter dan bergemetar ketakutan. Tuan Muda Kelima mencabut
jarum infus dari pergelangan tangannya dan melemparkan botol cairan ke lantai.
Dokter juga sangat marah, "Oke, kamu tidak mau diobati lagi, 'kan?
Sekarang, kamu telepon ayahmu, telepon ke Kepala Biro Hendra. Sampai saat itu,
jangan katakan kami yang menganiayamu."
Tuan Muda Kelima mengangkat ponsel dan hendak menelepon, aku buru-buru
berteriak, "Jangan!"
Tuan Muda Kelima tiba-tiba mengangkat kepalanya. Saat dia mendengar
suaraku, seakan ada cahaya yang bersinar di mata indah seperti manik-manik kaca
itu. Namun kemudian dia mendengus dan membalikkan punggungnya, "Apa yang
kamu lakukan di sini, dasar tidak punya hati nurani? Aku tidak membutuhkanmu,
pergi dari sini!"
Tuan ini memarahi di depan begitu banyak orang dan wajahku menjadi panas
karena dimarahi olehnya. Siapa yang tidak memiliki hati nurani? Jika aku benar-benar
tidak memiliki hati nurani, aku dapat menanggung omelan ini, tapi nyatanya
bukan seperti yang dia pikirkan.
Wajahku juga menjadi masam, "Telepon saja sekarang, aku juga malas
mengurusmu. Bagaimanapun juga, aku juga tidak punya hati nurani. Kelak aku
tidak akan datang lagi."
Aku hendak berhalan pergi dengan suasana hati yang suram, tapi
sebenarnya aku tidak benar-benar ingin bangun. Jika aku terus menuruti kemauan
tuan muda ini, itu hanya akan membuatnya lebih arogan dan sombong.
Tuan Muda Kelima tiba-tiba menoleh dan menunjuk ke arahku dengan mata
tajam, "Coba saja kalau kamu berani pergi! Kalau kamu berani keluar dari
ruangan ini, kamu akan...."
Tuan Muda Kelima tiba-tiba berhenti berbicara , matanya berkedip untuk
waktu yang lama, kemudian dia mendengus, "Aku tidak akan memedulikanmu
lagi."
Aku menggelengkan kepala dengan sangat tak berdaya. Tuan muda ini lebih
tua dariku, tapi sebenarnya usia
mentalnya sama seperti seorang anak kecil.
"Aku tidak pergi, tapi kamu harus meminta maaf kepada dokter,
perawat dan perawat kecil yang merawatmu," kataku dengan serius.
Wajah tampan Tuan Muda Kelima terlihat masam, matanya yang sangat tajam
terus menatapku.
"Berani sekali kamu?"
"Aku tidak berani, aku pergi." Aku berbalik dan tampak akan
pergi.
Tuan Muda Kelima kesal hingga melemparkan gelas air di meja ke lantai
samping ranjang.
"Kalau kamu pergi, selamanya kamu jangan pernah memintaku meminta
maaf kepada mereka!"
Alisku berkedut dan aku semakin merasa tuan muda ini terlihat seperti
anak yang tidak masuk akal.
"Aku tidak akan pergi, kamu minta maaf," kataku dengan serius.
Pada saat ini, para dokter, perawat dan perawat kecil menatapnya dengan
penuh semangat.
Wajah dokter itu masih pucat dan semua perawat tampak tertekan dan
perawat kecil itu menatapku dengan gelisah, "Tidak ... tidak perlu meminta
maaf saja."
Perawat kecil itu yang pertama kali mengalah.
Dokter mendengus dan ingin pergi. Aku juga berbalik hendak pergi, aku
sudah bisa memastikan tuan muda ini tidak akan meminta maaf. Dia adalah orang
yang sangat sombong, merasa dirinya sangat hebat. Dia melakukan apapun yang dia
inginkan dan jarang memikirkan perasaan orang lain.
"Aku minta maaf."
Tuan Muda Kelima akhirnya membuka mulutnya denga suara suram, meskipun
terdengar sangat tidak tulus, itu memang dilontarkan dari mulut emas tuan muda
ini.
Aku sudah sangat puas dan hatiku tiba-tiba merasa lega. Bahkan dokter
dan perawat yang merawat juga terlihat lega.
Dokter menginstruksikan perawat untuk memasangkan kembali sisa cairan
untuk Tuan Muda Kelima, kemudian pergi.
__ADS_1