Kelembutan Yang Asing

Kelembutan Yang Asing
##Bab 144 Siapa yang Melahirkan Anak?


__ADS_3

Aku buru-buru membuka kardus dan melihat bayi yang baru lahir terbaring


di dalamnya. Bayi itu telanjang dan berlumuran darah. Tali pusarnya masih


menempel, itu adalah bayi laki-laki. Aku tidak tahu orang tua mana yang begitu


tidak berperasaan hingga membuang bayi yang baru lahir itu.


Selain itu, bahkan tidak memberikannya selimut kecil.


Aku segera melepas bajuku dan membungkus bayi itu, lalu aku berbalik


untuk menghentikan taksi yang lewat dan langsung menuju ke rumah sakit.


Entah siapa yang membuang anak ini, benar-benar orang yang kejam.


Sebagai seorang ibu, hatiku merasa tidak nyaman melihat bayi dengan napas yang


lemah ini.


Taksi berhenti di luar rumah sakit. Aku bergegas ke ruang gawat darurat


rumah sakit sambil menggendong bayi itu. Aku hampir bertabrakan dengan orang


yang mendekat. Orang itu adalah William. Dia menatapku dengan tatapan menghina,


"Ibu tiri kejam, wanita tukang selingkuh. Secepat ini kamu sudah memiliki


anak dari Tuan Muda Kelima?"


Saat melihatku, pria itu langsung menghinaku. Aku sangat marah, tapi aku


tidak punya waktu untuk meladeninya. Jadi, aku melewatinya dan bergegas ke


ruang gawat darurat.


Setelah serangkaian pemeriksaan, diagnosa anak itu sudah keluar.


Ternyata, anak itu menderita penyakit jantung bawaan. Seketika, aku tertegun.


"Kembalilah dan kumpulkan uang!" kata dokter itu.


"Berapa?" tanyaku.


"Perkiraan sekitar 200 juta," Jawab dokter.


Aku terkejut. Dengan kemampuanku, kalau aku menghabiskan 200 juta, maka


aku pasti akan bangkrut. Tiba-tiba aku memikirkan seseorang. Tadi, dia masih


mengejekku, kenapa aku tidak memberinya masalah? Jadi, aku menjawab dokter,


"Eh, ini adalah anak Dokter William yang bekerja di rumah sakit kalian.


Anak haram, kamu pasti mengerti."


Aku memberi pandangan yang hanya bisa dipahami, tapi tidak dapat


diucapkan kepada dokter itu.


Dokter menatapku dengan takjub, "Mari kita lakukan prosedur rawat


inap dulu."


Aku tahu bahwa kata-kataku pasti akan menyebabkan kegemparan di rumah


sakit, tapi William benar-benar sangat menjengkelkan. Kalau tidak mencari


masalah untuknya, aku benar-benar terlalu baik padanya.


Saat aku mengurus prosedur rawat inap, aku melihat seseorang bergegas


kemari. Pria itu mengenakan jas putih dengan sosoknya yang tinggi dan wajah


yang tampan, terutama seperti protagonis pria di film-film.


Begitu William melihatku, dia berkata dengan marah, "Dasar wanita


licik, dari mana aku memiliki anak haram? Apa aku memiliki bayi denganmu?"


Aku mengangkat alisku, "Apa yang dikatakan Dokter William? Kamu


belum tentu bisa melahirkan seorang anak haram!"


Perkataanku membuat William sangat marah sehingga dia hampir murka, dia


berdiri di sana dan memutar bola matanya.


Aku mengabaikan William. Setelah menyelesaikan prosedur rawat inap, aku


pergi ke Kewell. Meskipun itu adalah anak yang aku pungut, aku tidak bisa


membiarkannya mati. Aku harus membuat rekan-rekanku menyumbangkan sejumlah uang


untuk membantu anak itu.


Sepagian, aku mengumpulkan 20 juta di perusahaan. Aku mengeluarkan


hampir semua tabunganku yang berjumlah 180 juta. Meskipun ketika mengeluarkan


uangku, aku merasa sangat tertekan. Saat memikirkan betapa menyedihkannya anak


itu, aku tetap mengeluarkan uangku dan pergi ke rumah sakit.


Ketika aku membayar biayanya, aku baru menyadari William telah melunasi


tagihannya.


Hal ini membuatku sedikit bingung, sepertinya anak ini memiliki hati


yang baik.


Aku pergi ke pediatri lagi, bayi yang aku beri nama Alwin telah diinfus.


Saat ini, bayi itu menangis tak henti. Sementara, para perawat tidak punya


waktu untuk merawatnya. Ketika aku melihat kondisi anak itu, aku langsung


merasa tertekan. Aku bertanya kepada perawat waktu terakhir dia diberi susu.


Aku berpikir mungkin anak itu lapar, jadi aku membuatkan susu dan menyuapinya


dengan hati-hati.


Pada saat ini, William masuk. Dia berjalan mendekat, lalu memandangi


bayi itu dengan wajah cemberut dan berkata dengan sinis, "Jelek sekali.


Berani sekali mengatakan dia adalah anakku. Kemungkinan besar ini adalah anak


haram antara kamu dan Tuan Muda Kelima!"


Sudut mulutku berkedut dan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap


William, tapi William mengangkat bahu ke arahku seperti "apa yang bisa


kamu lakukan padaku"


William berjalan ke samping ranjang, tempat di mana aku berdiri. Dia


menundukkan kepalanya untuk menatap bayi itu, lalu menatapku lagi,


"Benar-benar mirip. Sama-sama bermata bulat, wajah yang terlihat tidak


setia."


"Kamu!" Aku benar-benar marah, William ini sangat keji. Jika


mata bisa membunuh seseorang, aku yakin bocah ini telah mati seratus kali.


William mengangkat alisnya sambil menunjukkan ekspresi apa yang bisa


kamu lakukan?


Aku marah dan tak berdaya. Tepat saat ini, dokter yang bertanggung jawab


membawa beberapa orang kemari, "Dokter William, orang-orang ini ahli dalam


pediatri."


William telah menghilangkan ejekan di wajahnya, dia berkata dengan


tegas, "Mari kita bicara di luar."


Bocah ini bahkan mengundang para ahli. Aku merasa sedikit kagum padanya,


tampaknya orang ini benar-benar tidak buruk.


Aku duduk di samping ranjang untuk menunggu hasil diskusi William dengan


para ahli, sambil membujuk bayi itu dengan lembut.


Sepuluh menit kemudian, William masuk dan mengulurkan tangannya yang


putih ke arahku, "Mana uangmu?"

__ADS_1


"Uang apa?" Aku tercengang.


William, "Total 300 juta untuk operasi dan konsultasi ahli."


Aku berteriak dalam sekejap, "Kamu pemerasan!"


Aku sudah menanyakan biaya operasi adalah 200 juta. Apakah biaya


konsultasi ahli perlu 100 juta?


William mengangkat alisnya, "Selebihnya untuk kompensasi karena


kamu merusak reputasiku."


Aku memelototi William dengan tajam, "Dari mana aku merusak


reputasimu? Anak ini mungkin adalah benihmu!"


"William?" Sebuah suara tiba-tiba datang dari luar, kemudian


seorang wanita cantik berjalan masuk. Dia mengenakan gaun Versace edisi


terbatas, memegang tas Hermes. Wajahnya sangat cantik dan indah. Ternyata orang


yang datang adalah Catherine.


Saat Catherine melihat William sedang bersamaku, dia sangat terkejut.


Dia menunjuk William, lalu menatap bayi di ranjang rumah sakit. Tiba-tiba, dia


berkata dengan marah, "Ternyata apa yang dikatakan orang di luar benar,


kamu bahkan melahirkan anak dengan wanita ini!"


Aku tercengang sejenak. Anak ini sama sekali tidak mirip denganku.


William juga menunjukkan ekspresi aneh, "Kak. Eh, adikmu masih


perjaka. Jangan bicara omong kosong."


William berkata dia masih seorang perjaka. Aku hampir tidak bisa menahan


tawaku. Anak ini sepertinya sudah berusia dua puluh enam atau tujuh tahun, yang


mengejutkanku adalah dia bahkan masih perjaka.


Wajah Catherine dingin dan matanya sangat tajam, "Dari mana anak


ini berasal? Kenapa orang-orang di luar berkata Dokter William sudah punya


anak?"


William, "Eh, kamu harus bertanya padanya tentang masalah ini. Dia


adalah ibu dari anak ini." Setelah William selesai berbicara, dia berjalan


pergi.


'Bajingan ini!' umpatku dalam hati.


Catherine menatapku dengan dingin, "Apa yang kamu inginkan?


Bukankah kamu sudah rujuk dengan Candra? Kenapa kamu masih menggoda adikku!


Sebenarnya apa niatmu?"


"Tunggu!" Aku menyela kata-kata Catherine, "Dengar, aku


tidak menggoda adikmu. Aku memungut anak ini, dia memiliki penyakit jantung


bawaan. Adikmu bersikeras berkata bayi ini adalah anak haramnya. Aku juga tidak


bisa berbuat apa-apa."


Sebelum pergi, William tidak lupa menuduhku. Oleh karena itu, aku


membiarkan dia yang disalahkan sampai akhir.


Wajah Catherine pucat karena marah, dia mengambil beberapa langkah ke


depan untuk melihat bayi di ranjang rumah sakit, lalu menatapku dengan curiga,


kemudian dia berbalik dan pergi. Aku tahu dia pergi mencari William.


Anggota keluarga tidak diizinkan untuk masuk ke dalam bangsal, sementara


aku harus pergi bekerja. Jadi, aku pergi dengan tergesa-gesa. Di malam hari,


aku pergi ke tempat Tuan Muda Kelima. Tuan Muda Kelima memintaku memasak untuknya


"Tuan, apa yang ingin kamu makan hari ini?" tanyaku sambil


berdiri di depan rumah Tuan Muda Kelima.


Tuan Muda Kelima melirikku dengan matanya yang gelap dan dingin,


"Kenapa kamu bisa terlibat dengan William? Apakah kamu menyukainya?"


Informasi yang didapatkan tuan muda ini benar-benar cepat.


"Apakah aku sudah buta?" tanyaku dengan ekspresi muram.


Membunuhku sekali pun, aku tidak akan berhubungan dengan orang itu.


Ekspresi Tuan Muda Kelima sedikit membaik, "Jajangmyeon."


Setelah berbicara, dia berbalik dan pergi.


Aku pergi untuk membeli bahan-bahan dan kembali. Tuan Muda Kelima


berdiri di dekat jendela sambil menelepon, dia berbicara tentang saham. Aku


bertanya dengan santai, "Saham mana yang akan naik baru-baru ini?"


Tuan Muda Kelima melihat ke belakang, matanya sedikit dingin,


"Kenapa kamu menanyakan ini?"


Sudut mulutku berkedut, "Aku menanyakannya untuk temanku."


Tuan Muda Kelima, "Aku tidak akan memedulikan orang lain.


Bertanyalah kalau kamu yang membelinya sendiri!"


Yah, aku disela hingga tidak bisa berkata-kata. Aku membawa bahan


makanan dan pergi ke dapur dengan sedikit tertekan.


Untuk jajangmyeon, aku akan membuat saus jamur dan daging! Aku merendam


jamur dan mulai memasak saus. Begitu jamur dimasukkan ke dalam panci, jamur itu


meletup dan potongan jamur terbang ke wajahku. Aku menjerit dan langsung


merasakan sakit yang membakar.


"Ada apa?" Tuan Muda Kelima sudah bergegas ke arahku. Dia


langsung memegang wajahku dengan tangannya yang besar dan mengerutkan kening


ketika dia melihat bagian wajahku yang terbakar, "Kenapa kamu tidak


berhati-hati? Bukankah hanya membuat jajangmyeon? Kenapa seperti adegan


pembunuhan?"


Tuan Muda Kelima mengambil tisu di lemari dan menyeka wajahku.


Gerakannya kikuk, tapi dia sangat berhati-hati. Aku mendesis kesakitan dan


tidak sengaja perasaaan mendalam di matanya yang indah itu. Apakah itu adalah


rasa kasihan?


Aku tiba-tiba tertegun.


Tuan Muda Kelima menyadari aku sedang menatapnya, dia juga tertegun


sejenak. Tiba-tiba, dia cemberut dan bergumam, "Bau apa ini? Sudah berapa


hari kamu tidak mandi? Bau sekali!"


Tuan Muda Kelima membuang tisu ke tempat sampah dan pergi. Melihat


punggung pria yang kokoh dan sedikit panik itu berjalan pergi, aku baru


menyadari aku dihina oleh pria ini. Aku berkata dengan marah, "Kamu yang


tidak mandi, kamu yang bau! Seluruh keluargamu bau!"


Tidak ada suara di luar, aku tidak tahu apakah Tuan Muda Kelima


mendengarnya atau tidak. Aku ingin melanjutkan memasak dengan kesal, tapi


ketika aku mendongak, aku melihat sebuah bayangan berdiri dengan tenang di

__ADS_1


depan jendela rumah seberang. Candra, dia berdiri di sana, dia pasti melihat


apa yang baru saja terjadi. Dalam sekejap, suasana hatiku menjadi dingin.


Candra berdiri di depan jendela untuk waktu yang lama. Saat aku selesai


memasak, dia sepertinya masih di sana. Aku tidak melihat ke sana lagi, kami


berdua ditakdirkan untuk menjadi orang asing dalam hidup ini.


Ketika aku masuk ke ruang makan sambil membawa semangkok jajangmyeon,


Tuan Muda Kelima marah pada seseorang. Dia mengumpat kata-kata kotor di telepon


dan memecat orang itu. Haih, orang ini benar-benar kasar.


Aku meletakkan jajangmyeon di atas meja. Saat dia selesai menelepon, aku


berkata, "Makanannya sudah siap, makanlah!"


Tuan Muda Kelima mengangkat kelopak matanya dan menatapku. Kemudian, dia


berjalan sambil meletakkan ponsel ke sakunya.


Hal yang tidak terduga adalah dia tidak mengatakan  jajangmyeon yang aku buat tidak enak. Aku


berdiri tegap di sampingnya seperti tongkat kayu dengan ekspresi menggoda,


"Tuan, apakah mie yang aku buat enak?"


Tuan Muda Kelima, "Biasa saja!"


Aku, "Karena biasa-biasa saja, bisakah kamu menandatangani


ini?"


Aku mengeluarkan kontrak baru yang telah aku siapkan ke depannya.


Seketika, wajah Tuan Muda Kelima menjadi masam, "Waktu apa sekarang?"


Aku, "Waktu makan."


Tuan Muda Kelima, "Karena kamu tahu waktu makan, kenapa kamu


membicarakan masalah kontrak? Bawa pergi!"


Aku, "..."


Aku mengambil kontrak itu dengan enggan dan duduk di kursi di seberang


Tuan Muda Kelima sambil menopang pipiku dengan kedua tanganku, wajahku penuh


depresi. Jika ini berlarut-larut, kapan aku bisa pergi ke Kanada untuk bersatu


kembali dengan Denis?


"William mencari masalah denganmu?" tanya Tuan Muda Kelima


tiba-tiba.


Aku menggelengkan kepalaku, memikirkan William membuatku merasa tidak


nyaman.


"Tidak mencari masalah denganmu, kenapa kamu mengerutkan kening dan


mendesah?" kata Tuan Muda Kelima dengan marah.


Aku terdiam, tuan muda, bukankah kamu harus bertanya pada diri sendiri


kenapa aku menghela napas?


"Tuan, kasihanilah aku, jangan mempersulit orang rendahan


sepertiku, oke?"


Tuan Muda Kelima melirikku dengan wajah masam, "Mari kita bicara


nanti!"


Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata. Aku mengambil tasku dan pergi.


Dalam perjalanan kembali, Jasmine menelepon dan bertanya bagaimana


pekerjaanku. Aku menghela napas, "Tuan muda menolak untuk


menandatanganinya."


Jasmine berkata, "Lupakan saja kalau dia tidak mau


menandatanganinya. Jangan memohon padanya, batalkan saja kontraknya. Denis


masih menunggumu."


Aku, "Tidak bisa. Membatalkan kontrak akan ada penalti."


Di atas kontrak tertulis dengan jelas. Pihak mana pun mengubah isi


kontrak tanpa persetujuan pihak lain harus membayar uang penalti. Jumlah uang


penalti adalah dua kali lipat biaya pengacara selama satu tahun. Hal itu sama


saja Kewell tidak mendapatkan keuntungan dan malah harus membayar ratusan juta


untuk Tuan Muda Kelima.


Jasmine berkata, "Berikan saja uang ganti ruginya. Uang bukanlah


segalanya. Belum lagi uang itu bukan jumlah yang tidak dapat diterima oleh


Kewell. Dengarkan aku, datanglah dalam beberapa hari lagi, jangan biarkan Denis


menunggu lama. Aku akan mengutus seseorang untuk menangani hal itu."


Jasmine menutup telepon.


Aku berpikir keras bagaimana aku bisa membuat Tuan Muda Kelima


menandatanganinya dengan cepat? Aku tidak bisa membuang ratusan juta begitu


saja.


Tanpa sadar, mobil sudah diparkir di lantai bawah apartemen Jasmine. Aku


naik ke atas, mengganti sandal dan melihat seseorang duduk di sofa ruang tamu.


Candra, tidak tahu kapan dia datang. Pada saat ini, dia menatap lukisan


Denis dengan kepala tertunduk. Masih ada lukisan lain di atas meja kopi di


samping kakinya. Ketika aku melihatnya, dia meletakkan lukisan itu dan


mengambil yang lain, senyum tipis muncul di sudut mulutnya. Dia mengulurkan


jari-jarinya yang ramping untuk menggosok wajah anak laki-laki kecil di lukisan


itu beberapa kali, matanya penuh dengan cinta.


"Pak Candra sudah lama menunggumu," kata Bibi Lani dengan


gelisah, seolah takut aku akan mengeluh tentang dia membiarkan Candra masuk.


Candra menoleh ke samping. Setelah tidak melihat wajahnya yang jernih selama


beberapa hari, dia tampak sedikit lemas. Dia menatapku dengan matanya yang


tenang, "Tuan Muda Kelima mencari masalah denganmu?"


"Tidak," jawabku acuh tak acuh, urusan Julia telah


menghilangkan cintaku yang berapi-api pada Candra. Ketika aku melihatnya saat


ini, selain merasa tenang, aku bahkan tidak ingin berbicara dengannya.


Candra datang dan berkata, "Kalau kamu membutuhkan bantuanku,


katakan saja. Aku akan berbicara dengannya."


"Tidak, tidak ada yang perlu kamu bantu," jawabku dengan acuh


tak acuh.


Candra menggenggam tanganku dengan ringan, "Yuwita, beri aku


kesempatan lagi."


Aku bisa merasakan permohonan di matanya yang jernih. Dia adalah orang


yang sombong yang tidak pernah menundukkan kepalanya untuk siapa pun. Namun


sekarang, dia telah melepaskan harga dirinya. Aku menggelengkan kepalaku dan


menghela napas, "Candra, kita tenangkan diri terlebih dulu. Serahkan


semuanya pada waktu."

__ADS_1


Candra terdiam beberapa saat, "Baiklah!"


__ADS_2