
Pada malam hari, aku masih tidur di bangsal Tuan Muda Kelima. Tuan muda
itu cukup tenang di malam hari dan dia tidak merayu wanita lagi. Aku tidur
sampai subuh. Saat aku membuka mata, aku melihat perawat kecil itu tidak di
sofa dan terdengar suara dari ranjang rumah sakit Tuan Muda Kelima.
"Cepat buang."
Aku menoleh untuk melihat ke sana dan melihat perawat kecil bergegas ke
kamar mandi sambil membawa pispot. Aku tidak bisa berkata-kata. Ternyata tuan
muda ini berbohong berkata dia tidak bisa buang air kecil di ranjang. Dia hanya
tidak bisa buang air kecil ketika aku berada di sana.
Tuan Muda Kelima tiba-tiba mengangkat kepalanya dan melihatku
menatapnya, wajah tampan itu langsung memerah.
Aku berpura-pura tidak melihatnya, aku bangun lalu mengambil sisir dari
tasku dan menyisir sebentar, "Aku harus kembali untuk bekerja. Kamu
dengarkan saran dokter. Malam ini aku tidak akan menjengukmu, aku harus pulang
dan mandi."
Ketika aku pergi, Tuan Muda Kelima tidak mengatakan apa-apa. Dia mungkin
masih malu karena aku melihat hal yang tidak ingin dia beritahu. Dia bukannya
tidak bisa buang air kecil di ranjang, dia hanya tidak bisa buang air kecil
saat aku ada di sana.
Selama beberapa hari, aku tidak pergi menemui Tuan Muda Kelima lagi.
Setelah bekerja, aku pulang ke rumah dan bereksperimen memasak daging kecap.
Semua sampel makananku digunakan sebagai makan malamku dan Cindy. Sampai Cindy
sudah bosan dan memohon padaku dengan getir, "Clara, bolehkah tidak
membuat masakan ini lagi? Aku benar-benar tidak ingin memakannya lagi."
Yah, aku akui, sebenarnya aku tidak punya bakat memasak, terutama daging
kecap ini. Bagaimana pun cara memasaknya, rasanya tidak seperti yang aku makan
di Kanada hari itu.
Aku masih sibuk bekerja, hasil ujian pengacaraku sudah keluar dan aku
lulus dengan pujian. Aku hanya tidak tahu apakah aku harus sedih atau bahagia?
Memikirkan waktu itu, aku adalah seorang pengacara terkenal di industri ini.
Malam itu, aku mentraktir rekan-rekanku dari departemen untuk makan
malam. Bos tidak pergi karena ada pekerjaan. Saat makan, bos meneleponku dan
menyuruh aku pergi ke perusahaan untuk mengambil salinan dokumen. Dia memintaku
mengantarkannya ke Klub Pesona Malam. Aku melunasi tagihan lalu keluar dari
restoran.
Aku tiba di Klub Pesona Malam dengan tergesa-gesa, pikiranku tiba-tiba
menjadi tidak menentu. Di sinilah aku dengan sengaja mendekati Tuan Muda Kelima
dan juga di ranjangnya aku melihat Candra yang duduk di sana.
Begitu aku masuk, kenangan itu terngiang di benakku. Aku berjalan sambil
mencari ruang VIP yang dikatakan bosku dan seseorang datang, dia adalah Doni.
Doni berhenti dan bertanya dengan prihatin, "Clara, kenapa kamu ada
di sini?"
"Aku datang mencari bosku,"jawabku dengan acuh tak acuh.
Begitu aku melihat Doni, di benakku langsung muncul adegan dia dan Stella
hadapi hari itu. Tiba-tiba aku merasa ingin muntah.
Doni mendengus, "Ruang VIP yang mana? Aku akan mengantarmu ke sana.
Tempat ini ramai, tidak baik kalau kamu bertemu dengan masalah."
Doni tampaknya berniat baik, tapi aku tahu dia tidak akan pernah
memiliki kebaikan itu, dia adalah orangnya Stella. Mungkin hatinya busuk sperti
Stella, yang menantikan aku cepat mati.
"Tidak, terima kasih."
Aku tersenyum, tapi tidak ada senyum di mata aku. Aku sama sekali tidak
ingin berdekatan dengan orang ini.
Doni sedikit terkejut, "Clara, apakah kamu telah salah paham? Apa
yang dikatakan Candra padamu?"
Dia berhenti sejenak, "Aku menasihatinya untuk tidak mengabaikan
kalian, tapi dia malah membentakku dan berkata aku tidak perlu memedulikan
urusannya. Aku tebak dia pasti mengatakan sesuatu yang buruk tentangku di
belakang."
Sepasang mata Doni memancarkan cahaya yang cerdik. Nada suada dan cara
bicaranya membuatku merasa semakin tidak nyaman. Tiba-tiba, aku merasa mual.
Aku menutup mulut dan berlari beberapa langkah ke toilet di depanku dan muntah.
__ADS_1
Setelah muntah, aku melihat seseorang berdiri di depanku. Pandanganku
mengarah dari kaki panjang pria itu hingga ke wajahnya. Aku melihat alis pria
itu sedikit berkerut dan matanya yang ragu-ragu.
Ternyata dia adalah Candra dan di belakangnya berdiri Gabriel dengan
ekspresi terkejut di wajahnya.
Doni berkata perlahan, "Candra, Clara sepertinya tidak enak badan.
Apakah kamu ingin membawanya ke rumah sakit?"
Candra berkata dengan dingin, "Itu bukan urusanku."
Kata-kata dingin ini membuat hatiku sakit untuk beberapa saat. Sekali
lagi emosiku tidak terkendali gara-gara ucapan Candra. Candra berjalan pergi
dengan jijik.
Gabriel berkata dengan kaget, "Apakah kamu hamil?"
Bocah ini mengira seorang wanita akan muntah hanya ketika dia hamil. Dia
tidak tahu aku muntah karena melihat orang yang menjijikkan dan mendengar
kata-kata yang menjijikkan.
"Maaf."
Aku tidak melihat ekspresi terkejut Gabriel dan bergegas pergi. Setelah
menyerahkan dokumen kepada bosku, aku bergegas ke kamar mandi untuk berkumur.
Saat aku keluar, pelayan datang sambil membawa minuman.
Bos dan pelanggan masing-masing membawa segelas anggur buah dan ada
segelas jus jeruk yang tersisa. Bos memberi isyarat kepadaku untuk minum jus
jeruk. Aku haus, jadi aku mengambil dan meminumnya.
Bos berkata, "Sudah larut, kamu kembalilah dulu. Aku benar-benar
minta maaf karena menunda makan malam kalian."
Aku tersenyum malu, "Ini pekerjaanku dan sudah seharusnya aku
mengerjakannya."
Aku keluar dari ruang VIP, Gabriel dan Doni telah pergi. Aku berjalan
keluar dengan tergesa-gesa. Saat ini, hampir jam sebelas malam dan sudah tidak
ada bus. Saat aku mencapai pintu Klub Pesona Malam, sebuah taksi berhenti di
depanku, jadi aku langsung naik.
Mobil melaju dalam kegelapan, rasa lelahku berangsur-angsur muncul dan
aku bahkan tertidur seperti itu. Ketika aku naik taksi sendiri, aku tidak
mengantuk, aku akan membuka mata lebar-lebar.
Namun hari ini kelopak mataku sangat berat, mungkin hari ini benar-benar
terlalu lelah.
Aku tidak tahu berapa lama, mobil seolah berhenti. Pintu belakang
terbuka dan sepasang tangan menopang tubuhku. Dia menggendongku keluar dari
mobil, samar-samar aku bisa merasakan seseorang menggendongku, tetapi tidak
bisa membuka mataku.
Aku hanya bisa membiarkan orang itu menggendongku sepanjang jalan dan
akhirnya dia menurunkanku. Ada sentuhan lembut di bawah tubuhku, mirip dengan
ranjang besar dan aku bergumam, "Siapa...."
Lalu, aku kembali tidur.
Setelah berlalu beberapa saat, ada suara-suara di ruangan itu, suara dua
pria.
"Kamu periksa dia dan kalau dia hamil, bantu dia melakukan
aborsi."
Suara ini sangat akrab, sepertinya aku telah mendengarnya jutaan kali.
Suara lain berkata, "Candra, apa yang akan kamu lakukan? Jangan
lupa, sekarang kalian adalah orang asing. Bahkan kalau dia hamil, kamu tidak
berhak memutuskan untuk menggugurkan janinnya."
Hatiku tiba-tiba menegang. Candra? Apakah dia Candra?
Aku membuka mataku. Aku melihat dua bayangan yang sama tinggi berdiri di
bawah cahaya terang. Satu memiliki wajah yang sangat aku kenal dengan alis
panjang dan ekspresi dingin. Satunya lagi memiliki wajah yang jauh lebih
lembut, tapi alisnya mengenyit, dia jelas tidak menyetujui tindakan Candra.
Aku mengenali pria ini adalah teman Candra, Rommy Anton. Dia adalah
seorang dokter.
"Candra, kamu...."
Aku ingin bangun, tapi aku sangat pusing dan tubuhku sangat berat
sehingga aku tidak bisa bangun sama sekali.
Tatapan dingin dan tajam Candra mengarah kemari, wajahnya masam dan
__ADS_1
penuh dengan aura membunuh.
"Rommy, apa yang masih kamu lakukan?"
Rommy tampak kesulitan. Dia menatapku kemudian menatap Candra. Akhirnya,
dia memilih untuk menuruti kata-kata Candra. Dia melangkah, lalu meraih tangan
kananku dan jari-jarinya yang ramping memeriksa nadiku. Aku mencoba untuk
menepisnya, tapi aku tidak memiliki kekuatan sedikit pun. Aku hanya bisa
menatapnya dengan lemah.
Rommy merasakan denyut nadiku untuk waktu yang lama dan mengerutkan
kening, "Tidak ada tanda-tanda kehamilan."
Candra, "Bukankah bisa tidak tes darah? Kamu bisa mengambil
darahnya."
Rommy terdiam, "Candra, dia tidak hamil, untuk apa tes
darahnya?"
Candra, "Mungkin denyut nadinya tidak benar."
Rommy, "..."
Rommy membuka kotak obat, lalu mengeluarkan jarum, "Kamu pegang
lengannya."
Candra mendekat, lalu tangannya yang dingin memegang lengan kananku
seperti ular dan menekannya. Ujung jarum tipis menembus ke pembuluh darahku.
Aku merasakan sakit seperti digigit semut dan aku mengerang kesakitan.
Mata dingin Candra mengarah ke wajahku.
"Aku tidak akan membiarkanmu melahirkan anak Raynaldi."
"Kamu...."
Tubuhku dan bahkan suaraku di luar kendaliku. Aku sangat marah, tapi aku
tidak bisa berkata apa-apa.
Aku menatap Candra dengan marah. Baru sekarang aku menyadari kantuk dan
tubuhku yang tidak bertenaga mungkin bukan karena aku terlalu lelah, tapi aku
juga tidak tahu apa penyebabnya.
Tabung jarum segera terisi darah. Rommy menekan kapas di bagian lenganku
yang tertusuk jarum dan berkata kepada Candra, "Kamu bantu tekan."
Rommy membawa jarum dan berjalan ke meja. Baru pada saat inilah aku
melihat sepertinya ini adalah kamar Rommy. Aku pernah mengunjungi rumahnya
beberapa tahun yang lalu.
Rommy membalikkan punggungnya dan tubuh tinggi itu menghalangi
pandanganku yang linglung. Aku tidak bisa melihat apa yang dia lakukan. Namun
setelah beberapa saat, dia berkata, "Dia tidak hamil, sekarang kamu sudah
bisa tenang? Cepat berikan penawarnya. Jangan merusak tubuhnya."
Ternyata Candra benar-benar memberiku obat, tetapi kapan itu terjadi?
Aku kebingungan, otakku yang kacau mulai mencari-cari apa yang terjadi
malam ini. Namun otakku tumpul dan kaku. Aku tidak bisa mengingat kapan Candra
menjalankan aksinya.
Candra melepas kapas yang telah dia tekan di lenganku, dia berjalan
mendekati Rommy, lalu mengambil alat tes kehamilan di tangannya dan
memeriksanya. Setelah memastikan Rommy tidak berbohong padanya, dia baru
berkata, "Satu jam kemudian, dia akan bangun."
Rommy, "Candra, bukannya aku mau mengataimu, tidak bermoral bagimu
untuk melakukan ini! Karena kamu telah memilih Stella, kamu harus memutuskan
hubungan dengan mantanmu. Sekarang kamu tidak hanya memberinya obat tidur, tapi
juga ingin mengaborsi anaknya. Apa yang sedang kamu lakukan?"
"Aku tidak melakukan apapun."
Mengetahui bahwa aku tidak hamil, nada suara Candra jauh lebih lembut,
"Sudah larut, kamu bisa pergi."
"Hei, ini rumahku."
Rommy tercengang.
"Aku ada di sini, jadi ini menjadi rumahku."
Candra sangat mendominasi.
Rommy terdiam, lalu mendengus dingin dan keluar sambil membawa kotak
obatnya.
Aku melihat bayangan di bawah lampu, tapi mataku tidak bisa melihat
dengan jelas. Butuh lebih dari satu jam agar efek obat bisa menghilang.
Sekarang, apa yang harus aku lakukan?
Candra datang dengan wajahnya yang acuh tak acuh dan aku merasa dia
__ADS_1
adalah ancaman bagiku.