Kelembutan Yang Asing

Kelembutan Yang Asing
##Bab 3 Dipenjara dengan menyedihkan


__ADS_3

Seolah


menyadari sesuatu, Candra tiba-tiba menoleh. Ketika dia melihat mobil yang


sedang melaju kencang, wajahnya tampannya itu menjadi pusat pasi. Seketika


senyuman di wajahnya langsung menghilang. Dia mendorong Stella yang berjarak


paling dekat dengan mobilku. Akan tetapi, dia tidak sempat menghindar, dia yang


memeluk anaknya itu berguling beberapa meter jauh.


Volkswagen


Bora yang aku kendarai juga kehilangan kendali dan menabrak bebatuan di


kompleks perumahan. Darah dengan cepat menetes dari dahiku hingga membuat


pandanganku menjadi kabur. Saat tidak sadarkan diri, aku mendengar sirene mobil


polisi dan ambulans.


Ketika


aku membuka mata, aku sudah berada di rumah sakit. Kepalaku terbalut kasa


tebal, cedera di kepalaku membuatku pusing. Tubuhku sedikit tidak terkendali.


Dua polisi berdiri di samping ranjang, menungguku bangun untuk diinterogasi.


Aku juga melihat ekspresi temanku, Cindy Pawaka yang terlihat cemas dan


khawatir.


"Di


mana pembunuhnya? Aku akan membunuhnya!"


Ibunya


Candra, Bherta Wijaya berjalan masuk sambil berteriak dengan marah. Dia berlari


masuk seperti embusan angin, dia mengabaikan polisi yang menghalanginya, lalu


mengangkat tangannya dan menamparku dua kali.


"Kamu


adalah seorang pembunuh, algojo! Kamu tidak bisa melahirkan anak, bahkan masih


ingin membunuh putra dan cucuku. Hari ini, aku akan membunuhmu!"


Bherta


menyerang dan mencekik tenggorokanku dengan kedua tangannya.


Luka


di dahiku kembali terbuka. Darah segar langsung membasahi kain kasa tebal.


Wanita yang aku panggil ibu selama empat tahun. Wanita yang aku perlakukan


seperti ibuku sendiri. Dia seakan tidak menganggapku, matanya terlihat memerah


dan nadi di kedua tangan berdenyut seperti cakar iblis yang mencekik leherku.


"Lepaskan!


Kamu akan membunuhnya!" Cindy ketakutan dan bergegas untuk melepaskan


tangan Bherta.


Namun,


semua itu tidak ada gunanya. Bherta ingin aku mati untuk putra dan cucunya.


Leherku


tercekik hingga tidak bisa bernapas. Mataku memutih, aku pikir aku akan mati.


Jika Bherta tidak mencekikku hingga mati, aku juga akan dihukum mati oleh


pengadilan karena telah membunuh ayah dan anak perempuan itu.


Kemudian,


polisi menyelamatkan hidupku. Sebelum kasus ini diselidiki, aku yang merupakan


algojo ini tidak boleh mati.


Polisi

__ADS_1


menarik Bherta pergi. Setelah Bherta menangis dan memarahi dalam waktu lama,


dia ditarik pergi oleh kerabatnya. Polisi mencatat sambil bertanya kenapa aku


menabrak Candra dan putrinya.


Aku


berkata, Candra berbohong kepadaku. Dia berselingkuh dan memiliki seorang putri


yang sudah besar. Hampir empat tahun dia berbohong kepadaku. Aku terpukul


hingga menabrak mereka.


Polisi


memperlihatkan ekspresi itu simpati, tapi simpati bukanlah alasan untuk tidak


menangkapku. Tiga hari kemudian, aku dibawa pergi dengan mobil polisi.


Sambil


menunggu persidangan, Stella memposting di Internet, dia berkata awalnya


dirinya dan Candra adalah pasangan, aku adalah pihak ketiga yang merebut


kekasihnya. Karena tidak dapat melahirkan seorang anak, aku ingin membunuh


putrinya. Untungnya pada hari itu Candra berada di sana, kalau tidak, putrinya


pasti sudah mati.


Dia


berkata dengan air mata berlinang seperti darah yang menetes, para penonton


sangat marah dan membenciku yang disebut "selingkuhan" ini. Ada juga


rekan-rekan di profesi hukum yang sukarela membantu Stella untuk menggugatku.


Mereka bersumpah untuk membuatku mendapat hukuman mati.


Tentu


saja, aku tidak tahu semua ini. Cindy memberitahuku sambil menangis. Cindy juga


memberitahu Candra dan putrinya tidak mati. Ketika mobilku menabrak mereka,


mengalami sedikit luka lecet di lengannya. Sementara Candra yang harusnya tidak


terluka, tapi karena dia mendorong Stella hingga tidak sempat menghindar dan


sekuat tenaga melindungi putrinya, organ dalamnya mengalami pendarahan dan juga


banyak tulang yang patah. Sekarang dia masih dirawat di ICU.


Air


mataku terjatuh.


Lelaki


ini adalah lelaki yang selalu berkata akan memanjakanku seperti seorang putri.


Di kehidupan berikutnya dia akan menikahiku. Dia menggunakan nyawanya untuk


melindungi wanita selingkuhan dan putrinya.


Bherta


datang lagi, dia berteriak dan menangis histeris. Dia sangat ingin menusukku


yang berada di balik kaca tebal dengan pisau. Aku seakan tidak melihat kejadian


itu, aku sudah putus asa.


Dengan


cepat, telah tiba hari persidangan. Aku dipegang oleh dua polisi dan berdiri di


kursi pemeriksaan, aku mengenakan pakaian tahanan dan tanganku juga diborgol.


Bherta dan ayahnya Candra, Rinaldi Kurniawan juga datang. Ekspresi Rinaldi


terlihat tidak karuan. Ketika melihatku, Bherta berteriak padaku. Jika polisi


tidak menghentikannya, dia akan menyerang dan mencabik-cabik wajahku.


Mungkin


karena lukanya sangat parah, Candra tidak hadir di persidangan. Namun, teman

__ADS_1


masa kecil Candra telah datang. Ekspresi mereka terlihat sangat marah seakan


ingin mengulitiku, ada juga yang terlihat tak berdaya dan menyesal, ada yang


tidak percaya akan hal ini. Wanita yang mereka panggil kakak ipar ternyata


iblis berhati busuk.


Stella


berdiri di kursi penggugat, dia menangis hingga tubuhnya gemetaran dan terus


bergumam, "Julia belum genap berusia tiga tahun, bagaimana dia bisa


sekejam itu menabraknya ...."


Penampilan


yang lemah dan menyedihkannya ini, ditambah dengan simpati orang-orang terhadap


yang lemah, semakin membuat para penonton marah. Mereka berteriak agar hakim


menjatuhkan hukuman berat. Hanya Cindy yang menangis dan berteriak jika aku


tidak bersalah.


Aku


tersenyum sedih pada Cindy. Mereka ingin aku mati, apa gunanya kamu berteriak


sendirian?


Akhirnya,


hakim menghentikan keributan itu, keputusan pengadilan tidak sesuai dengan


keinginan Bherta dan Cindy, karena orang yang aku tabrak tidak mati.


Aku


dijatuhi hukuman lima tahun penjara dan memulai kehidupan di penjara. Rambut


keriting panjangku dipotong pendek sampai di telinga. Setelan profesional dan


cakap tergantikan oleh seragam penjara yang longgar dan sederhana. Aku bekerja


keras seperti tahanan wanita lainnya, makan makanan yang paling sederhana,


tinggal di penjara yang kumuh dengan tahanan yang lain.


Di


antara para tahanan wanita, ada terdakwa yang kasusnya ditangani olehku. Mereka


tidak akan melewatkan kesempatan untuk membalas dendam kepadaku. Saat ada


pengawas, mereka tidak berani menyiksaku. Namun, malam menjadi pelindung untuk


mereka.


Mereka


menjambak rambutku, melukai pahaku, menusuk kulitku dengan ujung pena, menyiram


lenganku dengan air mendidih. Mereka melukai semua tubuhku yang tertutup oleh


pakaian dengan menggunakan segala cara yang terpikir oleh mereka.


Aku


menahan semua penyiksaan itu.


Aku


tidak mengerti bagaimana aku yang sangat melindungi diri bisa menahan semua


itu. Aku bahkan bisa menahan semua penyiksaan yang tidak manusiawi itu.


Mungkin


ini karena aku sudah putus asa.


Aku


putus asa hingga penganiayaan fisik tidak dapat memprovokasiku lagi. Bahkan aku


tidak merasakan sakitnya karena hatiku juga telah mati rasa.


Setelah


tiga bulan di penjara, Candra datang.

__ADS_1


__ADS_2