Kelembutan Yang Asing

Kelembutan Yang Asing
##Bab 2 Kelembutan Terakhir


__ADS_3

Aku


mengangkat tangan untuk menepis bibirnya sambil menatap dingin padanya,


"Candra, setelah bertahun-tahun menikah, aku belum bisa memberimu seorang


anak, apakah kamu benar-benar tidak membenciku?"


Candra


menatapku dengan bingung, tidak lama kemudian dia malah tersenyum. Dia


mengangkat tangannya dan mengusap rambutku, "Bodoh, aku sudah berkata


sebelumnya, kamu adalah anakku. Aku memperlakukanmu sebagai putriku dan seumur


hidup cukup ada kamu saja."


'Memperlakukanku


sebagai putrimu? Seumur hidup ini cukup memiliki aku seorang. Haha, Candra,


saat berbohong, apakah kamu tidak merasa bersalah? Kamu mengatakan ini karena


kamu sudah memiliki seorang putri di luar sana. Mungkin suatu hari kamu akan


memiliki seorang putra,' batin Yuwita.


Pada


saat ini, kebencian di hati saya semakin mendalam. Kalau aku memegang sebuah


pisau, mungkin aku akan menusuknya ke hati Candra.


Namun,


Candra masih tidak menyadari keanehanku. Dia menutup matanya dan meletakkan


wajahnya di leherku, kemudian dia menarik napas panjang dan berbisik,


"Yuwita, kamu sangat harum. Saat aku pergi bekerja, aku memikirkan wangi


tubuhmu, aku benar-benar ingin .…"


Candra


menghirup aroma tubuh Yuwita seakan sangat menikmatinya, lalu dia membuka


matanya yang jernih dan dimabukkan oleh cinta. Sorot matanya dipenuhi dengan


kasih sayang dan cinta yang mendalam. Pada saat itu, pikiranku sedikit


linglung, suhu tubuh dan pelukan yang sangat familier. Bau alkohol yang samar


bertahan di udara, membuatku tanpa sadar ikut tercandu.


'Apakah


benar dengan sesuatu yang dikatakan Stella? Apa dia sengaja mengirim foto itu


untuk membuat perselisihan karena iri dengan kebahagiaan di antara aku dan


Candra? Tapi, anak itu sangat mirip dengan Candra dan setiap bulan Candra


selalu melakukan perjalanan bisnis, bagaimana dengan masalah ini?' batin


Yuwita.


Saat


aku menutup mataku, hati kecilku penuh dengan perasaan campur aduk. Tiba-tiba,


Candra memelukku, lalu aku merintih pelan, Candra sudah menciumku ....


Meskipun


kami telah bersama selama empat tahun, Aku dan Candra sudah merupakan pasangan


suami dan istri lama, tapi tubuh kami tidak pernah bosan dengan satu sama lain.


Kami tahu bagaimana cara membuat pasangan bergairah. Candra bahkan lebih


memahami hal ini. Malam ini, dalam keadaan benci dan ragu aku masih merasa


bergairah, kemudian aku tertidur lelap.


Hanya


saja tidurku tidak nyenyak. Aku terus bermimpi Candra selalu bersama anak itu.


Aku mendengar suara Candra yang berkata, "Menikahinya hanya karena


kebutuhan fisik."


Aku


kembali melihat senyum bangga Stella, dia berkata, "Kami adalah satu


keluarga. Yuwita, kamu harus pergi."


Saat


bangun, Candra sudah berpakaian rapi.


"Aku

__ADS_1


akan pergi ke Kota Canis untuk perjalanan bisnis sebentar dan kembali besok


malam."


Candra


datang dan mencium keningku. Jantungku langsung berdegup kencang.


Aku


berpura-pura merasa tidak rela dengan merangkul tanganku di lehernya, lalu


merangkul tubuhku di pundaknya sambil bertanya dengan ekspresi sedih,


"Lagi-lagi ke Kota Canis, apa kamu memiliki selingkuhan di sana?"


Jelas-jelas


aku melihat mata Candra berkedip, dia tersenyum lalu mengangkat tangannya dan


mencubit hidung kecilku, "Apa yang kamu bicarakan, bagaimana mungkin aku


mengkhianatimu. Patuhlah, tunggu aku kembali."


Dia


membungkuk dan mencium bibirku, tapi aku malah melingkarkan lenganku di


lehernya lebih erat. Dengan sebuah tarikan, tubuhnya yang terbalut dengan


setelan mahalnya langsung terjatuh ke atas tubuhku..


Ternyata


dia mengunjungi Kota Canis sebulan sekali karena memiliki kekasih dan putrinya


di sana. Dia tidak pernah menyalahkanku karena tidak bisa hamil. Karena dia


sudah memiliki seorang putri dan mungkin kelak dia akan memiliki putra.


Sementara


orang tuanya yang aku perlakukan sebagai orang tua kandungku sendiri tahu akan


hal ini. Serta teman-temannya dan mereka yang memanggilku kakak ipar juga


mengetahuinya. Hanya aku tidak mengetahui hal ini.


Kebencian


di hatiku tiba-tiba melonjak, aku menahan diriku untuk tidak mencekik Candra


sampai mati. Aku menggunakan beberapa pose untuk membalas dendam dan


menyiksanya, tubuhnya yang putih dan kokoh itu penuh bekas yang aku tinggalkan.


mampu lagi. Sebentar lagi dia harus melakukan perjalanan bisnis. Dia takut


tidak memiliki kekuatan untuk mengemudi ke Kota Canis.


Kemudian


aku baru beranjak dari tubuhnya dengan lelah.


Candra


benar-benar kelelahan, kami baru berhubungan tadi malam. Pagi ini, aku kembali


menyiksanya lagi, bahkan tubuh kokoh pun tidak akan bisa menahannya. Apalagi


aku mencubit sekujur tubuhnya hingga memar dan beberapa bagian yang terluka.


"Kucing


liar, kenapa hari ini kamu tidak bisa puas?"


Candra


menundukkan kepalanya untuk meniup lukanya. Kemudian, dia bangun dan mengenakan


pakaian sambil bergumam dengan penuh perhatian. Pada saat ini, dia masih tidak


menyadari keanehanku. Mungkin karena aku terlalu pandai menyembunyikannya. Aku


sangat membencinya, tapi malah masih berhubungan intim dengannya.


Saat


Candra pergi, matanya masih terlihat lelah. Mercedes-Benz putihnya melaju


keluar dari kompleks perumahan. Saat itu, aku membuntutinya dengan mobil yang


aku sewa.


Setelah


dua jam mengemudi di jalan tol, aku mengikuti Candra sampai ke Kota Canis. Aku


melihat mobilnya berhenti di area perumahan gedung bertingkat. Setelah Candra


mengeluarkan kartu akses, mobil itu masuk ke dalam perumahan. Mobilku


dihentikan oleh satpam untuk memintaku menunjukkan kartu akses.


Aku

__ADS_1


mengeluarkan kartu identitas yang ditinggalkan Candra di dalam tasku beberapa


hari yang lalu, lalu berkata bahwa aku datang bersamanya. Setelah melihatnya,


satpan membiarkanku masuk.


Aku


mengendarai Volkswagen Bora sewaan untuk mencari di lingkungan yang tidak


dikenal ini. Dengan cepat aku menemukan Mercedes putih Candra yang diparkir di


bawah gedung apartemen dengan puluhan lantai.


Candra


yang mengenakan pakaian putih itu berdiri di depan mobil. Tubuhnya yang tinggi


itu terlihat gagah dan tampan. Saat ini dia merentangkan kedua tangannya.


Seorang


gadis kecil dengan gaun merah dan sepatu kulit merah yang terlihat seperti


boneka berlari ke arahnya, "Ayah!"


Candra


berjalan dua langkah ke depan dan menggendong gadis kecil itu, lalu beberapa


kali mencium wajah putih itu, wajah tampannya itu memancarkan kelembutan dan


kasih sayang yang tak terbatas, "Julia, Ayah telah datang."


Mendengar


suara lembut itu, aku merasa seakan tersambar petir, ternyata apa yang


dikatakan wanita itu benar.


"Candra,


kamu sudah datang."


Stella


yang mengenakan gaun merah berjalan mendekat. Pada saat itu, mungkin hanya


khayalanku. Matanya tampak melirikku, kemudian dia berjalan membelakangi


mobilku dan berdiri di samping Candra.


Dibandingkan


dengan foto di dompet Candra, dia yang telah melahirkan seorang anak tidak ada


banyak berubah, dia masih tinggi dan ramping dengan wajah cantik bagaikan


lukisan.


Aku


memegang dadaku. Saat itu aku aku seakan kehilangan napas, Candra dan Stella


benar-benar bersama. Apa yang dikatakan Stella benar.


"Ayah,


bolehkah Ayah juga mencium ibu? Setiap hari Ibu merindukanmu."


Suara


gadis kecil yang manis itu kembali menyambar hatiku. Pada saat itu, aku sudah


tidak bisa bernapas. Aku melihat Candra menyunggingkan sudut bibirnya dengan


lembut dan wajahnya tersenyum manis. Namun, Sebelum Candra mencium Stella,


amarah dan kesedihan sudah membuatku gila.


"Penipu!


Mati kalian semua!" teriakku sambil menginjak pedal gas, Bora hitam


langsung mengarah ke mereka.


"Memangnya


kenapa kalau tidak ada anak, kamu adalah anakku, aku cukup memilikimu."


"Yuwita,


kita adalah suami istri di kehidupan ini dan kita akan bersama di kehidupan


mendatang."


"Yuwita,


aku mencintaimu."


Kata-kata


manis itu masih terngiang di telingaku, juga kemarahan dan penghinaan yang kuat


serta keluhan menghilangkan kewarasanku. Aku mengendarai mobil itu ke arah

__ADS_1


mereka bagaikan orang gila.


__ADS_2