Kelembutan Yang Asing

Kelembutan Yang Asing
##Bab 157 Tidak Boleh Melahirkan


__ADS_3

"Namaku Clara," jawabku.


Aisha, "Kalau begitu aku akan memanggilmu Bibi Clara!"


"Hei." Aisha mengedipkan mata padaku, "Kamu pelayan kakak


kelima. Kamu pasti tahu apa yang paling dia sukai, 'kan? Bisakah kamu


memberitahuku?"


Aku, 'Apa yang bisa aku katakan? Tuan Muda Kelima menyukai wanita


cantik, aku tidak bisa mengatakannya.'


"Eh ... dia suka banyak hal." Aku berpikir sejenak.


"Misalnya, dia suka mengendarai mobil sport, makan mie dan suka pakaian


yang indah."


"Yah, tidak apa-apa jika bukan wanita cantik." Aisha


mengangguk. Namun, sudut mulutku malah berkedut, aku mulai curiga gadis ini


tidak waras. Seorang pria yang menyukai mobil sport dan pakaian yang indah,


apakah dia tidak akan menyukai wanita cantik?


Aisha berkata dengan percaya diri, "Aku tidak takut pada wanita


cantik, karena aku adalah wanita cantik. Aku tidak takut pada loli, aku adalah


loli. Hei, Bibi Clara, apa zodiak kakak kelima?"


Aisha menoleh dengan penasaran sambil mengedipkan matanya yang gelap.


Aku memikirkannya dan berkata, "Leo!"


Aisha kembali berbicara dengan ekspresi serius, "Pria Leo suka


mengendalikan orang lain, suka dipuji dan mereka mudah bertindak gegabah. Untuk


pria seperti itu, aku harus mengetahui emosinya."


Aku merasa geli. Melihat penampilan Aisha yang polos, aku benar-benar


tidak tega untuk memberitahunya, "Emosi kakak kelimamu bukanlah sesuatu


yang bisa dipahami orang biasa. Dia murung, terkadang perhatian, terkadang


kasar. Dia juga akan mengusir orang sesuka hati. Dia seperti seekor


keledai."


Eh ... apa yang aku pikirkan? Bagaimana aku bisa mengatakan Tuan Muda


Kelima adalah keledai? Aku merasa tidak berdaya.


Pada saat ini, Tuan Muda Kelima membawa para tamu masuk. Aisha berjalan


ke seorang pria paruh baya, lalu merangkul lengannya dan memanggilnya. Pria itu


menepuk pundak Aisha dengan penuh kasih, "Apakah kamu nakal lagi?"


"Apa yang Ayah katakan? Tidak ada." Aisha mencebikkan bibirnya


seperti anak kecil sambil memutar pinggangnya.


"Siapa dia?" tanya pria paruh baya itu ketika dia melihatku.


Tanpa menunggu Tuan Muda Kelima berbicara, Aisha pertama kali memperkenalkan,


"Dia adalah pelayan bernama Clara yang dipekerjakan oleh Kakak


Kelima."


"Oh, oh," pria paruh baya itu mengangguk. Sudut mulut Tuan


Muda Kelima berkedut, dia menatapku dengan penasaran.


Tamu lain berkata, "Pengasuh Tuan Muda Kelima sangat cantik, kamu


benar-benar beruntung!"


Tuan Muda Kelima tertawa sambil berjalan tepat di hadapanku, mengangkat


tangannya dan melingkarkan lengannya di bahuku, "Benar, pelayanku ini


masih muda dan cantik, dia pandai memasak. Dia yang mengurus semua


keperluanku!"


"Ayo, semuanya duduk." Tuan Muda Kelima melepaskanku dan


menyapa para tamu.


Semua orang mengambil tempat duduk mereka, aku menunggu di samping


seperti seorang pelayan. Tuan Muda Kelima berteriak, "Duduklah."


Aku tertawa, "Sebaiknya aku pergi ke dapur!" Sebagai seorang


pelayan, aku harus sopan.


Melihat aku pergi ke dapur, Aisha bahkan mengikutiku, "Bibi Clara,


film dan lagu apa yang suka ditonton kakak kelima?"


"Eh?" Aku benar-benar tidak tahu. Aku hanya tahu Tuan Muda


Kelima suka bermain saham dan menghasilkan uang.


"Yah, dia suka film "Wolf Warrior" dan lagu


Clayderman."


Aku hanya berbicara omong kosong. Film "Wolf Warrior" adalah


film yang kebanyakan pria suka tonton. Clayderman memainkan piano dengan sangat


baik, mungkin dia juga akan menyukainya.


Aisha berkata sambil berpikir, "Ternyata dia menyukai Wolf Warrior


dan Clayderman."


Aisha pergi. Setelah beberapa saat, aku mendengar suara Aisha dari ruang


makan, "Kakak kelima, aku memesan dua tiket film "Wolf Warrior",


mari kita tonton bersama malam ini!"


"Wolf Warrior? Apa itu?" Suara itu adalah suara Tuan Muda


Kelima.


Aisha berkata dengan terkejut, "Apa kamu tidak tahu? Ini adalah


film yang paling terkenal saat ini. Baru saja dirilis. Bibi Clara bilang kamu


menyukainya. Apa dia berbohong padaku?"


"Dia yang bilang?" Aku mendengar suara penasaran Tuan Muda


Kelima.


Aisyah, "Ya."


Kulit kepalaku tiba-tiba mati rasa.


Tuan Muda Kelima, "Apa lagi yang dia katakan?"


Aisha, "Dia juga bilang kamu suka musik Clayderman, mobil sport,


baju cantik, mie dan ...."


Sepertinya aku mencium aura yang suram dan dingin dari Tuan Muda Kelima.


Apakah Aisha idiot? Mengapa dia mengatakan semuanya? Astaga, kulit kepalaku


mati rasa hingga aku hampir tidak bisa menahannya.


"Bibi Clara!" Suara suram Tuan Muda Kelima tiba-tiba datang

__ADS_1


dari luar.


Aku berjalan keluar dengan enggan, berpura-pura menjadi pelayan kecil


kampungan yang belum pernah melihat dunia luar, "Tuan, ada apa?"


Tepat ketika aku selesai berbicara, aku bertemu dengan tatapan Tuan Muda


Kelima yang bisa membunuh seseorang, tetapi dia tiba-tiba menyunggingkan


bibirnya dan tersenyum, " Pergi beli sekotak durex. Kita membutuhkannya


malam ini. Bukankah kamu bilang tidak boleh melahirkan bayi dengan majikan?


Kita perlu melakukan langkah keamanan dengan baik."


Tuan Muda Kelima menyipitkan matanya, penampilannya itu benar-benar


sangat datar. Aku terkejut dengan apa yang dia katakan tiba-tiba. Saat aku


bereaksi, wajahku dengan cepat menjadi merah padam. Semua orang di meja tampak


terpana pada kami berdua.


Ternyata pelayan kecil ini ada main dengan majikan. Orang-orang ini


pasti memiliki bahan untuk bergosip lagi. Sementara wajah cantik Aisha sudah


memerah, bibirnya cemberut dan matanya yang besar terbelalak. Dia terlihat


sangat ingin bergegas dan membunuhku, sang pembohong ini.


Tiba-tiba aku bergidik. Aku memelototi tuan muda dengan wajah jahat,


lalu bergegas keluar pintu.


Berengsek! Sampah! Ketika aku keluar dari apartemen Tuan Muda Kelima,


aku mengutuk pria itu dengan keras.


Tentu saja aku tidak akan membeli durex, aku langsung kembali ke


apartemen.


Di ruang tamu, Jasmine sedang membaca buku anak-anak dengan Denis.


Melihat aku kembali, Jasmine tersenyum dan berkata, "Denis


mencarimu."


"Bu." Denis mengedipkan matanya yang gelap ke arahku,


"Apakah kamu pergi ke tempat ayah angkat?"


"Ya, ayah angkat kedatangan tamu, Ibu membantunya membuat makan


malam."


Denis, "Oh, ya, ayah angkat tidak tahu cara memasak seperti


ayah."


Tangan kecil itu meraih tanganku, "Bu, Ayah menelepon dan


mengatakan bahwa Kak Julia mengalami patah kaki. Dia ingin merawat Kak Julia di


sana, jadi sementara tidak akan datang ke sini."


"Oh?" Tanpa sadar aku menatap Jasmine, apakah benar Julia


melompat dari gedung? Apa yang direncanakan ular kecil ini?


Jasmine, "Candra ada di sana untuk merawat Julia, anak itu telah


dimanjakan sejak dia masih kecil. Dia tidak pernah ditinggal orang tuanya, sekarang


tiba-tiba dikirim ke negara lain dan Candra tidak mengizinkan siapa pun untuk


mengunjunginya. Untung saja, hanya mengalami patah kaki."


Jasmine menyesap tehnya dan berkata perlahan, "Aku sudah memberi


tahu Candra ketika Julia menyelesaikan operasinya, dia bisa mengirimnya ke


sini. Aku akan mendidiknya secara pribadi. Aku tidak percaya tidak bisa


Kata-kata Jasmine membuatku tertegun sejenak, apa maksud Jasmine? Dia


bahkan ingin membawa Julia ke sisinya untuk mendidiknya secara pribadi, apakah


ini sengaja menargetkan aku dan anakku?


Tidak, Denis adalah cucunya, satu-satunya orang yang dia targetkan


adalah aku. Aku tertegun untuk waktu yang lama sambil berpikir keras. Akhirnya,


aku hanya mengatakan sepatah kata pun, "Rumah ini milikmu. Aku tidak punya


hak untuk mengomentari siapa pun yang ingin kamu undang."


Pada saat ini, alis Jasmine yang tiba-tiba terangkat, aku merasakan aura


kesepian. Jasmine bukanlah ibuku, orang yang dia pedulikan adalah anak dan


cucunya, sementara aku hanyalah orang luar.


Saat kembali ke kamar, Denis berdiri di sampingku dan berkata, "Bu,


Kak Julia akan datang, aku takut."


Aku mengelus kepala Denis sambil berkata dengan lembut, "Jangan


takut, Ibu akan melindungimu. Ibu bawa kamu keluar dari sini, ya?"


Denis mengangguk, tapi kemudian berkata, "Tapi, Denis tidak rela


berpisah dengan Nenek Jasmine."


Aku, "Kita bisa melihat Nenek Jasmine."


Setelah terdiam beberapa saat, Denis mengangguk.


Pada malam hari, aku menjelajahi situs web sewa rumah. Keesokan paginya,


aku menelepon agen untuk menanyakan apakah ada properti dengan harga dan lokasi


yang sesuai. Namun sayangnya, lokasi dengan harga yang dapat diterima sangat


terpencil, jaraknya sangat jauh dari Kewell, itu benar-benar merepotkan untuk


aku yang tidak punya mobil. Sementara untuk lokasi yang lebih bagus, harganya


sangat tinggi. Sebagai ibu tunggal dengan tabungan terbatas, aku benar-benar


tidak bisa mengeluarkan dana sebanyak itu.


Hari-hari berlalu, rencana sewaku pun tertunda.


Sementara, Candra malah kembali bersama Julia.


Julia digendong oleh ayahnya, satu kakinya masih dalam gips dan tangan


kecilnya memeluk leher Candra dengan erat, ekspresinya sangat arogan dan


dingin.


Jasmine menginstruksikan pelayan, "Bawa tuan dan nona ke kamar


nona."


Pengasuh memimpin jalan dengan hormat, Candra naik ke atas sambil


memeluk Julia.


Kamar tidur Julia diatur di sebelah kamar tidur Denis. Meskipun dulunya


adalah kamar tamu, setelah beberapa waktu ini ditata dengan cermat, kamar itu


telah menjadi kamar anak-anak.


Jasmine menambahkan satu set lengkap perabotan anak-anak di dalamnya dan


menginstruksikan pelayan untuk tidak mengabaikan Nona Julia.

__ADS_1


Denis dan aku hanya melihat ayah dan anak perempuan itu memasuki kamar


Julia. Ketika Candra menurunkan Julia, tangan kecil Julia masih menempel di


lehernya, dia berkata sambil mencebikkan bibirnya, "Ayah jangan pergi.


Julia takut."


Saat berbicara, Julia menatapku seolah aku akan menyakitinya kapan saja.


Candra mengelus kepala Julia dengan pelan, "Patuhlah, jangan takut, tidak


ada yang akan menyakitimu."


Julia mengerutkan alisnya, tampak seperti akan menangis. "Bagaimana


jika Bibi Clara memukulku? Ayah, Bibi Clara sangat membenciku. Dia pasti akan


menggertakku ketika Ayah tidak ada di rumah."


Candra melirik ke arahku sambil mengernyit, lalu menoleh ke Julia dan


berkata, "Tidak, selama kamu patuh, Bibi Clara tidak akan memukulmu."


Kata-kata Candra membuat hatiku seakan tertimpa oleh batu. Saat Candra


berbalik, aku melihat Julia mengedipkan matanya padaku, tatapan itu


mengartikan, 'Aku kembali, Ayah paling menyayangiku. Kamu dan Denis sudah bisa


keluar dari sini.'


"Bu, ayo pergi." Denis menarik tanganku. Aku membawa Denis


kembali ke kamarku.


Satu jam kemudian, Candra mengetuk pintuku, "Yuwita."


"Diam!" Aku memberi isyarat padanya untuk diam, "Namaku


Clara, oke?"


Candra menghela napas pelan, "Maaf, aku membawa Julia kembali. Dia


dalam suasana hati yang buruk di sana, selalu berpikir untuk bunuh diri. Kali


ini dia melompat dari gedung saat administrator sekolah tidak memperhatikannya.


Sekolah tidak akan mengizinkannya tinggal di sana. Mereka memintaku membawanya


kembali atau memindahkannya ke tempat lain."


"Aku tahu, aku telah membuatmu menderita lagi, tapi aku adalah


ayahnya Julia. Sebelum kakinya sembuh, aku punya kewajiban untuk menemani dan


merawatnya. Tapi kalau kembali bersamaku, kamu tahu, neneknya hanya akan lebih


memanjakannya, jadi aku membawanya ke sini dan membiarkan ...."


Candra ragu-ragu, "Membiarkan dia merawat dan mendidik Julia. Aku


percaya hanya dia yang bisa mendidik Julia."


Saat merujuk pada Jasmine, Candra memilih untuk menggunakan


"dia".


Aku tidak ingin mendengarkannya lagi, "Aku tidak peduli dengan


keluargamu, aku juga tidak ingin peduli. Tapi, tolong jangan ganggu aku lagi.


Aku lelah, aku mau tidur."


"Baiklah." Ekspresi Candra menjadi sedih, dia berbalik dan


pergi dalam diam. Sementara, aku merasa kepalaku terasa sangat sakit. Candra


membawa Julia ke sini, sehingga sedikit perasaan tidak rela meninggalkannya pun


menghilang.


Di pagi hari, ketika aku membawa Denis ke lantai bawah, aku melihat


Candra menyuapi Julia di kamar, cinta ayah meluap di wajahnya. Julia tersedak


sup, Candra buru-buru mengulurkan tangannya untuk menepuk punggungnya, kemudian


menyeka noda sup dari sudut mulutnya dengan saputangan.


"Bu, ayah sangat baik kepada kakak." Denis berdiri di pintu


kamar Julia dan tidak bergerak, mata yang seperti permata hitam itu penuh


dengan kecemburuan dan harapan.


Aku menarik tangan Denis, "Ayo pergi."


Di ruang makan, Jasmine sedang menginstruksikan para pelayan untuk


membawa sarapan ke meja. Denis dan aku turun ke lantai bawah. Jasmine menoleh


dan berkata, "Clara, Denis, datang dan makan."


Denis berlari, tetapi aku tidak bergerak. Aku hanya berkata dengan acuh


tak acuh, "Aku tidak lapar, kalian makanlah."


Mata indah Jasmine menatapku. Setelah terdiam beberapa saat, dia


berkata, "Oke, ingatlah untuk tidak makan."


Aku meninggalkan apartemen Jasmine. Aku tidak sarapan karena tidak ada


nafsu makan. Selama istirahat siang, aku masih mencari informasi sewa rumah,


tetapi aku masih tidak dapat menemukan rumah yang memuaskan.


Setelah bekerja, aku keluar dari Kewell dengan berat hati, tetapi aku


mendengar siulan di belakangku dan berbalik tanpa sadar. Aku melihat Tuan Muda


Kelima duduk di mobil sport dengan plat nomor Kanada, dengan kacamata hitam di


wajahnya. Dia bersiul ke arahku dengan penampilan yang keren.


Aku mengerutkan alisku, apa yang akan dilakukan tuan muda ini? Apakah


dia sengaja datang ke Kewell untuk menebar pesona?


"Wow, dia sangat tampan." Staf wanita itu tergila-gila kepada


Tuan Muda Kelima.


Tuan Muda Kelima mengemudikan mobil ke depan beberapa meter. Saat berada


di hadapanku, dia mengangkat tangannya dan meletakkan kacamata hitam ke


kepalanya, "Hei, bukankah kamu  pergi membeli pengaman? Kenapa kamu tidak kembali. Aku menunggumu dalam


waktu lama!"


"Cih!" Memikirkan apa yang membuatku malu dan merusak


reputasiku hari itu, aku sangat ingin mencakar wajahnya.


Tuan Muda Kelima terkekeh, "Kenapa, marah? Nih, aku membawanya


untukmu sebagai permintaan maafku."


Tuan Muda Kelima melemparkan sepasang bayi babi kepadaku. Sepasang bayi


babi masing-masing mengenakan dasi dan pita kupu-kupu di kepala mereka, jelas


adalah laki-laki dan perempuan. Saat ini, mereka mempertahankan posisi


berciuman.


Aku tidak tahan untuk memisahkan kedua babi kecil itu, tetapi ketika


tanganku dilonggarkan, kedua babi kecil itu dengan cepat kembali menyatu.


Tuan ini sedang mempermainkanku, aku kesal dan ingin memisahkan kedua

__ADS_1


orang itu lagi, tetapi Tuan Muda Kelima malah terbahak-bahak, "Kenapa?


Tidak tahan dengan keintiman pasangan ini!"


__ADS_2