Kelembutan Yang Asing

Kelembutan Yang Asing
##Bab 91 Terasa Nyata


__ADS_3

Apartemen Cindy berada


di lantai lima, tidak ada lift dan harus naik tangga ke atas. Tuan Muda Kelima


menggendongku selangkah demi selangkah. Dia berkata sambil berjalan ,


"Saat menggendongmu, aku tidak merasa berat. Kenapa sekarang begitu berat?


Beri tahu aku berapa beratmu?"


Aku, "..."


Berat badan seorang


wanita adalah sebuah rahasia.


"Aku tidak tahu.


Kamulah yang ingin menggendongku. Kalau kamu menyerah di tengah jalan, kamu


bukan laki-laki."


Aku sengaja


menghinanya. Siapa yang menyuruhnya membuang krukku. Tanpa benda itu, bagaimana


kelak aku berlatih berjalan? Bagaimana aku pergi bekerja besok?


Tuan Muda Kelima


mendengus, "Aku menyerah di tengah jalan? Aku tidak akan pernah melakukan


itu!"


Penghinaanku semakin


membangkitkan kesombongan tuan muda ini. Dia menggendongku di punggungnya, lalu


melangkah maju dengan sangat cepat, sesekali dia melompat dengan tiba-tiba dan


melangkah dua anak tangga. Aku ketakutan hingga berteriak.


"Pelan-pelan dan


hati-hati."


Jika orang ini tidak


menginjak dengan kuat, maka kami berdua akan terjatuh. Aku mungkin akan menjadi


alas dan menjadi kue karena tertimpa oleh tubuhnya yang kekar ini.


Tuan Muda Kelima


terkekeh beberapa kali, "Begini saja kamu sudah takut? Lihat apakah kamu


berani menantangku atau tidak!"


Aku hampir memohon


berulang kali, "Tuan, aku salah, tolong berjalanlah dengan baik, aku tidak


ingin menjadi kue!"


Meskipun Tuan Muda


Kelima memiliki temperamen yang buruk, dia adalah orang yang akan kalah telak


jika seseorang bersikap lembut padanya. Setelah mendengar aku memohon padanya,


dia memperlambat langkahnya, "Hmm, baguslah kalau kamu takut."


Akhirnya, dia menaiki


tangga sambil menggendongku yang memiliki berat hampir 50 kilo di punggungnya.


Ketika Tuan Muda Kelima berbicara, dia kehabisan napas. Tanganku yang merangkul


di lehernya juga merasakan keringatnya.


Ketika kami tiba di


lantai lima, Tuan Muda Kelima menurunkanku, lalu dia melepaskan kancing di


lehernya dan terus mengipas dengan tangannya yang besar.


Aku membuka kunci


pintu, lalu memegang gagang pintu dan tertatih-tatih masuk ke dalam rumah. Aku


menyalakan lampu di ruang tamu, kemudian tertatih-tatih ke kamar mandi untuk


mengambil handuk bersih dan menyerahkannya kepada Tuan Muda Kelima, "Nih,


seka keringatmu."


Tuan Muda Kelima


melirik handuk itu, dia malah menyodorkan separuh wajahnya, "Nih."


Tindakannya membuatku


terkejut sesaat, tuan muda ini memintaku untuk mengusap wajahnya. Aku


mengerutkan kening dan dengan enggan menyeka handuk di wajahnya yang tampan


beberapa kali.


Tuan Muda Kelima


mengerutkan kening, "Kamu sedang membersihkan toilet!"


Aku terkekeh,


"Kau yang memintaku menyeka keringatmu. Aku tidak bilang aku membersihkan


toilet."


Lengan panjang Tuan


Muda Kelima tiba-tiba jatuh di pinggangku dan memelukku. Seketika, tubuhku


langsung bersandar ke dalam pelukannya, dia menundukkan kepalanya, bibirnya


yang tipis dan panas mengembuskan napas hangat ke arahku, "Kakimu


tampaknya sudah membaik. Bagaimana kalau malam ini kamu membayar kebaikanku


dengan tubuhmu."


Mata indah seperti


manik-manik mengkilap Tuan Muda Kelima bersinar dengan minat yang kuat.


Tiba-tiba dia menggendongku dan berjalan masuk ke kamar tidur di arah


berlawanan.


Melihat tubuhnya yang


kekar hendak menerkamku. Aku melambaikan tanganku ketakutan, "Tidak, ini


bukan ranjangku, aku tinggal bersama orang lain."


Kamar ini adalah kamar


Cindy .


Tuan Muda Kelima


mengerutkan kening, lalu dia memarahi dengan sangat tidak senang, "Buat


masalah!"


Dia menarik kerahku


dan dengan kasar menggendongku di bahunya. "Apakah ruangan itu?"


tanya dia sambil menunjuk ke kamar yang berlawanan.


"Ya."


Aku menjadi pengecut


dan tidak percaya diri.


Memikirkan Cindy yang


tiba-tiba kembali, apakah aku harus menemukan lubang untuk mengubur diriku?


Namun, tuan muda

__ADS_1


kelima telah menggendongku ke kamarku. Wajah cantik yang tidak seperti manusia


berada dekat di depanku. Dia sedikit menyipitkan matanya lalu menciumku.


Ketika aku memejamkan


mata, seluruh tubuh aku bergetar tak terkendali. Jika Cindy tiba-tiba kembali,


apakah dia akan terkejut?


Apa yang dikatakan


akan segera muncul. Tepat ketika aku khawatir akan dilihat oleh Cindy,


terdengar suara pintu keamanan terbuka, kemudian suara Cindy berjalan masuk,


"Clara? Apakah kamu di dalam rumah?"


Aku mengerang dalam


hatiku, lalu mendorong Tuan Muda Kelima dari atas tubuhku. Aku merangkak bangun


dengan panik, tanpa memedulikan kakiku yang terluka hingga aku menjerit


kesakitan.


Sementara Tuan Muda


Kelima, dia didorong olehku hingga berguling ke lantai. Pada saat ini,


ekspresinya seakan ingin membunuhku.


Cindy sudah masuk dan


melihat wajahku yang memerah, serta wajah masam dan menyedihkan Tuan Muda


Kelima yang bangkit dari lantai sambil memarahi dan mengumpat, mulut Cindy


berkedut, "Kalian...."


Dia memandang Tuan


Muda Kelima dengan tidak percaya, lalu ke arahku. Akhirnya, dia berbalik,


"Lupakan saja, aku tidak melihat apa-apa."


Cindy kembali ke


kamarnya dengan wajah tertekan dan menutup pintu rapat-rapat.


Tuan Muda Kelima tidak


sabar untuk mencekikku, dia menggertakkan giginya padaku, "Seperti ini


caramu membalasku? Sialan."


Tuan Muda Kelima


menepuk-nepuk pakaiannya, wajahnya sangat frustrasi dan marah, "Aku akan


menyelesaikan masalah ini denganmu nanti!"


Tuan muda kehilangan


minatnya dan pergi dengan wajah masam.


Aku menghela napas dan


duduk di tempat tidur. Aku mengangkat tanganku dan menepuk dadaku sambil


berpikir dalam hati. Kali ini, Tuan Muda Kelima mungkin akan marah besar.


Belum lagi diganggu


oleh seseorang, dia bahkan didorong olehku. Tuan muda ini akan marah selama


beberapa hari.


Aku malu untuk pergi


mencari Cindy dan menjelaskan apa yang terjadi barusan, tapi Cindy malah datang


sendiri.


Dia bertanya dengan


marah, "Apakah kakimu sudah sembuh? Apakah tidak sakit lagi?"


Aku tertawa dengan


Cindy mendengus marah,


"Lupakan saja, kamu bukan anak kecil lagi, normal kalau tubuhmu


membutuhkannya."


Cindy kembali ke kamar


dengan depresi, dia meninggalkanku sendirian dengan sudut bibirku yang


berkedut.


Keesokan harinya. Aku


yang kehilangan kruk harus berpegangan pada tangga untuk turun. Setelah


menuruni beberapa anak tangga, sebuah tangan menopangku dari belakang.


Aku berbalik, lalu


melihat Cindy dengan mulut cemberut dan menatapku sinis, "Hanya memikirkan


kebahagiaan, hingga kamu kehilangan krukmu?"


Sudut mulutku berkedut


dan aku hanya bisa tertawa malu. Siapa suruh tadi malam aku tertangkap basah


oleh Cindy?


Cindy selalu


menentangku bersama dengan Tuan Muda Kelima. Namun tadi malam, kami hampir


berhubungan di depan matanya.


"Lupakan saja,


hari ini aku bangun pagi. Aku akan memberimu tumpangan."


Walaupun Cindy masih


marah, dia masih sangat baik padaku. Dia mengantarku langsung ke Kewell dan


baru berangkat kerja.


Sebelum aku turun dari


mobil, aku melihat rekan yang kemarin memapahku. Dia memegang kruk sambil berdiri


di bawah tangga pintu perusahaan dan melihat ke kejauhan. Aku tahu dia sedang


menungguku dan mengembalikan krukku agar aku tidak kesulitan berjalan.


Aku hendak


memanggilnya, tapi dia telah melihatku dan dia berjalan ke arahku sambil


membawa kruk.


"Terima


kasih."


Dengan adanya kruk,


aku seperti telah mendapat dukungan.


Rekanku bernama


Monica, dia adalah orang yang sangat berhati hangat. Dia membantuku menaiki


tangga dan berkata, "Orang yang bernama Stella itu benar-benar bukan orang


baik. kamu hanya patah kaki. Dia bahkan mengataimu cacat. Siapa dia?"


Aku tersenyum dengan


acuh tak acuh, "Aku tidak akan bisa menyumbat mulutnya."


Monica berkata,

__ADS_1


"Benar katamu."


Tiba-tiba dia


mengangkat alisnya lagi, "Kak Clara, siapa pria tampan yang menggendongmu


tadi malam? Dia sangat tampan. Apakah dia pacarmu?"


Aku sedikit tercengang


dengan ekspresi Monica yang terpesona, sepertinya dia belum pernah melihat


video-video di Internet. Dia tidak tahu hubunganku dengan Tuan Muda Kelima.


"Eh, dia adalah


temanku."


"Bolehkah kamu


mengenalkannya padaku?" Mata monica dipenuhi dengan bintang yang


berbinar-binar.


"Oke. Kalau ada


kesempatan, aku akan memperkenalkannya padamu."


Aku hanya membujuk


Monica. Tidak masalah jika Tuan Muda Kelima adalah orang biasa. Dia adalah


seorang playboy. Aku tidak boleh membuat gadis kecil itu celaka.


Siang hari,


rekan-rekanku semua pergi ke ruang makan. Aku bersandar di mejaku untuk


beristirahat sejenak dan menunggu Monica membawakan makanan padaku.


Ketika aku sedang


setengah sadar, sepertinya ada seseorang yang membelai rambutku dengan lembut


dan aku mendengar suara yang familier, "Gadis bodoh, jangan terlalu berani


mengatai orang."


"Siapa?"


Aku membuka mata aku


dan melihat dengan linglung, tapi aku tidak melihat siapa pun dan aku bergumam,


"Bermimpi lagi."


Aku tertidur lagi.


Sampai Monica kembali


sambil membawa kotak makan siang dan mendorong lenganku untuk membangunkanku,


"Bangun, waktunya makan."


Aku baru membuka mata,


Monica membuka kotak makan siang dan berkata sambil tersenyum, "Lihat, apa


yang aku bawakan untukmu? Ayam pedas, ini adalah makanan favoritku."


"Terima


kasih."


Aku mengambil kotak


makan siang, mencicipinya sambil tersenyum dan berkata dengan ramah, "Wah,


enak sekali."


Sebenarnya aku tidak


tertarik dengan hidangan ini, tapi gadis kecil itu sangat baik, jadi aku harus


menunjukkan bahwa aku sangat menyukainya. Setelah itu, ketika aku meminta gadis


kecil itu untuk membawakan aku makanan, dia pasti akan membawakanku ayam pedas.


"Kak Clara?"


Monica menyipitkan


matanya sambil tersenyum, ekspresi di wajahnya sepertinya sedang merencanakan


sesuatu.


"Hmm?"


Aku terkejut.


Monica berkata,


"Kamu harus pegang ucapanmu."


"Eh? Oh,


oh."


Aku baru menyadari


gadis kecil itu yang masih memikirkan tuan muda yang tampan.


Monica pergi ke


mejanya dengan bahagia. Namun, saat aku sedang makan ayam, aku teringat mimpi


tadi, gambaran itu terasa nyata, sebenarnya apa itu?


Saat hendak pulang


kerja, Tuan Muda Kelima meneleponku, "Datanglah setelah pulang kerja, aku


akan meminta seseorang mengirim kursi roda untukmu."


Aku menyemburkan teh


di mulutku.


"Tuan Muda, kamu


benar-benar memperlakukanku sebagai orang lumpuh."


Tuan Muda Kelima


mendengus, "Apakah kamu tidak lumpuh?"


Huh! Aku benar-benar


tidak bisa berkata-kata karena tuan muda ini.


Setelah pulang kerja,


seseorang datang menjemputku. Pria itu mendorong kursi roda dan berkata sambil


tersenyum, "Nona silakan duduk."


Aku menatapnya dengan


tajam. Dalam hatiku, aku bergumam, 'Matamu yang mana melihat aku butuh kursi


roda?'


Aku menggunakan kruk,


mengabaikan pria itu dan berjalan menuruni tangga selangkah demi selangkah.


Melihat aku seperti


ini, pria itu mendorong kursi rodanya ke bawah dan ingin datang untuk


memapahku, tapi aku mengabaikannya dan berjalan ke mobil yang dikendarainya.


Aku membuka pintu dan duduk sendiri.


Pria itu datang,


mengambil krukku dan memasukkannya ke dalam bagasi. Dia juga memasukkan kursi


roda itu.


Aku diantar ke

__ADS_1


Apartemen Tuan Muda Kelima oleh pria ini. Aku masuk ke lift sambil menggunakan


kruk, lalu berjalan ke pintu Tuan Muda Kelima dan mengetuk pintu.


__ADS_2