
Candra masih datang menjemputku. Akan tetapi, saat itu aku sudah kembali
ke apartemen Jasmine. Aku dan Denis makan malam bersama Jasmine.
Mobil Candra menunggu di bawah. Aku membawa Denis ke bawah. Ekspresi
Candra penuh dengan rasa bersalah, "Maaf, aku membuatmu menunggu
lama."
Aku berkata, "Tidak apa-apa."
Bagaimanapun Julia adalah putrinya, sudah seharusnya dia pergi
mengunjungi putrinya. Sementara, Julia masih sangat muda dan manja, sudah
menjadi sifat manusia untuk tidak membiarkan Candra pergi.
Candra menatapku dan tidak mengatakan apa-apa.
Kami kembali ke vila. Candra menemani Denis bermain di ruang tamu.
Sedangkan aku pergi ke ruang belajar, lalu menyalakan komputer untuk menulis
naskah.
Saat malam hari, Candra memelukku, dia membenamkan kepalanya di leherku
dan berkata dengan sangat bersalah, "Yuwita, jangan salahkan aku,
ya?"
Aku tahu apa yang dia bicarakan, jadi aku mengulurkan tangan untuk
membelai rambut hitam di belakang kepalanya dan mencium sudut mulutnya,
"Bolehkah kita tidak mengungkitnya lagi?"
Julia adalah pembicaraan yang tabu di antara kami. Jelas-jelas kami tahu
tidak bisa tidak menghadapinya, tapi kami berusaha keras untuk tidak
membicarakannya di depan satu sama lain.
Dalam sekejap mata, setengah bulan berlalu. Perayaan ulang tahun PT. Sinar
Muda pun dimulai. Aku tidak ingin berpartisipasi, karena Tuan Muda Kelima dan
Stella pasti akan hadir di perayaan itu. Aku tidak ingin melihat salah satu
dari mereka. Karena keduanya akan membuatku kesal.
Namun, Candra memintaku untuk menemaninya hadir. Dia berkata setelah
rujuk kembali, ini adalah pertama kalinya kami tampil bersama di depan umum.
Jadi, acara itu sangat penting.
Pada hari itu, aku mengenakan gaun dan sepatu yang dipilih secara
pribadi oleh Candra. Rambutku ditata dengan saksama dan perhiasan yang aku
kenakan juga dipilih dengan cermat olehnya.
Kami muncul di upacara sambil bergandengan tangan. Ada banyak orang
bertepuk tangan, ada juga beberapa orang yang berbisik, "Lihat, wanita
inilah yang merusak pernikahan antara bos dan istrinya. Direktur Stella
benar-benar menyedihkan, suami dirampok oleh wanita."
Stella memegang 10% saham PT. Sinar Muda, jadi sekarang orang-orang ini
memanggilnya Direktur Stella.
"Ya, aku dengar saat wanita ini masih remaja, dia sudah menggoda
bos. Setelah menikah dengan bos, dia tidak melahirkan anak selama beberapa
tahun. Dia juga mengemudikan mobil untuk menabrak Direktur Stella dan Nona
Julia. Kemudian, dia di penjara ...."
Aku mengerutkan kening dan hatiku merasa tertekan. Benar saja. Dalam
hidup ini, walaupun kamu tidak bersalah, pasti akan ada banyak orang yang tidak
bisa bergaul denganmu.
Tidak tahu apakah Candra mendengar gosip ini. Dia tersenyum tipis
seperti biasa, dengan wajah yang cerah. Bahkan dalam perayaan perusahaan, ada
banyak gadis kecil yang mengikutinya.
Aku melihat Stella berdiri di tengah-tengah wanita cantik dan berpakaian
mewah. Dia memegang cangkir, menyunggingkan bibirnya dan tersenyum penuh minat.
Tuan Muda Kelima juga datang. Dia masih memesona dan tampan. Ke mana pun
dia pergi, dia bisa membuat gadis-gadis kecil berteriak histeris.
Tuan Muda Kelima menatapku dengan acuh tak acuh. Senyum muncul di
bibirnya, lalu dia berbalik seolah-olah dia tidak melihatku dan berdenting
gelas dengan gadis kecil yang datang menyapanya.
Candra mengucapkan pidato pembukaan, kemudian pemegang saham berbicara
secara bergantian. Setelah itu, musik dansa dimainkan. Tarian pembuka secara
alami dibawakan oleh Candra. Baru kemudian dia berbicara dengan penuh emosi
sambil memegang mikrofon di tangannya, "Semuanya, sekarang izinkan aku
perkenalkan istriku terlebih dulu."
"Dia berdiri di antara kalian sekarang. Namanya Yuwita. Dia adalah
orang yang paling aku cintai. Tiga tahun lalu, kami berpisah karena salah
paham. Aku bahkan menjebloskannya ke penjara. Setelah tiga tahun, kami akhirnya
kembali bersama. Terima kasih untuk takdir yang mempersatukan kami kembali. Ia
tidak hanya mengirimnya kembali kepadaku, tapi juga membantuku menemukan
putraku yang hilang."
Candra mengulurkan tangannya kepadaku. Aku berjalan mendekat, lalu kami
bergandengan tangan satu sama lain dan berdiri di depan mata semua orang.
Seseorang pertama kali bertepuk tangan, kemudian suara tepuk tangan
menjadi semakin intens.
Setelah tepuk tangan, suara yang sangat sumbang memecah suasana yang
dimenangkan dengan susah payah oleh Candra.
"Bolehkah aku bertanya kepada Pak Candra? Salah paham macam apa
yang membuatmu terpisah dari istrimu dan menjebloskannya ke penjara?"
Suara laki-laki yang merdu ini datang dari seorang lelaki tampan dan
gagah yang berada tak jauh dari barisan depan. Dia memegang gelas anggur di
tangannya dan sudut bibirnya yang tipis menyungging membentuk senyuman sinis
yang bermakna.
Seseorang di antara kerumunan langsung mengikuti, "Ya, bisakah Pak
Candra berbicara tentang salah paham seperti apa itu?"
Seketika, hatiku merasa tegang. Dengan temperamen Candra, dia mungkin
tidak akan berbicara. Bagaimanapun juga, ini adalah privasinya dan sangat
__ADS_1
memalukan untuk menyebutkannya.
Candra sedikit mengernyitkan alisnya dan menatap mata Tuan Muda Kelima
dengan tajam, tapi kemudian dia malah tersenyum, "Beberapa tahun lalu, aku
menghadiri reuni kelas. Tapi, tidak disangka aku dijebak oleh seseorang hingga
berhubungan dengan wanita lain. Hal itulah yang merupakan penyebab
kesalahpahaman. Masalah selanjutnya, aku tidak perlu mengatakan pun semua orang
yang "peduli" denganku pasti sudah mengetahuinya."
Kata "peduli" memiliki makna yang lain.
Namun, Tuan Muda Kelima membuka mulutnya lagi dengan tatapan main-main,
"Bisakah Pak Candra memberi tahu siapa wanita yang berhubungan denganmu?
Apakah mantan istrimu, Direktur Stella? Hanya karena berhubungan dengan
Direktur Stella, Pak Candra menceraikan istri pertamamu dan menikah dengan
Direktur Stella? Dengan begini, Pak Candra tidak terlalu mencintai wanita di
sisimu."
Ada tamu yang terkekeh, Tuan Muda Kelima sepertinya sengaja melawan
Candra. Stella mengerutkan kening. Kata-kata Tuan Muda Kelima membuatnya
sedikit kehilangan muka.
Candra memandang Tuan Muda Kelima dengan penuh arti, "Aku sudah
bilang ada beberapa kesalahpahaman di dalamnya. Sekarang kesalahpahaman sudah
teratasi. Kami sudah bersatu kembali. Jadi, masa lalu sudah tidak penting.
Menurutmu begitu?"
Setelah Candra selesai berbicara, dia mengabaikan Tuan Muda Kelima dan
berkata sambil memegang tanganku, "Mari kita mulai."
Candra mengakhiri pertanyaan tajam itu dengan tenang dan membawaku ke
lantai dansa.
Setelah dansa, terdengar suara tepuk tangan. Candra dan aku meninggalkan
lantai dansa terlebih dulu, kemudian yang lain mulai berdansa berpasangan.
Tidak lama setelah Candra duduk, seorang karyawan wanita datang.
Wajahnya cantik dan dia berkata dengan malu-malu kepada Candra, "Bos,
bisakah aku berdansa denganmu?"
Candra tertegun sejenak. Pada saat itu, dia sulit untuk menolak. Jadi,
dia menatapku untuk meminta bantuan. Aku tersenyum dan mengangkat alisku. Hal
itu berarti lakukan sesukamu saja.
Jadi, Candra mengajak gadis itu menari.
Aku pergi ke kamar mandi. Ketika aku melewati koridor, aku mendengar
suara rendah datang, "Tidak baik melakukan ini. Bagaimanapun, dia juga
istri bos. Bagaimana kita bisa memberinya obat?"
"Kita semua adalah orang Direktur Stella. Direktur Stella telah
memberi begitu banyak bantuan kepada kita. Sudah seharusnya kita membantunya.
Selain itu, dia mencuri bos dari tangan Direktur Stella. Pelacur tak tahu malu
itu merebut suami Direktur Stella. Kita harus memberinya pelajaran dan
membiarkan bos mencampakkannya."
...
Awalnya, mereka berdua yang sudah merasa bersalah. Saat mereka melihatku
lewat, wajah mereka menjadi pucat.
Aku mencibir, "Aku mendengar semua yang kalian katakan."
Aku membuka ritsleting tasku dan mengeluarkan setumpuk uang,
"Kerjakan apa yang aku katakan, masukkan obat yang ingin kalian berikan
kepadaku ke dalam anggur Stella. Kalau tidak, jangan salahkan aku lapor polisi.
Aku sudah merekam apa yang kalian bicarakan."
Aku memegang ponsel dan menggoyangkannya di depan mereka berdua.
Seketika, wajah mereka menjadi pucat pasi. Aku melemparkan setumpuk uang pada
mereka dan berjalan pergi.
Akan tetapi, aku diam-diam memperhatikan gerakan mereka. Benar saja,
keduanya memasukkan obat ke dalam gelas anggur Stella dan bergegas pergi.
Aku memegang gelas anggur seolah-olah tidak ada yang terjadi dan
menyesap anggur itu dengan pelan. Angin sepoi-sepoi menerpaku, lalu ada satu
orang yang berdiri di sampingku.
Wanita itu mengenakan gaun malam pas bodi yang panjangnya menyentuh
lantai. Sekujur tubuhnya ditutupi oleh berlian dan permata, itu adalah Stella.
Stella tersenyum ambigu di sudut mulutnya yang merah. Tangannya memegang
gelas anggur yang telah diberi obat. Kemudian, dia berkata kepadaku dengan nada
puas, "Coba tebak, kalau sesuatu terjadi padamu, apa Candra akan tetap
menginginkanmu?"
Ketika Stella berbicara, matanya menyapu anggur merah di gelasku. Dia
mungkin berpikir anggurku telah diberi obat, tapi dia tidak tahu gelas di
tangannya-lah yang berisi obat.
Aku mengerutkan bibirku dan tersenyum, "Aku tidak tahu apakah
Candra menginginkanku, tapi aku tahu dia sudah tidak menginginkanmu lagi."
Setelah aku selesai berbicara, aku mengangkat alisku pada Stella dan
tersenyum. Aku tidak memedulikan wajahnya yang pucat, lalu berjalan ke lantai
dansa. Saat ini, Candra tidak lagi berada di lantai dansa, dia dikelilingi oleh
beberapa direktur dan klien. Mereka sedang berbicara dengan santai.
Aku berbalik untuk pergi, tapi seseorang menabrak bahuku. Gelas anggur
di tanganku miring dan setengah dari anggur itu tumpah. Aku langsung mengangkat
kepala dan melihat sepasang mata yang indah.
Dia menatapku dengan penuh minat. Bibirnya yang tipis mengembuskan napas
seperti mint padaku, "Ada perkembangan. Pertunjukan bagus yang ingin kamu
lihat akan segera dimulai. Aku juga menantikan reaksi Candra selanjutnya."
Tuan Muda Kelima tersenyum padaku dengan senyum yang menarik, lalu dia
membawa teman wanitanya berjalan pergi.
Hatiku sedikit tertekan. Apakah Tuan Muda Kelima benar-benar tahu apa
__ADS_1
yang aku lakukan pada Stella?
Saat ini, aku tidak sengaja menoleh. Aku melihat Stella tiba-tiba
meletakkan gelas anggur, lalu dia menekan tubuhnya ke seorang direktur yang
berada tidak jauh dengan wajah memerah.
Aku tahu bahwa efek obat itu telah muncul.
Stella melingkarkan lengannya di leher direktur itu dan bibir merahnya
yang halus tidak sabar untuk menyentuh wajah pria itu. Direktur itu terkejut,
tapi kemudian dia terkekeh dan merangkul pinggang Stella. Mungkin lelaki itu
ini adalah keuntungan yang didapatkan secara cuma-cuma, jadi dia memeluk Stella
dan mereka berjalan pergi.
Aku menarik kakiku dan mengikuti mereka. Pertunjukan menarik akan segera
dimulai.
Mereka berjalan sambil berciuman dengan tidak sabar. Meskipun pria itu
masih bisa berpikir jernih dan mengendalikan dirinya, tapi Stella sudah
kehilangan akal sehat karena obat perangsang. Dia hanya ingin membuat dirinya
nyaman. Stella berciuman dengan pria itu sambil melepaskan pakaiannya. Dengan
cepat, mereka memasuki kamar di depan mereka.
Mereka bahkan tidak punya waktu untuk mengunci pintu. hal ini
menunjukkan betapa terburu-burunya mereka berdua. Aku menduga mereka berdua
sedang bermesraan, jadi aku menghentikan pelayan yang lewat, "Pergi dan
beri tahu orang-orang di aula. Nona Stella menghilang."
Pelayan tidak mengerti. Ketika dia mendengar seseorang hilang, dia
bergegas ke aula dengan tergesa-gesa. Setelah beberapa saat, aula menjadi
kacau.
Aku melihat mata jernih Candra sedang mencari sesuatu dengan cemas.
Ketika dia melihatku di pintu kamar, dia menghela napas lega dan berjalan ke
arahku.
"Yuwita, kamu baik-baik saja?"
Orang pertama yang dia pikirkan adalah aku. Aku benar-benar merasa lega,
tapi sebelum aku sempat menikmati kelegaan ini, apa yang terjadi selanjutnya
membuat aku kewalahan.
Saat mendengar suara ******* dari dalam kamar, Candra mengerutkan
kening. Dia dengan santai mendorong pintu hingga terbuka.
Candra membeku karena terkejut, lalu dia berteriak.
Suara ini membuat tubuh pria itu membeku. Ketika pria itu melihat
Candra, dia melompat dari atas tubuh Stella seperti burung yang ketakutan. Dia
mengambil pakaiannya dengan panik dan mengenakannya secara acak, "Pak
Candra, jangan salahkan aku, dia ... dia yang mendekatiku."
Pria itu tiba-tiba menarik diri dari tubuh Stella, Stella bangkit dengan
enggan dan menarik pria itu, "Jangan pergi, lagi ...."
Melihat Stella dalam keadaan tidak menyadari situasi, Candra sudah
menebak apa yang sedang terjadi. Dia mengambil air mineral yang disiapkan untuk
para tamu di kamar, lalu membuka tutupnya dan menuangkannya ke wajah Stella
diikuti oleh botol lain. Stella yang disiram oleh air dingin tampaknya telah
sadar kembali. Dia menatap kami dengan tatapan kosong. Dengan cepat, wajahnya menjadi
sangat terkejut.
Namun, Candra malah meraih pergelangan tanganku dan menarikku keluar.
Napasnya dingin dan tubuhnya juga memancarkan aura membunuh. Ketika dia
menyeretku melewati pintu masuk tangga, dia tiba-tiba berbalik dan menatapku
dengan agresif, "Katakan padaku, apakah masalah ini ada hubungannya
denganmu?"
Aku berkata dengan tenang, "Aku yang meminta orang melakukannya,
tapi dia-lah yang melakukannya terlebih dulu."
Wajah Candra berkedut. Dia menatapku dengan tidak percaya,
"Bagaimana kamu bisa melakukan hal seperti itu? Bagaimanapun, dia adalah
ibunya Julia!"
Aku menatapnya dengan tidak percaya, "Candra, apakah kamu
menyalahkanku? Apakah kamu tahu kalau obat itu tidak aku temukan dan meminta
orang memberikan padanya, yang terbaring di sana sekarang adalah aku!"
Wajah masam dan dingin Candra akhirnya sedikit mengendur, "Aku
seharusnya tidak menyalahkanmu, tapi Yuwita."
Candra memegang pundakku, "Dia adalah ibunya Julia. Kalau hal
seperti ini terjadi padanya, bagaimana Julia bisa menghadapinya? Denis adalah
anakku dan Julia juga anakku!"
Kata-kata sedih Candra membuat hatiku terasa dingin. Aku menepis
tangannya dan berkata dengan nada muram, "Mungkin kalau aku yang berbaring
di bawah pria itu, kamu tidak akan terlalu peduli seperti ini."
Aku mengabaikan Candra dan berbalik dengan putus asa.
Setengah jam kemudian, aku sudah berada di sebuah bar. Terdengar raungan
histeris di telingaku, musik yang keras menggetarkan gendang telingaku. Tanpa
sadar, aku telah minum dua gelas anggur.
Seseorang duduk di depanku.
Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi hanya memiringkan kepalanya dan
menatapku dengan penuh minat.
Aku menyiramkan gelas anggur ketiga ke wajah pria itu, "Maaf
membuatmu melihat lelucon."
Tuan Muda Kelima terbahak-bahak. Tawa itu terdengar lebih menyeramkan di
tengah musik yang keras dan mengaum, "Clara, apa kamu sudah tahu siapa
yang paling dipedulikan Candra? Kalau ada Stella, kamu hanyalah cadangan."
Tuan Muda Kelima bangkit untuk pergi, tapi aku melemparkan botol anggur
ke arahnya dan berteriak, "Bajingan!"
Punggung bawah Tuan Muda Kelima terlempar oleh botol anggur dan sebagian
__ADS_1
besar segera pakaian basah. Dia mengerutkan kening dan berbalik untuk
menatapku, "Main tangan?"