Kelembutan Yang Asing

Kelembutan Yang Asing
##Bab 8 Aku sangat membencimu


__ADS_3

Dia


duduk di sofa seberang dengan rambut yang tertata rapi, tatapan matanya yang


dulu sangat lembut itu sekarang dingin bagaikan es, seketika tubuhku terasa membeku.


Setelah


hampir tiga tahun lamanya, kami bertemu kembali dengan cara yang tidak terduga.


Kejutan,


penyesalan, kemarahan, penghinaan serta semua kerumitan yang aku rasakan tidak


cukup untuk mengungkapkan perasaanku saat ini, ternyata Candra ada di sini.


Tepat


ketika aku mencoba mendekati Tuan Muda Kelima yang misterius ini,


menjelek-jelekkan Candra dan mencoba menghancurkan bisnisnya dengan Tuan Muda


Kelima. Ternyata Candra ada di kamar ini, dia hanya berjarak satu meter dari


tempat tidur dan menyaksikan semua ini dari sofa.


"Kamu


sangat membenciku, ya?"


Tatapan


mata Candra yang dingin bagaikan es tertuju padaku, suaranya rendah seperti


biasa. Tiga tahun kemudian, wajah itu masih tidak menunjukkan tanda-tanda


penuaan, dia malah terlihat lebih tampan dan menawan.


Namun


aku hanya merasa dingin, setiap pori-pori di tubuhku mengeluarkan rasa dingin


yang menusuk tulang.


"Ya,


aku sangat membencimu. Satu-satunya tujuan hidupku adalah membalas dendam


padamu!" jawabku sambil menggertakkan gigi. Aku melompat dari tempat tidur


besar dan bergegas keluar dari presidential suite yang didekorasi dengan mewah.


Aku


tidak tahu apa yang terjadi di antara Candra dan Tuan Muda Kelima, bayanganku


pasti terlihat panik, aku bagaikan seekor tikus yang melarikan diri dari Klub


Pesona Malam.


Di


luar hujan deras dan aku tidak membawa payung, aku langsung menerobos hujan


deras.


Setelah


sampai di apartemen Cindy, sudah jam 1:30 di paruh kedua malam. Tubuhku basah


kuyup dan aku mengambil kunci untuk membuka pintu. Akan tetapi, sebelum kunci


dimasukkan ke dalam lubang kunci, pintu telah dibuka dari bagian dalam dengan


penuh semangat.


"Clara,


dari mana saja kamu? Aku meneleponmu berkali-kali, tapi kamu tidak menjawab.


Aku pikir kamu kecelakaan tahu tidak?"


Cindy


menatapku yang basah kuyup. Kemudian, dia menarikku masuk ke dalam rumah,


"Lihat dirimu, kenapa tubuhmu basah seperti ini? Apa yang kamu


lakukan!"


Cindy


menangis, tangisan itu adalah perhatian dan simpati yang tulus untuk teman


baiknya. Kami adalah saudara terdekat di panti asuhan. Setelah meninggalkan


panti asuhan, kami masih tidak terpisahkan. Selama empat tahun menikah dengan


Candra, kasih sayang antara Cindy dan aku tidak berkurang sedikit pun. Kami


masih saling menghargai seperti sebelumnya.


"Aku


baik-baik saja, aku baru saja kembali dari lembur dan bertemu hujan


lebat,"


Kepulanganku

__ADS_1


yang terlambat dan kehujanan membuat Cindy sangat khawatir, aku merasa sangat


bersalah, tetapi aku tidak akan memberitahunya alasan sebenarnya aku terlambat,


aku tidak ingin dia mengkhawatirkanku. Saat aku keluar dari penjara, Cindy


hanya ingin aku melupakan masa lalu dan memulai hidup baru, tapi dia tidak tahu


bahwa api balas dendam telah berkobar di hatiku.


Semua


itu karena kekejaman dan pengkhianatan Candra serta perbuatan keji Stella yang


membuatku ingin membalas dendam pada mereka, aku ingin melihat nama baik mereka


hancur.


"Kalau


kamu kehujanan seperti ini, kamu akan masuk angin. Aku akan menyiapkan air


untukmu mandi."


Cindy


buru -buru pergi ke kamar mandi. Aku melepas pakaianku yang basah, rok hitam


yang aku kenakan sudah aku ganti di jalan. Saat ini, aku mengenakan kemeja


kerja.


Setelah


berendam di bak mandi, aku merasa tubuhku tidak bertenaga, aku hanya ingin


memejamkan mata dan tidur.


Cindy


menghampiriku sambil membawa segelas air hangat dan obat flu, "Cepat


minum, kalau tidak besok sakitmu akan bertambah parah."


Aku


berdeham, lalu menelan kapsul dingin itu dengan patuh dan meminum setengah


gelas air. Kemudian, aku memejamkan mata dan berbaring kembali di bak mandi.


Cindy


takut aku akan tertidur di dalam bak. Setelah beberapa saat, dia datang


mengetuk pintu. Aku berdiri lalu mengenakan handuk dan melangkah keluar dari


bak mandi.


itu, aku tidak tertidur lelap, aku masuk angin dan bermimpi tentang


pernikahanku dengan Candra dan juga kekejamannya, lalu berganti dengan adegan


disiksa oleh para tahanan wanita di penjara. Semalaman aku terus mengigau.


"Clara?


Clara!" Panggilan Cindy membuatku terbangun dari mimpi burukku.


Saat


aku membuka kelopak mataku yang berat, aku melihat kekhawatiran yang mendalam


di mata Cindy dan garis merah karena belum tidur sepanjang malam.


"Cindy,


ada apa denganku?"


Aku


mencoba untuk duduk, tetapi Cindy menahanku, "Buyutku, kamu mengalami


demam tinggi sepanjang malam, kamu benar-benar membuatku takut setengah mati.


Sekarang akhirnya demammu mereda. Kalau tidak, aku sudah akan menelepon


ambulan."


Aku


menyunggingkan sudut bibirku dan tersenyum, "Aku baik-baik saja. Jangan


khawatir."


Demam


tinggi semalam membuat suaraku serak.


Cindy


menuangkan segelas air hangat, aku meminumnya dan tenggorokanku terasa sedikit


lebih baik.


Sebuah


panggilan masuk dari ponsel Cindy, Cindy pergi untuk menjawab panggilan itu.


Setelah mengatakan halo, dia tiba-tiba berteriak, "Candra, apa yang kamu

__ADS_1


lakukan! Dia tidak akan bertemu denganmu, kamu jangan berharap!"


Cindy


menutup telepon dengan marah, lalu memutari tempat tidur dengan kesal.


Tiba-tiba dia berjalan ke jendela, lalu melihat ke bawah. Dia mengertakkan gigi


dan berkata, "Candra benar-benar datang mencarimu. Clara, biarkan saja


dia. Kemungkinan besar dia tahu kamu sudah keluar dari penjara dan datang untuk


mencari masalah denganmu. Kamu tidak tahu selama beberapa tahun kamu menderita


di penjara, sementara dia dan wanita itu hidup dengan bahagia."


Pelipisku


berdenyut, ternyata Candra datang mencariku, apa yang ingin dia lakukan?


Aku


teringat pertemuan tak terduga di kamar Tuan Muda Kelima tadi malam. Apakah dia


datang untuk memberi pelajaran padaku?


"Cindy,


aku akan turun sebentar."


Tidak


peduli apa yang akan Candra lakukan, aku akan turun untuk menemuinya. Setelah


hampir tiga tahun, saatnya membuat perhitungan padanya.


"Clara!"


Saat mendengar aku akan turun untuk menemui Candra, Cindy terkejut.


"Jangan


khawatir, aku baik-baik saja."


Aku


tersenyum untuk menghibur Cindy. Aku bangkit, lalu mengenakan mantel kerja dan


berjalan keluar.


Candra


berdiri di samping mobil hitamnya. Dia sedang merokok dengan punggung menghadap


ke arahku. Dia memiliki sosok ramping dengan balutan jas yang rapi. Ketika dia


merokok, dia tampak berpikir sambil mengernyit pelan, dia terlihat seperti


seorang pria dewasa.


Jika


beberapa tahun yang lalu, aku akan terpesona dengan penampilannya ini. Aku


pasti akan mendekatinya dan meletakkan tangan di pipinya, "Lelaki tampan,


kamu sangat gagah."


Di


masa lalu, aku melakukan ini dan dia akan memukul kepalaku dengan jari-jarinya


lalu berkata, "Liurmu sudah menetes."


Namun


adegan seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi, aku sangat membenci pria


ini. Aku berharap aku bisa menggunakan belati untuk mengeluarkan hatinya dan


melihat sebenarnya hatinya terbuat dari apa, bagaimana dia bisa begitu tidak


berperasaan?


Aku


mengenakan mantel perusahaan kurir biru muda dengan piyama katun di dalamnya.


Demam tinggi semalam membuat tubuhku lemah. Angin musim semi membuatku sulit


untuk berdiri tegak.


Dia


tampak merasakan sesuatu, saat ini Candra berbalik. Dia melihat aku yang


berdiri tidak jauh, matanya yang jernih menjadi sedikit gelap.


Dia


memegang rokok dengan ujung jarinya yang ramping sambil menatapku dengan dalam,


seolah-olah dia sedang melihat seorang teman lama yang memiliki banyak ikatan


di dalam hidupnya.


Hanya


teman lama.

__ADS_1


"Katakan


saja, syarat apa yang kamu inginkan?" tanya Candra acuh tak acuh.


__ADS_2