Kelembutan Yang Asing

Kelembutan Yang Asing
##Bab 92 Si Cantik Tanpa Kaki


__ADS_3

Tuan Muda Kelima


membuka pintu. Dia mengenakan pakaian rumah kotak-kotak. Dia menunjukkan


ekspresi malas di wajahnya, tapi juga ada ekspresi cemberut di wajahnya. Tuan


muda ini mungkin masih ingat adegan aku mendorongnya turun dari ranjang tadi


malam.


"Aku lapar, ayo


masak."


Tuan Muda Kelima


berbalik dan masuk ke kamar dengan wajah masam.


Aku berdiri di pintu


dengan kruk, "Mau makan apa?"


"Mi."


"Oh."


Aku berbalik untuk


membeli bahan-bahan. Dalam ingatanku, rumah tuan muda tidak pernah memiliki


bahan makanan.


Tuan Muda Kelima


melihat aku hendak pergi, dia menambahkan, "Semuanya sudah dibeli."


Aku menoleh ke


belakang dan melihat ekspresinya masih masam. Sungguh disayangkan wajahnya yang


sangat tampan itu terus-menerus cemberut.


Aku pergi ke dapurnya


dengan kruk dan kakiku sangat tidak lincah. Setelah memilah dan mencuci, aku


memotong bahan-bahannya. Tentu saja, ketika aku melakukan pekerjaan ini, aku


tidak mungkin menggunakan kruk. Aku berdiri menggunakan satu kakiku, bahkan


saat memasak sup juga seperti itu. Kerja keras itu dapat dibayangkan.


Tuan Muda Kelima


berdiri di pintu dapur, bersandar pada pintu dengan bahunya yang lebar sambil


memperhatikanku sibuk dan memikirkan sesuatu.


Saat mi sudah siap,


aku bersusah payah mengeluarkan kuah mi. Alasan kenapa aku bersusah payah


karena aku harus memegang garpu dengan satu tangan dan tangan yang lain


memegang mangkuk. Hanya aku yang tahu seberapa lelah kakiku. Aku bahkan tidak


bisa berdiri tegak lagi.


Melihat kakiku yang


lelah dan gemetar, Tuan Muda Kelima datang, lalu mengambil mangkuk dari


tanganku dan mengambil sayuran yang sudah disiapkan.


Aku mengangkat


tanganku untuk menyeka keringat tipis dari dahiku dan bergumam di dalam hatiku,


'Aku berhutang budi pada tuan muda ini. Kalau tidak, membunuhku pun aku tidak


akan memasak makanan yang melelahkan dengan kakiku yang tidak bisa berdiri


normal.


Harus diketahui Tuan


Muda Kelima sangat pemilih. Setiap kali dia makan makanan yang aku buat, dia


tidak akan pernah lupa untuk menghinaku.


Hal ini juga yang


memberiku tekanan yang tidak terlihat agar aku bisa memasak makanan lebih enak.


Meskipun selera tuan


mudanya benar-benar rumit.


Tuan Muda Kelima duduk


di depan meja makan, lalu memasukkan beberapa hidangan ke dalam sup mi. Setelah


itu, dia menyendok dan makan beberapa suap, alisnya mengernyit semakin


kuat.


"Benar-benar


semakin sulit dimakan, seperti makan kayu."


Sudut mulutku


berkedut. Selera tuan muda ini bukan yang paling rumit, tapi semakin rumit. Mie


yang aku buat dengan bersusah payah, dia bahkan mengatakan seperti makan kayu.


Meskipun hatiku merasa


tidak puas, aku berutang kepada tuan muda ini. Tidak peduli seberapa tidak


puas, aku tidak bisa mengatakannya. Aku hanya bisa diam-diam memelototinya


dengan mata yang tajam bagaikan pisau.


"Lumayanlah.


Siapa suruh ibuku sangat cepat mati. Seumur hidup, aku tidak akan bisa makan mi


buatan ibuku lagi."


Tuan muda ini


merendahkanku sambil makan dengan nikmat. Dengan cepat, semangkuk besar mi


dengan beberapa hidangan pelengkap masuk ke dalam perutnya.


Dia menyampingkan


mangkuk dan garpu, lalu bangkit dan pergi ke ruang tamu seolah-olah tidak ada


yang terjadi.


Setelah dihina


olehnya, aku mengatup bibirku sambil membantunya membersihkan piring dengan


enggan.


Ketika aku selesai


mencuci piring dan kembali ke ruang tamu dengan kruk, Tuan Muda Kelima menoleh


dan tertawa terbahak-bahak.


Tawa ini seketika


membuat emosiku meledak, aku bersandar pada kruk dan berkata, "Apa yang


kamu tertawakan? Belum pernah melihat orang dengan kaki cedera?"


Tuan Muda Kelima tidak


marah padaku, dia hanya tersenyum dan menatap kaki kiriku yang tidak berdaya


dengan tatapan main-main, "Ternyata si cantik tanpa kaki akan terlihat


sangat jelek."


Aku mengumpat.


Mata tajamku

__ADS_1


terus-menerus mengarah pada Tuan Muda Kelima.


Tuan Muda Kelima tidak


menganggapnya serius, dia tertawa jahat sendirian. Aku menghela napas dan malas


untuk memperhatikannya, "Tuan Muda, kalau kamu tidak ada urusan lagi, aku


sudah harus pergi."


Aku mengambil tasku


dan bersiap untuk pergi.


Tuan Muda Kelima


berhenti tertawa, lalu berjalan sambil tersenyum dan mendekatkan wajahnya yang


cantik ke wajahku, "Kamu belum membalas budi kepadaku, bagaimana kamu bisa


pergi?"


Saat dia mengatakan


itu, wajahku memerah.


Jika dia ingin


memintaku membalas budi, juga harus memiliki pikiran seperti itu, tolong,


"Sekarang, aku sedang tidak berniat melakukan itu."


Aku mendengus dengan


kesal, lalu membuka pintu dan hendak pergi, tapi aku nyaris bertabrakan dengan


orang yang hendak masuk.


Hendra, dia datang.


Saat melihatku, Hendra


sedikit mengernyit, "Kenapa kamu ada di sini?"


"Kenapa dia tidak


bisa berada di sini?"


Tuan Muda Kelima


berjalan perlahan, lalu merentangkan tangannya yang panjang untuk merangkul


pinggangku dan meletakkan punggungku ke dalam pelukannya. Dadanya sangat keras


dengan perut berotot dan pria ini masih memelukku dengan kuat, membuat tubuhku


bersandar ke dalam pelukannya. Dengan demikian, aku berdiri di depan Hendra


dengan postur yang sangat ambigu.


Aku sangat canggung,


tapi aku tidak bisa mendorong Tuan Muda Kelima pergi. Tuan muda ini memiliki


temperamen yang sangat aneh. Semakin kita tidak ingin melakukannya, dia akan


semakin memaksanya.


Selain itu, dijamin


dia akan membuat kamu dan orang yang menonton semakin malu.


Alis Hendra sedikit


menegang. Kulitnya awalnya berwarna putih, pada saat ini wajahnya memerah


karena marah dan jari-jari kedua tangan ditekuk. Aku seakan mendengar suara


buku-buku jari yang digenggam kuat, tapi dia berusaha keras menahan emosinya,


"Adik kelima, terserah kamu mau melakukan apa pun pada wanita lain, tapi


tidak untuknya!"


Tuan Muda Kelima


mengangkat alisnya yang tebal dan ekspresinya menjadi semakin marah, "Apa


yang kamu maksud dengan aku bisa melakukan apa pun pada wanita lain? Tapi tidak


dan ingin merampas istri adikmu?"


Tuan Muda Kelima


membuat wajah Hendra menjadi merah, kemarahannya yang dalam hampir meluap. Jika


orang yang mengatakan ini adalah Candra, tinju Hendra pasti sudah melayang


keluar, tapi orang ini adalah Tuan Muda Kelima, Putra tunggal ayah angkatnya.


Hendra menahan amarahnya.


"Adik Kelima,


kalau kamu bukan satu-satunya putra ayah, aku sudah memukulmu sejak tadi."


Tuan Muda Kelima


tertawa, tawanya terdengar jahat dan sombong, "Jadi, apakah kamu masih


mencintainya?"


Kemarahan di wajah


Hendra semakin menumpuk, tinju dengan urat biru sepertinya sudah akan jatuh di


wajah tampan Tuan Muda Kelima. Aku sangat cemas dan tidak bisa membiarkan


keduanya bertarung. Aku juga tidak suka kata-kata Tuan Muda Kelima tentang


"masih mencintainya".


Hendra adalah temanku


dan kakak dari Tuan Muda Kelima. Mereka adalah saudara. Aku tidak bisa melihat


mereka bertengkar.


Aku segera menepis


lengan Tuan Muda Kelima, "Tuan Muda Kelima, Kepala Biro Hendra, kalau


kalian tidak puas, kalian dapat menyelesaikannya sendiri, tapi tolong jangan


biarkan aku terjebak di tengah."


Aku sangat marah. Aku


membuka pintu dan pergi karena tidak ingin menjadi pemicu perkelahian antara


dua bersaudara itu.


Namun, aku baru saja


keluar dari rumah Tuan Muda Kelima, Hendra sudah berbalik dan mengikutiku


dengan langkah besar.


"Kamu sulit untuk


berjalan, aku akan menggendongmu."


"Tidak


butuh!"


Aku dengan marah


menepis lengan Hendra yang terentang.


Hendra melanjutkan


lagi, "Aku memperlakukanmu sebagai adikku, aku tidak punya niat


lain."


Aku berkata dengan


suara nyaring, "Cukup, aku bukan adikmu, aku menghargai perhatian dan


pengertianmu kepadaku, tapi aku sudah dewasa. Aku tahu apa yang aku lakukan.

__ADS_1


Tolong jangan terlalu khawatir tentang apa yang aku lakukan. Aku tahu harus


berbuat apa."


Hendra terdiam oleh


kata-kataku untuk waktu yang lama dan tidak bergerak. Tubuhnya yang kekar


berdiri di sana dengan kaku seolah telah disambar petir. Sementara aku sudah


menekan tombol lift. Saat pintu lift terbuka, aku berjalan dengan kruk.


Namun, ketika aku


keluar dari lift, Hendra masih bergegas keluar dari lift lain.


"Tunggu sebentar,


aku akan mengantarmu."


Dia berjalan sangat


cepat. Saat aku keluar dari gedung, mobil Hendra sudah menepi dan berhenti di


depanku.


"Naiklah, aku


akan mengantarmu."


"Tidak, terima


kasih," kataku dengan dingin. Kepedulian Hendra terhadapku telah membuatku


merasa aneh. Sikapnya ini bukanlah kekhawatiran yang seharusnya dimiliki oleh


teman biasa.


Hendra turun dari


mobil, dia berjalan ke arahku dan berkata dengan sangat lembut dan sabar,


"Tolong percaya padaku, aku benar-benar menganggapmu sebagai adikku."


Aku melihat pria di


hadapanku, dia memiliki fitur wajah yang sangat ramah. Dia juga baik dan kata-katanya


sangat tulus.


"Oke, tapi tolong


kelak jangan ikut campur dalam urusanku."


aku menyerah.


Baru saat itulah


Hendra tersenyum. Dia tampak bahagia, dia membantuku membuka pintu belakang,


lau membantuku masuk mobil dan menyimpan krukku di bagasi.


Hendra mengantarku


kembali ke apartemen. Dia ingin memapahku ke atas, tapi aku menolak, "Aku


bisa melakukannya sendiri."


Dia masih terlihat


khawatir, tapi melihat sikap tegasku, dia tidak punya pilihan selain mengikuti


keinginanku.


Ketika aku memasuki


rumah, Cindy sudah kembali. Dia jarang kembali lebih awal.


Dia duduk di sofa


sambil menyesap secangkir kopi seperti biasa. Dia mengangkat kelopak matanya


dan melirikku, "Kamu pergi mencari Tuan Muda Kelima lagi? Kakimu masih


belum sembuh, tapi kamu tidak beristirahat."


Cindy adalah orang


yang paling tidak merestui hubunganku dengan Tuan Muda Kelima, jadi kata-kata


keprihatinan menjadi sarkastis.


Aku meletakkan krukku


di sudut pintu, lalu melompat dengan satu kaki ke sofa dan duduk di samping


Cindy, "Jangan khawatir, antara aku dan dia tidak terjadi apa pun."


Cindy menghela napas,


"Bagaimana dengan kemarin? Kalau aku tidak kembali kemarin, bukankah


kalian akan bermesraan bersama?"


Sudut mulutku


berkedut, Cindy benar-benar menggunakan kata bermesraan untuk menggambarkan


masalahku dengan Tuan Muda Kelima kemarin.


Cindy berkata,


"Aku hanya tidak ingin kamu terlalu bebas. Tuan Muda Kelima adalah orang


yang pemarah. Dia tidak akan bisa menjadi pasanganmu. Clara, kamu harus tetap


sadar."


Cindy berbicara , dia


menepuk dahiku dengan jarinya. Cindy adalah orang yang sangat cerdas, dan dia


dapat melihat orang dengan sangat akurat, kecuali ketika dia bersama Dean,


matanya ditutup oleh saus anggur.


"Baik, aku


tahu."


Aku tidak ingin Cindy


mengkhawatirkanku, jadi aku harus berjanji padanya dulu.


Cindy berkata,


"Aku akan melakukan perjalanan bisnis besok. Aku akan kembali dalam dua


minggu. Beberapa waktu ini bisakah kamu menjaga dirimu sendiri? Kalau tidak,


bagaimana kalau kamu tinggal bersama Jasmine selama beberapa hari?"


Aku mengerutkan


kening. Memang sedikit sulit untukku mengurus diri sendiri. Aku tidak bisa


melakukan banyak hal sendiri, tapi aku tidak ingin merepotkan Jasmine, jadi aku


tersenyum dan berkata kepada Cindy, "Jangan khawatir, siapa aku? Aku


adalah orang yang serba bisa. Hanya mengurus diri sendiri selama beberapa hari.


Tidak apa-apa, jangan khawatir."


Cindy akhirnya


tersenyum padaku.


Keesokan harinya di


pagi buta, Cindy pergi ke bandara. Aku melihatnya pergi dari jendela, kemudian


pergi untuk menyiapkan sarapan untukku. Saat ini, aku baru melihat lemari es


penuh dengan semua jenis makanan.


Cindy, Cindy-ku yang


baik. Bagaimana aku bisa membalasmu dalam hidup ini? Alangkah baiknya jika aku


memiliki kakak lelaki. Aku akan menjadikanmu iparku. Pikiranku menjadi liar,

__ADS_1


jika Cindy adalah kakak iparku dan meminta kakakku merawatnya, maka aku akan


merasa tenang.


__ADS_2