Kenangan Pahit Di Paris

Kenangan Pahit Di Paris
Yovita Dan Faris


__ADS_3

Suara jeritan memenuhi kamar yang luas penuh dengan pakaian yang berserakan. Yovita tidak menyangka dirinya saat ini sendirian dalam keadaan yang berantakan.


''Apa yang terjadi denganku?" tanya ya linglung.


Yovita terus mencari tahu apa yang terjadi dengannya namun sama sekali tidak ada jawabannya.


Ia hanya mengingat kalau dirinya kemarin menyusuri kota Paris setelah itu tidak tahu apa yang terjadi.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh siang iya keluar dengan wajah yang menunduk tidak berani melihat sekelilingnya.


''Nona, anda mau kemana?" tanya petugas resepsionis.


''Saya mbak?" tunjuk Yovita sambil membalas petugas tersebut menggunakan bahasa english.


''Ya Nona, anda jangan keluar sebelum Tuan datang,'' cegahnya.


''Tuan? Masuk anda apa Mbak?" tanya Yovita memberanikan diri karena dia ingin mengetahui siapa yang melakukan ini kepadanya.


''Itu Nona, dia adalah pemilik hotel ini,'' tunjuknya ke arah depan karena sebuah mobil berhenti di sana.


''Pemilik hotel?" Yovita melihat nama hotel tersebut kedua bola matanya terbelalak.


''Paris?" pekiknya.


Yovita terburu-buru langsung meninggalkan tempat tersebut tidak peduli petugas resepsionis terus memanggilnya.

__ADS_1


''Nona, anda mau kemana?" panggilnya.


''Kau memanggil siapa?" tanya Faris tiba-tiba muncul di hadapan petugas tersebut.


''Maaf Tuan, saya tidak bisa menjaga wanita yang anda amanat kan kepada saya,'' lirihnya.


''Wanita? Wanita mana yang kau maksud?" tanya Faris tidak mengerti.


''Kamar 6078 Tuan,'' jawabnya.


''Biarkan saja dia pergi.'' Faris langsung meninggalkan tempat itu karena harus banyak mengurus sesuatu di dalam sana sebelum kembali ke tanah air.


''Oh selamat,'' batin petugas resepsionis itu.


Faris sudah tiba di kamar yang diinginkannya ternyata langkahnya berhenti tepat dia semalam menghabiskan malam bersama dengan wanita.


''Sudah Tuan, wanita yang menginap semalam di sini sudah keluar beberapa menit yang lalu,'' jawab manager hotel.


''Kalian pergilah aku bisa sendiri!" usir Faris.


Setelah tidak ada siapapun di sana, Faris masuk ke kamar itu dan melihat sekelilingnya.


Pria itu menyapu semua ruangan tersebut yang kembali sedia kala namun tatapannya tertuju bawah kolong meja.


''Ponsel?" tanya Faris.

__ADS_1


Faris keluar dari sana sambil membawa ponsel tersebut setelah itu kembali ke kamar yang dia tuju.


''Periksa ponsel ini!" perintah Faris kepada sekretarisnya.


''Baik Tuan,'' jawab sekretaris Faris.


Faris membayangkan ingatannya kemarin malam telah tidur bersama dengan wanita asing.


''Siapa wanita itu sampai bisa masuk ke kamarku?'' batin Faris.


Faris tidak menyukai ada yang memanfaatkan keadaannya kalau dalam keadaan lemah.


Dia begitu benci terhadap wanita yang rela melakukan apapun hanya demi menginginkan dirinya.


''Aku tidak akan mengampuninya kalau dia bersalah,'' geram Faris.


Sementara itu Yovita terus bergegas menyusuri jalan raya pikirannya tidak fokus mengingat kejadian kemarin malam menimpanya.


''Faris? Pria itu kan orangnya kejam dan tidak mau bertanggung jawab kalau bukan keinginannya,'' batin Yovita.


Yovita terus bergegas meninggalkan kota itu tujuannya saat ini kembali ke tanah air karena gagal melakukan liburan di kota yang indah ini. Namun liburannya kali ini hancur tidak sesuai dengan keinginannya.


Seorang diri berada dalam pesawat dengan perasaan yang kacau, Yovita tidak bisa membayangkan dirinya saat ini sudah tidak suci lagi.


Paris adalah buktinya kalau dia sudah tidak bersih apalagi semua ini terjadi bukan keinginannya seorang.

__ADS_1


''Aku benci kota Paris?" tangisnya sesenggukan.


__ADS_2