
Mereka berdua tidak menyadari kalau nenek memperhatikan dari belakang. Wanita tua itu yakin kalau Ali adalah yang membuat Yovita berbadan dua.
''Kalian ikuti mereka ke mana pergi!" perintah nenek.
''Baik Nyonya,'' jawab satpam tersebut.
Ali dan Yovita menggunakan motor milik keluarganya tanpa sepengetahuan nenek.
Mereka berdua terlihat seperti sepasang suami istri tidak ada yang mencurigai kalau mereka adalah majikan dan pembantu.
Yovita senang sekali melihat begitu banyak menjual martabak di sepanjang jalan.
''Nona gimana?" tanya Ali karena mereka sudah terlalu lama keluar.
''Di depan Akang,'' tunjuk ya.
''Baik nona.'' Ali kembali melanjutkan motor itu sambil memperhatikan sekelilingnya.
Yovita turun sambil melihat menu di sana memang banyak jenis rasanya.
''Mbak, yang ini dua porsi ya.'' Ali baru aja selesai mematikan motor terkejut mendengar ucapan Yovita.
''Kenapa banyak sekali nona?" tanya Ali.
''Aku dan kamu yang memakan ya,'' jawab Yovita pelan.
__ADS_1
''Ali tidak mau nona, anda saja yang memakannya,'' tolak Ali.
''Bagaimana kak berapa porsi jadinya?" tanya penjual martabak itu.
''Tetap dua porsi mbak.'' Ali tidak bisa berkutik dia mengikuti yang dikatakan Yovita.
''Baiklah,'' ucapnya pasrah.
Yovita dan Ali menghabiskan martabak itu di tempat bahkan mereka sesekali tertawa terbahak-bahak melihat pengunjung yang begitu ramai.
''Nona menyukai tempat ini tidak?" tanya Ali.
''Suka, penduduknya begitu rahma sekali akang,'' jawabnya.
''Memangnya di kota bagaimana nona? Orang-orang di desa ini niat sekali menuju ke kota untuk mengadu nasib,'' ucap Ali.
Martabak keju itu secara perlahan sudah mulai habis bahkan Yovita menambah satu porsi tanpa sepengetahuan Ali.
''Akang mau lagi.'' Ali terbelalak melihat martabak itu baru matang langsung dimakan Yovita.
''Nanti perut nona sakit karena terlalu banyak makan?" tanya Ali.
''Aku masih lapar akang.'' Ali tidak bisa berpikir lagi dia hanya melihat isi kantong ya uang yang dia pegang hanya sedikit.
''Aduh bagaimana nanti kalau harganya tidak sesuai uang yang kubawa?" batin Ali.
__ADS_1
''Akang sedang melamun apa?" tanya Yovita.
''Tidak ada nona,'' bohongnya.
''Mbak berapa semuanya?" tanya Yovita.
''Lima puluh ribu mbak.'' Ali terbelalak mendengar harganya padahal uang yang dia bawa hanya dua puluh ribu.
''Aku saja nona yang membayarnya,'' ucap Ali dengan cepat.
''Tidak perlu akang,'' tolak Yovita.
''Ali bisa membayarnya.'' Yovita akhirnya mengalah dia menunggu Ali di motor.
''Mbak saya hanya memiliki uang segini tapi besok saya akan kembali datang ke sini untuk membawa lebihnya, maaf mbak saya tidak tahu kalau majikan saya menginginkan martabak begitu banyak,'' ucap Ali merasa bersalah.
''Tidak apa-apa kak, saya mengerti dengan posisimu.'' Ali tenang ternyata penjual martabak orangnya baik.
''Saya janji besok akan datang ke sini mbak.'' Penjual martabak itu hanya mengangguk lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.
Setelah mereka berdua meninggalkan tempat itu orang suruhan nenek yang selalu memantau mereka dari belakang mendekati penjual martabak.
''Tadi sepasang anak muda datang ke sini makan martabak katanya kurang uang ya?" tanyanya.
''Ya itu benar sekali sekali yang siapa pak?" tanya penjual martabak itu heran.
__ADS_1
''Terima kasih sudah mau memberikan martabak itu kepada mereka ini uang yang kurang tadi.'' Penjual martabak itu terbelalak melihat nilai nominal uang itu sudah membuatnya bisa membangun rumah.