
Yovita semakin bersalah kepada kedua orang tua ya, semenjak kehamilannya kasih sayang mereka semakin berlimpah.
Tangisannya semakin kencang tidak tahu harus jujur atau tidak.
"Yov, belum siap nak?" tanya ibu sambil hampiri Yovita sedang enak berbaring.
"Males Bu, Yovita masih ingin tinggal bersama nenek," jawab ya.
"Study kamu selanjut ya bagaimana nanti nak?" Yovita baru ingat dia kemarin daftar kan diri jadi siswa baru ambil jurusan akuntansi.
"Kalau sudah puas main di sini, Yovita akan secepatnya balik Bu," ucap Yovita sambil tersenyum.
"Baiklah sayang, ibu dan ayah akan nantikan kamu di rumah." Ibu Yovita mengusap kepala putri ya itu.
"Maaf kan Yovita Bu," batin ya lalu ia langsung memeluk wanita paruh baya tersebut.
Yovita mengantar kedua orang tuanya sampai ke masuk ke dalam mobil. Sama dengan Ali ikut hantarkan majikannya itu sambil memasukkan barang bawaan bagasi.
"Ayah dan ibu akan merindukanmu sayang," ucap ayah sambil memeluk Yovita.
"Maafkan Yovita ayah, di sini terlalu menyenangkan ketimbang kota," kekeh ya.
"Dasar kamu ya udah berani goda-goda ayah." Mereka tertawa lepas lalu kedua orang Yovita pamit kepada nenek sedari tadi terharu melihat putra dan cucu ya itu saling mengasihi.
__ADS_1
"Bu, kami pergi ya titip Yovita. Kalau dia nakal suruh aja jaga ternak kita," bisik ayah Yovita.
"Ayah," rengek Yovita.
"Maaf, ayah harus mengatakannya sayang biar putri kecil ku ini tidak hanya main aja di tahu." Kembali semua tertawa lepas akhirnya ayah dan ibu Yovita berangkat.
"Kalian dua ayo masuk ke dalam," ajak nenek.
"Maaf Nyonya, saya masih ada pekerjaan di sawah," tolak Ali halus.
"Yovita ikut akang ya, nenek kami pergi dulu," pamit Yovita.
"Jangan larut pulang ya sayang," pesan nenek.
"Kenapa Mbak tidak ikut pulang ke kota?" tanya Ali.
"Aku sudah nyaman tinggal di sini kang, entah kenapa desa adalah tempat paling menyenangkan," ucapnya sambil tersenyum.
"Tapi di kota adalah surga ya Mbak," lanjut Ali.
"Kang, kota itu tidak seindah desa ini. Aku ingin tinggal sini selamanya." Ali menaikkan alis ya.
"Orang sini justru ingin ke kota, Mbak Yovita malah mau ke sini," batin Ali.
__ADS_1
Mereka akhirnya tiba di sawah, Yovita merasakan kelelahan karena jalan kaki. Kondisinya saat ini berbadan dua membuatnya mudah lelah.
"Mbak haus ya, Ali bawa minuman," tawarnya.
"Oh kamu baik sekali kang." Yovita menerima lalu habiskan sampai setengah.
"Mbak lapar tidak?" Ali kembali mengeluarkan makanan ringan dia bawa langsung dari rumah.
Senang hati Yovita langsung menerima ya dan memakan hampir setengah.
"Enak kang," ucapnya belepotan.
"Ini kan hanya kue ubi saja, masa sih enak?" gumam Ali.
Yovita tiba-tiba mual lalu memuntahkan makanan baru aja masuk ke dalam mulut ya.
"Perutku astaga," ucapnya lemas.
"Mbak tidak apa-apa?" tanya Ali khawatir.
"Aku baik kang, tadi tersedak habisnya enak," bohong Yovita padahal ia baru ingat tidak bisa memakan ubi karena kehamilannya.
Yovita berusaha agar Ali tidak mengetahui kondisinya saat ini, cukup hanya ia seorang tahu menunggu waktu yang tepat memberitahukan ke dua orang tua ya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, aku belum bisa menerima amarah kedua orang tua ku kalau mereka tahu yang sebenarnya," batin Yovita.