
Yovita dan Ali kembali mengelilingi desa yang disuguhi pemandangan yang begitu indah.
Sesekali tanpa disadari Yovita kalau Ali dari tadi memperhatikannya. Senyuman Yovita membuatnya sampai jatuh hati tidak bisa memalingkan pandangannya.
''Mbak Yovita, kapan balik ke Bandung?" tanya Ali.
''Aku tidak tahu Kang, tergantung ayah dan ibu,'' jawab Yovita sambil bermain air langsung dari sumbernya.
''Oh gitu,'' angguk Ali.
''Akang mau ikut dengan Yovita tidak ke Bandung?" tawar Yovita.
''Andaikan bisa aku ikut namun siapa nanti yang menjaga ternak ini mbak?" Yovita berpikir betul juga apa yang dikatakan Ali.
''Nanti aku cerita kepada ayah ya kang,'' seru Yovita.
''Tidak perlu Mbak, saya sudah betah tinggal di sini bersama dengan ternak.'' Yovita melihat wajah Ali yang begitu tulus menjaga ternak keluarganya.
''Kamu baik sekali Ali, ayah sangat bangga memilikimmu.'' Ali menjadi salah tingkah melihat wajah Yovita yang begitu cantik sekali.
''Mbak, mau melanjutkan perjalanan tidak?" alih Ali.
''Ada tempat yang lebih indah dari sini tidak kang?" tanya Yovita begitu antusias.
__ADS_1
''Ada, tapi cukup jauh mbak masuk sanggup jalan?" tanya Ali memastikan Yovita.
''Kalau tidak sanggup ada kang Ali,'' kekeh ya.
Ali melihat senyuman Yovita yang begitu manis indah membuatnya bahagia saat ini.
''Apa yang kau pikirkan, Ali?" gusarnya.
Mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan menyusuri desa yang masih asli wilayah itu.
''Mbak, kita sudah sampai,'' ucap Ali lalu mau ngambil dedaunan untuk membuat alas duduk Yovita agar dia tidak kotor.
''Ali, kau benar-benar membawaku ke tempat yang indah, aku tidak menyangka terima kasih ya.'' Yovita refleks langsung memeluk Ali begitu saja hingga membuat pria itu tertegun.
''Maaf ya Kang, aku tidak sadar melakukannya,'' ucap Yovita.
''Tidak apa apa mbak, Ali senang kok,'' ucapnya tanpa sadar.
''Apa?" tanya Yovita.
''Maksud Ali andaikan saja mbak melakukan itu kepada suami sendiri bukan kepada pria sepertiku,'' ralat Ali.
''Kau bisa saja kang, sampai sekarang aku tidak ada kepikiran untuk menikah.'' Ali mengikuti Yovita duduk namun dia memilih di tanah.
__ADS_1
''Kenapa mbak, maaf Ali banyak bertanya?" tanya Ali penasaran.
''Untuk apa meningkat cepat-cepat kalau tidak harus tujuan yang mau diraih kang, aku bukannya tidak menginginkan pernikahan tapi alangkah lebih baiknya kalau pernikahan itu sekali seumur hidup dilakukan, ya kan?" Ali mengangguk dia juga berpendapat seperti itu hanya saja wanita dalam hidupnya sampai sekarang belum mau menerimanya.
''Tapi kalau ada pria yang mengatakan itu kepada mbak sekarang bagaimana?" Yovita menoleh ke arah Ali.
''Tergantung kang, terkadang para pria tidak seperti yang kita pikirkan.'' Ali semakin tidak memahami yang dikatakan Yovita.
Yovita berdiri karena ingin turun ke bawah mengambil foto untuk diabadikan.
''Kang, bisa bantu aku?" Yovita memberikan ponsel ya kepada Ali.
''Tentu mbak,'' balas Ali.
Mereka berdua sampai melupakan waktu baru kembali ke desa.
Kedua orang tuanya bahkan khawatir mengenai Yovita sampai sekarang belum kembali.
''Ayah, Yovita kenapa lama sekali pulang?" tanya ibu terus melihat sekelilingnya berharap putrinya itu muncul.
''Tenanglah Bu. Yovita bukan anak kecil lagi dan yang membawanya ayah menjamin dia menjaga putri kita dengan baik,'' balas ayah ngambil menenangkan istrinya itu.
''Ayah, ibu, kenapa di luar?" Yovita tiba-tiba muncul bersama dengan Ali.
__ADS_1