
Yovita ketiduran di sawah tidak tahu kalau Ali sudah selesai menjaga ternak. Pria itu puas melihat wajah cantik Yovita yang begitu natural.
Sebagai pria dewasa dia tertarik terhadap wanita di hadapan ya ini.
"Kalau kami dua menjadi suami istri, bagaimana ya?" kekeh Ali.
"Akang mau jadi suami Yovita?" Ali spontan mundur malu karena ketahuan bicarakan Yovita.
"Maaf Mbak, Ali tidak bermaksud," ucap ya merasa bersalah.
"Padahal aku serius lho akang." Ali jadi salah tingkah karena melihat senyuman manis Yovita.
"Mbak, sudah waktu ya kembali ke desa," alih Ali.
"Aku tidak kuat kang jalan," lirih ya.
"Aku tidak bawa motor Mbak," ucap Ali gugup.
"Gendong kang," pinta ya manja.
"Apa?!" Ali terbelalak mendengar permintaan Yovita.
Pada akhirnya Alu memenuhi permintaan Yovita walaupun dia merasa canggung.
"Jantung tolong kondisikan," batin Ali sambil berusaha tenangkan diri.
Yovita begitu senang sekali di gendong Ali tidak segan-segan kedua tangan ya ia alungkan ke leher pria itu.
__ADS_1
"Kang, sudah punya pacar belum?" tanya Yovita.
"Apa? Oh itu Ali belum pernah pacaran Mbak," balas Ali gugup.
"Serius kang?" tanya Yovita.
"Ya Mbak," ucapnya jujur.
"Pernah menyukai wanita belum kang?" pertanyaan Yovita membuat pria itu berkeringat dingin.
"Pernah Mbak." Ali semakin berkeringat hingga akhir ya mereka tiba di desa Yovita turun karena tidak mau warga berpikiran tidak-tidak kepada mereka berdua.
"Makasih banyak ya akang," ucap Yovita senang.
"Sama-sama Mbak," balas Ali gugup.
Mereka berdua berpisah Ali senyum-senyum sendiri karena dia adalah pria pertama yang bisa gendong Yovita.
"Ya Pak," jawab Ali langsung masuk ke dalam kamar ya.
"Apa ada sesuatu terjadi dengan putra kita ya Pak?" tanya ibu Ali heran.
"Biarkan putra kita seperti itu Bu," tambah Pak Ali.
Ali bahagia hari ini berbeda dengan Yovita kembali sedih karena dia tidak bisa makan makanan yang tersaji di meja makan.
"Kenapa tidak di makan nak?" tanya nenek.
__ADS_1
"Yovita tidak berselera nek," jawab Yovita pelan.
"Kenapa? Makanannya tidak enak ya?" Yovita geleng-geleng kepala.
"Pelayan, masak ikan bakar sepertinya Yovita menginginkannya," perintah nenek.
"Baik Nyonya," sahut nenek.
"Kog nenek tahu Yovita ingin makan ikan bakar?" tanyanya polos.
"Nenek juga pernah seperti kamu nak, bahkan ibu mu juga." Yovita diam sesaat, setelah melihat ikan bakar kedua bola matanya berbinar.
"Nenek memang tahu apa yang aku inginkan," ucap Yovita langsung lahap ikan bakar.
Nenek memejamkan kedua bola matanya berharap apa saat ini dugaannya tidak benar.
"Nenek istirahat duluan ya Nak," pamit nenek.
"Ya nek, selamat malam." Nenek meninggalkan meja makan tapi melihat sekilas Yovita masih menikmati ikan bakar tersebut.
Nenek termenung sendirian dalam kamar memikirkan perubahan terhadap Yovita tiap pagi mual diam-diam dalam kamar mandi.
Hanya ada dua kamar mandi rumah ini karena keinginan nenek.
Wajah Yovita pucat tiap pagi bahkan ia tidak selera makan cukup buah-buahan.
"Yovita, bisa bawakan nenek daging sapi rendang sayang ke kamar nenek?" ucap nenek.
__ADS_1
"Ya nek, sebentar Yovita ambilkan," sahut Yovita langsung ke dapur tanpa menaruh curiga sedikitpun terhadap nenek.
"Nenek akan buktikan nak kalau kau saat ini tidak hamil," ucap nenek sambil memejamkan kedua bola matanya yang sudah terlihat keriput karena usia telah memakannya.