Kenangan Pahit Di Paris

Kenangan Pahit Di Paris
Desa Tanah Air


__ADS_3

Yovita berusaha memejamkan mata menahan diri agar tidak menangis terus. Hampir satu jam ia terus gelisah akhirnya bisa terlelap hanya beralaskan tikar dan selimut tipis.


Ali masuk terkejut melihat Yovita sudah tidur namun selimut itu telah turun nyaris tidak menyelimuti seluruh tubuhnya.


Pria itu memperbaikinya hati-hati agar Yovita tidak terusik, Ali melihat wajah Yovita yang lelah kasihan karena hidupnya mulai sekarang akan dimulai dari nol.


Ali merenung sendirian sambil memikirkan bagaimana mereka akan hidup selanjutnya. Dia melihat uang hasil pemberian nenek cukup untuk mereka satu tahun ini kalau hidup hemat.


Tiba-tiba lamunannya buyar karena mendapatkan pesan dari nenek.


"Kalian pergi ke desa tanah air di sana nenek menyediakan fasilitas untuk kalian dua. Besok akan ada kurir memberikan kalian identitas baru." Ali memejamkan mata nenek masih baik kepada mereka sampai saat ini dibantu.


"Baik Nyonya," balas Ali.


Pria itu merasa lega sedikit lalu dia ikut memejamkan mata karena perjalanan mereka esok masih panjang.


Tengah malam Yovita bangun karena merasa lapar apalagi dalam keadaan seperti ini dia butuh makanan.


Dia menuju ke dapur semua kosong karena belum mengisi apapun.


"Aku lapar," tangisnya sesenggukan.


Ali baru memejamkan mata terusik dia bangun tapi tidak melihat Yovita sana.


"Nona, di mana?" pekik ya.


Namun suara tangisan itu semakin terdengar Ali langsung bergegas menuju ke dapur. Dia benar-benar terkejut melihat Yovita menangis sesenggukan sambil memeluk tubuhnya.


"Apa yang anda lakukan di sini nona?" tanya Ali pelan.


"Jangan menggangguku akang." Yovita langsung berdiri namun suara perutnya menarik perhatian Ali.


"Tunggu nona!" tahan Ali.


"Kau mau apa akang? Aku mau tidur?" sentaknya.


Ali tertegun melihat Yovita galak tapi dia tetap menyakini mood ibu hamil kapan saja bisa berubah-ubah. Dia tahu karena kadang membantu warga desa melakukan pemeriksaan.


"Ayo kita cari makan nona. Ali ingin makan mie pedas di pinggir jalan tadi ada warung buka dua puluh empat jam," ajak Ali.


"Aku tidak lapar," tolak Yovita padahal dia sangat ingin makan itu.


"Baiklah, Ali keluar sebentar ya nona." Ali berpura-pura melangkah keluar agar Yovita ikut dengannya.


"Aduh kenapa jadi seperti ini sih, mie pedas enak sekali," batinnya sambil telan ludah.

__ADS_1


"Nona, ikut atau tidak?" panggil Ali lagi.


"Ya tapi hanya cari angin saja," ucapnya sambil mengalihkan pandangannya ke arah samping.


Ali ingin sekali tertawa tapi dia urungkan karena tidak mau membuat Yovita marah.


Mereka berdua menyusuri jalan raya mulai padat karena warga sudah banyak bangun.


"Akang mau beli mie pedas tapi warungnya tutup!" ucap Yovita dia kecewa karena mulutnya sudah ingin makan itu.


"Bukan di sini tapi itu," tunjuk Ali ke depan.


"Oh astaga malu sekali," jerit Yovita langsung menundukkan wajahnya.


Ali gemas melihat wajah wajah Yovita dia langsung memesan mie pedas porsi tiga orang. Belajar dari martabak keju dia tidak mau malu lagi.


Yovita sibuk melihat orang-orang sudah bekerja padahal waktu masih menunjukkan pukul empat pagi.


Dia sedih ternyata banyak sekali orang-orang luar sana kesusahan berbeda dengan dia memiliki segalanya dahulu. Cinta, kasih sayang dan perhatian khusus dari orang yang membuatnya sangat bahagia.


Semua itu sirna bahkan nasibnya kedepannya dia tidak tahu apalagi kehadiran baby membuatnya sulit berpikir.


"Sudah siap nona kita kembali ke kontrakan." Ali heran tidak ada jawaban.


Ali melihat manik mata Yovita memandangi anak-anak sedang cari uang bantu kedua orang tuanya berdagang.


Tidak ada mengatakan apapun Yovita tiba-tiba meninggalkan tempat itu. Ali menghela nafas dia mengikuti dari belakang sambil membawa tiga bungkusan mie goreng pedas.


Setibanya di kontrakan Yovita batu menyadari dia telah meningkatkan Ali di warung itu.


"Akang Ali?!" pekik ya tiba-tiba langsung berbalik namun tubuh mereka berdua bertubrukan.


"Hati-hati nona," ucap Ali sambil menahan sakit pada hidungnya.


"Maaf, aku tidak sengaja," rutuknya.


Aku masuk ke dalam mengambil piring hanya satu juga sama sendok. Dia senyum-senyum sendiri karena bisa bersentuhan dengan Yovita.


Rasa sakit pada hidungnya tidak dia rasakan lagi ternyata cinta bisa membuat siapapun lupa akan segalanya.


Yovita berbinar melihat mie goreng pedas sudah tersaji di hadapannya.


"Mari nona!" Yovita langsung mengangguk dia benar-benar sudah tidak tahan ingin habiskan semuanya.


Ali telan ludah melihat cara makan Yovita makan perasaannya sakit wanita yang dia cintai itu harus merasakan ini semuanya.

__ADS_1


"Aku janji akan lindungi anda nona bahkan pria yang sudah membuatmu seperti ini akan kuberikan pelajaran," batin Ali.


Selera makan mie goreng pedas hilang hanya melihat wajah Yovita yang dia sudah merasa kenyang.


"Aku kenyang akang," ucapnya jujur.


"Mau nambah nona!" Ali sodorkan mie goreng pedas miliknya belum sempat disentuhnya.


"Bolehkah?" tanya Yovita malu.


"Ya, semua ini saya beli untuk nona." Yovita baru sadar sudah terus menyusahkan Ali.


"Akang boleh Yovita mengatakan sesuatu?" tanyanya serius.


"Apa itu nona?" balas Ali penasaran.


"Akang dapat dari mana uang beli ini dan kita juga bisa tinggal rumah kontrakan?" Ali diam tak mungkin menjawab semua ini dapatkan dari nenek.


"Ali memiliki tabungan nona cukup untuk kebutuhan kita kedepannya." Yovita terbelalak mendengar perkataan Ali.


Dia benar-benar bodoh manja ingin makan itu dan ini padahal keuangan mereka tidak bagus.


"Maaf, seharusnya aku mengerti keadaan ini," lirihnya.


"Tidak apa-apa nona, apapun yang anda inginkan katakan saja kepada Ali." Yovita menaikkan alisnya.


"Apapun? Akang jangan bercanda aku sudah mengenalmu dari dulu sampai sekarang," ucapnya pelan.


"Nona pasti takut kami tidak memiliki uang," batin Ali.


Mereka berdua saling diam sibuk dengan pikiran masing-masing sampai ali sadar dia harus memberitahukan kepada Yovita rencana mereka meninggalkan tempat ini.


"Nona, ada yang ingin Ali sampaikan," ucap Ali pelan.


"Apa itu akang?" tanya Yovita penasaran.


"Kita tinggal di desa tanah air bukan di sini aku, temanku yang menunjukkan tempat itu cocok untuk kita tinggali." Yovita semakin sedih dia harus semakin jauh dengan keluarganya.


"Tidak boleh kah kita tinggal di sini akang," lirihnya.


"Warga di sini masih banyak mengenal kita nona, saya tidak mau mendapatkan kita nantinya bermasalah." Yovita mengangguk mengerti benar sekali yang dikatakan Ali.


"Aku mau pamit kepada nenek akang, saat ini beliau pasti syok tahu keadaanku saat ini," lirihnya.


"Kita tidak memiliki waktu nona. Pagi ini juga kita harus ke terminal mengejar bus trip pertama." Yovita semakin lemas memikirkan kehidupannya sekarang.

__ADS_1


Ali siap-siap mengemasi barang-barang yang dia bawa sekaligus punya Yovita karena wanita itu tidak pernah melakukan itu sendirian.


__ADS_2