Kenangan Pahit Di Paris

Kenangan Pahit Di Paris
Hidup Di Kota


__ADS_3

Yovita memejamkan kedua bola matanya karena tidak kuat menahan guncangan dalam mobil.


Wajahnya bahkan terlihat pucat pingin mengeluarkan sesuatu dari mulutnya lagi.


''Aku tidak kuat, kalau aku mual ibu dan ayah pasti semakin curiga denganku?" batin ya.


''Nak, kenapa wajahmu pucat?" tanya ibu tidak sengaja menangkap wajah Yovita.


''Mungkin karena kelelahan kali Bu. Habis dari kampus langsung ke rumah nenek,'' potong ayah.


''Benar ya sayang?" tanya ibu sambil mengusap punggung Yovita.


''Ya Bu, Yovita minta maaf karena sudah mengacaukan perjalanan,'' lirihnya.


''Sudahlah Nak, hal seperti ini sudah biasa.'' Yovita menjatuhkan kepalanya ke pundak ibu ada ikatan yang aneh dalam dirinya saat ini.


Tidak lama kemudian penderitaannya beberapa jam dalam mobil akhirnya tuntas. Mereka telah tiba di rumah sederhana tidak jauh dari kota.


''Ibu, apa kabar?" tanya ayah Yovita sambil menyalim ibu kandung ya itu sekaligus nenek Yovita.


''Baik nak, kenapa tidak memberitahukan kepada ibu kalau kalian datang?" tanya nenek Yovita.


''Kejutan nek,'' kekeh Yovita lalu memeluk neneknya itu.


''Makin cantik aja kau nak,'' ucap nenek sambil mengusap wajah Yovita sudah terlihat segar.

__ADS_1


''Cucu nenek kan memang cantik dari dulu,'' goda Yovita.


Mereka semuanya tertawa lalu menikmati makanan yang sudah disajikan oleh pelayan yang bekerja di rumah nenek.


''Bagaimana kuliahmu, Yovita?" tanya nenek.


''Sudah selesai ujian nek, tinggal menunggu wisuda,'' jawabnya.


''Baguslah, biar ada yang menemani ayahmu bekerja di kantor ya,'' tambah nenek.


''Yovita belum siap menemani ayah, nek,'' ucapnya manja.


''Kenapa? Bukankah seharusnya mulai sekarang kau harus terjun ke sana sayang?" potong ibu.


Ayah Yovita hanya tertawa kecil melihat kelakuan putrinya itu begitu manja namun mandiri.


''Yovita, tidak mau berkeliling desa?" tanya ayah.


''Boleh memangnya ayah?" Yovita begitu senang sekali mengelilingi desa ini sudah lama dia tidak melakukan itu.


''Ya, kang Ali ada di sana sedang merawat ternak sapi kita, dia ajak nak,'' tambah ayah karena sudah mempercayai anggotanya itu menemani Yovita.


''Ayah, Yovita sangat mencintaimu.'' Yovita memberikan pelukan hangat lalu pergi dengan wajah yang sumringah.


Ali mengusap kedua bola matanya menangkap sosok wanita yang dikenalnya.

__ADS_1


''Kayak Nona Yovita?" ucapnya.


''Hai kang Ali,'' sapa Yovita.


''Nona sedang apa di sini?" tanya Ali begitu kaget.


''Liburan Kang, bulan depan aku wisuda akang ikut datang ke kota ya!" ucapnya sambil tersenyum.


"Astaga senyumannya bahkan membuatku meleleh,'' jerit Ali dalam hati.


''Kang, kenapa diam?" panggil Yovita.


''Maaf Nona, habisnya cantik sekali,'' ceplos ya.


''Akang ada-ada saja.'' Mereka berdua tertawa lalu Ali melakukan perintah ayah Yovita membawa putrinya untuk mengelilingi desa.


''Tidak ada yang berubah di desa ini ya Kang, sudah lama aku tidak pernah ke sini namun tetap saja sama,'' ucap Yovita.


''Kalau ada tokoh yang mengubah desa ini baru Nona, tapi aku menyukai desa ini karena tidak ada yang menjamahnya,'' ucap Ali sambil tersenyum.


''Kenapa memangnya kalau di jamah?" Langkah mereka berdua berhenti tempat di depan sawah yang hijau.


''Kalau ada yang menjamah sawah itu bagaimana warga disini makan? Mungkin beberapa bisa mencari nafkah namun lainnya bagaimana?" Kini tatapan mereka berdua saling adu Yovita baru memahami yang dikatakan Ali.


''Hidup di kota lebih parah kang,'' liirhnya.

__ADS_1


__ADS_2