
Nenek terus menunggu Yovita ke kamar dengan perasaan yang begitu berdebar. Hanya dia cucunya satu-satunya dalam keluarga mereka tapi jangan sampai aib itu muncul di tengah keluarga mereka yang sedang bahagia.
''Nek, Yovita boleh masuk tidak?" panggil ya sampai menahan bau rendang itu membuatnya tidak tahan dan ingin mual.
''Masuk sayang,'' ucap nenek.
Yovita membuka pintu namun ada yang membuatnya semakin tidak suka di kamar nenek. Banyak sekali makanannya berbau rendang tidak kesukaannya.
''Nenek sedang apa di sini?" tanya Yovita sambil memperhatikan neneknya itu sedang memasukkan makanan ke dalam staples.
''Besok nenek mau membagikan makanan ini kepada penduduk desa, kau boleh membantu nenek kan?" ucapnya.
''Tapi nek, ada pelayan di rumah ini kenapa harus nenek melakukannya?" tanya Yovita berharap nenek mau mendengar ya.
''Kali ini nenek menyukai sendirian seperti ini Yovita, sudah lama tidak melakukan hal-hal pekerjaan ini.'' Yovita menjadi tidak bersemangat dia benar-benar marah dalam dirinya sendiri.
Bau rendang yang begitu menyengat hidung ya membuatnya ingin terus mual.
''Kau kenapa nak?" tanya nenek dari tadi memperhatikan Yovita tidak baik.
__ADS_1
''Yovita tidak kuat menghirup aroma bau rendang ini nek,'' ucapnya.
''Kenapa? Bukankah kau menyukai rendang?" Yovita mengangguk dia memang sangat menyukai makanan ini tapi sekarang tidak.
''Aku juga tidak tahu kenapa tidak menyukainya sekarang nek.'' Tiba-tiba saja Yovita langsung mengeluarkan cairan lagi dari mulutnya.
Dia langsung keluar dari kamar nenek menuju ke kamar mandi. Tidak lupa juga nenek mengikutinya dari belakang memastikan semuanya itu memang benar.
''Yovita, kau tidak apa-apa nak?" tanya nenek sudah tidak kuat lagi menahan amarah terhadap cucunya itu.
''Ya nek, sepertinya Yovita masuk angin,'' alasannya.
''Ya udah kau beristirahat sekarang mungkin tadi karena perjalananmu bersama dengan Ali membuatmu cepat lelah.'' Yovita yang senang hati mengangguk langsung masuk ke dalam kamar setelah mengeluarkan cairan bening dari mulut ya.
''Apa yang harus ku katakan kepada kedua orang tuanya kalau Yovita mengandung?" tangisnya.
Yovita tiba-tiba saja menginginkan martabak keju yang berada di kota. Perutnya terasa lapar namun tidak ada yang bisa mengajaknya untuk membelinya.
''Maaf ya nak, mami tidak bisa mewujudkan keinginanmu,'' lirihnya.
__ADS_1
Yovita membuka jendela kamarnya melihat keluar gelap tanya beberapa lampu yang menyala. Namun tiba-tiba kedua bola matanya menangkap sosok pria yang dikenal.
''Itu kan Ali? Sedang apa dia di sana?" gumam Yovita.
Ali baru saja melakukan ibadah malam bersama dengan teman-temannya. Karena dia adalah anak seorang pembantu tidak ada kendaraan yang mau dipakainya kecuali milik majikan.
Yovita sangat senang melihat pria itu langsung keluar pelan-pelan agar nenek tidak melihat ya.
''Akang Ali?" panggilnya.
''Nona?! Padang apa di luar?" pekik Ali terkejut sambil melihat sekelilingnya karena tidak mau orang-orang desa curiga dengan mereka berdua.
''Akang, boleh temani Yovita keluar kota untuk membeli martabak keju?" ucapnya barbinar.
''Apa? Udah malam nona tidak baik keluar apalagi seorang gadis sepertimu?" tolak Ali.
''Tapi aku sangat menginginkannya sekarang akang,'' lirihnya.
''Apa memang harus sekarang nona?" tanya Ali tidak yakin.
__ADS_1
''Ya,'' jawabnya sambil mengusap perut itu.
Ali bola menyadari saat ini Yovita sedang mengandung dia hanya bingung untuk caranya dia membeli martabak keluar kota.