
''Tuan, selamat malam,'' sapa Ali menunduk merasa bersalah karena tidak pulang tepat waktu.
''Nah, Yovita sudah kembali Bu. Ali kalian berdua masuklah ke dalam ayo kita makan malam bersama!" ajak ayah.
''Saya lebih baik kembali ke rumah Tuan, kedua orang tua saya pasti sudah menunggu juga,'' tolak Ali.
''Jangan menolak apa yang saya katakan Ali, kalau menolak sama saja kamu melawan kepada kami,'' ancam ayah Yovita.
''Kalau Tuan memaksa, saya akan menerima.'' Ali begitu senang kedua orang tua Yovita tidak menganggapmu sebagai pelayan melainkan anak.
''Dari mana kalian sampai lama kembali??" tanya nenek.
''Nek, kang Ali membawa Yovita kebalik gunung ternyata di sana pemandangannya begitu indah.'' Kedua orang tua Yovita terkejut mendengar pengakuan putrinya itu.
Ali sudah menunduk takut melihat wajah kedua orang tua Yovita sedang menatapnya.
''Apa yang kalian lakukan di sana?" tanya ayah.
Yovita menunjukkan ponsel ya banyak foto yang diambil Ali bahkan pemandangan yang begitu bagus.
''Ali, kau yang melakukan ini?" tanya ayah Yovita.
__ADS_1
''Maaf Tuan,'' ucap Ali pelan.
''Kau memang pria yang bertanggung jawab Ali, terima kasih sudah membawa putriku mengelilingi desa ini. Sebagai gantinya kami akan memberikan kepadamu motor,'' ucap ayah Yovita sambil mengusap kepala putrinya itu.
''Terima kasih Tuan, tapi hadiah itu terlalu berlebihan untuk saya. Saya hanya melakukan pekerjaan tidak lebih,'' tolak Ali.
''Kang, terima hadiah yang diberikan ayah ya. Kalau tidak diterima Yovita menangis nih,'' goda Yovita.
Ali langsung menaikkan wajahnya melihat Yovita ternyata beneran menangis.
Dia tidak sanggup melihat wanita yang membuatnya sampai jatuh hati saat ini menangis di hadapannya.
Yovita senang bukan main akhirnya Ali menerima hadiah yang diberikan orang tua ya.
Malam semakin larut akhirnya Ali pamit kembali ke rumah ya tidak jauh dari kediaman orang tua Yovita.
''Sampai ketemu lagi kang,'' ucap Yovita sambil melambaikan tangan ya.
''Ya mbak,'' sahut Ali.
Kedua orang tua Yovita melihat dari dalam bahagia ternyata mereka berdua tidak ada rasa canggung.
__ADS_1
''Dia pria yang baik ya ayah, Yovita tidak menyangka kalau kang Ali begitu merendah sekali.'' Yovita duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya.
''Ayah tidak salah memilih Ali bertanggung jawab mengerjakan aset kita di sini sayang,'' ucap ayah.
''Ya, ayah benar sekali.'' Setelah berbincang sesaat Yovita memilih pamit untuk istirahat karena tubuhnya lelah bukan main.
Setelah selesai mengganti pakaian baru pun Yovita teringat mengenai kondisinya saat ini.
''Ya Tuhan, kenapa aku begitu nekat pergi jauh kebalik gunung jalan kaki. Bagaimana kalau tadi aku kenapa-napa?!" pekiknya sampai mengusap perutnya yang masih rata.
Yovita ternyata diam-diam membawa benda yang di baliknya dari apotik.
Dia begitu penasaran mengenai dirinya saat ini benar hamil atau tidak.
''Semoga saja aku tidak mengandung anak dari pria itu, tidak bisa ku bayangkan bagaimana perasaan kedua orang tuaku setelah mengetahui ini?" batinnya dalam hati.
Baru memejamkan kedua bola mata Yovita berdiri pikirannya tidak tenang. Besok adalah hari penentuannya nasibnya bagaimana setelah mengetahui hasil dari perbuatannya kemarin di Paris.
Liburan yang membawa malapetaka kepadanya bahkan pria itu tidak mau bertanggung jawab.
Siapa yang tidak mengenal Faris di adalah penguasa di asia maupun Eropa. Barangsiapa mengganggu dia hidupnya tidak akan dapat dipastikan ke depan ya.
__ADS_1