
Mereka berdua akhirnya tiba di desa dengan selamat namun tatapan yang tidak suka dilontarkan oleh nenek membuat Yovita menjadi ketakutan.
''Ikut nenek ke dalam!" ujarnya.
''Ada apa nona?" tanya Ali tidak mengerti.
''Akang lebih baik kita masuk ke dalam dan mendengarkan apa yang ingin dikatakan nenek.'' Ali mengangguk setuju lalu mengikuti Yovita masuk dari belakang.
Nenek sudah menatap mereka berdua dengan tatapan yang tidak suka. Apalagi mereka saat ini baru kembali dari kota makan bersama.
''Kalian keluar kenapa tidak memberitahukan kepada nenek?" tanyanya.
''Maaf nek, semua ini salah Yovita mengajaknya keluar,'' balas Yovita.
''Tidak Nyonya, sayalah yang mengajak nona keluar kota,'' potong Ali.
''Diam kau Ali, kami sedang bicara berdua bukan denganmu.'' Nenek untuk pertama kalinya membentak Ali padahal selama ini dia sudah menganggap sebagai cucu.
Ali seketika ketakutan melihat wajah galak nenek aslinya langsung keluar. Dia tidak menyangka wanita tua itu ternyata bisa marah.
__ADS_1
''Sebenarnya apa yang terjadi?" batin Ali.
''Sekarang jawa pertanyaan nenek Yovita, katakan yang sejujurnya di hadapan Ali!" Yovita bingung apa yang hendak dibicarakan nenek kepada ya.
''Apa itu nek?" tanya Yovita penasaran.
''Benda ini milikmu atau tidak?" Kedua bola mata Yovita melebar ternyata benda itu didapat nenek.
Dia sudah berusaha keras untuk menyimpannya agar tidak ada siapapun yang mengetahui saat ini dia sedang mengandung.
''Dari mana nenek mendapatkan itu?" tanya Yovita tertegun.
''Jawab nenek ini milikmu atau tidak?" bentaknya.
''Siapa yang melakukan ini kepadamu Yovita? Apa pria ini?" Nenek menatap Ali dengan tatapan yang tidak suka.
''Aku? Saya tidak melakukan itu Nyonya? Bahkan saya sama sekali tidak tahu kalau nona Yovita ternyata sudah berbadan dua?" ucapnya terkejut.
''Katakan Yovita siapa yang berani melakukan ini kepadamu?" bentaknya lagi.
__ADS_1
''Paris, semuanya terjadi ketika Yovita berada di paris nek,'' ucapnya sesenggukan.
''Kenapa kau tidak menceritakan ini kepada kami nak? Apa yang harus dan katakan nanti kepada kedua orang tua mu?" Nenek tergeletak kepalanya tiba-tiba berdenyut.
''Nenek?!" pekik Yovita.
Ali langsung membantu Yovita membawa nenek masuk dalam kamar. Tidak ada satupun pelayan yang berada menyentuh majikan itu kecuali Ali.
''Kau harus melakukan sesuatu kepada baby mu nak, ayahmu tidak akan pernah setuju mengenai kondisi mau saat ini,'' ucap nenek setelah merasa lebih baik.
''Yovita tidak bisa melakukan itu nek, aku sudah terlanjur sayang kepadanya.'' Yovita menangis dulu dia sudah nekat melakukan itu tapi tidak sanggup.
''Lalu bagaimana dengan masa depanmu apalagi sebentar lagi perutmu akan terlihat nak?" sentaknya.
Yovita bingung dia tidak sampai berpikir ke sana padahal usia kandungannya kan semakin bertambah nantinya.
''Ali akan bertanggung jawab nyonya.'' Yovita dan nenek terkejut mendengar ucapan Ali yang terdengar begitu lantang.
''Apa yang kau lakukan akang? Semua ini tidak ada sangkutnya kepadamu jangan terlibat dalam urusanku,'' pekik Yovita.
__ADS_1
''Aku bisa bertanggung jawab terhadap anak yang kau kandung nona. Nyonya mohon restu hubungan ini supaya saya bisa menjaga nona di luar sana,'' minta Ali dengan mantap.
''Jangan nek, Yovita tidak mau ada satu pun yang terlibat dengan masalahku ini,'' ucap Yovita memohon kepada neneknya itu tidak mengijinkan Ali mau bertanggung jawab kepadanya.