Kenangan Pahit Di Paris

Kenangan Pahit Di Paris
Meninggalkan Desa


__ADS_3

Pria itu tetap tidak mendengar perkataan Yovita tetap melakukan keinginannya untuk bertanggung jawab atas bayi yang ada di perut wanita itu.


"Kami akan pergi dari desa ini nyonya, saya yang akan bertanggung jawab kepada nona." Ali terlihat gentleman mau bertanggung jawab yang bukan bayinya sendiri.


"Kau gila akang, aku tidak mau melakukan itu." Yovita terus menangis memohon kepada nenek agar mau mendengar dia bukan Ali.


"Diam kau Yovita! Dari tadi nona sudah begitu sabar terhadapmu tapi apa yang kau lakukan? Kau sudah menodai kepercayaan kami." Nenek membuang wajahnya ke samping tidak mau melihat Yovita terus memohon ampun kepada-nya.


"Semua ini bukan keinginanku nenek, Yovita terjebak di paris tiba-tiba aku sudah tidur dalam keadaan yang polos bersama dengan seorang pria asing," tangisnya.


"Jangan ceritakan lagi nenek tidak sudi mendengarnya dan sekarang lebih baik kalian berdua berkemas meninggalkan desa ini sebelum orang-orang mengetahuinya." Keputusan nenek sudah bulat apalagi putranya dan menantunya jangan sampai tahu.


"Yovita tidak bisa melakukan itu nek," ucapnya sesenggukan.


Nenek tiba-tiba menyentuh pipi kanan Yovita begitu keras sampai meninggalkan tanda kemerahan di sana.


"Jangan sampai kedua orang tuamu mengetahui yang terjadi kepadamu, sekarang pergilah!" usir nenek.


Yovita terkejut bukan main untuk pertama kalinya nenek melakukan untuk kepadanya.


"Nona, kita harus pergi sekarang," ucap Ali sedih.


"Aku tidak bisa meninggalkan nenek sendirian di sini akang. Bagaimana dengan kedua orang tuaku nantinya kumohon nek beri Yovita kesempatan," ucapnya pilu.


"Nenek sudah memberimu pilihan tapi kau menolaknya Yovita dan sekarang adalah pergilah!" Nenek memerintahkan anak buahnya untuk membawa mereka berdua keluar dari rumah.


"Aku tidak bisa melakukan itu nek, jangan lakukan ini kepada aku?" mohon ya.


Nenek merasa kasihan kepada cucunya itu harus pergi dalam keadaan seperti ini.


"Maafkan nenek sayang untuk ini kau harus belajar lebih banyak lagi di luar sana," isak Nenek.


Kepergian cucunya itu membuatnya syok berat apalagi dalam keadaan yang tidak wajar.


Yovita tidak terima dia harus pergi meninggalkan keluarga sementara Ali yang bertanggung jawab kepada dirinya.


"Pergi!" teriak Yovita kepada Ali.


"Maaf nona saya tidak bisa melakukan itu karena sudah mendapatkan amanat dari nyonya besar," ucap Ali.


"Aku tidak mau pergi kau?!" Yovita mendorong tubuh Ali begitu kuat hampir dia kena tabrak mobil yang baru saja melintas.


Ali tetap tidak marah kepada Yovita tugasnya sangat ini melindungi majikannya itu.

__ADS_1


Mereka berdua terus menyusuri jalan tanpa arah tujuan sampai akhirnya Yovita merasa perutnya sakit.


"Aduh!" ucapnya sambil menekan perut itu.


"Nona ada apa?" tanya Ali panik.


"Perutku sakit akang," ringis ya.


"Ayo kita lebih baik istirahat dulu." Ali membawanya ke sebuah taman tidak jauh dari tempat mereka berdua.


Tidak lupa minuman sudah disediakannya untuk Yovita seorang dan dia dapat menahannya asal majikannya itu tidak kekurangan.


"Sudah, aku tidak kuat lagi minum." Ali kembali memasukkan minuman itu ke dalam tas ya.


"Nona, sepertinya kita harus mencari rumah untuk beristirahat," ucap Ali.


"Di mana? Aku tidak pernah mencari rumah akang?" lirihnya.


Kehidupan yang dia jalani dahulu begitu bahagia tanpa ada gangguan. Semua fasilitas sudah dipenuhi oleh kedua orang tuanya.


Saat ini dia di tengah jalan raya terlentang lanting tanpa arah tujuan bersama dengan seorang pria.


Yovita menangisi membayangkan kehidupannya saat ini begitu sulit. Ditambah lagi bayi dalam kandungannya sebentar lagi akan terlihat.


"Mari nona sepertinya di depan sana ada rumah kontrakan," ajak Ali lagi.


"Mamah apa yang harus kulakukan sekarang?" ucapnya dalam hati.


"Yovita?!" Tiba-tiba ibu Yovita menjatuhkan sebuah pas bunga hingga suaminya juga ikut terkejut.


"Ada apa mah?" tanya papah Yovita.


"Pah, perasaan mama tidak enak," ucapnya.


"Apanya?" tanya papah Yovita.


"Mamah juga tidak tahu." Papah Yovita membawa istrinya itu masuk ke dalam pelukannya.


"Yovita saat ini kan lagi rumah mamah, jangan khawatir sana dia baik di jaga orang-orang papah," tambah papah Yovita.


"Ya pah, mungkin mamah terlalu merindukan dia." Papah Yovita tertawa kecil menanggapi ucapan istrinya itu.


"Sekarang kita istirahat besok papah mau ke kantor," ucapnya.

__ADS_1


"Ya pah." Namun mamah Yovita tidak bisa memejamkan mata karena terus kepikiran kepada putrinya itu.


"Besok mamah akan hubungi kamu nak." Setelah mengatakan itu kedua orang tuanya Yovita mulai terlelap dalam tidurnya.


Sepasang jenis beda usia itu baru saja dapatkan rumah kontrakan yang kecil.


Yovita melihat sekelilingnya sangat berbeda jauh dengan tempat tinggalnya di kota maupun desa. Ia menangis sesenggukan bayangkan kehidupannya mulai malam ini sampai seterusnya.


"Nona berhentilah menangis sudah waktunya istirahat," ucap Ali setelah menyelesaikan tempat tidur apa adanya.


"Kau saja yang tidur, aku tidak bisa," balas ya.


"Aku akan tidur di luar." Aku langsung meninggalkan Yovita sendirian dalam sana.


Pikiran pria itu sulit untuk mencari jalan keluar masalah yang baru.


"Ibu, ayah maafkan Ali sudah menghianati kalian. Jalan ini aku tempuh karena cintaku kepada nona Yovita tidak bisa kurelakan begitu saja," ucapnya sambil menatap langit malam.


Suara tangisan Yovita masih terdengar sampai ke luar untung saja mereka jauh dari tetangga. Ali mengintip memastikan Yovita baik dalam sana namun tidak sesuai yang dia lihat.


"Wanita ini benar-benar keras kepala?" dengus ya.


Pintu terbuka lebar mungkin sampai Yovita kaget hingga dia memeluk tubuh ya yang bergetar.


"Mau apa kau?!" pekiknya.


"Nona cobalah menerima semuanya ini mungkin orang-orang tidak tahu apa yang anda alami tapi cobalah buka lembaran baru. Menangis terus tidak akan bisa mengubah keadaan," terangnya.


"Tahu apa ku tentangku akang? Semua ini terjadi aku adalah korban dari pria itu?" kesal ya.


"Anda mengenali pria itu nona?" Yovita langsung menutup mulut dia tidak mau ada mengenali sosok Faris pria yang menakutkan itu.


"Tidak!" jawabnya singkat.


"Baiklah, kalaupun suatu saat pria itu muncul saya akan pasang badan melindungi anak itu." Ali meninggalkan kamar lalu menuju ruang tengah.


Sana dia tidur tanpa ada selimut karena rumah ini hanya menyediakan satu selimut saja.


Yovita semakin pusing memikirkan masalahnya lambat pria yang membuatnya seperti ini akan mengetahui kalau mereka berdua memiliki anak.


"Aku tidak bisa membayangkan itu terjadi padahal aku yang merasakan sakit," ucapnya sambil mengepalkan tangannya.


Yovita pelan-pelan mulai bangkit memikirkan cara untuk mengelabui Faris. Dia mengantisipasi sewaktu-waktu pria itu pasti akan mencarinya.

__ADS_1


Sebagai lulusan dari luar negeri Yovita mencari cara untuk mengubah dirinya agar tidak ada yang mengenalinya.


"Aku akan lakukan demi buah hati ku," ucapnya sambil menatap kosong ke depan.


__ADS_2