Kenangan Pahit Di Paris

Kenangan Pahit Di Paris
Cemas Bercampur Takut


__ADS_3

Yovita bangun lebih awal daripada keluarga ya karena ingin lebih memastikan saat ini dia benar-benar tidak hamil.


Alat yang sudah di bawahnya dari kemarin langsung diuji di bawah wadah.


Cemas bercampur takut membuatnya campur aduk, dia tidak mau menjadi anak yang berdosa terhadap kedua orang tuanya yang sudah memberikan kasih sayang selama ini.


Cukup menunggu akhirnya Yovita membuka kedua bola matanya memastikan hal itu benar-benar tidak terjadi.


''Apa? Tidak mungkin?!" ucapnya sambil menutup mulut ya.


Benda itu langsung jatuh ke bawah bersamaan dengan dirinya merosot ke lantai.


Yovita positif hamil anak Faris pria yang sama sekali tidak mau bertanggung jawab kepadanya. Tangisan membuatnya semakin sakit merasakan penderitaannya saat ini dimulai.


Bayangan amarah kedua orang tuanya bahkan memenuhi kepalanya.


''Aku belum bisa memberitahukan ini kepada mereka tapi lambat laun ayah dan ibu pasti akan mengetahuinya,'' ucapnya pilu.


Dia bodoh sekali pada saat itu tidak langsung minum obat agar tidak mengandung. Yovita keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat sembab.


Tatapannya kosong menatap lurus ke depan sampai para pelayan terkejut melihat Yovita seperti itu.

__ADS_1


''Selamat pagi Nona,'' sapa pelayan tersebut.


Untuk pertama kalinya Yovita tidak menjawab sapaan pelayan ya itu dan terus menuju ke kamar ya.


''Kenapa Nona Yovita seperti itu ya?" gumam pelayan tersebut namun pikirannya langsung tertuju ke dapur karena sebentar lagi majikan akan bangun.


Yovita menangis di atas tempat tidur ya membayangkan saat ini dia sedang mengandung anak dari orang lain yang tidak ada ikatan.


''Aku harus bagaimana sekarang?" ucapnya sesenggukan.


Waktu terus berputar Yovita tidak mau keluar dari kamar tubuhnya lelah sulit untuk bangun dari tempat tidur.


''Yovita, sayang bangun nak, ayo bantu ibu memasak!" panggil ibu sambil mengetuk pintu berulang kali.


Tapi tidak ada jawaban dari dalam hingga ibu Yovita heran takut sesuatu terjadi kepada putri ya itu langsung meminta bantuan kepada suami ya.


''Ayah, Yovita tidak mau membuka pintu ya?!" ucapnya panik.


''Santai Bu, Yovita pasti keenakan tidur karena di desa ini enak untuk beristirahat panjang,'' kekeh ayah.


''Ayah, jangan membuat ibu khawatir,'' rengek ya.

__ADS_1


''Baik, ayo kita ke kamar Yovita.'' Setibanya di sana ayah mengetuk berulang kali namun jawaban tidak ada.


''Yovita, ini ayah buka sayang?" panggil ya.


''Kan Yovita tidak membuka ya ayah?" ucap ibu semakin panik.


''Tunggu! Jangan panik seperti itu Bu, ayah akan panggil sekali lagi kalau tidak dibuka pintu ini akan didobrak.'' Ibu Yovita mengangguk mengerti lalu ayah kembali memanggil.


''Yovita, buka pintunya atau ayah akan buka paksa?!" kali ini suara ayah Yovita lebih tinggi dari biasanya.


Pintu tiba-tiba terbuka Yovita melihat wajah kedua orang tuanya yang begitu cemas.


''Ayah, ibu, Yovita minta maaf,'' isak ya lalu memeluk kedua orang tuanya itu bergantian.


''Oh sayang, hal sekecil ini kenapa harus meminta maaf,'' tawa ayah sambil membalas pelukan putrinya itu.


Yovita semakin menangis merasakan kasih sayang kedua orang tuanya yang lebih ke berlimpah kepadanya.


Tidak lupa juga ibu Yovita memberikan kehangatan kepada putri semata wayang ya itu.


''Kami menyayangimu Yovita, kamu adalah kebanggaan kami berdua,'' bisik ibu.

__ADS_1


__ADS_2