
Bab 11: Hasutan tak bermoral
π»H 4 P P Y R 3 4 D I N Gπ»
πΉβ¨πβ¨πΉ
Setelah dari perpustakaan Dea dan Bryan menghampiri teman-teman mereka di belakang taman. Perkuliahan telah selesai tinggal menunggu wisuda tidak membuat mereka betah di rumah tidak ke kampus.
Mereka tetap ke kampus, tapi hanya untuk duduk santai.
Bryan menyayangi Dea. Semua keinginan Dea selalu di kabulkan. Tidak ada tidak di turuti. Semua sahabat mereka tidak heran dengan tingkah Bryan yang bucin.
Sering di ejek tidak membuatnya berhenti melakukan hal aneh, malah melakukan yang di suka.
"By. Nanti pulang tidak perlu di antar. Bunda baru menghubungi akan pulang lebih cepat. Kau tidak keberatan kan?" tanya Dea langkah terhenti memandang pria yang menggandeng tangannya.
"Oke, tapi pagi nya aku tunggu di apartemen," jawab Bryan mencolek hidung mancung, gemas pada sang kekasih.
"Hmmm, aku janji. Ya sudah ayo."
Kembali berjalan menghampiri mereka. Taman kampus tidak terlalu rame, tempat ini tidak banyak di kunjungi mahasiswa/i.
Para anggota All Stars sering nongkrong di taman belakang, hingga membuat semua tidak berani menginjakkan kaki asal pada tempat tercinta itu.
"Baru datang nih, dari mana saja? Bry apa kau... "
"Stop berbicara asal. Saya sudah tau arah pembicaraan mu di bawah kemana," ucap Bryan mengerti hanya dari melihat wajah menjengkelkan para sahabatnya itu.
"Hahaha..." tawa mereka kompak mengejek ketua All Stars selalu sial.
"Lakukan cara kami itu. Jika kau terus mengulur waktu percayalah dia bisa berpindah. Berikan sesuatu yang belum pernah di rasakan," saran Jery berbisik.
"Tidak, bagaimana kalau dia sampai tau? bakal kacau, marah besar," ragu nya takut semua berakhir penyesalan.
"Jika terus berasumsi, aku takut kau benar kehilangan nya. Tidak salah bertindak sejauh ini, niat mu baik tidak jahat. Mengikatnya selain dengan menikah dengan cara ini," Jery terus berusaha menyakinkan sahabatnya.
Bryan masih ragu. Dia tidak yakin mengikuti saran sahabat-sahabat nya. Omongan itu terngiang-ngiang dibenak. Hasutan suara gaib seperti membujuk nya.
Dea melihat interaksi sang kekasih dan sahabatnya nya menggeleng kepala tanpa curiga. Dia tidak terlalu memikirkan apa yang mereka bahas.
Taman belakang begitu damai, sejuk, angin segar bertebaran sangat menyenangkan.
"Dari sini loh mau kemana De? kita ke sirkuit yu lihat mereka latihan," ajak Julia.
__ADS_1
"Maaf, aku gak bisa. Pesanan kue bunda lagi rame, aku harus bantu," tidak enak Dea menolak tidak ikut.
"Kenapa sih Bunda gak mempekerjakan orang? sekarang pesanan makin banyak, kalau semua terus di lakukan sendiri. Bunda bisa sakit dan kau juga Dea," peduli Julia menginginkan kesehatan untuk sahabatnya.
"Terimakasih sudah memikirkan ku. Tapi untuk saat ini tidak, mungkin kedepannya akan mu pikirkan lagi," bahagia Dea memiliki sahabat seperti mereka saling perhatian satu sama lain.
Dea mengambil minum botol di meja, persediaan di bawa sebelum datang. Banyak minuman teh botol, juice, dan masih banyak lagi.
Setelah menghabiskan setengah botol teh botol. Ponsel Dea berdering.
"Aku angkat telpon dulu. Kalian lanjut nya," kata Dea, lalu beranjak sedikit menjauh.
Obrolan mereka di sini takut tidak terdengar oleh nya. Apalagi sih penelepon tersebut sangat penting yaitu bundahara kesayangannya.
π:"Assalamu'alaikum, Bunda. Ada apa?" tanya Dea mengangkat panggilan telepon.
π:....
π:"Ada apa? apa ada masalah penting?" Dea mengerut kening bingung dengan perkataan sih penelepon tersebut.
π"....
π:"Oke, aku pulang sekarang."
Setelah mematikan sambungan telepon, Dea berjalan menghampiri mereka kembali, ponsel di kantong kan di tas selempang nya.
Tersenyum, Dea datang dan kembali duduk.
"Maaf aku harus segera kembali. Bunda meminta ku untuk pulang," lagi dan lagi perasaan tak enak di rasakan.
Pertama sudah menolak ajakan gabung nongkrong, sekarang malah pulang lebih awal padahal baru tiba beberapa menit lalu.
"Sayang, ada apa? apa ada masalah serius?" khawatir Bryan cemas Dea terkena masalah.
"Tidak, semua baik-baik saja. Bunda meminta ku segera kembali lebih cepat. Apa kau tidak apa-apa aku tinggal sekarang?"
"Sebenarnya berat harus di tinggal oleh orang yang di cinta. Tapi karena camer meminta, terpaksa dengan berat hati ku iyakan."
"Jangan lupa pagi nanti," tambah nya lagi berbisik mendekati telinganya.
"Iya, aku janji kalau begitu aku pergi. Semua maaf aku duluan, selamat bersenang-senang," ucap Dea dan pergi meninggalkan mereka.
.
__ADS_1
.
.
Kediaman ternyata sangat rame, sebelum meninggalkan beberapa jam sepi. Namun berubah sesaat.
Dea langsung masuk tidak menunggu lagi, langkah kaki terhenti, keseimbangan tubuh tidak terjaga. Surprise, sesuatu yang tidak pernah di pikirkan.
Keluarga dari bunda nya datang berkunjung setelah lama tidak berlibur.
Air mata jatuh menetes, terharu tidak bisa berkata-kata lagi.
"Hei... ada apa ponakan bibi tersayang menangis? apa kau tidak senang dengan kedatangan kami?" menghampiri memandang ponakan cantik diam, air mata masih berjatuhan.
Mereka di buat bingung dengan ekspresi Dea yang tidak senang atau apa gitu yang menggambarkan ekspresi bahagia. Ini malah yang di perlihatkan tangisan.
Bingung ya makin bingung sudah.
"Bibi, jangan. Dea tidak mengizinkan Bibi pergi sebelum menghabiskan waktu bersama ku. Bibi tau Dea rindu. Kenapa baru sekarang datang?" Dea menghambur peluk rindu.
"Astaga ternyata ponakan ini masih saja manja. Ya sudah Bibi akan bersama mu selama di sini. Maafkan Bibi dan Paman baru bisa mengunjungi mu. Sepupu mu Desi susah di ajak, Bibi tidak bisa meninggalkan nya seorang diri," terang nya alasan mengapa tidak bisa datang.
"Desi? dimana dia sekarang?" antusias Dea tidak sabar sangat merindukan sepupunya itu.
"Ada di kamar mu, sana temui dia."
Dea segera melepaskan pelukan dan bergegas pergi ke kamar menghampiri nya.
Cekrek...
"Kau sudah kembali? bukannya hanya tinggal wisuda, kenapa rajin ke kampus?" tanya Desi cecar mendengar pintu di buka tanpa melihat dia sudah dapat menebak.
Dea berjalan dan memeluk Desi tidak menghiraukan pernyataan tak penting itu.
"Aku merindukan mu, apa kau tidak merindukan ku? kenapa tidak datang? kau sangat jahat, aku sudah mendengar semua dari Bibi, katakan kenapa? apa alasannya?" tanya Dea balas mencecar. Dia jauh lebih penasaran. Pasalnya sejak kecil mereka selalu bersama.
Tidak ada seorang bisa membuat jarak, Dea begitu menyayangi Desi, usia mereka tua-an Dea dari Desi. Sepupunya itu sekarang berada di semester 6.
"Tanyakan pada dirimu sendiri, kenapa tidak mau datang setelah berjanji?" tanya balik Desi tidak terima di salahkan.
"Oh... jadi kau balas dendam? Ya ampun... kenapa tidak kau katakan sejak lama," Desi menggeleng kepala mengetahui kebenaran seperti apa ternyata karena kurang komunikasi.
...Bα΄Κsα΄α΄Κα΄Ι΄Ι’......
__ADS_1
...β¨____________ πΌπΌ_______________β¨...