
Bab 21: Kemungkinan besar
π»H 4 P P Y R 3 4 D I N Gπ»
πΉβ¨πβ¨πΉ
Dea menikmati makanan yang di masak dengan lahap, dia begitu menikmati. Rasa pedas tak di hiraukan.
Meski setiap kunyahan makanan di mulut terasa aneh, otaknya juga tak bisa mengalihkan pikiran nya mengenai Bryan.
Bryan seperti magnet terus menariknya agar selalu berpikir mengenai nya. Bukan sekali dua kali atau tiga kali memikirkan namanya, tapi berkali-kali dan itu tidak di lupakan.
"Sebenarnya ada apa dengan ku? kenapa aku merasa ada yang aneh tidak beres pada diriku? melakukan apapun itu terus memikirkan nya, apa semua karena sudah terbiasa? aku bersama nya akhir-akhir ini. Dan beberapa hari belakangan ini sendiri tanpa melakukan rutinitas biasa kita lakukan kenapa jadi rindu?" bingung Dea bertanya-tanya pada diri sendiri.
Dia tidak tau harus apa untuk saat ini. Ego nya lebih besar dari keinginan nya. Membelakangi semua hal lebih mengedepankan ego.
Itu sekarang yang di lakukan, meski dulu tidak pernah di lakukan, karena dia selalu melawan ego yang mana menurutnya hanya menyiksa diri. Tapi entah kenapa mendadak semua berubah.
Dea lebih ingin mengedepankan ego. Dia tidak ingin mengalah.
Duduk dengan sopan di temani santapan makan hasil karya sendiri. Perut mendadak mual. Makan terhenti suara terdengar berlari buru-buru ke dapur.
"Huek... huek... huek..."
Perut terasa di aduk, semua makanan yang di masukkan ke dalam perut di keluarkan begitu saja.
"Huek... huek... huek... "
__ADS_1
"Kenapa rasanya seperti ini? tubuh ku benar-benar lemas," keluh Dea tak sanggup merasakan kondisi seperti ini.
Dia tidak suka menghadapi hal seperti ini. Semua sangat menyiksa nya.
.
.
.
Setiba di kamar, Dea berbaring. Namun belum sampai satu menit dering ponsel berbunyi. Dea kembali bangun segera mengangkat panggilan dari siapa.
Melihat nama kontak di layar ponsel. Dia segera menggeser untuk mengangkat.
π: Hal--"
Belum juga mengucapkan salam, perkataan nya sudah lebih dulu di potong.
π:....
π:....
π:"Gak ada yang serius? aku baik-baik saja, mungkin perlu istirahat yang cukup nanti juga sembuh sendiri."
π:...
π:"Benar gak bohong. Kalian ini pada kenapa sih? kenapa mendadak gak percaya gitu?" selidik Dea bingung tumben-tumbenan kedua sahabat nya meragukan nya.
__ADS_1
π:...
π:"Iya, datang saja. Aku tidak akan merasa kesepian kalau kalian bersama ku."
π:...
π:"Sudah tidak usah di bahas namanya, aku bisa muntah lagi kalau kalian terus menyebut namanya."
π:....
π:"Tidak penting, cepat lah kemari aku menunggu. Bye."
Tanpa peringatan lagi Dea langsung mematikan sambungan telepon. Mood nya mendadak buruk setelah mendengar nama pria yang membuat nya rindu sekaligus membuat nya kesal.
Entah kenapa perut nya seperti bisa mendengar apa yang di bicara kan.
"Apa sebaiknya aku ke rumah sakit saja? mungkin dengan ke sana aku bisa mengetahui apa sebenarnya yang terjadi padaku?" pikir-pikir Dea mencoba menimbang.
Meski masih ada keraguan. Tapi setelah di cari di google mengenai gejala yang di alami. Dea menjadi takut jika semua itu benar.
Pikiran nya kini juga ikut tercampur aduk. Bukan hanya perut tapi kepala. Rasanya dia ingin menghentikan waktu sejenak.
Kamar menjadi lebih berantakan, dia bolak-balik tidak jelas memeluk guling. Ketakutan kali ini membuat nya tidak bisa berpikir jernih.
Lintasan bayangan reaksi kedua orang tuanya, sudah hampir membuat nya hilang akal.
"Bagaimana ini? apa yang harus ku perbuat?"
__ADS_1
...Bα΄Κsα΄α΄Κα΄Ι΄Ι’......
...β¨____________ πΌπΌ_______________β¨...