Ketua Geng Motor Jatuh Hati

Ketua Geng Motor Jatuh Hati
Bab 17: Mencari keberadaan


__ADS_3

Bab 17: Mencari Keberadaan


🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


Selama menunggu, Dea ke dapur memasak beberapa cemilan untuk teman-temannya.


Dia mengetahui kedua sahabat nya itu sangat menyukai masakan nya, maka dari itu dia memasak. Setelah selesai masak baru akan di lanjutkan rencana awal dia meminta mereka datang.


Dea yang merasa tidak beres, hatinya terus tidak tenang sangat gelisah. Entah apa yang akan terjadi pada Bryan, Dea melakukan apapun tidak pernah tenang.


Semua masakan nya menjadi amburadul, jiwa nya mungkin berada di dapur, tapi tidak dengan jalan pikir nya sudah melayang berada dimana-mana.


Tak menunggu waktu lama, kedua sahabat yang di tunggu akhirnya tiba.


"Lama amat sih buka nya? lagi ngapain sih? mikirin Bryan?" tanya Evi, berjalan terus dan duduk di sofa.


"Entahlah perasaan ku dari tadi tidak tenang, aku takut terjadi sesuatu pada Bryan," cemas Dea dengan suara bergetar, wajah pun ikut menampilkan ketegangan.


"Sudah tenang. Jangan pikir macam-macam tidak akan terjadi sesuatu pada Bryan. Bryan pria yang hebat tidak mudah di kalahkan. Kau bahkan tau kehebatan nya melebihi siapapun pria yang kita kenal," ucap Evi memenangkan Dea yang khawatir tidak henti.


Melihat sahabatnya seperti ini hati nya jadi tidak tega, seakan bisa merasakan yang di rasakan.


Meski dia juga sedikit merasa seperti apa yang di rasakan Dea saat ini. Dia mengkhawatirkan Egin.


"Aku pun sama dengan mu De. Tapi aku tidak bisa mengatakan karena itu hanya menambah kecemasan mu meningkat. Aku tidak tega," batin Evi menatap Dea gelisah.


"Tapi aku tetap tidak bisa tenang. Sejak tadi segala cara sudah ku lakukan untuk menenangkan diri, tapi tetap tidak bisa. Semua yang terburuk mengenai Bryan membuat ku tidak henti berpikir," ungkap Dea takut.

__ADS_1


"Aku tau perasaan mu sekarang seperti apa. Aku tidak melarang mu khawatir tapi jika ujungnya hanya membuat perasaan hati tak menentu lebih baik kurangi," saran Evi menggenggam tangan Dea.


"Benar yang di kata Evi. Itu hanya membuat mu sakit jika terus kepikiran. Bagaimana kalau kita mencari keberadaan mereka saja," kata Julia menatap bergantian pada kedua wanita di depan.


Entah mereka setuju atau tidak dengan saran nya, dia berpikir jika itu ada salah satu solusi terbaik dari sumber masalah yang saat ini sedang di pikirkan.


"Dimana? aku tidak tau Bryan pergi," sahut Dea lemah.


"Untuk itu tenang saja kita bisa mulai mencari dari tempat yang kita tau," kata Julia yakin.


Jujur saat ini bukan hanya Dea dan Evi yang khawatir pada pria pujaan hati mereka, tapi dirinya juga khawatir pada safri.


Cemilan kecil di meja di sajikan Dea tidak di sentuh saking fokus mereka pada topik pembicaraan.


Ketegangan saat ini mengalahkan ketegangan dalam sidang skripsi kuliah yang pernah di alami. Mereka di buat khawatir, takut tidak menentu tanpa arah yang jelas.


"Iya, kita mulai cari dari markas, aku yakin di sana kita bisa menemukan petunjuk," ucap Dea penuh keyakinan, otaknya tidak berhenti menerka-nerka keberadaan dan keadaan saat ini.


.


.


.


Selama perjalanan menuju markas, cuman ada keheningan tercipta di antara mereka. Dea lebih memilih diam mengajak otak berbicara, sama hal dengan kedua sahabatnya lain nya.


Semua masing-masing berbicara dalam diri sendiri.


Di tempat lain, semua pada tertawa bahagia. Kehancuran musuh adalah kehidupan yang sejahtera bagi mereka. Bagaimana tidak, sudah sejak lama ingin melihat semua itu.

__ADS_1


"Bos, apa semua akan berjalan sesuai rencana? apa kita tidak terlalu cepat memancing mereka?" tanya seorang pria masih memiliki rasa cemas sedikit meski tertawa girang.


"Jangan takut. Tidak akan terjadi apapun pada kita. Mereka tidak akan bisa menemukan kita," yakin pria tersebut tidak lain adalah pria yang di panggil namanya bos.


Brak!


Suara dobaran yang kuat mengagetkan mereka yang tertawa bahagia. Senyuman di wajah memudar dengan bunyi kuat pada pintu masuk dan hadirnya dari luar sosok orang yang di benci.


Semua melihat rencana tidak sesuai jadi takut, kekuatan Bryan tidak bisa di ragukan lagi. Mereka tau kehebatan pria tersebut tidak ada tandingannya.


Namun yang menjadi pertanyaan mereka kini, bagaimana keberadaan nya cepat di ketahui. Padahal saat ini mereka bukan di markas.


"Sepertinya kalian sangat terkejut dengan kedatangan kita? apa kalian berpikir kita tidak akan bisa menemukan para penge**t seperti tikus jalanan?" ejek Bryan menatap sinis musuh di hadapan nya.


"Jangan terlalu yakin. Apapun yang kalian lakukan, meski itu sekecil apapun dapat ku ketahui. Kecuali keberadaan kalian sudah tidak bernyawa dan berada di liang kubur. Baru tidak ku pedulikan lagi," sambung nya lagi penuh sindiran menyumpahi mereka tiada secepatnya.


"Hahahah... kau dari dulu tidak pernah berubah. Sombong, banyak bicara dan percaya diri. Tapi aku suka seperti itu," balas pria tersebut tanpa gentar. Tatapan nya tak lepas menatap penuh kebencian pada Bryan.


"Tentu. Kenapa harus tidak? kalian adalah penge**t, ku rasa muda membasmi tikus jalanan," hina Bryan merendahkan mereka, yang mana mendengar hinaan itu amarah mereka membara tidak terima.


Terus aduh mulut tidak henti, saling menghina satu sama lain.


"De, apa kau yakin mereka berada di sana? semua itu belum tentu benar, apalagi lokasi itu," ucap Evi ragu.


"Tidak aku yakin dengan perasaan ku. Ayo kita pergi sekarang. Tapi kalau kalian tidak mau tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa," kata Dea. Dia tetap ingin pergi mencari Bryan. Dia yakin pria tersebut sedang dalam masalah.


"Dea!"


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......

__ADS_1


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2