Ketua Geng Motor Jatuh Hati

Ketua Geng Motor Jatuh Hati
Bab 16: Khawatir


__ADS_3

Bab 16: Khawatir


🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


πŸŒΉβœ¨πŸ’žβœ¨πŸŒΉ


Selesai membersihkan diri, Dea menghampiri Bryan. Hari ini mereka tak ada jadwal ke kampus. Entah kenapa Dea merasa aneh belakangan ini namun tidak dapat di pastikan.


Dea duduk di samping Bryan. Pria tersebut akhir ini banyak menunjukkan perkembangan nya. Melihat itu hati Dea senang.


Kedua duduk berdampingan tapi tak mengeluarkan obrolan. Bryan dengan laptop berada di atas paha. Mata terarah pada layar laptop.


Dea tidak menganggu, dia juga melakukan sama seperti Bryan tapi tidak mengunakan laptop. Dia lebih pada buku panjang besar di tangan nya.


"By, apa semua berjalan lancar?" tanya Dea memperhatikan saat duduk tadi, wajah Bryan aneh terlihat menahan kesal.


"Tidak, kamu kerjakan kerjaan mu. Ini biasa terjadi saat melakukan usaha pada awal," jawab Bryan tersenyum.


"Aku tidak mau kau menutupi apapun dariku. Kau tau itu By. Aku sangat membenci mengetahui semua di akhir setelah kejadian tersebut," memperingati Bryan agar tidak membuat nya kecewa seperti sebelum nya.


"Kamu berpikir terlalu jauh sayang. Semua baik-baik saja. Aku tidak menutupi apapun darimu, percayalah padaku," menyakinkan Dea, Bryan tidak bermaksud berbohong.


"Maafkan aku, tapi ini yang terbaik. Aku tidak mau membuat mu cemas memikirkan ku," monolog nya merasa bersalah.


"Oke, aku percaya. Awas kalau bohong," tekan Dea dengan tatapan tajam mengarah padanya.


"Iya, sekarang lanjutkan kerjaan mu. Aku akan pergi sebentar, ada kerjaan dari luar yang harus ku bereskan sebelum melakukan melanjutkan semua ini."


"Sekarang? kenapa mendadak? tadi katamu tidak ada masalah. Ap---"


Kekhawatiran Dea sudah di ujung tanduk. Entah kenapa dia merasa ada yang tidak beres di sembunyikan nya memang sengaja agar tidak di ketahui.


Tapi semakin di desak, bukan jawaban yang di dapatkan, tapi elak kan tak memuaskan yang tak ingin di dengar.

__ADS_1


"Sayang, kali percaya padaku semua baik-baik saja. Tidak ada yang ku sembunyikan darimu. Mendadak juga, karena semua tak terduga," jelas Bryan memberi pengertian, dia sang kekasih cemas.


"Tapi janji pulang tidak boleh ada yang tergores," kata Dea. Peringatan tidak membuat nya tenang. Malah menjadi khawatir.


Kejadian saat itu masih tidak bisa terlupakan. Dimana Bryan mengatakan hal yang sama seperti di katakan tadi, ujungnya berakhir dengan banyak lembab di wajah.


Dea tidak menyukai Bryan berkelahi, semua permasalahan selalu di atasi dengan kekerasan. Berulang kali di beritahu semua tidak harus dengan kekerasan tapi Bryan bandel.


"Iya sayang, janji. Sekarang apa boleh aku pergi?"


"Hmmm, tapi ingat jaga dirimu baik-baik, kontrol dirimu. Jangan cepat terpancing. Meski kau tidak memberitahu sebenarnya aku tau itu," ucap Dea yang mana membungkam mulut Bryan tidak dapat berbicara.


Cup!


"Baik-baik di sini," pamit Bryan langsung bergegas pergi kalau terus menanggapi omongan Dea tidak akan ada habisnya. Wanita tersebut akan terus curiga.


Kepergian Bryan. Dea menghela nafas panjang. Dia memang tidak bisa sepenuhnya mengatur Bryan untuk menurut padanya. Pandangan lurus ke depan melihat pintu kamar kembali tertutup, bayangan sosok pria pun telah menghilang.


Β 


"Mereka sepertinya ingin mati sudah berani membangun singa yang lagi tidur nyenyak bersama pasangan nya. Ku rasa ini akan menjadi kejayaan terbesar untuk geng kita semakin maju," ucap Jery.


"Kau benar, sudah lama menanti sekarang saat itu telah tiba. Tidak ada keringanan lagi untuk mereka, hancur lah," timpal Egin senang tidak sabar segera melakukan penyerangan.


Sudah lama mereka tak beradu otot semenjak Dea marah besar pada Bryan. Sejak saat itu Bryan selalu menyerahkan masalah penyerahan pada anggota nya untuk menangani. Dia akan turun tangan kalau geng tersebut di rasa tidak kekuatan dalam menyerang.


"Jangan banyak bicara sekarang cepat siapkan semua, gunakan strategis kita untuk menyerang. Bryan sudah mewanti kita untuk berjuang sampai akhir bukan untuk kalah tapi menang, ingat itu," tegas Safri, sama dengan yang lain ingin mengalah mereka.


Dia geram pada tim lawan, selama mereka menyerang selalu kalah, tanpa adanya Bryan. Tapi kali ini tidak mereka yakin akan menang dengan adanya Bryan kekuatan terbesar mereka.


Beberapa menit kemudian Bryan tiba dengan motor besar berwarna hitam, sedikit warna merah.


Bryan masuk dengan wajah galak. Darah mendidih di sekujur tubuh menahan amarah di tahan sejak tadi.

__ADS_1


Musuh nya bukan hanya pada antara sesama geng motor tapi juga pada rekan bisnisnya yang baru di ketahui bahwa musuh nya menimbulkan dua masalah hanya pada satu orang yang sama.


"Apapun yang terjadi nanti jangan sekali kalian memberi celah pada mereka. Terus menyerang sampai tidak berkutik. Jika bisa patahkan tulang kaki mereka," tegas Bryan dengan lantang.


"Kita mengerti jangan cemas. Kali ini tidak ada kata lagi. Tapi mereka lah yang kalah," ucap Jery penuh keyakinan.


"Bagus kalau begitu. Ayo berangkat sekarang. Jangan membuang waktu lagi," ajak Bryan sudah malas, ingin segera membasmi orang tak berguna tersebut.


Makin di biarkan, makin melunjak. Dia tidak melawan bukan karena takut pada mereka, melainkan pada Dea.


Amarah Dea jauh lebih besar dari apapun masalah yang dihadapi. Maka dari itu dia harus menyerang tanpa memberi celah goresan se inci pun pada tubuh nya.


Mereka meninggalkan markas all Star menuju lokasi musuh berada. Jaket hitam melekat di tubuh, celana robek-robek, sepatu hitam besar, kecamatan hitam, semua indentik dengan serba hitam, itulah geng all Stars.


Terkenal raja jalanan yang sadis tanpa ampun siapapun yang berani datang mengusik ketenangan mereka.


.


.


.


πŸ“ž:"Kemari lah, aku tidak tau apakah ini hanya perasaan ku takut karena kejadian tempo hari terulang lagi atau bagaimana, aku pun tidak tau. Tapi dia tetap tidak mengatakan jujur. Kalian tau seperti apa Bryan. Dia tidak pernah menyelesaikan masalah dengan kepala dingin," ungkap Dea mengutarakan perasaannya.


πŸ“ž:"Lalu mau mu bagaimana? apa kita harus mencari tau pada teman-teman nya?" tanya Julia dari sebrang telpon. Mereka melakukan sambung tiga.


πŸ“ž:"Tidak. Itu hanya buang waktu, mereka tidak akan memberi jawaban dari pertanyaan kita. Kau tau betapa setia mereka pada Bryan. Mending kita selidiki sendiri. Ku rasa tidak ada yang salah. Bagaimana Dea? kau setuju?" tanya Evi nimbrung.


πŸ“ž:"Entahlah aku sendiri bingung tidak tau harus apa. Tapi menurut kalian mana baiknya?" tanya Dea minta pendapat.


πŸ“ž:"Kita selidiki saja seperti perkataan Evi," sahut Julia.


πŸ“ž:"Ya sudah kalau seperti itu. Aku tunggu di apartemen Bryan. Kita akan sama-sama mencari tau."

__ADS_1


...Bᴇʀsα΄€α΄Κ™α΄œΙ΄Ι’......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2