Ketua Geng Motor Jatuh Hati

Ketua Geng Motor Jatuh Hati
Bab 15: Memasak


__ADS_3

Bab 15: Memasak


🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


Dering ponsel berbunyi, nyanyian lagu terdengar indah dari sebuah ponsel genggam kecil. Hubungan Dea dan Bryan makin dekat dan mesra tanpa masalah.


Satu minggu lagi acara wisuda mereka di gelar. Dan sejauh ini pula hubungan mereka terjalin harmonis.


Bunda dan Ayah Dea dua minggu lalu ke luar kota bersama keluarga nya dan akan kembali satu hari sebelum acara wisuda.


Dan selama itu Dea tinggal bersama Bryan atas keinginan pria tersebut. Menolak tidak bisa dilakukan, pria tersebut keras kepala jika sudah menyangkut kesukaannya.


"Sayang, sudah ku katakan tidak perlu masak. Kita bisa pesan saja," Bryan memeluk Dea dari belakang menghampiri ke dapur.


"By, jangan seperti ini. Kau menganggu ku memasak. Kalau begini kapan selesai nya?" ucap Dea menoleh Bryan yang manja padanya.


"Tidak sayang. Aku ingin terus berduaan dengan mu."


"Iya itu pasti tapi tunggu masakan ku selesai. Sekarang lepaskan dulu, ayo By," bujuk Dea lembut tersenyum manis.


"Huftt... " helaan nafas panjang, Bryan berat hati melepaskan.


"Cepat selesaikan aku akan menunggu mu di sini," ucap Bryan lalu pergi dan duduk di meja makan memperhatikan Dea memasak.


Dea terlihat cantik dan menggoda kalau sedang memasak dan itu membuat hati nya meleleh tidak lepas memandang nya.


Memegang bahan masakan tidak membuat nya terlihat buruk, beberapa sayur di potong, bumbu kecil seperti lombok dan bawang di blender.


Tangan kecil bergerak lincah memainkan bahan masakan tanpa kendala. Dea begitu begitu serius tidak memperhatikan Bryan terus memandang nya.


"Aku beruntung bisa memiliki mu. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil mu diriku. Aku berdoa semoga ada kabar baik darimu setelah kita melewati bersama," gumam Bryan penuh harap memandang Dea.


Tanpa sepengetahuan Dea, ide dari teman-teman nya Bryan rajin memberi vitamin kehamilan agar cepat di beri isi. Dea percaya perkataan Bryan mengenai itu vitamin kesehatan percaya mentah tanpa menaruh curiga.


"Sayang," panggil Bryan.


"Iya," sahut Dea.


"Lulus nanti, tinggal lah bersama ku di sini kita bisa kerja di satu kantor yang sama nanti," ucap Bryan tidak rela berjauhan dengan Dea.


"Tidak bisa By. Aku masih memiliki rumah, apalagi Bunda dan ayah ku di sana," tolak Dea.


"Jika seperti itu yah sudah kita lanjut S2 saja, ku rasa itu jalan keluar terbaik agar tetap bersama," putus Bryan tidak habis akal mengajak Dea.


"Aku akan pikirkan lagi nanti."


Dea kembali memasak tanpa berkata lagi. Dia belum memikirkan ke arah sana, perkataan Bryan selama ini di anggap tidak serius. Tapi nyata nya lebih dari dugaan nya.


Beberapa menit kemudian, masakan pun siap di sajikan. Dea menata rapi di atas meja untuk mereka santap bersama. Bryan tersenyum melihat Dea begitu talenta sudah cocok menjadi ibu rumah tangga.

__ADS_1


"Ayo makan," ajak Dea duduk di samping Bryan. Kedua duduk bersebelahan.


"Masakan mu sangat harum pasti enak. Tidak salah aku memilih mu menjadi kekasih ku," ucap Bryan bahagia tersenyum.


"Bicaranya nanti saja, sekarang makan saja," ucap Dea menggeleng kepala pada Bryan.


"Iya, aku makan sekarang. Setelah makan jangan lupa minum obat. Pertahanan tubuh mu tidak boleh drop, oke," peringatkan Dea, Bryan tidak pernah lupa.


Menurut nya hal itu adalah terpenting dari apapun di dunia. Dia sudah bertekad jika usahanya berhasil akan melakukan satu hal lebih dari sekarang di lakukan.


Mereka makan bersama, Dea menuangkan makan di piring Bryan selayaknya seorang istri melayani suami. Bryan di perlakukan seperti itu oleh Dea bahagia.


Setelah lama tidak merasakan kehangatan tulus kasih sayang keluarga, kini dia dapatkan dari orang tercinta yang sudah di anggap keluarga.


"Sayang apa sudah memikirkan mengenai ajakan ku?" tanya Bryan.


"Habiskan dulu makanan mu By. Kita bicara setelah selesai," tegur Dea, dia tidak ingin bicara sambil makan, apalagi saat ini semua topik itu belum di pikirkan.


"Tidak, aku ingin tau sekarang. Jika nanti akan sama terus menghindar. Sayang kita sudah bersama sejauh ini. Aku tidak mau berasumsi sembarangan, tapi kecil kemungkinan kamu bisa hamil. Aku tidak bisa membiarkan hal yang ku pikir kan itu benar, jadi sudah ku putuskan. Kamu bisa bersama keluarga mu, tapi malam hari harus kembali ke sini," ucap Bryan sudah bulat.


Dea terdiam yang dikatakan Bryan memang benar adanya. Tidak ada yang tidak mungkin. Hubungan mereka terus berjalan. Tanpa di sadari Dea tidak bisa lepas dari semua permainan panas mereka.


Bryan pria ahli dalam masalah ranjang tidak pernah mengecewakan Dea. Ada saja gaya yang di berikan. Meski akhir Dea kewalahan.




"Sayang kita sudah selesai makan, sekarang katakan apa keputusan mu?" tanya Bryan lagi belum puas, belum mendapat jawaban yang di inginkan.




"Tatap aku," kata Bryan memegang wajah Dea.



"Semua yang ku katakan serius sayang. Tidak ada kebohongan. Aku ingin menjadikan mu terakhir dalam hidup ku," serius Bryan.



Dea tidak meragukan cinta Bryan. Tapi hal yang di takutkan adalah tidak bisa menjadi yang terbaik untuk Bryan. Banyak keraguan dalam benak nya.



Mencintai itu mudah, muda untuk terjatuh pada seseorang tapi bangkit kembali susah di lakukan.



Bryan menarik pinggang Dea lebih dekat dengan nya. Kedua tangan berpindah melingkar.

__ADS_1



"By, aku tau, tapi apa kau yakin? aku ragu tidak bisa menjadi seperti yang kau inginkan. Apa kau tidak bosan?" tanya Dea.



"Bosan? kenapa harus bosan? aku mencintaimu, tidak ada kata bosan yang ada akan semakin membesar. Jangan pernah berkata seperti itu lagi atau aku akan membuat mu tidak bisa berjalan," ancam Bryan.



"Oke, aku tidak akan berbicara seperti itu lagi. Tubuh ku masih lelah karena semalam," kata Dea.



"Tapi aku tidak. Apa... "



"No. Jangan macam-macam, sekarang lepaskan, aku ingin bersih-bersih."



"Sebentar sa--"



"By kau pria tampan yang ku miliki. Biarkan aku bersih-bersih ya," potong Dea memohon.



"Mulut mu terlihat makin manis kalau sudah seperti ini. Baiklah aku menurut," mengalah Bryan melepaskan Dea pergi.



"Terimakasih," senyum Dea.



Dia beranjak masuk ke ruang ganti setelah itu baru ke kamar mandi.



Bryan di luar membaringkan diri di atas kasur memandang langit atap-atap plafon dengan mata melebar.



"Sekarang mungkin tidak bisa ku dapatkan jawaban itu. Tapi secepatnya akan ku dapatkan. Kamu hanya milikku dan harus bersama ku di mana pun aku berada," gumam Bryan berbicara ujung bibir terbentuk


indah. Memancarkan kebahagiaan.


__ADS_1


...**Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ**......


...**✨\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 🌼🌼\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_✨**...


__ADS_2