
Bab 24: Sama-sama egois
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
🌹✨💞✨🌹
Kedua diantara Dea dan Bryan tidak ada yang mau mengalah. Mood Dea tidak stabil akibat hamil membuat nya susah mengatur emosi.
Semua diluapkan tanpa pikir panjang mengenai apa yang di katakan. Tidak ada kata berpikir sebelum berbicara lagi. Dia langsung mengutarakan semua hal membuat nya takut.
Kehamilan yang tak pernah di pikir, karena selama berhubungan dia sudah mengingatkan pada pria tersebut.
Namun sekarang api telah berkobar, besar api membuat hati dan jiwa ikut terbakar.
"By, jangan kekanakan. Aku tidak mau Bunda dan Ayah tau, ini bukan masalah sepele ku mohon mengerti lah untuk kali ini saja," mohon Dea meminta pengertian pada Bryan.
"Mengerti? Kamu meminta ku untuk mengerti? lalu kapan kamu bisa mengerti aku, Dea? Aku bukan pria penc*****g yang mengh*****n anak gadis orang dan tidak bertanggungjawab. Aku bukan pria seperti itu!" tegas Bryan menentang keras Dea yang tidak mau niat baiknya.
"Aku mengerti maksud mu, lagi pula aku tidak berkata seperti itu. Kau saja yang salah mengerti maksud ku, By," tidak terima Dea tak kalah tegas.
Dia mungkin bisa terima dengan niat baik Bryan padanya, tapi tidak dengan pemikiran konyol mengenai, karena sampai kapanpun tidak bisa di benarkan.
Suara tinggi ke-dua saling beradu seperti beradu suara siapa paling terbesar.
Kamar kecil nuansa indah, cat tembok berwarna biru, banyak lukisan terpajang di tembok foto keluarga dan sosok wanita cantik seorang diri dia adalah Dea.
__ADS_1
Ruang kecil tidak pernah di biarkan sosok pria berada di kamar nya kini masuk berada di dekat nya.
Bahkan kehadiran kali ini untuk mengikat dirinya selalu berada di dekatnya.
Dea yang kekeh pada pendirian menolak. Dia belum siap menjadi ibu muda.
Mendidik seorang anak, dea belum yakin dengan kemampuan sendiri. Dea merasa belum pantas. Namun Bryan yakin dan merasa sebaliknya dari apa yang di pikirkan Dea.
"Benar nya seperti apa? Coba katakan dengan jelas biar aku mengerti," kata Bryan menatap Dea.
"Ta--"
"Kenapa? Apa tidak bisa?" potong Bryan cepat langsung menghentikan Dea mendengar kata yang di duga tidak bisa di jelaskan.
"Bukan? lalu apa Dea?" lagi dan lagi Bryan mencela setiap Dea ingin berkata.
Dea menghela nafas dalam, rasanya dia ingin melempar Bryan ke laut. Sejak tadi setiap dia ingin berucap perkataan nya terus di potong.
Jemari gatal melihat Bryan tanpa rasa sesal melakukan semua padanya.
"Bisakah kau tidak mencela ku?" marah Dea kesal dengan sikap Bryan. Merah wajah menahan semua kekesalan itu. "Jika seperti ini terus kapan aku bisa menjelaskan padamu? Yang ada kau akan terus berpikir tidak-tidak tentang ku."
Terdiam tak membela diri, sedikit perkataan Dea memang benar.
"Aku menghargai niat baik mu By. Aku pun tau anak yang ku kandung ini tidak berdosa. Tapi cobalah kau berpikir di posisi ku, bagaimana kalau kedua orang tua ku mengetahui semua ini? Mereka pasti kecewa dan marah padaku. Putri satu-satu yang mereka banggakan telah menjadi aib untuk mereka," terang Dea pada Bryan.
__ADS_1
Hatinya sakit harus berkata seperti ini.
Jika terdapat luka sobekan maka luka itu akan makin membesar dengan kesedihan yang di rasakan pada semua yang menimpanya.
"Aib? Maksudmu bayi dalam kandungan mu aib begitu?" kaget Bryan, berpikir berbeda dari Dea. Ada rasa kecewa mendengar lontaran nya.
"Apa hubungan kita juga kamu katakan aib? sejak kita menjalin hubungan kamu terus menutupi, apa sebegitu malu menjadi kekasih ku? sambung nya lagi mendesak Dea." Katakan Dea, diam mu tidak bisa menjelaskan apapun jadi bicaralah."
Seperti pencuri di paksa mengatakan kebenaran, Dea bingung dan sama hal kecewa. Pemikiran Bryan membuat hati nya teriris.
Pertengkaran tak kunjung henti menemukan titik akhir perdamaian. Semakin lama berbicara, makin panas arah pembicaraan mereka.
Tidak ada tanda-tanda dari kedua ingin mengalah, sama-sama keras kepala merasa apa yang di pikirkan benar.
"Sebaiknya kita tidak perlu bertemu untuk beberapa hari ke depannya. Aku tidak mau setiap bertemu hanya pertengkaran di lakukan," putus Dea akhir perdebatan. Dia sudah memikirkan semua secara baik.
"Jika itu terbaik yang kamu inginkan akan ku lakukan. Tapi satu hal yang harus kamu ingat. Aku pada pendirian ku terserah dengan mu mau menolak," ucap Bryan serius lalu beranjak pergi meninggalkan kamar Dea.
Sepertinya memang benar untuk beberapa kedepannya mereka tidak perlu bertemu satu sama lain. Menenangkan diri, mendinginkan kepala dari panasnya api amarah itu perlu.
Dea memandang kepergian Bryan meninggalkan nya. Dada terasa sesak, entah kenapa dia tidak mau ditinggal.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...
__ADS_1