Ketua Geng Motor Jatuh Hati

Ketua Geng Motor Jatuh Hati
Bab 8: Marah Besar


__ADS_3

Bab 8: Marah besar


🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


Hinaan Julia tidak di terima Eti, berani sekali menampar dan mengatai nya. Mengepal kuat tangan, menatap tajam wanita di depan.


"Berani sekali kau menampar ku sial*n!" marah Eti dengan suara lantang.


Semua mahasiswa/i kampus yang berada di kantin mengarahkan pandangan pada arah mereka, suara ribut yang semakin terdengar keras, memancing rasa ingin tau meronta-ronta untuk menyaksikan semua secara langsung.


"Kenapa harus tidak berani? kau pikir kau siapa hingga harus di takuti? kau hanya lah wanita panggilan tak punya harga, recehan pun tidak sudi untuk di bayar," hina Julia merendahkan wanita tak punya tata krama di depan.


Mulut dan sikap sudah menjelaskan semua, tanpa harus mengenal lebih lama.


Wanita yang hina Julia tidak terima, hinaan itu terdengar oleh banyak orang. Dia marah ingin balas menampar, tapi terlebih di tahan oleh seseorang yang datang tiba-tiba.


"Hei, siapa kau? kenapa menghalangi menampar wanita tidak tau diri ini?" marah Eti tangan nya di tahan, dia menarik minta di lepas kan.


"Urus wanita mu Bryan. Aku tidak mau ada keributan di sini. Jika masih belum bisa teratasi jangan temui aku," ucap Dea serius, lalu pergi meninggalkan Bryan dan teman-temannya. Membawa kedua sahabat nya menjauh dari keributan.


Ribut di depan umum dan menjadi pusat perhatian tidak di sukai Dea. Terbiasa hidup dengan kedamaian, saling sayang tanpa ada nada suara tinggi, Dea tidak terbiasa berada di lingkungan Bryan.


Baru dekat saja sudah banyak masalah, bagaimana kedepannya. Dea hanya bisa berdoa di beri kekuatan dalam menghadapi semua cobaan.


"Sayang, tunggu," panggil Bryan mengejar Dea.


"Bryan, apa wanita itu calon istri mu?" tahan Eti memegang tangannya.


"Iya. Lepaskan tangan mu. Jangan pernah menunjukkan wajah mu di depan ku lagi, kita tidak memiliki hubungan apapun. Kau lah yang selalu meminta bukan aku," Bryan mencoba melepaskan tangan nya.


"Tidak, bagaimana kalau aku hamil? kita sering melakukan."


"Hamil? kau pikir itu akan terjadi? mimpi. Selama kita melakukan, aku selalu buang luar, lalu dari mana kau hamil? jika ya, itu bukan anak ku tapi anak pria lain," tegas Bryan dengan kasar menarik tangan nya.


"Aku tidak membenci mu, tapi jika kau sudah mengatai calon istri ku yang tidak-tidak, mungkin bukan hanya benci yang kau terima tapi lebih dan itu tidak pernah kau pikirkan sebelum nya," tambah nya lagi lalu pergi meninggalkan Eti berdiri.


Dia masih tidak menyangka pria yang sudah lama bersama nya lebih memilih wanita lain. Meski mengetahui Bryan suka bergonta-ganti wanita di ranjang tidak pernah di permasalahkan.


Selain menyukai wajah tampan nya dia juga mengincar kekayaan yang di miliki Bryan.

__ADS_1


Memandang kepergian pria yang di cintai bersama anggota nya, Eti mengepal kuat tangan.


"Aku tidak akan membiarkan mu bersama wanita manapun Bryan. Jika aku tidak bisa memiliki mu, namaku bukan lagi Eti," batin Eti memendam amarah yang siap di luapkan kapan saja.


.


.


.


"Dimana Dea? kenapa cepat sekali menghilang nya. Cepat kalian berpencar," titah Bryan takut Dea tidak mau bertemu dengan nya lagi.


Semua menurut perintah Bryan, langsung berpisah ke arah berbeda-beda.


Wajah panik, tidak tenang dia bertanya-tanya pada orang di seputar kampus, namun tidak ada yang melihat keberadaan Dea.


Frustasi, kepala jadi pusing. Mengutuk diri nya sendiri. Bryan berjanji tidak akan melakukan hal yang dapat membuat Dea marah. Dia tidak bisa melihat wanita yang di cinta marah.


"Dasar wanita gila. Dia membuat semua berantakan. Awas sampai Dea tidak memaafkan ku," geram Bryan tidak akan tinggal diam jika itu benar terjadi.


Beberapa menit kemudian semua kembali berkumpul di tempat mereka janjian.


"Bagaimana? apa kalian menemukan Dea?" tanya Bryan.


"Kita juga tidak," seru Egin.


"Sama," timpal Fredo.


"Sepertinya mereka sudah mengetahui jika kita akan mencari nya, jadi sudah langsung memberi kode pada anak-anak untuk tidak memberitahu saat di tanya," ucap Safri, semua itu bisa saja terjadi tidak ada yang tau.


Bryan menghela nafas panjang. Memijit kepala yang tidak sakit. Dimana harus mencari Dea. Alamat rumah sesungguhnya tidak di ketahui sekarang sudah hilang.


Rasanya kepala hampir pecah memikirkan Dea entah dimana keberadaan nya.


"Semua ini karena dia. Susah payah aku membujuk nya sekarang terbuang sia-sia," marah Bryan.


"Tenang lah. Jangan seperti ini. Bagaimana kalau kita temui dosen minta alamat Dea," usul Egin memberi saran.


Dia rasa tidak sulit untuk seorang Bryan mendapatkan apa yang di inginkan di kampus. Kekuasaan keluarganya di kampus sangat berpengaruh dan semua dosen mengenal nya bukan karena kepintaran tapi ketenaran dalam keributan.


Bryan tersenyum kecil menepuk bahunya.

__ADS_1


"Good, ayo," ajak Bryan pergi.


Otaknya tak berpikir sampai ke arah situ, mereka bersama-sama pergi ke ruang administrasi fakultas Ekonomi khusus nya Prodi Akuntansi.


Di sana Bryan langsung masuk tanpa mengetuk pintu seperti biasa gayanya sombong tidak ada etika. Namun semua itu akan hilang jika bersama Dea.




Disisi lain...



Dea benar-benar marah, tidak habis pikir apa saja yang terjadi hari ini menimpa nya. Semua tidak pernah di pikirkan akan sekacau ini.



Selain Bryan ada pula wanita gila. Dia mendengar sebagian perkataan wanita itu pada Julia. Dan Bryan berdiri di sana diam tidak melakukan apapun menyaksikan keributan memalukan itu terjadi.



Evi dan Julia mengerti keadaan Dea saat ini menenangkan nya.



"Sudah tidak usah di pikirkan. Aku tau kau marah pada Bryan. Tapi semua ini bukan salah Bryan, wanita itu lah yang bersalah. Dia yang tidak tau diri," jelas Julia tidak mau sahabat nya salah paham pada Bryan. Bagaimana juga Dea tidak melihat secara keseluruhan yang terjadi.



"Benar yang di katakan Julia, Dea. Bryan tidak salah di sini. Tapi wanita gila itu. Kau jangan berasumsi sendiri," seru Evi satu pendapat dengan Julia.



"Terserah kalian saja, aku tidak peduli itu. Aku tidak mau menemuinya untuk saat ini. Jika kalian ingin pergi silakan tapi jangan mengatakan alamat ku jika dia bertanya," ucap Dea mewanti, dia tidak mau Bryan menghampiri nya di rumah. Itu sama saja dia menyerahkan diri untuk bersama Bryan.



"Baiklah, kami mengerti. Tapi jangan lama-lama. Bryan seperti nya sudah tergila-gila padamu. Dia bisa melakukan sesuatu yang nekat asal kau tau itu. Bahkan hal itu bukan hanya aku dan Evi tau, tapi semua mahasiswa/i sini tau," ucap Julia berharap sampai sini Dea mengerti maksud perkataan nya.


__ADS_1


...**Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ**......


...**✨\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 🌼🌼\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_✨**...


__ADS_2