Ketua Geng Motor Jatuh Hati

Ketua Geng Motor Jatuh Hati
Bab 12: Mengingkari janji


__ADS_3

Bab 12: Mengingkari janji


🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


πŸŒΉβœ¨πŸ’žβœ¨πŸŒΉ


Malam hari...


Dea baru menyelesaikan ritual di kamar mandi setelah banyak bercerita bebas berbagi dari A sampai Z semua yang di alami.


Bunyi ponsel tiba-tiba berdering, Dea segera mengangkat panggilan tersebut. Di sana tertulis nama Jery.


Entah apa gerangan membuat sahabat sang kekasih menghubungi nya malam-malam seperti ini.


Pikirannya pun mendadak tidak tenang, tidak seperti biasa apalagi sudah jam 9 malam pasti ada hal penting terjadi. Kalau tidak, tidak mungkin menghubungi.


πŸ“ž:"Assalamu'alaikum," salam Dea.


πŸ“ž:....


πŸ“ž:"Apa? bagaimana bisa? kenapa kalian biarkan saja?" kaget Dea terkejut, khawatir keadaan Bryan.


πŸ“ž:...


πŸ“ž:"Baiklah aku akan ke sana sekarang. Tolong jaga dia baik-baik. Jangan biarkan pergi kemana-mana," memperingati mereka tidak mau sampai hal buruk tidak di inginkan terjadi.


πŸ“ž:...


πŸ“ž:" Aku tutup telpon nya."


Setelah panggilan terputus, Dea kembali masuk ruang ganti menganti pakaian. Tidak lama-lama dia segera keluar dari kamar meminta ijin.


Dea tidak memiliki pilihan lain, setelah mengurus Bryan. Dia akan menginap di rumah sahabat nya julia.


Di ruang keluarga semua masih duduk berkumpul, kedua orang tuanya, paman dan bibi begitu menikmati obrolan mereka.


Berani tidak berani, ragu karena kali ini harus berbohong untuk dapat ijin terpaksa di lakukan.


"Malam-malam gini rapi, mau kemana?" tanya sangat ayah memandang Dea.


"Ini Yah. Tadi Julia menghubungi ku, sebenarnya dari sore tapi gak lihat ponsel jadi gak tau. Orang tuanya lagi keluar kota untuk beberapa hari, Julia minta aku nginap malam ini boleh Dea pergi?" ucap nya meminta ijin. Hatinya deg-degan harus berkata bohong.


Dea membatin memohon ampun dan maaf pada Julia sudah berbohong dengan membawa namanya.


"Astaga ya sudah pergilah. Apa mau Ayah antar?" tawar nya.


"Tidak perlu, ayah di sini saja lanjut ngobrol nya. Dea bisa pergi sendiri."

__ADS_1


"Baiklah kalau Dea mau nya seperti itu."


"Iya, Dea pamit dulu. Assalamu'alaikum," salam Dea, mencium punggung tangan kedua orang tuanya, paman dan bibi.


Setelah pamitan Dea segera memesan ojol, namun belum sempat dia sudah di kejutkan dengan kedatangan seorang pria. Egin, salah satu sahabat Bryan datang di kediaman nya cukup tidak di sangka.


"Sedang apa kau di sini? dimana Bryan? apa dia baik-baik saja?" khawatir Dea sudah tidak bisa berpikir positif, kedatangan Egin tiba-tiba membuat nyaman berasumsi tidak benar.


Pikiran buruk mulai terlintas di benak mengenai Bryan. Dia menatap serius Egin duduk di atas motor. Suasana malam gelap, sunyi dingin, tidak terasa lagi untuk nya.


"Naiklah, kita bicara di motor saja. Sudah tidak ada waktu lagi," ucap Egin, yang mana malah membuat Dea takut.


"Oke."


Dea tidak lagi banyak bicara, naik ke motor duduk di belakang berpegangan di bahu Egin.


Jalanan malam terasa dingin, suara bisik kendaraan masih terdengar, banyak motor dan mobil di sepanjang jalan.


20 menit perjalanan cukup cepat untuk kendaraan motor, ke banding mobil.


"Hotel?" kaget Dea, melihat tempat dimana Egin membawa nya.


"Iya, ceritanya panjang kita bahas di atas saja," dengan suara khawatir, Egin menarik tangan Dea.


"Emangnya kenapa? apa yang terjadi? apa Bryan kembali... "


"Hmmm, seperti pikiran mu, tapi jangan khawatir kami bersama Bryan. Sebelum terjadi sudah di cegah, maka dari itu kami menghubungi mu, hanya kau yang bisa menolong nya," ucap Egin dapat menebak arah pikiran Dea kemana.


Ting...


Pintu lift terbuka.


"Ayo masuk," ajak Egin.


Mereka pun masuk bersama. Lift kembali di tutup dan tombol di tekan pada lantai 9.


Dea masih tidak mengerti, terus mendesak Egin untuk menjelaskan.


"Kau akan tau jawaban di dalam. Maaf," ucap Egin tidak bisa berkata apapun lagi.


"Ta--"


Ting....


"Ayo," potong Egin lagi, saat pintu lift terbuka, telah tiba di lantai yang di tuju.


Dea makin bingung, dari tadi bertanya tidak mendapat jawaban. Pria tersebut terus berkata nanti juga akan tau, hal itu membuat nya tidak tenang.

__ADS_1


"Masuklah. Bryan di dalam."


"Kalian tidak?"


"Tidak, Bryan hanya membutuhkan mu bukan kita. Bantu Bryan, jika kau benar mencintai nya seperti dia mencintaimu pasti mengerti," terang Jery.


"Aku makin tidak mengerti, sebenarnya apa yang ingin kalian katakan? kenapa suka memberi kode? itu bukan membuat paham tapi sebaliknya."


"Nanti juga mengerti, masuk lah," Jery membuka pintu mendorong pelan Dea masuk. Dea belum ingin masuk, masih belum puas dengan jawaban yang di berikan.


Menolak pun sama, percuma. Keluar lagi juga tidak mendapatkan apapun. Lebih baik menuntaskan rasa penasaran dengan mencari jawaban dari pertanyaan nya sendiri.


Kamar hotel yang di tinggal Bryan sangat besar. Ukurannya sudah seperti ukuran rumah nya. Banyak barang mewah terpajang di depan membuat nya tabjuk.


Seketika terus mengagumi semua benda di depan. Dea tersadar apa tujuan berada di sini.


"Bryan," panggil Dea.


Dia berjalan mencari keberadaan sosok pria yang membuat nya khawatir mengetahui keadaannya.


"By, apa yang terjadi padamu?" kaget Dea melihat seorang pria wajahnya merah padam. Entah apa yang terjadi.


"Sayang kamu di sini? panas...bantu aku," Bryan memeluk Dea menghirup tengkuknya.


"By, aku... "


Dea terhenti tidak lanjut berkata, tubuh nya melayang, di gendong Bryan dan di bawah ke ranjang.


"Panas sayang, bantu aku," ucap Bryan tidak tahan menahan panas nya tubuh.


"Apa yang bisa ku bantu By?" tanya Dea.


Bryan tidak menjawab lagi, membungkam bibir Dea. Gejolak di tubuh semakin panas seperti api membakar semua benda di dekat.


Dea tidak bisa melakukan apapun, makin kesini dia mengerti bantuan yang di kata sahabat Bryan tadi.


Semua begitu cepat, tidak ada yang berpikir akan seperti ini. Dea tidak pernah konsumsi minuman alkohol tapi dia mengerti banyak. Setelah mengenal Bryan. Dia mulai mempelajari semua semata karena ingin Bryan baik.


Tubuh kedua sudah sama-sama polos. Dea tidak tega menolak, melihat pria di depan begitu tersiksa. Dia mengikhlaskan semua.


Beberapa menit lama mandi keringat bersama, Bryan menjatuhkan tubuh di samping Dea.


"Aku mencintaimu sayang. Sangat mencintai mu. Tetaplah bersama ku jangan pernah meninggalkan ku," peluk nya menarik tubuh wanita yang di cinta.


"Iya aku juga," balas Dea.


"Maafkan aku Ayah, Bunda. Janji ku pada kalian harus ku ingkari," batin Dea merasa bersalah terhadap kedua orang tuanya. sudah tidak menepati janji.

__ADS_1


...Bᴇʀsα΄€α΄Κ™α΄œΙ΄Ι’......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2