
Bab 14: Kembali ke apartemen
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
🌹✨💞✨🌹
Dea dan Bryan kedua telah tiba di apartemen beberapa menit yang lalu. Bryan tidak mengizinkan Dea untuk masak. Pria tersebut terus menempel tidak ingin jauh dari Dea.
Hal itu membuat Dea geleng-geleng kepala, sikap Bryan sangat kekanakan. Tapi tetap di ladenin di biarkan saja. Bryan memeluk menghirup aroma tubuh nya yang harum menenangkan.
Mereka memesan makanan delivery, Bryan tidak mau wanita nya kelelahan, jika bisa memesan kenapa tidak di lakukan.
"Sayang apa tidak sebaiknya hubungan kita sudah harus di beritahu pada kedua orang tua mu? aku tidak mau jika kedepannya ada masalah," ungkap Bryan mengatakan apa yang di rasakan saat ini.
"Aku belum memikirkan itu By. Tapi aku janji secepatnya kita akan memberitahu, saat ini jangan dulu di rumah ada keluarga ku datang berkunjung," ucap Dea mengerti mengenai apa yang di pikirkan Bryan.
Namun dia tidak bisa berbuat apapun, ketakutan nya makin besar memikirkan tindakan yang di perbuat ini pasti mengecewakan kedua orang tua.
"By," tegur Dea.
Pria tersebut memainkan tangan di balik pakaiannya.
"Aku mencintaimu sayang. Aku akan bertanggungjawab," bisik Bryan.
"Bukan itu. Aku tidak meragukan cinta mu padaku. Tapi ini masih pagi, semalam kau baru melakukan nya," memberi pengertian pada Bryan, Dea menoleh tersenyum.
"Sayang jangan tersenyum seperti itu. Manis senyuman mu membuat ku diabetes. Aku bisa-bisa nya langsung menyerang tanpa persetujuan," balas senyum Bryan mendorong Dea terjatuh di bawah ranjang.
Bryan menatap, mengelus wajah cantik itu penuh cinta. Dea di perlakuan lembut menatap balik pria di depan wajah mereka begitu dekat.
"Sekarang boleh sayang?"
"Hmmm," angguk Dea.
Mendapat persetujuan, tak butuh waktu lama lagi Bryan melancarkan aksinya.
Waktu yang seharusnya mereka mengisi perut di ganti dengan menikmati keindahan surga kedua. Saksi cinta akan di mulai dari kamar ini, dimana kedua melakukan semua secara sadar dan saling menginginkan. Bukan karena paksaan.
__ADS_1
Deru nafas mereka menjadi tidak beraturan. Dea dan Bryan tersenyum kedua sama-sama menikmati irama gerakan terjadi, terlebih Bryan menyukai semua tempo permainan sendiri.
Suara merdu seperti musik tarian mengerakkan untuk terus masuk dalam irama.
Beberapa jam dalam panasnya kobaran api di tubuh. Bryan sudah cukup puas, dan berbaring di samping Dea memeluk erat bahagia tiada duanya.
"Sayang aku menyukai milik mu. Semua padamu adalah milik ku," ucap Bryan.
Setiap kali melakukan hubungan, dia tidak pernah memakai wanita yang sama, sekali pakai besoknya akan di ganti. Tapi jika sekedar ciuman tidak.
Ini pertama kali dia menyukai dan hanya menginginkan satu wanita. Dan itu hanya Dea seorang.
"Iya, aku milikmu tapi bisakah setiap melakukan kau tidak membuang ke dalam? aku tidak mau terjadi masalah. Kita belum menikah," ucap Dea berkata pada apa yang menjadi ketakutan nya.
"Ya sudah kita menikah sekarang, apa susah nya? tinggal urus berkas, ke KUA. Selesai bukan?" bicara Bryan santai tanpa beban.
Mendengar perkataan Bryan yang bicara tanpa berpikir terlebih dahulu. Dea mencubit lengan nya.
"Auwh... sakit sayang, kenapa di cubit sih... " ringis kesakitan Bryan.
"Rasain, siapa suruh bicara asal. Lain kali berpikir ulang kalau mau bicara," kesal Dea.
"Apa yang ku bicarakan? perasaan tidak ada salah."
"By, sudah jangan bicara lagi, atau aku akan mencubit mu lebih dari ini."
"Tap-"
"Sudah, stop. Aku tidak mau mendengar apapun yang keluar dari mulutmu," potong Dea cepat.
"Ken--"
"Bryan. Jika kau masih menginginkan ku turuti saja keinginan ku tidak perlu banyak bicara."
Takut pada ancaman Dea. Tanpa membela diri, Bryan menurut tidak banyak berkata lagi. Dea tidak seperti wanita lainnya, muda di bujuk. Wanita tersebut sangat berpegang pada pendirian jadi susah.
__ADS_1
Di tempat lain, teman-teman Bryan bahagia, merayakan keberhasilan mereka dengan rencana semalam. Pesta besar-besaran yang diberikan Bryan sesuai janji jika berhasil sangat memuaskan.
Tidak ada dari mereka membuang kesempatan langkah seperti ini.
Tempat nongkrong mereka tidak lagi seperti tempat yang layak di tempati tapi lebih pada tempat sampah. Banyak kertas snack berserakan dimana-mana. Botol minum pun di lempar asal, bahkan ada yang pecah.
"Parah, apa Dea gak marah kalau tau kita sudah bohong? gimana kalau semua ini berdampak pula pada hubungan mereka?" pikir Jerry khawatir, kebahagiaan seketika memudar, ketakutan malah menghantui nya.
"Jangan menakut-nakuti, mending kau diam tidak perlu berbicara. Omongan mu hanya membuat kita parno," sahut Egin menutup mulut sahabat nya itu agar tidak asal bicara.
"Benar kau berkata hanya mengacaukan kesenangan kita. Kalau kau tidak niat pesta pulang lah jangan mengajak kami dengan pemikiran gila itu," marah Fredro timpal.
Semua pada mengatakan ketidaksukaan dan bentuk protes pada perkataan Jery. Namun tidak dengan Safri. Pria tersebut tidak merasa terganggu terus asyik menikmati.
"Lah, kenapa kalian pada protes? saya mengatakan dari apa yang saya pikirkan. Coba pakai logika kalian masing-masing. Tidak mungkin Dea tidak marah, kita sudah melakukan sejauh ini hingga... "
"Berhenti bicara bodoh! kau tidak juga diam mulut mu akan ku lakban," ancam Egin makin geram dengan Jery cerewet bukan menutup mulut malah makin menjadi.
"Sudah diam saja, apa susah nya sih? kau cukup berpikir dalam benak mu sendiri, tidak perlu mengutarakan lagi. Kita di sini juga tidak mau dengar apapun mengenai itu sekarang," seru Fredo.
"Tap---"
"Semua bisa kita pikirkan nanti, tapi tidak saat ini juga. Kapan lagi bisa menikmati pesta besar-besaran begini? jangan di sia-siakan selagi Bryan baik," potong Egin cepat menghentikan Jery berbicara.
"Huftt... baiklah. Tapi jangan pernah menyalahkan ku jika kedepan perkataan ku benar terjadi. Saya sudah memberitahu sebelum nya," kata Jery.
"Iya, tidak akan."
Pembicaraan mereka tidak ada satu di timpal seorang pria tersebut. Dia adalah Safri, seorang pria yang di kenal tidak banyak bicara, dan tidak terlalu peduli pada apapun.
Kebiasaan nya sama dengan teman-teman lainnya, suka berantem, berpesta layaknya seorang pria bebas. Tidak mempedulikan omongan dan pandangan orang sekitar.
"Loh diam terus dari tadi, ada apa? ada masalah dengan Julia? kelihatan tuh perempuan naksir sama loh, kenapa gak di terima aja cinta nya? jangan di gantung kayak jemuran nanti kebakaran jadi gosong baru tau rasa," bercanda Fredo melihat sahabat satunya diam dengan kesibukannya sendiri tidak gabung dalam obrolan mereka sedang memarahi Jery.
"Tidak."
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
__ADS_1
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...